My Beautiful Girl

My Beautiful Girl
34 : Lucky to Have You



Matahari bersinar terang di langit, memancarkan cahaya hangat di atas parkiran rumah sakit yang sepi.


Udara segar dan sejuk, dengan angin sepoi-sepoi bertiup melalui pepohonan, menggoyangkan dedaunan dan membawa aroma kopi yang baru diseduh dari kafetaria rumah sakit.


Leo mengetuk-ngetuk jarinya di stir mobil, menatap lurus ke arah pintu utama rumah sakit.


Dari kejauhan Alessa keluar dengan setelan baju hijau tosca rumah sakit, Leo keluar dari mobil lalu melambaikan tangan kepada Alessa.


"Siapa, Sa?" Tanya Naya, sambil menyipitkan mata ke arah parkiran.


"Dulu ya." Alessa berjalan menjauh meninggalkan Naya yang terlihat penasaran tapi ia harus bergegas karena bus sudah menunggu.


"Ayo." Ajak Alessa membuka pintu mobil namun Leo tetap berdiri. "Kenapa?"


"Di kursi belakang ada pakaian, kamu ganti baju dulu gih."


"Emang kita mau kemana?"


Leo berjalan menghampiri Alessa yang tengah menghalau matahari menggunakan tangan. "Udah nurut ajah."


Alessa kemudian masuk ke dalam mobil ia membuka paperbag berisi dress berwarna putih. Ia memalingkan wajahnya melihat keluar, dimana Leo tengah berdiri membelakangi pintu mobil dengan enggan Alessa mengganti pakaiannya.


Tak lama suara ketukan membuyarkan lamunan Leo yang berdiri diluar. "Udah." Ujar Alessa.


Leo beranjak masuk ke dalam mobil, dengan Alessa yang sudah duduk di sampingnya.


"Emang kita mau kemana?" Tanya Alessa, Leo disamping menatapnya kagum. "L."


Leo berdehem mulai menyalakan mobil. "Elton Hall." Jawab Leo pendek.


Alessa menganggukan kepala, ia mengusap dress yang ia pakai terasa nyaman dan lembut.


"Kamu suka?" Tanya Leo melirik sekilas, kemudian fokus ke depan.


"Hmm ... Pasti mahal."


Leo tertawa pelan, ia sudah menduganya Alessa akan mengatakan itu. Dress tersebut memang mahal tapi itu sebanding saat Alessa yang memakainya, dirinya terlihat cantik dan elegant.


Sesampainya mereka di Elton Hall mereka disambut keindahan bangunan bak di negeri dongeng.


Taman luas penuh, dengan bunga berwarna-warni dan tanaman hijau subur sejauh mata memandang. Leo tak salah memilih tempat, Elton Hall adalah tempat terbaik untuk melamar Alessa.


Leo bisa melihat perubahan wajah Alessa saat mereka berjalan di area taman dan saat mereka memasuki aula, ia bisa melihat Alessa yang kagum dengan koleksi lukisan, buku, dan artefak lainnya yang luar biasa.


Saat mereka berjalan keluar dari aula, di sebuah menara yang dibangun pada tahun 1475 oleh Sapcote, yang merupakan pemilik asli dari properti tersebut.


"Alessa." Panggil Leo yang berlutut di atas rumput taman.


Alessa membalikan badan melihat Leo yang menyodorkan sebuah cincin.


"Ngapain!" Pekik Alessa berjalan menghampiri Leo, ia lalu memegang bahu laki-laki tersebut agar berdiri.


"Ngapain?" Tanya Alessa, ia melirik kanan kiri taman yang cukup ramai pengunjung.


"Apalagi ... Will you marry me?" Leo menatap penuh harap kepada Alessa.


Alessa memejamkan mata sesaat, ia benci sesuatu yang mendadak.


"Disini gak ada yang peduli, Sa." Leo paham Alessa kurang nyaman dengan suasana yang seakan memperhatikannya.


"Aku tunggu kamu dimobil." Ucapnya datar.


Alessa berjalan menuju parkiran, dengan dress yang bergoyang terkena tiupan angin.


