
Pertama kali memasuki lapangan golf, Alessa merasa terpesona dengan suasana yang tenang dan hijau. Udara segar dan sejuk menerpa wajahnya yang kekurangan tidur, sudah hampir setengah jam permainan berjalan dan dengan menaiki buggy mereka menuju lapangan.
Tak jauh dari ketiganya bermain, beberapa pemain golf sedang berlatih memukul dengan tekun. Suasana itu membuat Alesaa terkesan dengan keindahan olahraga golf. Alessa turun saat buggy yang dikendarai caddy girl berhenti, Mega dan Gisel lalu bergegas turun.
Alessa yang melihat caddy girl yang ikut bersamanya, tengah menggangkat golf bag mereka.
"Gak papah kak biar saya saja." tolak caddy girl bernama, Cindy dengan tersenyum manis.
Alessa menatap ke arah kedua temannya yang tengah melihat seberapa jauh hole yang akan mereka taklukan.
Permainan dimulai, Mega dan Gisel yang memang jarang serius saat bermain selalu membuat kesalahan ditambah keduanya tidak terlalu mahir tapi Alessa tak mempermasalahkan hal itu karena dirinya bisa bermain golf karena kedua temannya. Tiba saat Alessa yang akan memukul, Mega dan Gisel berseru menyemangati karena yang paling mahir dalam permainan golf adalah Alessa.
Saat pertama kali mengajak Alessa bermain, gadis itu sudah menunjukan kemahiranya.
Alessa bersiap melakukan pukulan pertama, ia memandang ke depan dengan posisi bersiap lalu mengayunkan stick driver.
Kedua temannya bersorak saat bola golf melambung lurus mendekati flag stick.
"Wuuu!!!" teriak seseorang di atas buggy yang berjalan mendekat.
Alessa memicingkan mata, sambil melepaskan sarung tangan pada tangan kirinya.
Ogay melompat dari buggy dengan wajah berseri.
Perasaan senang setelah pukulan sempurnnya tadi langsung berubah seketika saat Leo juga turun dari buggy disusul Vino.
Alessa menghela napas pelan.
Ogay tersenyum melihat ketiga teman kampusnya berdiri tak menyapa dirinya. "Hai." tak ada jawaban, ia lalu melirik ke arah Gisel. "Gisel, bukankah ayah kita melakukan kerja sama kenapa masih tak ingin berteman denganku?" tanyanya.
Gisel memutar matanya sebal.
"Sudah berapa kali main?" tanya Ogay matanya beralih menatap Alessa.
"Dia bisu." jawab Leo menatap Alessa yang juga menatapnya.
Kehadiran tamu tak diundang itu tentu saja menghancurkan minggu cerah mereka bertiga, apalagi alessa ia menatap tak mengerti kenapa Leo harus ada disini.
"Hai sa." sapa Vino, dengan baju golf putih yang cocok dengannya.
Mimik wajah Alessa seketika berubah saat mendengar sapaan Vino, ia tersenyum kecil sebagai balasan.
Leo berdehem kesal.
"Cuacanya cocok banget buat main ya. Gimana kalau kita taruhan?" tangtang Ogay, melihat tiga perempuan didepannya bersiap pergi. "9 putaran?" teriaknya.
"Mega tas yang lo post cocok, gue bisa kasih lo. tapi terima taruhan gue."
Mega yang mendengar hal tersebut tentu saja berbalik melihat Ogay yang tersenyum ke arahnya.
Gisel menarik lengan Mega yang mudah terprovokasi.
"Megaaaa... Kesempatan gak datang dua kali."
Mega menatap kedua temannya minta maaf. "Okeh."
"Mega." Teriak pelan Gisel disamping.
Ogay tersenyum kemenangan, ia berjalan satu langkah. "Tapi Alessa yang bakal main."
Alessa yang tengah menyimpan golf bag menghentikan gerakanya, ia menatap Mega yang juga menatapnya, ia tahu Mega sangat menginginkan tas tersebut namun berbeda dengan Gisel temannya itu mengedikkan bahu.
Alessa mengangguk dengan berat.
Ogay pikir dengan menujuk Alessa ia akan menang, tapi Mega percaya Alessa akan memenangkan permainan ini.
Tantangan yang digunakan adalah, jenis match play permainan golf yang paling populer. Permainan ini dimainkan oleh dua pemain yang saling berhadapan untuk memenangkan setiap hole pada lapangan. Pemain dengan skor terendah pada setiap lubang akan memenangkan lubang tersebut dan mendapatkan satu poin. Jika kedua pemain memiliki skor yang sama, maka lubang tersebut dianggap seri dan kedua pemain tidak mendapatkan poin.
Permainana dimulai, Ogay mempersilahkan Alessa melakukan tee off pertama kali untuk hole pertama.
