
Leo duduk di mejanya, matanya tertuju pada layar komputer di depannya. Ruangan itu sunyi, kecuali suara jari-jarinya yang mengetuk keyboard. Di luar, matahari terbenam, memancarkan cahaya hangat melalui jendela. Tapi di dalam, ia fokus pada pekerjaannya, pikirannya dipenuhi oleh tugas yang ada. 5 tahun telah berlalu, kepergiaan Alessa yang berkuliah di Universitas Of Cambrigde, membuat kepribadinya berubah menjadi sosok pria yang tidak banyak bicara.
Suara ketukan mengalihkannya dari layar laptop, sekretarisnya terlihat dari balik pintu.
"Kenapa?" Tanya Leo pendek, dengan matanya yang tidak pernah lepas dari layar.
"Saya pamit pulang, pak."
Leo melirik ke arah jam yang tersimpan di atas meja kerjanya, jam sudah menunjukan pukul 6 sore. "Silahkan." Jawabnya.
"Terima kasih pak."
Saat pintu tertutup, Leo mendesah pelan ia memutar kursi kerjanya ke arah jendela, menatap keluar ke langit sore. Di kejauhan cahaya remang-remang dari lampu jalan mulai menyinari kota yang padat.
Leo menatap ponselnya, menunggu pesan dari Alessa yang selalu sibuk. Alessa tengah menyelesaikan program penempatannya di rumah sakit setelah dua tahun di tempatkan di rumah sakit yang berbeda, di tahun terakhirnya kini di tempatkan di salah satu rumah sakit di kota Peterborough, 12 jam dari kampusnya.
Bila seperti ini Leo pasti mengandalkan orang kepercayaannya yang ia kirim ke sana untuk mengawasi Alessa. Ia mengetik sesuatu di ponselnya, tak lama ia mendapatkan balasannya yang mengatakan rumah sakit akhir-akhir ini tengah sibuk.
Suasana kantor yang sepi terasa begitu sunyi dan hampa. Tidak ada suara mesin fotokopi yang berisik, tidak ada suara keyboard yang diketik dengan cepat, dan tidak ada suara dialog ringan antar rekan kerja. Leo mempercepat langkahnya menuju lift, seperti hari kemarin ia selalu mendapat pesan kosong dari Alessa membuat perasaan rindu sekaligus kesal.
***
Matahari menampakan dirinya di sebelah barat di atas kota Peterborough yang menawan, memancarkan cahaya hangat siang di atas jalan-jalan kuno. Suara lalu lintas yang ramai dan obrolan penduduk setempat memenuhi udara, menciptakan suasana yang hidup.
Alessa berjalan menuju rumah sakit di kota tersebut yang menjadi rumah sakit terakhir ia di tempatkan, Alessa tidak dapat menahan diri untuk tidak mengagumi keindahan arsitektur gedung-gedung di sekitarnya. Dinding bata tua dan detail fasad yang rumit merupakan bukti sejarah kota yang kaya.
Ketika Alessa memasuki rumah sakit, ia disambut oleh aroma khas rumah sakit dan bunyi bip dari berbagai penjuru ruangan.
"Selamat pagi, Alessa ku sayang." Sapa salah satu temannya yang juga berasal dari indonesia.
Alessa tersenyum kecil, ia masih sibuk mengganti pakaiannya.
"Oh ya, dokter yang kemarin sama kamu nanyain lagi tuh."
"Jangan gitu lah, Nay."
"Why, he is very handsome for the size of an old man. Apalagi dia dokter spesialis."
"Aku tuh segan sama dia, udah ku anggap guru bagiku."
"Ya-"
Alessa menutup mulut Naya yang super duper cerewet. "Udah, yuk kerja."
Naya mengangguk, tangan Alessa terlepas ia lalu mendorong bahu Naya bergegas keluar dari ruangan ganti.