Leo berjalan mengikuti. Sesampainya di parkiran ia melihat Alessa dengan melipat tangan di dada, menunggu mobil bisa terbuka. Suasana canggung terasa saat keduanya duduk diam di dalam mobil.


"Sa."


"Kamu gak bisa nunggu apa, kuliahku tinggal beberapa bulan."


"Gak bisa, satu minggu kedepan bersama kamu terlalu berat buat aku lewatkan." Jawab Leo cepat.


Alessa terteguh.


Leo menghela napas. "Buat kamu enam taun gak cukup?" Tanyanya memandang Alessa yang menatapnya juga.


Leo mengulurkan tangan kirinya, Alessa dengan ragu mengenggam tangannya.


Alessa mengangguk kecil, menerima lamaran Leo.


Senyum Leo mengembang, ia menarik tangan Alessa dan menciumnya berkali-kali. "Serius!" Pekiknya.


Leo memutar kunci mobil, tak lama mobil berjalan keluar dari area parkir. Alessa menatap heran ke arah jalan, karena mobil yang ditumpanginya berjalan ke arah yang berlawanan.


"Mau kemana lagi?"


"Aku semalam googling, katanya di balai kota peterborough bisa nikah pake pasport." Katanya, dengan ceria.


Alessa disamping menatap Leo curiga. "L ... Lo udah ngerencanain ini semua?" Tebaknya.


Alessa memukul keras bahu liat Leo, ia tak percaya pria di sampingnya merencakan ini semua.


***


Hari berganti malam, Alessa bersandar pada kursi penumpang memandangai Leo disampingnya yang terlihat lebih ceria. Mobil memasuki area parkir blue apartmen, Leo mengusap lembut pipi Alessa sebelum keluar dari mobil.


Alessa membantu mengangkat paperbag yang penuh dengan stok makanan, dan memberikannya pada Leo. Ia lalu menutup bagasi dan berbalik mengikuti langkah Leo di depan.


"Alessa." Panggil seseorang yang baru saja keluar dari mobil.


Alessa menghentikan langkah, saat melihat Theo.


Leo yang menyadari seseorang memanggil nama Alessa, ia juga ikut menghentikan langkah dan berbalik melihat apa yang terjadi.


Theo menatap Leo sekilas. "Boleh bicara sebentar." Pintanya menatap Alessa memohon.


Suasana malam yang dingin, membuat atmosfer canggung ketara terasa diantara mereka bertiga. Alessa berdehem, ia memandang Leo sesaat dan memberi gestur untuk melanjutkan langkah menuju apartemen.


"Ya?"


Theo berjalan mendekat, Leo yang diam-diam melihat hal tersebut membuat api cemburu menguasainya, tapi nasi sudah menjadi bubur Alessa sepenuhnya sudah menjadi miliknya.


Langkah kaki Leo terasa berat meninggalkan Alessa bersama Theo, tapi biarlah Alessa membereskan kisah cinta lokasinya bersama Theo. Sesampainya di dalam apartemen, Leo bergegas masuk ke dalam kamar mandi meredakan semua yang berkecamuk dalam dirinya.


Setelah mandi kilatnya, ia menyadari Alessa belum kembali tapi niat untuk menyusul keluar sirna saat suara pintu dibuka.


Leo buru-buru mengambil sekotak anggur di paperbag, agar ia terlihat tak peduli. Alessa menatap Leo yang tengah memakan anggur, ia lalu menyimpan buket bunga di samping paperbag dan berlalu begitu saja menuju kamar mandi.


Suara air dari dalam kamar mandi memecah keheningan, Leo mengangkat buket bunga yang ia tebak pemberian Theo. "Sialan, gak tau apa Alessa punya gue!" Umpatnya, dengan membuang buket tersebut ke tong sampah.


Leo tersenyum puas melihat hasil kerjaannya, Alessa keluar dari kamar mandi berjalan ke arah dapur mengeluarkan semua isi paperbag.


"Sa-"


"Kita makan dulu ya." Jawab Alessa pelan.


Leo menenggelamkan wajahnya di bahu Alessa. "Gak langsung kehidangan utamanya ajah." Leo terkekeh pelan.


