
Leo berjalan dengan hati-hati sesekali melihat kebelakang takut-takut kedua pesuruh ayahnya melihatnya, sambil sesekali mencoba membuka pintu yang berada di lorong ruangan tersebut. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Leo menemukan kamar yang tak terkunci dengan cepat ia memasuki kamar tersebut.
Pintu berderit saat Leo tutup, dari luar ia mendengar dua pesuruh ayahnya berhenti di depan pintu. Kaki Leo perlahan berjalan mundur menjauh dari pintu sambil memperlihatkan ruangan remang-remang dengan satu tempat tidur di tengahnya. Tirai-tirainya tertutup, menimbulkan bayangan di atas ruangan. Udara kental dengan aroma vanilla, dan aroma buku dari sebuah rak buku yang penuh dengan buku novel.
Mata Leo tertuju ke meja di sudut, di mana sebuah laptop terbuka, dengan situs kampus luar negeri dilayar.
Pintu yang berada di dalam kamar terbuka, seseorang dengan lilitan handuk putih keluar dengan handuk lain di kepala. Leo diam membeku, namun gadis yang baru saja keluar belum menyadari kehadirannya.
Saat pintu kamar mandi tertutup, ia berbalik. "Kamu siapa?" Teriak Alessa yang baru menyadari kehadiran Leo.
Leo berbalik, dan mendapati Alessa berdiri ketakutan. "Alessa." Ia lalu berjalan ke arah jendela mengintip sedikit ke luar, dimana orangtuanya masih mengobrol tak menyadari teriakan Alessa.
Alessa menatap lamat-lamat orang di depannya. Leo. Batinnya.
"Are you nuts?" Teriak lagi Alessa, dengan memeluk handuknya.
Perlahan Alessa berjalan menuju pintu, Leo yang menyadari langsung berjalan ke arahnya. Mencegah tangan Alessa yang hendak membuka pintu yang akan membuat persembuyiannya ketahuan.
"Dont touch me!" Teriak lagi Alessa, karena Leo memegang pundaknya yang terbuka.
Leo menatap kesal Alessa yang terus berteriak. "Bisa gak sih gak usah teriak!" Ucap Leo dengan suara tertahan.
"Non, kenapa?" Tanya seseorang di balik pintu.
"Bi ada orang-"
Leo refleks membekap mulut Alessa.
Suasana menjadi tak terkendali karenanya, Alessa yang dibekap mulutnya berusaha keras untuk melepaskan diri, tetapi usahanya sia-sia. Leo menatap kebawah tubuh Alessa yang terbalut handuk, ia menelan salivanya. Alessa yang menyadari berteriak marah, namun yang keluar hanya suara tak jelas.
Bi Nur yang mendengar Alessa tak menjawab kemudian membuka pintu di belakangnya terdapat dua pesuruh ayahnya, Leo lalu menempatkan dirinya di belakang Alessa dengan masih membekap mulut sang gadis.
"Sorry, Alessa." Dengan salah satu tangan melingkar di pinggang Alessa.
Alessa kemudian menggigit telapak tangan Leo yang membekapnya, membuat tangannya terlepas dan mengaduh pelan.
"No, gue yang seharusnya minta maaf." Sejurus kemudian Alessa mengeluarkan jurus menyikut.
Leo mengaduh merasakan perutnya yang perih karena sikut Alessa, ia menjauh dari Alessa yang berlari ke arah Bi Nur.
Dua pesuruh ayahnya lalu mengiringnya keluar dari kamar, Bi Nur menutup pintu kamar melihat Alessa yang sedang berselebrasi karena keberhasilannya mengalahkan Leo.
"Non, gak papah?"
"Gak papa, Bi. Tadi gimana jurusan sikut Sasa?" Tanya Alessa.
Bi Nur mengacungkan jempol, dengan terpaksa.
***
Di dalam ruang makan yang luas, terdapat sebuah meja makan yang terbuat dari kayu jati yang indah. Meja itu dihias dengan meja taplak putih yang bersih dan rapi. Di atas meja terdapat sepasang piring putih yang terlihat baru saja dicuci, dan di sampingnya terdapat sepasang sendok dan garpu yang terlihat mengkilap. Di tengah meja, terdapat sebuah vas bunga yang diisi dengan rangkaian bunga segar yang indah, memberikan sentuhan warna yang menyegarkan. Di sekeliling meja, terdapat beberapa kursi makan yang terbuat dari kayu yang sama dengan meja, yang dihias dengan bantal empuk berwarna merah muda yang menambah kenyamanan saat duduk.
Beberapa pelayan hilir mudik menata makanan yang telah dibuat, salah satu orang yang menjadi ketua pelayan terlihat melihat kembali kinerja rekannya. Sebelum memberi tahu tuannya bahwa makan malam telah siap, ia tak ingin ada celah kesalahan sedikit pun.
Merasa semua beres, ia menyuruh semua pelayan keluar dari ruangan di ikuti dirinya yang berjalan menuju balkon.
"Pak Bima, makanan telah siap."
Pak Bima mangangguk dan sang ketua pelayan berlalu.
