
Saat itu matahari baru saja mulai terbit di atas kota bersejarah Cambridge, menyinari gedung-gedung berusia berabad-abad yang membentuk Universitas. Suara mahasiswa yang bergegas ke kuliah pagi memenuhi udara, kegembiraan mereka terlihat jelas saat mereka mendiskusikan penelitian dan penemuan terbaru. Perpustakaan-perpustakaan penuh dengan aktivitas, dengan para siswa membaca buku tebal kuno dan buku pelajaran modern. University of Cambridge benar-benar tempat yang tiada duanya, tempat orang-orang cerdas dari seluruh dunia berkumpul untuk belajar dan tumbuh.
Sejak dulu Alessa selalu bemimpi untuk berkuliah di universitas terbaik di dunia tersebut, dan kemudian, ketika dia berdiri di depan gerbang universitas, Alessa merasakan kekaguman menyelimuti dirinya, bangunannya sama megahnya seperti yang digambarkan oleh situs google.
Karena perjodohannya dengan Leo, ia akhirnya sampai di kampus tersebut ayahnya selalu menentangnya, walau sebenarnya ia mampu menerbangkan dirinya ke London tapi entah apa yang dipikirkan ayahnya.
Alessa merenung sejenak, mengingat kembali momen-momen indah dan sulit yang telah ia lalui selama kuliah. Saat awal tahun semesternya, Alessa selalu berkeliling di sekitaran King's Parade, entah menghabiskan waktu di Library Court atau menghadiri pesta paska yang diadakan di Leck Hampton.
Selama 3 tahun ia tinggal di Let Hampton, yang jaraknya sangat dekat dengan kampus bersama, Naya. Masa pra klinis telah ia lalui kini ia lanjut ke masa klinis, 2 tahun terakhir ia habiskan di dua rumah sakit berbeda, tahun keempat ia di tempatkan di rumah sakit IPSWICH, tahun kelima di Bedford dan terakhir tugas penempatan di kota Peterborough.
Setelah menyelesaikan shiftnya, Alessa bergegas pergi ke salah satu toko swalayan terdekat yang berjarak 5 menit dari rumah sakit. Ia memasuki toko swalayan sesampainya di sana dengan keranjang belanja kosong di tangannya. Ia berjalan melewati rak-rak yang dipenuhi berbagai macam produk, mencari barang-barang yang ia butuhkan untuk kedepannya.
"Wortel... Tomat che.." Alessa melirik kaca rak display, dimana seseorang tengah memperhatikannya.
Mencoba tak memberi gerakan yang mencurigakan ia kembali melanjutkan memilih beberapa sayuran, dan saat ia melirik kembali ke arah kaca seseorang tersebut masih memperhatikannya dari kejauhan.
Alessa bergegas pergi dari rak sayuran, ia berlari ke salah satu rak saat seseorang tersebut tak memperhatikannya. Sesampainya di rak produk sereal, ia berjalan mengendap-ngendap ke ujung dimana seseorang tersebut baru menyadari hilangnya Alessa.
"Excuse me."
Seseorang tersebut berbalik dengan terkejut, Alessa memincingkan mata mengenali orang di depannya.
***
"Silahkan diminum." Alessa menyodorkan teh hangat buatannya pada Jerry, sesampainya ia di apartemen.
Jerry tersenyum kecil, menerima secangkir teh.
Alessa duduk dengan mug yang mengepul, ia memperhatikan gerak-gerik pria didepannya yang tengah meniup cangkir di tangannya.
"Jadi, dengan siapa bekerja kali ini?" Tanya Alessa, Jerry yang ia kenal dulu adalah Pak Eko suruhan ayahnya yang menyamar menjadi tukang ojek.
"Pak Leo."
Alessa berdecih mendengar Leo, di sebut dengan embel-embel Pak padahal Jerry lebih tua dari Leo. "Sejak kapan?"
