
"Asri Nino in the morning! Selamat pagi sobat Delta! Oke, Satu lagu dari Ariana Grande with Problem akan ngasih loe semangat di pagi yang sedikit mendung ini, tapi hati loe jangan ikutan mendung, ya, sobat Delta ...."
Suara lantang Nino Kayang dan Asri Welas, disusul lagu-lagu dari sound radio selalu menemani pagi gadis yang masih enggan beranjak dari tempat tidur itu. Tubuhnya masih sembunyi dibalik bed cover karakter Doraemon, tokoh kartun favoritenya. Sesekali dia berguling-guling lalu meregangkan tubuhnya.
"Gita! Cepat siap-siap, nanti kamu terlambat!" Mau tidak mau dia harus meninggalkan tempat ternyamannya, setelah 'alarm' nya mulai bersuara dari balik pintu.
"Iya, Bunda!" Seandainya ini hari libur, dia pasti akan stay di tempat tidur seharian, menonton film yang menampilkan pria-pria tampan lalu setelah itu pergi ke alam mimpi untuk menemui salah satu dari mereka. Ah, sungguh halusinasi yang sangat indah.
Dengan gontai, dia melangkah ke kamar mandi, disambarnya handuk berwarna putih yang tergantung di dinding kamar. Sambil bernyanyi mengikuti lagu yang diputar diradio, dia memulai aktifitas mandinya. Suaranya memang tidak terlalu bagus, tapi setidaknya hanya bunyi shower yang seolah memprotes dirinya.
Gita berdiri di depan cermin setelah memakai seragam putih abu-abu. Menyisir rambut hitamnya yang dibiarkan terurai, juga memoleskan lip bam dan sedikit bedak. Kulitnya memang tidak terlalu putih, tapi dengan matanya yang sayu, hidung mancung dan pipi yang sedikit cuby, membuat dia terlihat manis.
Di dinding kamar berukuran 4 x 4 M² yang dominan berwarna putih dan biru itu, terpajang beberapa poster boy band K_pop, di atas meja juga ada poto dua gadis berseragam putih abu-abu yang saling rangkul dan tertawa bahagia, mereka adalah Gita dan sahabatnya, Devi. Ada juga poto seorang lelaki yang memakai kemeja hitam lengan panjang dengan sedikit senyuman yang ditampilkan.
Tiba-tiba ponsel berdering, ada pesan masuk. Gita mengobrak-abrik tempat tidurnya, mencari benda pipih yang dia simpan di sana semalam, kalau dia gak salah.
[Aku sudah ada di jalan, sebentar lagi aku sampai rumah kamu]
**
"kamu yakin, dengan keputusan ini?" tanya Bunda sambil menaruh segelas kopi di hadapan suaminya. "Apa tidak sebaiknya kita bicarakan dulu?" Dia menatap Imran penuh harap. Bunda bukannya tidak setuju dengan keputusan suaminya, dia hanya ingin menyerahkan masa depan anak-anaknya kepada mereka.
Imran menghela nafas, ditaruhnya ponsel yang sejak tadi dia pegang, "Iya, Sayang. Aku sudah bicarakan ini dengan orang tuanya Adel, dan mereka sudah setuju. Bahkan mereka ingin secepatnya merealisasikan rencana ini."
Imran sangat yakin kalau Dewa akan setuju dengan perjodohan itu. Dewa dan Delia sudah dekat sejak lama dan setahu Imran, mereka masih berhubungan dengan baik.
"Tapi, bagaimana dengan Dewa? Dia yang akan menjalaninya, apa sebaiknya kita tanya dia dulu?"
