
Tiga hari saja sudah sangat lama bagi Alessa yang kini bekerja bagi Leo, bukan tentang pekerjaanya yang berat tapi tentang menghindari Leo. Setelah pulang bekerja dari club, Alessa kini hanya mempunyai jam tidur tiga jam saja. Pada saat jam setengah tujuh ia harus bergegas membersihkan apartement dan menyiapkan sarapan untuk Leo sebelum bosnya itu bangun.
Karena hal itu juga ia sangat mudah lelah dan saat pelajaran berlangsung ia sering mengantuk membuat teman-temannya khawatir.
Alessa mendudukan tubuhnya di kursi kantin, ia lalu menarik tasnya di atas meja sebagai bantalan ia lalu merebahkan kepalanya. "Nanti bangunin ya."
Mega dan Gisel mengangguk mengerti, mungkin bagi Alessa 30 menit sangat berharga baginya.
Leo yang menyadari perubahan Alessa yang tak bersemangat tentu saja khawatir, mengingat Alessa kini memiliki dua perkerjaan sekaligus.
"Kenapa?" tanya David melihat Leo berdiri mematung melihat kearah bangku dimana Alessa tengah tertidur.
Leo menggeleng sambil kembali berjalan.
***
"Gimana sih, kok sampai kamu gak tahu! Sudah hampir 4 tahun kamu mata-mataiin anak saya kenapa masih juga kelolosan!" Tanyanya memukul keras meja di depannya.
Laki-laki dengan setelan seperti tukang ojek tersebut menunduk, ia hanya bisa memberikan sedikit informasi mengenai anak dari pria didepannya. Ia kehilangan informasi tentang dimana kini anak pria tersebut tinggal.
Tak lama laki-laki lain berusia lebih muda berjalan memasuki ruangan kerja yang begitu megah.
Pria yang duduk di kursi lalu mengarahkan laki-laki yang tadi untuk keluar, dengan pelan ia lalu menyandarkan tubuhnya dengan memijit pelipisnya.
"Kenapa Dave?" tanyanya membuka pembicaraan.
"Dia masih sering ke kampus, walau akhir-akhir ini ia terlihat sangat lelah." dengan menyodorkan poto seorang gadis.
***
Alessa keluar dari kamar tanpa mengetahui bahwa Leo sudah menunggunya di ruangan tv.
Leo berdehem, saat melihat Alesaa.
Alessa cukup lelah dengan aktifitasnya, jadi ia tak memperdulikan Leo yang mungkin saja ingin beradu argumen denganya lagi.
"Kemana?" tanya Leo, berjalan membuntuti Alessa.
"Kerja lah, emang apa lagi!" ketus Alessa.
Tanpa aba-aba Leo merebut tas slempang milik Alessa, ia lalu merogohkan isi tasnya mencari ponsel butut milik Alessa.
"Lo mau apa?" tanya Alessa heran, saat Leo mengutak-atik ponsel miliknya.
Leo menunjukan siapa yang ia telpon kepada Alessa, kedua matanya otomatis membulat tak percaya.
Leo menyerahkan ponsel tersebut kepada Alessa saat Vino mengangkat telponya.
"Alessa." kedua kalinya Vino memanggil Alessa.
Alessa melotot ia tak tahu harus berkata apa.
"Bilang lo mau putus kerja." ujar Leo dengan berbisik.
Leo mengisyarat telunjuknya di bibir, tak lama terdengar suara di sebrang. "Alessa." lagi-lagi Vino disebrang memanggil.
"Vin."
Disebrang Vino menjauhkan ponselnya untuk melihat kontak siapa yang menghubunginya, Alessa. "Leo?" tanyanya ragu.
"Iya, hmmm... Gue mau ngomong soal Alessa, hari ini dan seterusnya dia gak bisa kerja."
"Hah... Gak bisa dong!" teriak Vino.
Leo berdecih kesal, ia lalu berjalan menjauh dari Alessa yang kini tengah berusaha melepaskan sepatunya yang barusan ia pakai.
Leo berbalik ia lalu berjalan ke arah Alessa membuat Alessa berjalan mundur, sambil terus menelpon Vino.
Tak lama Leo menyodorkan ponsel Alessa, yang dengan ragu diterimanya. "Vin?" panggilnya, dengan berjalan menjauh dari Leo
"Nanti gue transfer gaji lo dan uang kompensasi juga."
"Maaf Vin, selama ini gue nyusahin lo." ucap Alessa, yang hanya dibalas deheman kecil dari Vino.
"Jaga diri lu baik-baik, Sa." sebelum akhirnya telpon ditutup oleh Vino.
Alessa menatap Leo yang kini bergegas masuk ke dalam kamarnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun setelah dengan seenaknya memutuskan rezekinya.
Dengan kesal Alessa memungut tas slempangnya yang tadi Leo lempar sembarang.
***
Malam tadi adalah malam yang sangat panjang bagi Alesaa, yang baru kembali merasakan tidur malam setelah sekian lama ia bergadang untuk bekerja.
Seperti biasa Alessa dengan gesit membersihkan ruangan apartement, dan memasak. Sebelum Leo keluar dari kamar ia bergegas kembali ke kamarnya, namun suara pintu utama terbuka membuatnya mengurungkan niat ia berbalik melihat siapa yang datang.
Anak kecil? ucap Alessa melihat anak kecil berjalan dengan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia kini duduk di kursi bar dan memakan yang tersaji di sana.
Alessa menatap kesal anak kecil tersebut. "Heh, kamu siapa?" tanyanya heran.
"Pembantu baru?" tanyanya mendelik tajam ke arah Alessa.
Mulut Alessa mengangga, ia lalu menarik tubuh anak kecil tersebut turun membuat tangisan anak kecil tersebut meledak.
Leo yang mendengar hal gaduh dipagi hari langsung keluar dari kamar, melihat Alessa dengan wajah marah tengah mengenggam lengan Radit, keponakannya yang sedang menangis.
"Sa dia keponakan gue." ucapnya ia lalu berjongkok menepuk-nepuk dada anak tersebut yang kotor karena tertumpah makanan.
Alessa tersenyum sinis. "Oh pantes mirip!"
"Lo kenapa sih kasar sama anak kecil?"
"Dia barusan panggil gue pembantu, dengan suara yang ..." Alesaa tak melanjutkan ucapannya ia malah berjalan pergi menuju kamar karena ia sudah hampir terlambat menuju kampus.
***