
Hari ini suasana kantin kampus seperti hari-hari kemari, bising dan panas. Banyak sekali mahasiswa yang sedang berceloteh tentang dosen yang telat masuk, tugas yang menumpuk, skripsi yang tak beres-beres, keburukan mantan, dan masih banyak lagi.
Hingga membuat seorang mahasiswi memutuskan untuk menyumbat kedua daun telinganya dengan earphone memutarkan lagu-lagu yang langsung disambut gendang telinganya.
Bibirnya bergumam pelan sembari memejamkan kedua matanya, bila sudah begini ia merasa tenang dan stressnya berangsur menghilang.
Mahasiswi itu bernama Alessa Bima, ini adalah hari ia memasuki tahun ketiga dalam mengambil jurusan administrasi di kampus yang cukup terkenal di Jakarta.
Tidak ada yang mencolok darinya gaya berbusananya tak terlalu glamour, hidupnya pun serba berkecukupan. Dan ia hanya seorang pelayan club, yang beruntung bisa kuliah dikampus tersebut.
Perlahan Alessa membuka matanya dengan gerakan lambat, betapa terkejutnya ia di hadapannya kini. Seorang mahasiswa yang terkenal sebagai most wanted, bukan hanya karena ketampannya saja namun mahasiswa tersebut adalah seorang konglomerat.
Si otak udang, tidak.. Udang pun lebih pintar darinya. Batin Alessa.
Cowok tersebut tengah menopang dagu dengan kedua tangannya, menatap kearahnya dengan mimik manis membuat Alessa tanpa rasa sungkan menunjukkan mimik jijik kepadanya.
"Hay, nona cantik." sapa mahasiswa tersebut, sambil menyuguhkan senyum mautnya.
Alessa membalas senyuman cowok tersebut dengan decihan yang cukup keras, alih-alih balas tersenyum malu karena disapa oleh sang konglomerat kampus.
Seketika kantin kampus hening, semua mahasiswa kini menatap ke arah bangku yang sedang di duduki Alessa dan cowok itu, membuatnya risih, setengah mati.
"Boleh kan gue duduk di sini, boleh kan manis?" tanyanya kembali melemparkan senyuman menggoda.
"Oh boleh banget, kebetulan gue juga mau cabut kok." jawab Alessa dengan lantang.
Alessa pun langsung membereskan buku di atas meja kantin, tanpa menunggu jawaban dari cowok di hadapannya yang tengah sibuk terperangah, tanpa membuang waktu ia langsung saja beranjak pergi dari kantin yang kini terasa mencekam.
Alessa sempat melihat cowok itu memutar kedua bola matanya, ia senang membuat cowok konglomerat itu kesal.
***
Cowok bermata hitam gelap itu terus menatap cewek cupu yang selalu, dirinya idolakan yang diam-diam tengah memejamkan mata dengan kedua telinga yang di sumbat dengan earphone, cowok itu tersenyum melihat tingkah cewek tersebut yang kelewatan kalem.
"Oi, bro liatin si cupu?" tanya David, yang juga tak kalah famous dengannya.
"Cie lagi naksir nih sama si cupu!" ucap Ogay, cowok yang terkenal paling rempong.
"Cupu? Cupu yang lo maksud siapa?" tanya Vino saudara cowok bermata biru, yang baru saja datang.
"Noh yang lagi dengerin musik." tunjuk Ogay.
Vino menyipitkan matanya, untuk melihat lebih jelas orang yang di tunjuk temannya. "Oh si Alessa dia karyawan di club gue, lo suk-" kata kata Vino terpotong, saat melihat saudaranya yang kini mendelik kearahnya dengan tajam.
"Tunggu, jangan bohong lo. Maksud lo? Dia jual diri?" tanya saudaranya dengan suara yang terdengar tak percaya, memotong perkatan Vino barusan.
"Wow." Ogay yang mendengar langsung tertawa, namun ia langsung terbatuk untuk mengalihkan tawanya saat melihat cowok di depannya menatapnya tajam.
"Oh, kenapa lo gak pernah bilang sama gue kalau tuh cewek kerja di club lo?"
"Lu nggak pernah nanya, malah nanya masih ada cewek gak buat gue?" jawab Vino, dengan santai sambil menirukan pertanyaan saudaranya dulu.
"Lo suka sama cewek itu?" tanya Ogay dengan memasang muka kepo.
"Gak lah." sinis cowok bermata gelap tersebut dengan buru-buru, sambil memoyongkan bibirnya. "Gue cuma penasaran saja sama tuh cewe, kenapa dia beda aja sama cewe yang pernah ketemu sama gue." tambahnya.
"Asal lo tau dia orangnya ngeri banget." ujar Vino.
"Maksudnya?" tanyanya, dengan memasang muka sebelas dua belas sama Ogay, alias kepo.
"Intinya dia berbahaya kalau lo bermaksud ngajak ONS sama tuh cewek lu harus pikir seratus kali biar bawah lu tetep aman dan nggak impoten dini. Pernah ada om om yang pengen perkosa dia, di club gue, gue nggak tahu pasti kejadiannya gimana. Dia melakukan tendangan maut untung ajah tuh om-om selamat, gue denger-denger sih, dia masih virgin." jelas Vino dengan raut muka serius.
"Gue coba deketin ah..." gumamnya, sambil berjalan menghampiri mahasiswi bernama Alessa tersebut.
"Cih bilang kagak suka, dasar munafik." gumam David.
"What the ****, dia pikir cerita gue lelucon!" gerutu Vino, dengan menatap tak percaya ke arah saudranya.
"Emang kenapa, om-om yang lu ceritain gimana?" tanya Ogay, serius melihat Vino terlihat benar-benar ketakutan.
"Patah." ucap Vino dengan berbisik.
Ogah membulatkan matanya.
"Dia cuma mau ngobrol, Leo nggak akan kenapa!" ucap David dengan masih menatap cowok bernama Leo tersebut.
***
"Hay, nona cantik." sapanya, matanya langsung menatap kearah kedua bolamata yang barusan terbuka.
Cowok bermata hitam itu pun menyugihkan senyuman terbaiknya, yang bisanya membuat semua cewek langsung bertekuk lutut kepadanya, tapi cewek di depannya malah menampilkan mimik wajah yang aneh dengan mengeluarkan suara decihan kesal? Jijik?
"Boleh kan gue duduk di sini, boleh kan manis?" tanyanya dengan masih tersenyum tapi berganti dengan senyuman menggoda.
"Oh boleh banget, kebetulan gue juga mau cabut." jawabnya dengan sinis.
****! Pertama kalinya di cuekin sama cewek. Gerutu cowok tersebut.
Dengan, kesal kedua tangannya menggebrak meja kantin ia lalu kembali berjalan menuju teman-teman yang terlihat tengah menahan tawa.
***