My Beautiful Girl

My Beautiful Girl
3 : Beer



"Elo..." Gumam Alessa terkejut, membuat Leo menyeringai kecil karena keterkejutan yang ditampilkan Alessa.


"Hay, nona cantik." sapa Leo, suaranya seolah menertawakan Alessa.


"Sedang apa lo disini?" tanyanya dengan menatap tajam ke arah Leo.


Kesialan apa lagi yang membuatnya, kembali bertemu dengan si mahluk berotak mesum. Gerutu Alessa, di dalam hati.


Leo perlahan berjalan ke arah Alessa yang masih menatapnya dengan tatapan tak percaya. Ia memutari Alessa dengan menatap tubuhnya, shampo yang di pake Alessa entah kenapa menyeruak masuk ke dalam hidungnya saat dengan sengaja ia mencium belakang kepala cewek tersebut.


"Hmm maaf." ucap Alessa dengan tersenyum kecil.


Senyuman Leo semakin berbinar, saat mendengar kata maaf dari Alessa.


"No problem." balas Leo, ia lalu memegang dagu Alessa. "Asal lo mau gue cium." lanjutnya cepat.


Alessa menepis tangan Leo dengan kasar, membuat Leo sedikit meringis kesakitan.


"Anda salah orang, saya disini hanya mengantarkan pesanan Anda." Teriak Alessa dengan menatap kesal, ke arah Leo yang sedikit mengerjapkan matanya karena terkejut.


"What, gue bisa bay-"


Kata kata Leo terpotong saat suara tangan Alessa mendarat dengan mulus di pipi kanan Leo. Suara tamparan tersebut terdengar sangat jelas, begitu juga dengan Leo yang terlihat terkejut atas tamparan tersebut.


"Gue gak butuh uang lo." ucap Alessa sambil berjalan ke arah pintu, yang sudah di kunci dari luar.


"Buka pintunya." teriak Alessa sambil menendang nendang pintu ruangan dengan kesal.


Leo bergeram pelan, dengan langkah seribu ia mengejar Alessa yang tengah berusaha membuka pintu.


Ia menarik bahu Alessa agar menghadapnya, ia benci diperlakukan rendahan oleh seorang wanita. Biasanya ia yang selalu merendahkan wanita, egonya tentu saja tertampar.


"Kenapa sih lo lebay banget bergaya gak butuh duit!" Hardik Leo, tangannya mencengkram pergelangan tangan Alessa.


"Emang gue gak butuh duit lu, duit lu juga dari bapak lu!" balas teriak Alessa tak kalah keras.


Mata Leo melotot tajam, melihat keangkuhan diantara mata Alesaa harga dirinya semakin terinjak.


"Sialan lu Alessa!" dengan melepas genggaman tangan Alessa.


Alessa tersenyum kemenangan.


Leo berjalan pelan menuju kursi tadi yang ia duduki, meminum bir dari botolnya langsung menatap Alessa yang masih berdiri didaun pintu.


Alessa berbalik berusaha kembali membuka pintu, namun sia-sia pintu itu tetap terkunci dan sekeras apapun ia berteriak tak akan ada yang membukanya.


Kini Leo yang tersenyum kemenangan, melihat Alessa yang kesusahan untuk membuka pintu karena ia memang meminta Vino untuk mengunci mereka berdua.


"Brengsek!" teriak Alessa kesal, ia lalu berbalik menghadap Leo yang masih di posisinya.


"Buka pintunya Leo, gue mau kerja." pinta Alessa.


"Lo lagi kerja, dungu. Gue kan disini pelanggan, dan lo pelayan." Jawab Leo lugas.


Alessa berdecih kesal.


"Gini ajah, Gimana kalau lu habisan satu botol bir ini, gue akan lepasin lo!" Tangtang Leo.


"Gila lo ya!"


Tak lama botol bir tersebut kosong, ia menggelap bibirnya kasar menggunakan lengan kemejanya.


"Sudah, dan tepati janji lu brengsek!" kesal Alessa menatap tajam Leo yang memandangnya tak percaya.


***


"Gimana?" tanya Vino dengan berteriak saat Leo berjalan ke arahnya, di meja bar yang bising.


"Sialan tuh cewek." ucap Leo, yang Vino artikan bahwa saudaranya gagal.


"Gue kan udah bilang!"


Leo langsung saja meneguk gelas kecil berisi vodka yang tadi ia pesan. "Brengsek gara-gara dia gue jadi kaya gini!" ucap Leo dengan mengusap kasar wajahnya yang terlihat kesal bahwa ia gagal lagi.


"Mending lo nikah sama dia!" ujar Vino dengan wajah polosnya.


Leo tertawa kecil, dengan menatap Vino.


***


Alessa berjalan menjauh dari ruangan nomor 25 dengan terus mengucapkan syukur dengan tak henti-hentinya karena bisa lolos, namun ditengah jalan ia di tabrak seseorang membuatnya terjatuh ke lantai.


"Aduh!" keluhan Alessa.


"Aduh, Alessa maaf nggak sengaja. Kamu kemana ajah sih dari tadi aku cariin?" tanya suara yang terdengar familiar di telinganya, ia pun langsung mendongkak menatap pemilik suara tersebut.


Ternyata, Lala. Alessa pun langsung berdiri dengan di bantu oleh Lala.


"Nggak papah La, aku ke wc dulu ya." ucapnya sambil bergegas pergi, seisi perutnya terasa bergejolak minta dikeluarkan.


***


Ini lah aktivitas Alessa selain kuliah, menjadi seorang pelayan di club yang cukup terkenal. Pertama-tama ia sangat terkejut akan hal yang ia lihat, namun demi perut dan masa depannya ia mulai terbiasa.


"Cepat kau kasana, antarkan ke meja nomor 13." perintah bartender bar, dia lalu memberikan 3 botol vodka kepada Alessa yang baru saja sampai.


Alessa menghembuskan nafas pelan bersiap mengantarkan pesanan.


Setelah minuman tersebut diletakan di meja pelanggan langsung saja ia berjalan menjauh, tapi salah satu dari mereka dengan sengaja menarik ujung roknya, membuat Alessa melotot ke arahnya dan mencoba menghempaskan tangan tersebut.


"Woww, santai *****." ucapnya, dengan bangga temannya yang mendengar tertawa.


Alessa tau apa yang anak abg itu ucapakan, walau suara musik terdengar sangat menggelegar. "Apa lo bilang, ******?" bentak Alessa, dengan menatap tajam anak tersebut.


Alessa sudah muak, dan mungkin siap meledak.


"Ya emang kenyataan, lo ****** berkedok pelayan." sentak salah satu teman dari cowok tersebut.


"Asal kalian tau ya bocah! Gue bukan ******. Jaga ucapan kalian dasar bocah!" Bentak Alessa, kesal.


"Ugh... Kau semakin agresif saja boleh aku minta nomor handphonemu?" pinta cowok tersebut sambil tertawa meledek.


Mulut Alessa menganga, apakah ucapannya terdengar lelucon? Sialan! Tak banyak kata Alessa pun akhirnya berjalan menjauh dari kedua bocah tengil tersebut dan kembali fokus bekerja.


***