
Saat matahari belum menampakan dirinya di langit Jakarta, Leo berjalan ke dalam bandara bersama satu asisten yang akan ikut menemaninya ke London. Ia telah memimpikan saat ini selama bertahun-tahun - saat ketika dia akhirnya akan naik pesawat menuju London menemui Alessa.
Kali ini perjalanan Indonesia ke London memakan waktu hampir 16 jam, 8 jam dari Indonesia ke Doha, Qatar. Kemudian dilanjut 8 jam, ke Bandar Udara Internasional London Heathrow. Selama perjalanan Leo habiskan waktunya untuk tidur karena, sesampainya di bandar Heathrow ia akan kembali melanjutkan perjalanan ke kota Peterborough yang akan memakan waktu hampir 2 jam.
Jam sembilan malam di Bandara Heathrow, suasana sekeliling sepi hanya di Immigration Checkpoint yang terlihat ramai. Setelah cek imigrasi, Leo berjalan keluar dari Bandara dimana sebuah mobil hitam telah menunggunya.
"Langsung ke Peterborough?" Tanya asisten kembali memastikan.
Leo mengalihkan pandangan dari ipad miliknya, ia mengangguk kecil.
Jantung Leo berdebar kencang saat mobil mulai berjalan menuju kota dimana Alessa tinggal. Ia merahasiakan kedatangannya, ingin mengejutkannya. Ia tidak sabar untuk melihat ekspresi wajah Alessa ketika dia melihatnya.
Saat Alessa membuka pintu, Leo melihatnya wajahnya yang terlihat tirus dari balik pintu, terlihat cantik seperti biasanya ia tidak bisa menyembunyikan rasa rindunya setelah menutup pintu ia berbalik menyamabar bibir Alessa yang ia rindukan.
***
Pintu kamar mandi tertutup, Alessa memegang dadanya yang tiba-tiba saja berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia terjatuh dengan wajah yang memerah mengingat kembali akan ciumannya tadi bersama Leo.
Kalau saja panci saus tak mengepulkan asap, bisa dipastikan ia akan lupa diri mengingat betapa candunya bibir mereka saat bertemu.
Alessa memejamkan matanya sekejap untuk menormalkan perasaanya yang menggebu-gebu, ia kembali menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Leo yang berada di balik pintu kamar mandi.
Tak lama Leo keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dengan bagian bawah tubuhnya yang tertutup handuk putih, ia sedang sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk khusus kepala.
Alessa terteguh melihat perut datar Leo yang tiba-tiba menghipnotis dirinya, saat pertama kali bertemu ia tak mengenali sosok Leo yang terlihat berbeda dan kini ia tau apa yang berubah dari seorang Leo. Tak ingin terlihat sedang memperhatikan Alessa berdehem pelan, sambil duduk di lantai dibawah meja sofa yang telah tersaji dua piring pasta.
Leo tersenyum lebar melihat makanan yang begitu menggugah seleranya, ia ikut duduk di samping Alessa dengan tak mengenakan baju.
"Pake baju dulu ke, L." Tegur Alessa merasa jengah atau ia takut ketahuan saat makan diam-diam memperhatikan tubuh Leo yang kekar.
Leo menyibakkan handuk ke samping, memperlihatkan boxer hitam yang ia pakai.
Mata Alessa terpejam, ia menghembuskan napas kesal melihat kelakukan Leo yang seenaknya.
Leo tertawa pelan di sela kunyahanya.
"Kenapa gak ngasih tau kalau mau ke sini?" Tanya Alessa mencoba memecah keheningan.
"Mau ngasih kejutan ajah, gak suka?"
"Aneh ajah, setelah satu hari gak ngasih kabar tiba-tiba muncul di depan pintu."
Leo melirik Alessa yang tengah mengaduk-aduk pasta tanpa memakannya, tangannya terulur menyentuh pipi Alessa. "Kamu kurus banget, Sa."
Alessa membiarkan tangan Leo mengusap pipinya, memang beberapa hari ini ia jarang makan ia memasak hanya karena ingin, paling ia akan memakannya sedikit lalu menyimpannya lagi untuk dimakan nanti.