"Mari." Ucap Pak Bima kepada Pak Yodarsono.
Keempatnya berjalan, namun Pak Yodarsono merasa ada yang kurang ia melihat kebelakang sebelum memasuki ruang makan. Leo. Batinnya.
"Kenapa, by?" Tanya Lucy.
"Leo."
Lucy menatap sekitar, menyadari bahwa Leo memang tak ada di antara mereka. Namun dari sebuah lorong, Leo berjalan dibawa oleh dua pesuruhnya.
Yodarsono berjalan ke arahnya, dengan tatapan menyelidik.
Lucy tersenyum kecil, kepada Bima dan Danella ia lalu ikut berjalan ke arah Yodarsono.
"Dia mas-"
"Dia berusaha kabur." Ucap salah satu pesuruh Yodarsono memotong ucapan temannya.
Pak Yodarsono menatap tajam Leo, dan Lucy, ia menepuk-nepuk kemeja Leo yang terlihat kusut.
"By, tak enak sama tuan rumah. Jangan dibawa ke hati." Ingat Lucy menggengam tangan Yodarsono untuk kembali ke hadapan tuan rumah.
Mereka lalu duduk di sekitar meja makan, tersenyum dan saling berbicara dengan penuh kegembiraan. Terdapat hidangan lezat yang disajikan di atas meja, mulai dari sup hangat hingga hidangan utama yang menggugah selera. Keempatnya menikmati makanan dengan lahap, sambil saling bercerita tentang kejadian-kejadian menarik yang terjadi dalam hidup mereka.
Suasana semakin meriah ketika kami semua tertawa bersama, menikmati kebersamaan yang tercipta.
Leo yang duduk di antara kerumunan orang yang sedang menikmati hidangan lezat. Namun, pikirannya berkeliaran menerka-nerka tentang kehadiran Alessa yang ia temui, tak seperti orang lain yang sedang menikmati hidangan yang disajikan.
Denting peralatan makan dan gumaman percakapan memenuhi udara. Tiba-tiba, telepon berdering, memecah suasana yang menyenangkan. Kepala menoleh ke arah sumber suara, dan keheningan menyelimuti ruangan.
Leo menjawab telepon tampak terkejut. "Saya izin mengangkat telepon."
Yodarsono dan Lucy saling bertukar pandang ingin tahu, bertanya-tanya siapa yang bisa menelepon di acara sepenting itu.
"Hallo, ada apa?" Tanya Leo setelah keluar dari ruang makan.
"Kenapa susah banget dihubungi?" Balik tanya Vino.
Leo berdecak. "Sinyalnya jelek. Ada apa?"
"Selama ini dugaan lo bener soal Alessa."
"Maksud lo?"
"Alessa yang kata lo aneh. Ternyata anak Pak Bima, anak orang kaya!"
Mata Leo membulat, itulah mengapa Alessa ada di rumah ini. "Serius?"
"Iya, pas wisuda nama ayah Alessa di sebut. Selamat ya ternyata selama ini lo deket banget sama calon tunangan lo." Vino di sebrang tertawa pelan, membayangkan kalau Leo masih bersama Alessa bisa di pastikan temannya itu pasti mengambil langkah ekstrim.
"Maksud lo?"
"Alessa anak tunggal Pak Bima."
Leo mengenggam ponselnya kuat-kuat, jadi tebakkannya benar Alessa adalah putri tunggal Pak Bima, berarti Alessa memang yang akan menjadi calon tunanganya, jadi orang yang bermain kuda tadi juga adalah Alessa.
Leo merasa bahagia yang tak terkira saat mengetahui bahwa dia akan dijodohkan dengan Alessa yang selama ini dia incar. Dia merasa seperti sedang berada di atas awan ketujuh, hatinya berbunga-bunga dan senyumnya tak henti-hentinya merekah.
Seharusnya ayahnya memberitahunya lebih awal siapa yang akan menjadi calon tunangannya, dan ia tak harus menolak perjodohan ini.
Leo menyugar rambutnya sebelum meninggalkan balkon, namun sosok dengan dress merah menghentikan langkahnya.
"Alessa." Sapa Leo.
***
Suasana setelah makan terasa hangat dan nyaman. Suara dentingan piring dan gelas telah mereda, digantikan oleh suara piring dan peralatan yang dibereska beberapa pelayan.
"Leo kenapa lama sekali?" Tanya Lucy menatap ke arah pintu.
Yodarosono yang tengan mengelap bibirnya mengedikan bahu tidak tahu.
"Mungkin itu panggilan yang sangat penting." Jawab Danella.
Lucy mengangguk, ia hanya tak ingin Leo kembali berulah dan membuat keluarga mereka malu.
"Bagaimana kita ke ruang tamu saja, untuk membahas perjodohan ini?" Ajak Bima.
Semua mengangguk setuju.
"Kita akan di ruang tamu saja, tolong semua dessert dibawa ke sana." Ucap Bima, semua akhirnya mereka bergegas berdiri menuju ruang tamu.
Ketua pelayan mengangguk, ia lalu menyuruh pelayan untuk membereskannya kembali ke food trolley.
***