My Beautiful Girl

My Beautiful Girl
17 : Lemparan daging steak



Leo memasukan ponselnya ke dalam saku setelah mematikan panggilan dari Alessa, matanya menatap tajam ke depan saat seseorang yang ia kenali menunggunya di teras gedung.


Leo melewati begitu saja orang tersebut, yang kini berjalan di belakangnya. Di parkiran Leo melempar sembarang tasnya ke jok penumpang ia lalu memutar menuju pintu pengemudi namun niatnya di tahan dengan keluarnya sosok bertubuh tegap di mobil samping Leo diparkir.


"Leo, bapak menyuruh Leo pulang." Ucap orang yang tadi mengikuti Leo.


Leo berdecak kesal, mau tak mau ia masuk ke dalam mobil yang disamping mobilnya.


"Kunci mobil?" Tanya orang tadi yang adalah asistent pribadi Leo.


Leo merogoh sakunya, ia melempar keluar kunci mobilnya.


Setelah itu, asistent pribadi Leo masuk dan mobil pun melaju meninggalkan pelataraan parkiran kampus. Hampir 4 jam diperjalanan akhirnya mobil yang ditumpangi Leo sampai.


Saat ini Leo sudah berada di dalam rumah, tapi dia merasa ingin pergi jauh dari sana. Dia merasa terasing dan bingung, ketika berada di rumah.


Setiap sudut rumah terasa asing bagi Leo, bahkan tempat tidurnya sendiri terasa tidak nyaman. Dia merasa seperti terjebak dalam keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.


Meskipun dia tahu perintah Ayahnya tak bisa dibantah, bahwa dia harus pulang ke rumah, namun Leo merasa ingin pergi jauh dari sana dan tidak pernah kembali.


***


Alessa melangkahkan kaki masuk ke dalam apartement yang tak terlihat ada tanda-tanda kehidupan, ia melirik kanan kirinya takut Leo sedang bersembunyi seperti tempo hari.


Alessa mendesah pelan saat tak melihat tanda-tanda keberadaan Leo.


Malam itu, angin bertiup sepoi-sepoi di luar apartemen. Alessa yang tengah sibuk mengerjakan skripsi duduk di kursi dengan laptop di atas meja. Cahaya lampu meja belajar yang redup menjadi satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu. Suara ketukan keyboard laptop dan suara angin yang berhembus menjadi satu-satunya suara yang terdengar di dalam apartemen.


Alessa menatap ke pintu, sejak ia mengerjakan skripsi dua jam yang lalu ia tak mendengar Leo pulang. Alessa berdiri meninggalkan laptopnya yang tetap menyala, lalu berjalan membuka pintu kamar.


Alessa menatap sekitar waspada, takut-takut Leo sudah pulang tapi nihil, yang ia dapatkan hanya keheningan. Dengan masih berpikir positif, Alessa kembali menutup pintu kamarnya dan bergegas tidur.


***


"Berhenti menatapku." Dengan memotong daging steak di depannya.


Leo menyimpan alat makannya dimeja, ia balas menatap ayahnya yang tengah menatapnya. "Ada apa memanggilku?" Tanya Leo pendek.


Ibunya yang berada di sampingnya menghentikan sesi makan. "Leo." panggilnya pendek.


Leo mengalihkan pandangannya, senyumnya terukir untuk sang ibu. "Ma, aku tak akan pernah menerima perjodohan ini." Jawab Leo dengan menggenggam tangan ibunya.


"Ah, apa kau sedang jatuh cinta?" Tanya Kakak sulung dengan wajah memprovokasi, suaminya yang juga hadir mencoba memperingati Anna.


"Bagaimana kalau aku dapat wanita yang tiap hari menghamburkan uang." Ujar Leo dengan menatap kakaknya.


Anna melempar potongan kecil steak di piringnya kepada Leo. "Hei, gue kerja. Semua yang gue beli pake uang gue." Teriaknya tak terima.


Leo menggelap kemeja yang ternodai saus steak. "Sialan." Gumamnya pelan di barengi ayahnya yang menggebrak meja.


"Leo." Teriaknya. "Bertemu saja kamu belum." Sambungnya lagi.


"Jadi benar, pertemuan ini membahas soal perjodohan. Yah, perjodohan ini hanya akan membuat kita bertengkar terus." Ujar Leo tak memandang ayahnya, tangannya masih sibuk membersihkan kemejanya yang kotor.


"Yak, kedua orangtuamu ini khawatir. Selama ini kau hidup tidak sehat." Jawab Anna, dengan melipat tangannya di dada.


"Kenapa tak biarkan suami tercinta Anna, yang memegang saham perusahaan ayah?"


"Anna!" Teriak Ayahnya, melihat Anna hendak membuka mulut.


"Ini semua bukan soal itu, perjodohan ini sudah menjadi turun temurun agar perusahaan semakin berkembang."


Leo berdecih tak percaya ayahnya menumbalkan dirinya untuk perusahaan miliknya berkembang lebih pesat.


"Suatu saat perusahaan ini akan jatuh ke tanganmu, bukan kepada Sam yang sudah memilik perusahaan ayahnya sendiri."


"Wah, aku muak sekali mendengar obsesi ayah soal perjodohan ini." Leo berdiri memundurkan kursi, sebelum pergi ia mengecup pipi ibunya. "I love, ma." Bisiknya, sebelum akhirnya berlalu pergi.


***