"Makan, Sa." Perintah Leo menatap tajam Alessa.
Alessa mau tak mau menyuapkan pasta buatanya.
Untuk kedua kalinya, tangan Leo terulur kali ini menyentuh sudut bibir Alessa yang sedang fokus mengunyah.
Alessa menatap Leo heran, pandanganya teralihkan oleh bagian atas tubuh Leo yang tak tertutupi ia merasakan wajahnya panas menjalar hingga ke telinga.
"Sa, kamu gak papah?" Tanya Leo memastikan.
Alessa menepis tangan Leo, ia kembali fokus menghabiskan pasta di piringnya dengan Leo yang menatapnya heran.
Setelah makan bersama yang canggung Alessa berdiri di wastafel dengan air mengalir dari keran yang terbuka. Ia merasa kesal dan frustasi, dan mencoba mencuci piring untuk mengalihkan rasa aneh yang muncul dalam dirinya.
Sesuatu melingkar di pinggangnya, Alessa merasakan deru napas berat Leo yang memeluknya dari belakang.
"Bagaimana bentuk perutku?" Tanya Leo, dengan bersandar pada leher Alessa.
"Maksudnya?" Tanya Alessa pura-pura tak mengerti.
Leo tertawa pelan, ia semakin mengeratkan pelukannya pada Alessa. Ia tahu diam-diam gadis itu selalu memperhatikan dadanya saat mereka makan bersama.
"Enam tahun aku mengalihkan libidoku, dengan cara berolahraga? Kamu suka?"
Alessa menahan napas, dadanya terasa hampir meledak ditambah kini Leo yang mulai gencar mengecup lehernya.
Leo tersenyum disela kegiatanya mengecup leher jenjang Alessa, ia tak tahan melihat Alessa yang berdiri membersihkan piring sesuatu terasa menyuruhnya untuk memeluk tubuh Alessa yang terasa kecil saat ia mendekapnya.
Kecupannya merambat ke atas, beberapa kali ia mencium pipi tirus Alessa, kemudian beralih ke bibirnya mengecupnya pelan sebelum akhirnya menciumnya semakin dalam.
Alessa terbuai dengan sikap Leo yang selalu mendadak, ia merasakan dirinya yang tiba-tiba merasa lemas tak berenergi kedua tangannya meremas kuat pinggiran ujung wastafel.
Tangan Leo mencoba masuk ke dalam baju yang dikenakan Alessa, ia meremas pelan kulit perut Alessa yang terasa halus dan hangat.
"L." Disela ciuman tersebut Alessa mencoba memperingati tangan Leo yang semakin naik ke atas.
Leo tak bergeming, saat pertama memeluknya ia tahu Alessa tak mengenakan apapun selain baju yang ia pakai, dan kini ia berhasil menangkup sesuatu milik gadis itu di dekapannya meremasnya pelan, ukurannya terasa pas di tangannya.
"L." Bentak Alessa yang berhasil melepaskan ciuman mereka.
"Ini udah kelewatan batas, L." Ucap Alessa, dengan napas tercekat.
"Tapi kamu membal-"
"Iya, tapi hati nurani ku menolak L, kita gak punya hubungan yang serius untuk melakukannya."
Leo dengan cepat menarik Alessa ke dalam pelukannya, ia mengerti perasaan gadis itu.
"Maaf, Sa."
Leo tak ingin kedatangannya malah membuat kesalah pahaman diantara mereka, tak seharusnya ia memikirkan keinginanya yang menggebu-gebu saat bersama Alessa sedangkan mereka tak memiliki hubungan yang layak.
***
"Soal semalam aku minta maaf, Sa." Ucap Leo yang mengantarkan Alessa ke rumah sakit.
Alessa mengangguk kecil, ia pun sebenarnya merasa tak enak mengingat kejadian malam setelah kesalahpaham kecil kemarin, mereka langsung bergegas tidur dengan suasana yang canggung dengan Leo yang tidur di sofa.
"Iya." Jawab pendek Alessa, sambil melepaskan seat belt.