Alessa mengedikkan bahu, geli. "Iya nanti, kalau nanti pingsan di tengah pergulatan gimana." Ujarnya, jutek.


"Paling juga kamu ,,, keenakan." Bisiknya di depan telinga Alessa, dan mengigitnya pelan.


Masakan kali ini adalah spaghetti meatball, request dari Leo saat mereka berbelanja. Alessa dengan telatan memotong beberapa sayuran dan Leo menunggu di sofa dengan laptop miliknya karena ia memiliki beberapa pekerjaan yang tak bisa dilewatkan.


Harum saus spaghetti yang matang membuat pandangan Leo teralihkan dan melihat bahwa masakana telah selesai, ia lalu menutup laptopnya. "Terimakasih, sayang." Ujarnya menerima sepiring spaghetti.


"Kamu gak makan?" Tanya Leo heran melihat Alessa yang berjalan ke meja belajar.


"Aku mau ngerjain beberapa tugas dulu." Jawabnya.


Leo menggeleng, ia lalu berjalan ke arah Alessa dan duduk disampingnya setelah menyeret kursi kecil. "Aku suapin ya." Alessa dengan ragu menerima suapan Leo.


***


Setelah makan bersama, tak terjadi hal yang selama ini Leo nantikan. Alessa selesai mengerjakan tugas tepat pukul 1 malam, ia tak ingin egois meminta sesuatu darinya dengan itu Leo membiarkan Alessa tidur dalam pelukannya.


Mata Leo perlahan terbuka saat sinar matahari dari jendela masuk ke dalam, ia melihat samping kasur yang telah kosong.


Alessa tengah sibuk di dapur membuat sarapan. "Mandi dulu, L. Nanti kita sarapan bareng." Ucapnya.


Leo bergegas ke kamar mandi, menyiram tubuhnya dengan air hangat di pagi hari. Setelah ia keluar, Leo melihat Alessa tengah sarapan di meja dibawah sofa dengan sebuah laptop. Leo duduk di sampingnya, Alessa sama sekali tak meliriknya.


"Sa." Panggilnya.


Alessa berdehem.


"Ini weekend loh, terus dari semalam juga kamu sibuk mulu." Leo menatap Alessa kesal.


"Iya bentar ya." Padahal ini hanya akal-akalan Alessa, ia takut pria didepannya meminta sesuatu yang menggelikan baginya. "Sarapan dulu ajah!" Sambungnya kembali.


Leo menggeleng tegas, ia lalu menarik wajah Alessa supaya menghadapnya. "Dari semalam kamu ngehindar mulu!"


Alessa tersenyum kecil, wajahnya merona merah melihat tubuh basah Leo disampingnya.


"Kamu suka?" Tanya Leo, ia lalu menuntun tangan Alessa ke dadanya.


Jantung Alessa berdegup kencang, ia bisa merasakan kulit basah Leo di telapak tangannya. Ia tak munafik, dada Leo sangatlah seksi.


Leo menatap mata Alessa dalam. "Sa." Desahnya pelan.


"Ya." Tenggorokkan Alessa terasa tercekat melihat Leo yang menunjukan wajah menginginkannya.


Leo membelai lembut rambut halus yang tumbuh didahi Alessa. Sesaat ia terkagum dengan wajah cantik Alessa yang entah mengapa selalu memukau hatinya. Detik kemudian ia menggendong Alessa ke atas kasur, sejak dulu ia mendampa akan sosok Alessa berada di dalam dirinya.


Tatapan mereka tak pernah lepas. Satu sama lain. Leo meletakkan Alessa di atas kasur, ia kembali membelai rambut Alessa dengan lembut, perlahan dia dekati bibir Alessa, mereka saling memejamkan mata, ah-aroma mint dari mulut Alessa selalu menyenangkan baginya. Saat mereka bersatu, Leo selalu menatap Alessa dibawahnya selalu memastikan setiap geraknya tak pernah menyakiti Alessa. Pagi itu Leo begitu lembut membawa Alessa keatas awan, setiap sentuhannya terasa lembut seakan dirinya adalah sosok mudah rapuh.


***