My Beautiful Girl

My Beautiful Girl
5 : Pertemuan dan Kesedihan



Sesampainya di kampus, Alessa buru-buru masuk ke dalam kelas yang untungnya belum dimulai. Teman satu kelasnya melambaikan tangan menyuruhnya untuk duduk di samping mereka.


"Kenapa?" tanya Alessa yang heran kelas belum dimulai.


"Gak tahu, eh tapi tau gak katanya bakal ada dosen baru cakep lagi." ceritanya dengan berapi-api.


Alessa beroh panjang.


"Dosen cowo?" tanya teman satu laginya.


Teman yang tadi bercerita menggedikan bahu, tanda tak tahu.


"Ah gimana sih lo!" kesalnya.


Namun tak lama dosen yang mereka tunggu akhirnya datang, dan memulai pembelajaran.


Setelah pelajaran berakhir, ketiganya bergegas untuk keluar dari kelas dengan wajah yang segar.


"Kantin?" tanya Gisel, sambil mereka berjalan menjauh.


"Cafe ajah yuk, adem dikit." Ajak Mega.


Alessa berdehem. "Bentar lagi juga ada kelas lain, kita ke kantin aja." Ujar Alessa menolak halus ajakan Mega.


Mega menghelas nafas, dan Gisel tersenyum cerah karena Alessa berada dipihaknya.


Setelah menemukan tempat duduk di kantin, ketiganya berpencar memilih makanan dan kembali berkumpul di meja yang tadi sudah mereka tandai. Saat sedang asik bergurau sambil menghabiskan makanan yang mereka bertiga beli, tak lama datang gerombolan mahasiswa famous membuat perhatian seisi kampus tersedot dengan kedatangan mereka ke kantin.


"Keren ya mereka." ucap Mega yang memang dari dulu selalu muji geng famous tersebut.


Alessa acuh tak acuh saat Mega terus berbisik memuji geng yang diketuai Leo.


"Diantara mereka yang cakep menurut gue Vino deh." ucap Gisel ikut nimbrung.


"Eh, Vino kan bos lu ya Sa?" tanya Mega untuk kesekian kalinya.


Alessa mengangguk sambil memainkan ponselnya, mendengar nama bosnya Alessa ingin sekali mencabik muka Vino yang telah menipunya tadi malam.


Mendengar tak ada suara lagi dari kedua temannya, Alessa mengangkat wajahnya penasaran dan benar saja kini Vino bosnya telah berdiri di depan meja mereka bertiga.


"Sa gue mau ngomong." ucap Vino.


Alessa tanpa disuruh dua kali berdiri dari duduknya dan berjalan mengikuti Vino yang berjalan lebih dulu darinya.


Tanpa ditanya Alessa sudah tahu kenapa Vino ingin berbicara dengannya, jadi ia membiarkan bosnya itu membuka pembicaraan.


"Gue minta maaf soal kemarin." ucapnya penuh penyesalan.


Alessa menghembuskan nafas pendek. "Okeh." jawabnya pendek.


Vino tersenyum kecil, walau ia masih tak percaya bahwa Alessa memaafkan dirinya begitu saja.


"Tapi, lo harus ngasih kompensasi." Logis karena kejadian kemarin membuatnya harus meminum bir untuk lepas dari genggaman Leo.


Vino mengangguk.


"Satu juta." ucap Alessa, uang tersebut nanti ia gunakan untuk membayar uang yang telah Leo berikan pada preman tadi malam saat menyelamatkannya.


"Oke." ucap Vino tanpa pikir panjang.


Alessa tersenyum kecil, ia lalu berlalu dari hadapan Vino. Kedua temannya sudah bersiap untuk pergi kembali menuju kelas.


***


Leo sesekali menatap Vino yang tengah berbicang dengan Alessa di salah satu sudut kantin, dan sesekali juga ia balas menyapa mahasiswi yang menyapanya di depannya.


"Kenapa sih?" Tanya Ogay yang juga melihat Vino dan Alessa tengah berbicara empat mata.


Leo mengedikan bahu tanda tak tahu.


"Kenapa?" Tanya David yang sedari menyimak.


Vino menatap Leo yang terlihat memberi isyarat untuk tidak menceritakan kejadian tadi malam di club miliknya. "Biasa, antara bos dan karyawan." jawab Vino lugas.


Leo mengaduk minuman didepannya setelah mendengar jawaban Vino.


