My Brother My Love

My Brother My Love
PROLOG



Kamu tidak akan pernah tahu, kelamnya hari yang kujalani selepas kepergianmu. Udara yang masih sama, tapi berbeda. Waktu berjalan begitu lambat. Semua hampa ‘tanpamu.’


Aku tidak pernah bisa menghapus lengkungan senyummu yang merekah, sorot matamu yang bersinar, hangatnya genggaman jemarimu dan semua kebaikanmu yang selama ini salah kuartikan.


Tidak pernah aku sadar, jika selama ini hanya aku saja yang merasakan cinta, sementara kamu ... entah untuk siapa cintamu.


Malam itu, tanganmu dengan erat menggenggam jemariku, seolah kamu takut kehilangan, jika genggaman itu terlepas.


Kita memasuki area pasar malam, melewati lalu lalang pengunjung yang saat itu cukup banyak. Kita mencoba beberapa wahana, tentunya dengan sedikit rengekanku, mau tidak mau kamu terpaksa menemaniku menaiki wahana yang terbilang ekstrim. Aku tahu kamu tidak suka ketinggian, tapi kamu rela menemaniku naik bianglala.


“Mas, aku mau itu.”


Kamu memintaku menunggu, lalu ikut mengantri di stand pedagang permen kapas yang aku tunjuk. “Silahkan Tuan Putri," katamu beberapa saat kemudian. Senyum itu begitu manis, mengalahkan rasa permen kapas yang kini sudah mulai masuk ke mulutku.


“Udah Puas, kan, mainnya? Kita pulang, ya, sekarang," katamu sambil menarik tanganku.


“Bentar lagi, Mas. Aku masih mau di sini!" Kamu berbalik, menatapku dengan tangan menyilang di dada. "Jarang-jarang aku bisa keluar malam kaya gini. Biasanya baru jam tujuh hp ku udah berisik banget. Bunda terus aja nelpon."


Mendengar jawabanku, tanganmu terulur, mengacak puncak kepalaku pelan. "Wajar kalau Bunda seperti itu, Gita. Bunda khawatir, dia tidak mau kamu kenapa-kenapa."


"Aku udah gede, Mas! Aku bisa jaga diri!" ucapku setengah teriak, karna kamu sudah ada beberapa langkah di depanku.


"Itu kan menurutmu!"


Sebenarnya itu hanya alasan saja. Aku sudah sering ketempat ini, dan semuanya selalu sama. Namun, saat datang ke sini bersamamu, semua terasa berbeda.


Detak jantungku berlari cepat, saat kamu genggam tanganku, Padahal malam, tapi seluruh tubuhku mendadak panas. Untungnya tempat ini ramai dan juga berisik, kalau tidak … Mungkin kamu bisa mendengar detakannya.


Bibir ini tak hentinya melengkung, Aku menunduk untuk menyembunyikannya. Semoga saja kamu tidak menyadarinya.


“Mas, boleh aku nanya sesuatu?” Kini kita ada di bangku yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pasar malam. Setidaknya di sini tidak terlalu berisik.


“Menurut Kamu, aku gimana? Sudah cukup umur kan buat pacaran? Aku sudah SMA, lho, Mas.”


Setahun lalu, kamu bilang aku masih kecil, karena masih berseragam putih biru, dan sekarang … aku sudah mulai mengerti tentang rasa cinta, sayang, dan juga sakit.


Mata elangmu menyorot tajam tersinari cahaya bulan, lalu menaruh tangan di puncak kepalaku, mengacak rambutku pelan. Sebuah aktifitas yang belakangan ini menjadi kebiasaanmu.


“Belajar yang rajin, jangan mikirin pacaran dulu.”


Aku mendengus sebal, kamu selalu menganggapku anak kecil. Tanpa kamu sadari jika anak kecil ini telah menjatuhkan cinta pertamanya padamu. Atau mungkin sebenarnya kamu tahu, tapi kamu tidak perduli.


“Mas ... kalau aku bilang, aku jatuh cinta, gimana?”


Hening. Tidak ada satu patah katapun yang keluar darimu. Sementara di kepalaku, begitu banyak pertanyaan yang mencari jawaban dari sikap dan reaksimu yang sulit kuartikan.


"Jauhin lelaki itu mulai sekarang, atau aku bilangin Ayah sama Bunda," ucapmu. Berdiri lalu kamu pergi meninggalkanku.


“Aku gak bisa, Mas!"


Langkahmu terhenti memutar tubuh lalu menatapku seolah menunggu alasan yang jelas.