Bola dipukul, orang-orang yang ada dibelakang menatap bola yang melambung lurus ke depan.
"Not bad." Komentar Ogay, kini gilirannya, bola miliknya jatuh tak jauh dari bola milik Alessa.
Entah darimana gadis itu belajar, yang awalnya Leo pikir Alessa tidak bisa bermain golf harus menerima kenyataan bahwa gadis itu begitu mahir menentukan arah pukulan dan memilik stick golf untuk pukulan berikutnya.
Putaran pertama dimenangkan Alessa.
Ogay yang melihat tersebut terdiam tak percaya.
Dua buggy berjalan menuju lapangan berikutnya. Hampir dua jam telah berlalu dan hari mulai terasa panas namun berangin.
Vino di atas buggy mencoba menyemangati Ogay yang mulai resah, point keduanya kini 3-2 di putaran ke lima dan ketujuh mereka mencetak point seri, tinggal 2 putaran lagi.
Kali ini Ogay yang tee off pertama, Vino yang menunggu di buggy bersorak menyemangati.
Leo ia sibuk melihat Alessa di depannya, yang tengah memilih stick dan mengelap ujung pemukul. Kini pandangannya teralih ke baju yang Alessa pakai. Gadis itu terlihat cantik dengan setelah pakaian khusus golf yang tentu saja mahal dan bukan punyanya.
Merasa di perhatikan, Alessa menatap kebelakang ia menatap Leo tanpa ekpresi.
Lagi, putaran ke delapan seri. Ogay menghembuskan nafas kesal, tapi setidaknya putaran ini tidak dimenangkan Alessa yang sudah mempunyai skor diatasnya.
"Gue pikir Alessa gak bisa maen." Ucap Ogay di dalam buggy yang kembali berjalan menuju lapangan berikutnya.
Vino tertawa, mengiyahkan. "Awalnya juga gue mikir gitu."
"Kali ini harus gue yang menang, setidaknya skornya seri jadi gak jatuhin harga diri gue." Dengan kembali membenarkan posisi duduknya.
Vino dan Leo saling tatapan dengan tertawa tertahan.
***
******* dari pertandingan golf yang seru terjadi antara Alessa dan Ogay, memasuki hole terakhir dengan skor Alessa diatas Ogay.
Laki-laki tersebut kini berdiri tak percaya diri.
Mereka saling menatap tajam, sebelum memulai pukulan Alessa mengontrol pernafasaanya matanya menatap tajam kedepan ia kembali mengatur posisi tubuhnya.
Ogay bersandar dengan stick golf miliknya.
Alessa melakukan pukulan yang sempurna dan bola golfnya mendarat tepat di tengah fairway.
Namun Ogay tak kalah hebatnya, ia berhasil membuat bola golfnya mendarat lebih dekat ke green.
Alessa menatap Gisel dan Mega, bila dirinya kalah Gisel dan Mega akan mentraktik Ogay dan kedua temannya makan malam diresto mahal.
Kedua temannya hanya memandangnya dengan pandangan tak perlu khawatir.
"Begitulah cara gue bermain golf." Ucap Ogay memandang Alessa, tengil.
Alessa tak menghiraukan ucapan laki-laki didepannya, ia berjalan pergi ke arah buggy.
***
Ogay melempar dirinya ke atas sofa ruang tunggu, dengan perasaan tak percaya setelah pukulan ketiga Alessa bola golf miliknya menggelinding hampir masuk ke dalam hole. Lalu Alessa berjalan, membuat shadow trick yang membuat bola tersebut masuk. Tentu saja hal tersebut membuatnya berteriak tak terima, tapi pada posisi itu Alessa berjalan menjauh bukan mendekat.
Kini kedua kelompok tengah menunggu hasil dari taruhan mereka. Tak jauh gerombolan Alessa juga duduk menunggu, tak berselang lama caddy girl membagikan hasil yang menyatakan bahwa Alessa sebagai pemenang.
Ogay berjalan ke arah Alessa dan kedua temannya. "Selamat ya atas keberhasilannya." Ucapnya.
Ketiga sabahat itu langsung menghentikan celebrate kemenangan mereka.
"Thanks." Jawab Alessa kecil.
Tak menunggu jawaban lebih panjang Ogay, Alessa dan kedua temannya pergi meninggalkan Ogay yang terlihat masih tak terima akan kekalahannya.
"Btw, G. Lo gak usah beliin tas itu, sebenarnha gue mampu buat beli." Ucap Mega sebelum akhirnya kembali melangkah.
Leo dan Vino yang melihat, hanya tertawa kecil.
"Don't you dare laugh, *******." Dengan menatap kedua temannya yang masih saja tertawa.
***