
Langit pagi itu biru cerah. Sapuan tipis awan putih di beberapa bagian malah mempercantik warnannya. Burung-burung kecil bercicit atas pagar balkon.
Tangan Alessa memegang tongkat pel, ia menatap pintu Leo yang sejak malam tertutup. Sendari tadi ia tak mendengar aktivitas dari dalam kamar, tak berselang lama Alessa kembali melakukan kegiatannya yang tadi tertunda.
Setelah menata makanan, Alessa buru-buru mengambil totebagnya ia bersiap bergegas pergi ke kampus. Sesaat ia kembali melihat suasana legang apartment, namun Leo tak kunjung keluar dari kamar.
Tanpa pikir panjang Alessa melangkah keluar dari apartment.
***
Saat langkah kaki Alessa memasuki pintu apartemen, suasana sunyi menyambutknya.
Alessa merasakan keheningan yang mengisi setiap sudut ruangan, seakan-akan apartemen ini belum pernah ada yang masuk seperti terakhir kali ia tinggalkan.
Alessa melangkah perlahan, tak ada tanda-tanda keberadaan Leo makanan yang berada di atas meja bar pun masih tetap ditempat semula.
Tanpa banyak bertanya Alessa mulai membersihkan makanan yang tak berkurang sedikit pun.
Setelah membersihkan ruangan tv dan dapur, Alessa kembali ke kamar dan mulai mengerjakan skripsi.
Dua jam panjang, dengan pikiran penuh tanya, akan keberadaan Leo yang sudah dua hari tak pulang membuatnya tak bisa berkonsentrasi penuh. Sesekali Alessa melirik ponsel, harap-harap Leo menghubunginya.
"Kenapa juga gue mikirin Leo." Tegur Alessa pada dirinya sendiri.
Jam dilayar laptop sudah menunjukan pukul sebelas malam, Alessa beringsut berdiri meninggalkan meja belajar. Untuk terakhir kalinya Alessa menatap ponselnya, namun nihil yang ia harapkan tak kunjung datang.
***
Di sebuah butik baju yang mewah, seorang wanita tengah berbelanja dengan penuh semangat. Ia memilih-milih baju dengan hati-hati, mencoba satu kesatuan baju yang ia suka. Wajahnya berseri-seri ketika ia menemukan baju yang cocok untuknya.
Sementara itu, Leo yang menemani kakaknya berbelanja menunggu dengan bosan. Ia duduk di sofa yang nyaman, sambil memainkan ponselnya.
Ia merasa bosan dan tidak sabar menunggu wanita itu selesai berbelanja. Ia merasa seperti waktu berjalan sangat lambat, di dalam store.
"How about now?" Tanya Anna yang sudah keluar dari ruang ganti pakaian.
"Same." Jawab malas Leo, melihat sekilas ke arah kakaknya.
Anna tersenyum menunjuk baju yang ia pakai kepada pelayan toko. "Masih memikirkan perjodohan itu, huh." Tanya Anna, ia kembali memilih tapi kali ini, tas.
"Papa gak bakal ngejodohin lo sama cewe yang gak bermutu. Tenang ajah."
"Tau darimana." Protes Leo.
"Ucapan lo tadi malam bener-bener bikin gue sakit hati tau, emang gue sama Sam gak dijodohin."
Leo tertawa pendek. "Ya lo sih happy, karena Sam anak orang kaya."
"Bla-bla... Gue gak pake uang Sam buat beli tas atau baju, uang yang dikasih Sam gue tabung buat Radit. Catet itu." Jawab Anna yang kini berkaca pinggang didepannya.
Leo memutar kedua bola matanya.
"Apa jangan-jangan, tipe lo... Kaya pembantu lo, si Alessa." Tebaknya dengan menatap Leo menyelidik.
Leo memandang Anna di depannya. "Apaan sih." Elaknya, yang membuat Anna bertepuk tangan tak percaya.
"Ah, tebakan gue berarti bener." Dengan tertawa puas.
***
Pagi itu, suasana kampus begitu sepi. Hanya terdengar suara langkah kaki Alessa yang buru-buru menuju ruang kuliah.
Hatinya gelisah, karena sudah dua hari Leo tidak pulang. Alessa terus berjalan, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Namun, semakin lama ia semakin merasa gelisah. Ia tidak bisa berkonsentrasi pada kuliahnya, dan hanya terus memikirkan Leo. Apakah dia baik-baik saja? Apakah Leo dalam bahaya? Ia merasa seperti terjebak dalam sebuah labirin yang tak berujung.
Gisel dan Mega yang duduk di depan Alessa tengah berbincang hangat. Alessa tak ikut dalam perbincangan tersebut, ia malah menatap kosong ke layar laptop ia terus memikirkan kemana perginya Leo.
Alessa tak berinisiatif mencoba menghubungi Leo, karena ia tak ingin di sebut kepo.
"Sa." Panggil Gisel.
Alessa mengalihkan tatapannya.
"Kenapa, dari tadi perasaan begong mulu?"
Alessa menggeleng pelan menjawab Gisel. "Gue cuma bingung banget, kenapa di bab ini banyak revisi." Dengan menunjuk kertas hvs yang penuh coretan.
***