"Nanti aku jemput oke."
Dari kejauhan Alessa sudah memasuki rumah sakit, lagi-lagi Alessa hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan, membuat rasa bersalah Leo semakin besar. Seseorang mengetuk kaca mobil, Leo langsung turun dari mobil membiarkan orang yang tadi mengetuk kaca mobilnya membawa mobilnya.
Leo masuk ke dalam mobil yang semalam mengantarkannya ke blue apartemen.
"Sudah mencari tempat makan untuk mengadakan meeting online?" Tanya Leo, sesaat mobil berjalan keluar dari area parkir rumah sakit.
Asistennya di samping mengangguk, ia lalu menyerahkan ipad kepada Leo.
"Bagaimana meeting kemarin, ada kendala?"
"Tidak ada, Pak Vino sudah membereskan tender untuk apartemen di Nusa Dua."
Leo mengangguk, sembari membaca artikel berita.
Sesampainya di restoran yang dituju, Leo mulai memasuki ruangan yang telah di pesan asistennya. Sebelum memulai meeting ia menganti kemeja yang tadi ia pakai dengan jas yang telah disediakan asistennya.
3 jam berjalan dengan alot, Leo yang tengah banyak pikiran tentang rasa bersalahnya terhadap Alessa, membuat penyelesaian pekerjaan kali ini terasa lebih sulit ditambah partnernya yang terlalu bertele-tele membuat keduanya sulit mencari kesepakatan.
Leo tersenyum formalitas saat meeting berakhir, ia melonggarkan dasi yang ia pakai dengan kasar.
"Bagaimana Jerry, di sudah sampai?" Tanya Leo.
Asisten yang bernama Mario mengangguk. "Dari dua jam yang lalu, ia sampai di Jakarta, Pak Jerry mengucapkan terima kasih."
"Kamu boleh istirahat, terima kasih untuk hari ini."
"Bapak tidak makan?"
"Nanti saja."
Mario pamit keluar ruangan.
Leo berdiri berjalan menuju jendela besar, hamparan rumput di belakang restoran menusuk matanya. Suara dari laptopnya terdengar mengema di ruangan, buru-buru ia kembali duduk untuk melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata Vino, Leo lalu menerima panggilan video call darinya.
"Hello, my friend. Bagaimana?" Sapa Vino, di ruangan kerjanya dengan senyuman aneh miliknya.
"Buruk, gue hampir buat Alessa marah."
Vino mengerutkan kening, melihat wajah Leo yang kusut di layar. "Why?"
Leo menghembuskan napas pendek. "Alessa, dia ... Setelah enam tahun dia masih memegang teguh pikirannya yang gak mau di sentuh!"
Tawa Vino meledak, mendengar keluhan Leo di sebrang. Temannya ini tak pernah mengerti, padahal dari dulu ia selalu mengatakan Alessa bukanlah gadis sembarangan.
Leo pun tak mengerti akan pikiran Alessa, mereka berdua telah bertunangan sebelum Alessa berangkat ke Inggris tapi gadis itu tak pernah membiarkan menyentuhnya sedikitpun.
"Padahal kan kita sudah bertunangan, apa lagi yang perlu dikhawatirkan."
"Masalahnya ada di lo, L. Kalau dari awal lo udah cicipi Alessa, lo gak bakal segila ini ngejar Alessa." Ungkap Vino, jelas saja Alessa sudah bersikap benar dalam menjaga harga dirinya, mengingat pria macam Leo yang tak cukup dengan satu wanita.
Leo terdiam mendengar penuturan Vino, tanpa pikir panjang ia menutup sambungan telepon dengan Vino dan bergegas keluar dari ruangan mencari asistennya.
"Kenapa pak?" Tanya Mario yang baru saja akan memakan pesananya.
"Saya duluan, kamu selesaikan saja makannya." Pamit Leo, dengan menyambar kunci mobil milik Jerry yang ia pinjam.
Leo memundurkan mobilnya dari area parkir, setelah membanting setir ke kanan ia melaju melesat meninggalkan restoran menuju kediaman Alessa.
***