My Brother My Love

My Brother My Love
part 2



Motor Dimas melaju pelan membelah jalanan Ibukota yang cukup padat pagi itu. Ya, memang setiap hari selalu seperti itu, entah itu pagi, siang, ataupun malam. Setiap orang sepertinya ingin berlomba adu cepat agar bisa segera sampai ketempat tujuan.


Untungnya dia tidak terlalu dikejar waktu, karena pagi-pagi sekali dia sudah meninggalkan rumah untuk menjemput Gita. Jarak rumah mereka tidak terlalu jauh, Gita pun tidak pernah meminta dia untuk datang terlalu pagi, itu keinginannya sendiri. "Ya, dari pada terlambat. Kamu kaya gak tau aja gimana jalanan Ibukota," kilahnya. Itu mungkin hanya alasan kesekian, alasan yang sebenarnya dan yang terpenting ialah dia selalu tidak sabar untuk bertemu Gita.


Ah, begitulah insan muda yang jatuh cinta. Selalu ingin bertemu dan melihat gadis yang disuka. Ingin selalu disampingnya dan menemani hari-harinya.


Menurut Devi, dia terlalu pengecut. Tidak bisa mengungkapkan perasaannya terhadap Gita. Selalu sembunyi dibalik kata "persahabatan."


"Git, kamu kenapa? sakit kah?" Dimas melepaskan helm dan menaruhnya di atas motor, disusul Gita yang juga melepaskan helm, lalu turun dan memberikannya ke Dimas.


Tidak biasanya Gita membisu sepanjang jalan. Biasanya dia akan sangat bawel, bercerita tentang apa saja. Mulai dari pelajaran, Guru yang menurutnya sangat menyebalkan, bahkan perdebatan dia dengan bundanya saat di meja makan.


"Aku baik-baik aja, kok, Dim," jawabnya pelan. Aku duluan, ya. Makasih."


Dimas yakin, ada sesutu yang disembunyikan Gita. Dia memandangi punggung Gita yang semakin menjauh darinya, sambil menerka-nerka masalah yang mungkin saat ini Gita hadapi.


**


Sampai di kelas, Gita menaruh tas, menyilangkan kedua tangan di meja, lalu menenggelamkan wajah diantara kedua tangannya. Dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih, isi kepalanya dipenuhi ingatan tentang Dewa, itu membuat dadanya terasa sesak, nadinya berdetak cepat. Selama ini dia berusaha melupakannya, bahkan hampir berhasil. Namun saat tahu dia akan kembali, rasanya Gita belum siap. Dia masih butuh waktu sedikit lagi.


Bahkan dia tidak sadar jika sejak tadi Devi memanggilnya.


"Gita!"


Dia buru-buru menghapus air matanya yang sedikit menetes, "Apa sih, Dev. Teriak-teriak, aku belum budeg, tau." Dia berusaha bersikap tenang, Devi tidak boleh tahu kalau perasaannya sedang tidak baik.


"Kamu bergadang semalam?"


"Nggak. Kenapa emang?"


Devi tersenyum geli. "Buktinya, jam segini udah tidur aja." Seketika senyumnya hilang. Baru sadar kalau mata merah Gita bukan mata orang yang bangun tidur, tapi habis nangis. "Kamu kenapa? Apa Dimas nyakitin kamu?"


"Apaan sih, Dev. Kok bawa-bawa Dimas?" Dia membuka tas, mengambil buku dan pensil. "Aku lupa belum ngerjain tugas," ucap Gita mengalihkan pembicaraan.


Devi menutup buku pelajaran itu. "Tugas bahasa tuh, besok, Anggita! Bukan hari ini!" jengah Devi. "Sekarang cerita ke aku, kamu kenapa? atau ... aku bakal tanyain ke Dimas sekarang juga!"


Gita tipe orang yang suka menyimpan kesedihannya sendiri, dia tidak pernah mau berbagi ke orang lain, sekalipun itu pada keluarga atau ke Devi, sahabatnya dari kecil.


Gita masih diam, membuat Devi yang tidak sabaran kesal. Dia berdiri sambil menggebrak meja, membuat Gita kaget. "Gak papa kalau kamu gak mau cerita, biar aku tanyain ke Dimas. Kalau sampai aku tahu, dia yang udah bikin kamu nangis, maka_"


"Ini karena Mas Dewa!"


"Maksudnya?" tanya Devi bingung. Dia kembali duduk, untuk mendengar cerita Gita selanjutnya.