Saat bekerja Alessa berlari-lari ke sana ke mari, mengecek pasien satu per satu. Ia mengecek tekanan darah, memberikan obat dan memeriksa hasil tes darah. Semua berjalan dengan cepat dan teratur, di tengah keramaian itu, Naya terlihat sedang berjalan dengan tergesa-gesa. Ia memegang sebuah kertas di tangannya, yang berisi daftar pasien yang harus ia periksa siang itu. Naya tampak sedikit terengah-engah, namun ia tetap berusaha untuk tetap tenang dan fokus.
Alessa menyadari sesibuk itu mereka dalam menyelesaikan tugas akhir penempatan. Ia tak sabar untuk lulus kuliah dan kembali ke tanah air, berjumpa dengan sosok yang selama ini ia rindukan. Leo, pria itu selalu menunggunya senyumnya semakin mengembang memikirkan sosok Leo yang selalu tak mau kalah dengannya.
Saat Alessa dan Naya duduk untuk beristirahat setelah shift panjang di rumah sakit, mereka berdua tidak bisa menahan perasaan campur aduk.
Alessa membuka salad yang ia beli, setelah menuangkan sausnya ia menguncangnya pelan.
"Itu dokter yang gue bilang nanyain lo mulu." Naya menunjuk tepat di wajah sang dokter, Alessa dengan cepat menarik tangan Naya.
"Nay." Pekiknya
Naya tersenyum meminta maaf, tubuhnya selalu beraksi secara tiba-tiba.
Dokter yang tadi di tunjuk Naya berjalan ke arah mereka berdua, Alessa mencoba untuk tidak terlihat peduli ia menyuapkan salad sayur ke mulutnya.
"Hello." Sapa Dokter Theo, spesialis pathology. "Apa aku bisa gabung?" Tanyanya dengan membawa box salad yang sama dengan Alessa makan.
"Lah, bisa bahasa indo loh dok."
Theo tersenyum lebar, sambil mengangguk. "Ibu saya orang indo, jadi saya bisa dan tau bahasa indo."
"Oh begitu, boleh dok silahkan duduk." Ucap Naya mempersilahkan tanpa meminta persetujuan Alessa yang terlihat keberataan.
Theo duduk di samping Alessa, ia memandang wajah Alessa yang terlihat menahan kesal. "Teman mu ini kayanya gak suka, padahal mempunyai banyak teman bisa membantu loh. Apalagi dokter muda seperti kalian."
Naya mengangguk semangat. "Tapi teman saya ini, bakal balik ke indo. Jadi dia gak but-"
"Gak kok dok, saya emang anaknya pemalu." Potong Alessa cepat.
Theo tertawa pelan. "Bagus kalau begitu."
Saat Alessa melangkah keluar, udara malam yang sejuk menerpa wajahnya, ia menarik napas dalam-dalam, menikmati kebebasan setelah menyelesaikan shiftnya.
"Alessa." Panggil seseorang di dalam mobil.
Alessa menatap ke arah suara, Theo dokter blasteran inggris indo terlihat di dalam mobil. Alessa yang tak menghentikan langkahnya, membuat Theo menghentikan mobilnya dan berjalan keluar menghampiri Alessa.
"Ya, kenapa dok?" Tanya Alessa.
Alessa menggeleng.
"Ayolah, kita harus membangun pertemanan."
Alessa memejamkan mata sekejap, sambil menatap sekeliling ia lalu mengangguk terpaksa.
Theo tersenyum, ia lalu mengiring Alessa menuju mobil.
"Seharusnya dokter, gak harus repot-repot apartemen ku cuma berjarak empat mil."
"Just call my name, seperti aku memanggilmu Alessa." Tegur Theo, yang mulai menghidupkan mobil.
Alessa mengangguk kecil.
"Di blue apartemen kan?" Tanyanya.
Alessa kembali mengangguk.
"Kapan ujian kelulusan?"
"Ujian akhir, bulan desember."
"Sebentar lagi." Melirik sekilas ke arah Alessa yang mengangguk.
Theo memarkirkan mobil disamping jalan, ia memandangi Alessa yang tengah melepaskan seat belt.
"Kapan-kapan boleh aku berkunjung?" Tanyanya.
