
Alessa duduk di dalam bus kampus, menatap keluar jendela dan melihat pemandangan kampus yang masih sepi karena pagi hari
Suasana di dalam bus masih tenang dan hening, hanya terdengar suara mesin bus yang bergetar dan suara langkah kaki penumpang yang masuk
Beberapa penumpang lain di dalam bus terlihat sibuk dengan gadget mereka, mungkin sedang mengecek jadwal kuliah atau menyelesaikan tugas.
Sedangkan di tempat lain, Vino sedang dalam perjalanan menuju kampus dengan Ogay yang mengendarai mobil. Ia menikmati suasana pagi yang masih sepi dan tenang, tak menghiraukan perkataan temannya di samping yang sejak berangkat terus mengoceh.
Namun, pandangannya tiba-tiba tertuju pada seorang gadis yang ia kenali yang sedang menaiki bus.
"G, turunin gue di depan."
"Why? What happend?" Tanya Ogay, berturut.
Tanpa pikir panjang, Vino memutuskan untuk turun dari mobil dan ikut menaiki bus tersebut. Ia berharap bisa duduk di dekat gadis tersebut dan mengobrol dengannya.
Vino melihat sekeliling mencari gadis yang membuatnya turun dari mobil, dan akhirnya menemukannya di bagian belakang bus.
Alessa menatap tak percaya atas keberadaan Vino, yang kini berjalan ke arahnya.
"Bagaimana bisa?" Tanya Alessa, alih menyapa laki-laki tersebut.
Vino mengerutkan kening."Kenapa."
"Gak biasanya ajah, baru kali ini gue liat lo." Jawab Alessa.
Hening panjang, Vino melirik sekilas ke arah buku yang sedang dibaca oleh Alessa yang menyadari.
"Kenapa, ada yang salah?" Tanya Alessa.
Vino menggeleng. "Gak biasanya lo bawa-bawa novel." Dengan tertawa pendek.
Alessa mendengus pelan, ia lalu menutupi novel dengan totebagnya.
"Eh iya Vin, lo tau Leo kemana gak? Udah tiga hari dia gak pulang." Tanya Alessa setelah menimbang-nimbang.
"Dia gak ngasih tau?"
Alessa menggeleng pelan.
"Dia pulang ke rumahnya."
Alessa mengangguk-anggukan kepala.
"Kenapa, rindu?" Goda Vino.
Alessa menggeleng cepat. "Gak lah, mana ada." Ketusnya.
***
Alessa duduk di atas kasurnya, menatap layar ponselnya yang terus berdering. Ia merasakan detak jantungnya semakin cepat, dan perasaannya campur aduk.
Selama ini ia menunggu kabar dari Leo, dan sekarang ia menerima telepon dari orang itu.
Alessa mengambil nafas dalam-dalam sebelum menjawab panggilan itu.
"Hallo."
"Gue ganggu ya?" Ucap Leo disebrang.
"Enggak. Lo udah pulang?"
"Belum gue masih ada urusan. Gue boleh minta tolong gak?"
Alessa mengangguk. "Iya apa."
"Tolong rapihin kamar gue."
Alessa berpikir sejenak karena selama ini ia tak pernah membersihkan kamar Leo, Leo pun dari awal tak pernah meminta. "Okeh."
"Nanti juga seperti biasa, bakal ada yang datang buat ambil pakaian kotor gue." Dan, mencuci pakaian Leo juga bukan bagian pekerjaanya karena setiap empat hari sekali akan ada orang laudry yang datang ke apartment untuk mengambil pakaian kotor Leo dengan membawa pakaian bersih milik Leo.
"Oke."
Leo di sebrang mengangguk.
"Oh ya, Sa."
"Kenapa?"
"Lo boleh kok ngerjain skripsi di ruang tv, daripada harus di kamar terus."
"Oh itu, iya makasih."
Akhirnya, Alessa memutuskan untuk mengakhiri percakapan itu dengan senyap. Ia merasa lega ketika telepon itu akhirnya ditutup. Percakapan tadi entah kenapa terasa sangat canggung dan berat.
Saat malam tiba, suasana di kamar balkon menjadi hening dan tenang Di sinilah Leo berdiri, setelah baru saja menelepon Alessa.
Pemandangan di depannya adalah kolam Lotus yang indah dan menarik, namun pikirannya jauh dari sana. Ia merasa kecewa karena setiap percakapaan terasa canggung.
Leo mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Di kejauhan, ia melihat bintang-bintang yang samar-samar bersinar di langit malam, dan merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja.
***