"Sejak Non, mulai penempatan di IPSWICH. Saat Non mulai jarang ngasih kabar Pak Leo."
Alessa memejamkan mata sejenak, ia pikir selama ini Leo mengerti kesibukannya ternyata selama ini Leo mencari kabarnya melalui Jerry.
"Katanya dulu gak mau lagi jadi mata-mata? Capek?"
Jerry tertawa pelan. "Kali ini bayarannya beda, Pak Leo bayarin semua biaya kuliah anak saya." Jawabnya. "Jadi gak ada lagi kata capek."
Alessa mengangguk kecil, ia tak bisa menyalahkan keberadaan Jerry hanya karena memata-matai dirinya.
"Non bakal kasih tau Pak Leo?"
Alessa melirik sekilas, sambil meminum teh dimugnya.
Jerry menghembuskan nafas kecil, menyadari keteledorannya kali ini. Di toko swalayan Alessa mengejutkannya karena menyadari dirinya yang tengah memperhatiakannya diam-diam.
"Tapi, Leo satu hari ini gak ada kabar." Ujar Alessa, karena biasanya ia akan mendapat pesan di pagi hari dari Leo.
Jerry mengangguk, dirinya pun mengalami hal yang sama. "Iya bener, dia gak balas pesan dari saya juga."
Alessa mendelik, ia curiga Jerry melaporkannya soal dirinya yang di antar pulang Theo kemarin.
Jerry yang melihat tatapan Alessa menatapnya heran, namun kemudian ia menyadari sesuatu. Dalam keheningan yang tercipta, ia mulai menghabiskan teh yang mulai terasa hangat hingga habis.
***
Setelah mandi yang menyegarkan, Alessa melangkah keluar dari kamar mandi. Aroma vanilla dari sabun mandinya masih tercium di udara. Ia berjalan menuju dapur, kakinya yang telanjang menginjak lantai kayu dengan lembut. Sesaat kemudian Alessa membuka lemari es, ia memikirkan apa yang harus dimasak untuk makan malam. Dia memutuskan hidangan pasta sederhana dan mulai mengumpulkan bahan-bahannya. Suara minyak mendesis memenuhi ruangan saat dia memanaskan panci.
Alessa memotong beberapa bawang bombay dan tomat cerry, aromanya melayang di udara. Ia menambahkan sayuran dan membiarkannya matang selama beberapa menit. Saat dia mengaduk saus, dia menyenandungkan lagu untuk dirinya sendiri.
Tiba-tiba suara pintu apartemen di ketuk, Alessa menghentikan sejenak aktivitas memasaknya tak lama terdengar kembali suara ketukan. Padahal jam sudah menunjukan pukul 12 malam, sejenak ia ragu namun langkahnya menuju pintu tak menyerutukan rasa penasarannya.
Dari lubang pintu Alessa melihat seseorang dengan pakaian serba hitam dengan membawa sebuah koper, Alessa menarik-membuang napas saat pintunya kembali di ketuk. Tak ingin membuat kegaduhan, ia kemudian membuka pintu setelah memasang grendel pintu.
"Anything I can help?" Tanya Alessa, mengintip ke luar. "Leo." Bisiknya pelan saat menyadari sosok di luar.
Leo tersenyum lebar saat mendengar namanya dipanggil. Detik kemudian pintu terbuka lebar, ia lalu menarik kopernya masuk dan dibelakang Alessa menutup pintu dengan perasaan tak menyangka.
Leo berbalik, detik kemudian tubuhnya merapat kepada Alessa, bibir keduanya bertemu.
Alessa yang mendapat serangan tiba-tiba tentu saja tak dapat menghindar apalagi kini Leo telah menciumnya, ciuman yang terasa memabukan baginya tubuhnya terhimpit antara Leo dan pintu di belakangnya.