Alessa melirik Theo di kemudi, yang tengah memperhatikannya. Dengan ragu ia menganggukan kepala.
"Terimakasih atas tumpangannya."
"Oke, selamat beristirahat."
Mobil perlahan melaju pergi, meninggalkan Alessa berdiri sendirian di trotoar. Ia menyaksikan lampu belakang memudar ke kejauhan, hatinya berat dengan campuran kesal. Ah, ini karena Naya. Batinnya.
Alessa kemudian berjalan menyebrang menuju apartemen, tanpa menyadari seseorang yang sendari tadi berada tak jauh darinya. Dengan napas tersenggal ia mencoba mengirimi teks pada seseorang.
***
Leo membuka matanya saat merasa sesuatu dalam dirinya yang hampir meledak, memimpikan Alessa adalah suatu bencana di pagi hari.
Melihat matahari belum menampakan diri ia akhirnya memutuskan untuk sedikit berolahraga agar ia kembali menenangkan jiwanya yang selalu menggebu-gebu.
Setelah pemanasan, Leo mulai melakukan latihan beban. Dia mengambil barbel yang berat dan mulai mengangkatnya dengan susah payah. Keringat mulai menetes dari wajahnya dan napasnya semakin cepat. Leo lalu beralih ke latihan kardio. Dia menyalakan treadmill dan mulai berlari dengan cepat. Keringatnya semakin deras dan napasnya semakin terengah-engah. Namun, dia tidak berhenti. Dia terus berlari sampai dia merasa puas.
Semua itu ia lakukan untuk menghilangkan hasratnya untuk bercinta, ia melakukannya setiap hari meredakan keinginnya untuk melepaskan sesuatu dalam dirinya.
Leo menyugar rambut basahnya ke belakang, ia lalu mengecek ponsel yang tergeletak tak jauh dari ia duduk. Sebuah pesan video masuk, dari seseorang dengan ekpresi menyelidik ia mulai memutar video tersebut yang menampilkan seseorang yang keluar dari mobil merk ford.
Alessa. Batinnya, Leo tahu walau hanya melihat punggungnya saja.
Tanpa pikir panjang Leo menghubungi si pengirim pesan, yang tak lain adalah orang kepercayaanya.
"Bos." Panggil seseorang disebrang.
"Dengan siapa?" Tanya Leo, ia tak bisa menyembunyikan rasa curiganya.
"Dengan, salah satu dokter dirumah sakit." Jawabnya. "Saya sedang mencoba mencocokan plat nomber mobil, dengan dokter yang bekerja disana." Sambungnya lagi.
Leo mengangguk kecil. "Tak ada hal aneh?"
"Tak ada." Jawabnya cepat.
"Kamu bisa kirim secepatnya."
"Siap."
Leo meremas ponselnya, matanya terpejam marah. Alessa bukan wanita yang ia bayangkan, wanita yang mudah di rayu tapi mendengar gadisnya dekat dengan pria lain tentu hatinya merasa tidak tenang.
Hampir 6 tahun seharusnya membuahkan hasil untuknya, ia tak ingin Alessa jatuh ke tangan siapapun.
Tak ingin memikirkan hal yang malah membuat hatinya semakin panas, Leo memasuki kamar mandi dengan langkah cepat dan membuka keran air dengan kasar. Kenapa ia harus terus-menerus merasa seperti ini? Mengapa dia tidak bisa mengendalikan emosinya yang muncul meledak-ledak?
Leo merasakan air yang mengalir di atas kepalanya, tapi tidak merasakan kesegaran yang biasanya diperolehnya saat mandi. Dia merasa seperti tenggelam dalam amarah dan kekesalannya.
Ia mencoba menghilangkan perasaan itu, tapi semakin dia mencoba semakin dalam dia terbenam. Dia merasa seperti tidak ada jalan keluar dari perasaannya yang menyiksa itu.
Mungkin, dia temannya seperti sebelumnya. Batin Leo, mencoba meredakan pikiranya.
***