***


Beberapa hari setelah kejadian malam itu, tidak ada yang berubah dari sikapmu, hanya aku saja yang merasa canggung. Malu? Sangat.


Ah, seandainya aku punya jubah yang bisa buat aku menghilang, seperti hal nya di film Harry Potter yang sering aku tonton. Mungkin aku sudah menghilang sejak malam itu.


Sore itu, aku baru pulang sekolah, karena ada ekskul olahraga. Sebenarnya tidak ada ekskul pun, aku selalu pulang sore, bahkan malam. Setidaknya aku tidak akan berhadapan denganmu saat makan malam, dan untungnya Bunda percaya jika aku pulang malam karena sibuk ekskul.


Tidak, aku bukan perempuan bandel yang terjerumus kedalam pergaulan bebas. Sebisa mungkin aku cari kegiatan di luar rumah, alasannya? Apalagi kalau bukan untuk Menghindarinya.


Samar aku dengar percakapan dua orang perempuan dari ruang keluarga, yang salah satunya, tidak lain adalah Ibuku, dan satu lagi, entah siapa. Mungkin itu teman arisannya Bunda.


Kondisiku saat itu begitu kucel, dengan bau keringat yang nempel di baju. Aku putuskan untuk langsung ke kamar dan membersihkan badan. “Nemuin Bundanya, nanti aja abis mandi. Malu kan di lihat temannya Bunda,” pikirku.


“Dewa gak pernah cerita sebelumnya tentang kamu, lho."


Belum sempat aku masuk kamar, langkahku terhenti saat mendengar suara Bunda. Kok, Bunda nyebut-nyebut nama Dewa?


Penasaran. Aku berbalik arah untuk menemui Bunda. Lebih tepatnya ingin mengetahui siapa perempuan yang asik bergosip dengan Bunda.


“Kamu udah pulang? Tumben gak teriak-teriak panggil Bunda?”


“Ck, capek, Bun." Aku melempar tas ke kursi yang kosong, lalu menghempaskan tubuh di sebelah Bunda.


Sementara pandanganku tak lepas dari sosok wanita yang ada di hadapanku. Dia gak mungkin teman arisannya Bunda. Dia masih sangat muda. Mungkin usianya gak beda jauh dariku. Penampilannya begitu modis dan juga ... cantik.


“Ihhh, dasar jorok. Mandi sana, kamu bau keringat." titah Bunda sambil menutup hidung, dan mengibas-ngibaskan tangan di udara. So didramatisir banget.


Aku mendongak saat merasakan ada tangan yang mengusap puncak kepala dari belakang. “Iya, kamu itu bukan anak kecil lagi, harus jaga penampilan.” Aku tidak mengindahkan ucapan Mas Dewa. Kalau kamu tau aku bukan anak kecil, kenapa kamu mainin perasaanku?


“Siapa, Bun?” bisikku.


“Oh, iya. Ini Delia. Pacarnya Mas Dewa.” Bunda memperkenalkanku padanya. Dia berdiri, mengulurkan tangan untuk bersalaman denganku.


saat itu rasanya aku tidak punya kekuatan apapun, bahkan untuk menopang tubuhku saja rasanya sulit. mataku mendadak panas. Aku menatapmu yang sudah ada disebelah perempuan itu. Berharap mendapat jawaban 'Tidak' darimu. Jika apa yang aku dengar itu salah.


Mungkin saat itu kamu bisa melihat genangan airmata yang sekuat tenaga kutahan agar tidak meluncur bebas, namun setelahnya kamu hanya menunduk.


aku melemparkan pandangan ke wanita yang ada dihadapanku, menarik napas dalam. sebelum berdiri. Sedikit perkenalan unik mungkin akan berkesan. "Aduh, hidungku kok gatal, ya." Aku mengesek-gesek hidung lalu sedikit memasukan jariku kesana sebelum menerima jabatan tangannya. Ekspresinya saat itu lucu antara jijjk dan ilfeel mungkin. Dia berniat menarik tangannya, namun sebelum niatnya tercapai aku sudah terlebih dahulu meraih tangannya.


"Gita! Jorok, ih."


"Gak sengaja, Bun." jawabku santai.


Dia menatapku tidak suka. " Gak papa, kok. Tante. Dewa sering cerita lho, tentang Gita. Jadi kurang lebih aku tahu gimana sifatnya," katanya ke Bunda.


Delia kembali duduk disebelah Mas Dewa. "Semoga kedepannya kita bisa cocok, ya. Git. karna sebentar lagi aku akan jadi kakak ipar kamu," katanya dengan senyum ramah, tapi palsu.


"Huem. Ya kita liat aja, nanti."