Gita memberi tahu Devi tentang kepulangan Dewa, dan juga hatinya yang belum siap sepenuhnya.


Devi tertawa. "Udah hampir 2 tahun, Git. masih aja kamu gak bisa move on." Devi memandang Gita lekat-lekat, membuatnya sedikit salah tingkah.


"kenapa?"


"Kamu pikir aku kerasukan, sampe harus di ruqiyah segala?"


"Karena kamu itu aneh! masa jatuh cinta sama kakak sendiri. kaya gak ada cowok lain aja."


"Kakak tiri." Gita mengingatkan. "Kamu pikir aku mau kaya gini? Perasaan itu muncul gitu aja, Dev."


"Ah, itu mah kamu nya aja yang baper." ledek Devi yang membuat Gita cemberut. Dia tahu Devi tidak serius dengan kata-katanya. Devi tahu benar bagaimana sikap Dewa terhadap Gita dahulu, dan itu tidak seperti sikap kakak ke adik pada umumnya. "Elah, bercanda, Git. Tuh bibir gak usah dimajuin gitu. udah kaya pantat bebek aja." Seketika tawa mereka meledak.


"Udah, Git. Mulai sekarang lupain mas Dewa." saran Devi. "Biar aku yang berusaha jadi calon kakak iparmu."


**


"Sebelum pulang, jalan-jalan sebentar, yuk." ajak Dimas. Dia tidak akan memaksa jika Gita tidak ingin menceritakan masalahnya, tapi setidaknya ia bisa sejenak menghiburnya, atau sekedar menemaninya.


"Mau kemana emangnya?"


"Terserah kamu aja, tempat mana yang ingin kamu kunjungi saat ini," jawab Dimas sambil memakaikan helm ke Gita.


Berpikir sejenak. "hmm ... Gimana kalau ke taman saja? Sambil makan eskrim, kayanya enak."


"Dimas tersenyum senang. "Siap, Miss," ucap Dimas, membuat Gita tertawa. Sepertinya suasana hati Gita sudah mulai membaik. Senyum yang tadi pagi hilang sudah Dimas temukan kembali.


dua puluh menit berikutnya, mereka sudah berada di taman, duduk di salah satu bangku setelah sebelumnya membeli beberapa eskrim.


beberapa saat mereka saling diam. Entah karena menikmati kesegaran es yang mereka santap di cuaca yang lumayan terik, atau sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Kalau seandainya kamu mencintai seseorang yang tidak bisa kamu miliki, apa yang akan kamu lakukan?" Gita mulai buka suara, pandangannya lurus kedepan, mengamati anak-anak yang bermain di sana. Ah, seandainya dia ada di posisi mereka. Setidaknya dia tidak harus berperang dengan dirinya sendiri melawan perasaan yang tidak pada tempatnya.


'Itu lah yang aku rasakan saat ini, Git. mencintaimu dalam diam. batin Dimas.


"Mungkin aku akan terus mencintainya. Cinta tidak harus memiliki."


"kata-kata itu klise. Kamu akan tersiksa, Dimas! Kamu tidak akan bisa melihat perempuan yang kamu sayang bersama pria lain. kalau seandainya bisa, kamu harus tanyakan pada hatimu, selama ini kamu cinta atau cuma sekedar nyaman."


"Entahlah, aku gak benar-benar tahu cinta itu apa. Yang jelas aku selalu ingin melihat perempuan itu tertawa bahagia. Aku selalu ingin ada disampingnya, ada di saat suka dan dukanya, dan aku selalu takut, saat membayangkan tidak bisa melihatnya lagi. Dia menghilang dariku."


Gita memalingkan wajah ke Dimas. menatapnya dalam tanpa sepengetahuan Dimas. Apa yang dia katakan hampir sama dengan apa yang dirasakan ke Dewa.


Saat Dimas mendapati Gita tengah memandangnya, dia pura-pura tertawa "ha ha ha menghayati banget kayanya. Ayo ngaku, itu bukan seandainya, tapi itu yang kamu rasakan saat ini, iya, kan?" selidik Gita "Siapa?"


Dimas berdehem, memalingkan wajah, lalu kembali menyantap eskrim. menghilangkan rasa groginya. tapi tatapan Gita masih mengintimidasinya. "Apanya yang siapa?"


"Cewek yang kamu suka! Kamu gak pernah cerita sebelumnya, kalau kamu lagi ngincer cewek!" Gita memanyunkan bibirnya, kesal. Membuat Dimas gemas.


Seketika dia teringat sesuatu. "Ah, aku tahu. Devi, ya?"