Sesuatu terasa menganggu matanya, menyadari bahwa panci saus mulai mengepulkan asap. Alessa mencoba mendorong bahu Leo, ciuman mereka terlepas dan ia lalu berlari ke arah kompor dan mematikannya.
"Sausku." Kata Alessa melihat saus pastanya yang hampir gosong.
"Ada apa?" Tanya Leo, heran.
Alessa mendelik. "Saus pasta yang ku buat hampir gosong."
Leo tertawa pelan, matanya melihat ke setiap sudut ruangan. Apartemen ini terlihat lebih kecil, ketimbang saat mereka melakukan video call.
"Kamu menginap disini?"
Leo mengangguk pelan, membalikkan badan menatap Alessa yang kembali melanjutkan memasak.
"Hah?"
"Iya." Jawab pelan Leo, dengan memeluk Alessa dari belakang.
Tubuh Alessa mematung sekian detik, saat merasakan hembusan napas Leo di balik lehernya, dengan perasaan gugup ia kembali melanjutkan masaknya dengan Leo yang memeluknya.
"Setidaknya kamu mandi dulu, bajumu kotor."
Leo tak bergerak sedikitpun, harum vanilla yang menguar dari tubuh Alessa menghipnotisnya setelah sekian lama akhirnya ia bertemu Alessa dan bisa memeluknya. Biasanya ia bertemu Alessa di dalam mimpinya, namun kini Alessa begitu dekat dengannya.
"Leo." Pekik Alessa saat merasakan sesuatu mengigit lehernya.
Leo tertawa pelan ia kemudian berlalu meninggalkan Alessa yang menatapnya kesal, menuju pintu yang ia tebak adalah kamar mandi.
***
Saat matahari mulai terbenam, Beach Club menjadi hidup dengan suara tawa dan musik. Angin hangat membawa aroma air asin dan minyak kelapa, dan pasir terasa lembut dan sejuk di bawah kaki mereka. Leo duduk di kursi santai yang nyaman, merasakan ketegangan di tubuhnya perlahan mencair.
Di kejauhan, Leo bisa mendengar suara ombak yang menghantam pantai, dan sesekali teriakan burung camar. Langit diwarnai dengan corak jingga, merah muda, dan ungu, menciptakan latar belakang pemandangan yang memesona.
"Ada apa?" Tanya Vino yang baru saja datang.
"Baru jadi Ceo, udah jadi yang paling sibuk sedunia aja." Sindir Leo menyambut kedatangan Vino.
Tahun kemarin, Vino di angkat menjadi Ceo yang mengelola Beach Club salah satu properti Maiapada.Group milik keluarga Leo.
Leo sendiri yang menunjuk Vino menjadi Ceo, karena Vino dulu mempunyai beberapa Club mewah di jakarta Leo yakin Vino bisa menjalankan bisnisnya dengan lancar, karena hal itu juga Vino dan Leo menjadi jarang untuk berkumpul.
"Kenapa?" Tanya lagi Vino.
"Gue mau ke london." Jawab Leo, langsung pada intinya.
Vino mengangguk kecil, menyadari arah pembicaraan. "Jenguk Alessa?" Tebaknya.
Senyum kecil Leo mengembang, menjawab tebakan Vino.
"Bagus, tapi awas ajah bablas."
"Jadi, gue minta tolong ya buat handle semua kerjaan gue."
Vino tersedak saat mendengar ucapan Leo barusan.
"Cuma satu minggu."
"Pantes perasaan gue dari tadi gak enak mulu!" Ketus Vino dengan wajah masam.
Vino saja sudah lelah dengan menjadi seorang Ceo yang menghandle properti besar Beach Club terbesar seasia tenggara, kini Leo dengan seenak jidatnya menyuruhnya menghandle pekerjaanya juga.
"Ayolah, gue beneran rindu sama Alessa. Lo kok tega liat sahabat enam tahun LDRan terus."
"Oke." Jawab pendek Vino, dengan berat hati.
***