"Dewa pasti setuju, mereka sudah lama pacaran kan? Aku sudah nyuruh dia untuk pulang secepatnya. Nanti kita bicarakan lagi setelah Dewa pulang untuk menentukan tanggal pertunangan mereka. "
"Siapa yang pulang?" sambar Gita tiba-tiba. Dia menarik kursi yang ada di depan Bela, lalu bergantian melirik Bela dan Imran yang membisu setelah kedatangannya "Ada apa? Kok pada diem? Siapa yang pulang? Tunangan apa?Lagi bahas apa, sih, kayanya serius banget?" cecar Gita penasaran, kepo tingkat tinggi.
"Gak ada apa-apa. Mau sarapan apa, Neng? Nasi goreng atau roti? Kadieu Bunda ambilin." Bela mengalihkan pembicaraan. Dia berasal dari kota kembang, walau sudah lama tinggal di Jakarta, tapi logat Sundanya tidak pernah hilang, dan di rumah itu hanya Gita dan asisten rumah tangganya yang mengerti. Sementara Imran, satu-satunya yang tidak pernah mengerti bahasa istrinya yang campur aduk, walau sudah hidup bersama kurang lebih 5 tahun.
"Beneran?" tanya Gita lagi, yakin ada sesuatu yang orang tuanya sembunyikan. Namun mereka tidak mau buka suara. "Roti aja, deh, Bun. Takutnya gak keburu, bentar lagi Dimas datang. Terus tadi, siapa yang kalian gosipin pagi-pagi? Ck, ck, ck. Kasihan tuh orang." Gita mendramatisir. " Makanya, Bun. Jangan keseringan berkumpul sama teman arisan, jadinya gini deh, Pagi-pagi udah ngegibahin orang." ledek Gita.
"Ihh, siapa yang ngegosip? Tadi kita lagi ngomongin Mas-mu." Lagian, biarin aja si Dimas teh nungguan, Bunda gak mau, anak Bunda sakit karena makannya sedikit. Kamu itu dalam masa pertumbuhan, Geulis, jadi harus banyak makan," cecar Bela sambil mengoleskan selai ke roti.
"Bunda mau aku gendut? Nanti gimana kalau gak ada cowok yang mau sama aku, terus nanti aku jadi perawan tua, terus ...."
"Euleuh-euleuh si Geulis. Kamu itu masih kecil, jangan mikirin pacaran dulu, atuh, Neng." Bela gak kalah ngegas dengan anak gadisnya itu.
"Ayah...." Gita mencari pembelaan.
Imran yang kembali memainkan ponselnya, melihat-lihat berita, menoleh, melihat ke arah Gita, lalu istrinya, bingung harus membela yang mana. Perdebatan antara ibu dan anaknya ini sudah sering terjadi, dan dia tidak pernah ambil pusing, selama itu masih dalam batas wajar.
"Kamu boleh pacaran, tapi nanti setelah lulus SMA."
"Ck, kalian sama aja kaya Mas Dewa. Menganggap aku masih kecil! Sekarang aku sudah kelas 3, bentar lagi kuliah, lho. Kalian lupa?" gerutu Gita kesal.
"Kalau gitu, kamu tunggu aja, beberapa bulan lagi, sampai kamu lulus," kata Bela setengah meledek. "Oh, ya. Seminggu lagi, mas Dewa pulang, jadi kamu_"
Uhuk, Uhuk.
"Makanya kalau minum, pelan-pelan, tong rurusuhan, atuh, Neng." Bunda mendekat, lalu menepuk-nepuk punggung Gita.
Seketika nadinya berdenyut kencang. Entah dia harus sedih atau senang. Sebenarnya bukan karena minuman yang membuatnya tersedak, tapi karena satu nama yang selama setahun ini dia berusaha lupakan. Nama yang selalu berhasil memporak-porandakan hatinya.
Dia sadar, bukan hanya cintanya yang bertepuk sebelah tangan, tapi juga keadaan dan status yang menghalangi dia untuk bisa bersama Dewa. Kini Dewa kembali, dan Gita harus membentengi hatinya lebih kuat lagi untuk tidak kembali terperangkap dengan perasaannya.
"Aku berangkat, Dimas sudah jemput."