David dan Ogay beroh panjang, dan kembali sibuk dengan urusan masing-masing.


***


Alessa berjalan keluar dari kelas disusul kedua temannya yang terlihat acak-acakan karena tenaga mereka sudah terkuras habis begitu juga dengan Alessa namun ia berusaha untuk menyembunyikannya rasa lelahnya tersebut.


"Capek banget!" keluh Mega, namun disikut keras oleh Gisel.


"Sa lo capek banget ya, bentar lagi lo kerja kan?" tanya Gisel perhatian.


Alessa tertawa, mendengar ucapan Gisel. "Masih lama, gue masih ada waktu buat istirahat tenang ajah." jawab Alessa menatap Gisel dan Mega bergantian.


Mega mengelus lengan Alessa. "Lo jangan lupa makan, itu sih yang paling penting." dengan menganggukan kepalanya.


"Iya-iya bawel banget sih."


Ekor mata Alessa tanpa sengaja melihat kehadiran seseorang yang hampir 4 tahun tak ia lihat, sosok tersebut tengah tersenyum ke arahnya namun sosok itu berlalu pergi.


"Bentar." ucap Alessa cepat, ia juga menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arah sosok yang tadi tersenyum ke arahnya.


"Kenapa?" tanya berbarengan keduanya.


Alessa menggeleng, tiba-tiba ia merasa jantungnya berdegup kencang. Ia lalu melepaskan paksa tangan Mega yang merangkul lengannya.


"Kalian duluan ajah, gue gak bareng kalian."


"Kenapa?" tanya Mega dan Gisel berbarengan lagi, karena kini Alessa sudah berjalan menjauh dari mereka.


***


"Dave!!" teriak Alesaa kepada sosok didepannya.


Dan benar dugaan Alessa, sosok didepannya adalah Dave guru lesnya dulu dan juga cinta pertamanya. Kaki Alessa lemas saat jarak diantara keduanya semakin dekat, sudut matanya juga sudah mengeluarkan air mata.


"Dave." isak tangis Alessa pecah saat ka berhasil memeluk sosok yang telah lama ia rindukan.


"Alessa." ucap Dave pelan dengan mengelus rambut Alessa.


***


"Terimakasih." ucap pelan Alessa kepada seseorang yang memberikannya semangkuk sup hangat.


Seseorang tersebut juga memberikan semangkuk sup hangat lainnya kepada Dave yang duduk di depan Alessa yang menundukan kepala.


"Ayo dimakan Alessa." ucap Livy, istri dari Dave.


Setelah pertemuan tak terduga di kampus tadi, Dave tanpa menunggu tangisan Alessa reda ia langsung membawanya ke apartemen miliknya dimana Livy telah menunggunya. Seakan hujan pun tak cukup untuk Alessa, kini badai besar berkecamuk didalam hatinya saat mengetahui Dave telah memiliki istri dan seorang anak kecil berusia 2 tahun.


Alessa tersenyum kaku, ia lalu menyendok secara perlahan sup hangat tersebut.


"Jadi ini Alessa yang sering kamu ceritakan." Ucap Livy membuka pembicaraan sambil menyuapi anaknya yang duduk disampingnya.


Alessa mengangkat wajahnya, penasaran cerita apa yang Dave ceritakan kepada Livy.


Dave mengangguk.


"Dia lebih cantik dari poto yang aku lihat." ujarnya dengan tersenyum ke arah Alessa, yang balas tersenyum kikuk.


Setelah menghabiskan sup hangat buatan Livy, Dave langsung membereskan meja makan sekaligus mencuci piring.


Alessa berjalan menuju dinding yang dipenuhi poto kebersamaan keluarga kecil tersebut, disetiap poto tersebut Dave terlihat sangat bahagia berbanding terbalik dengan hidupnya yang ditinggal pergi oleh Dave 4 tahun silam.


"Itu poto pertama kita." tunjuk Livy ke arah poto dimana Dave dan Livy berfoto bersama teman-teman kuliahnya.


Alessa tersenyum kecil saat menyadari Livy disampingnya, selama lima menit ia terus mendengar Livy menceritakan setiap kisah dari poto yang tergantung. Tak lama di dapur Dave memanggil Livy, Livy juga kini menitipkan Rose kepada Alessa yang menerimanya dengan terkejut.


Rose menatap Alessa bingung, ia tak menangis ingin kembali ke ibunya namun Rose menatapnya seolah Alessa adalah manusia yang tak beruntung.


"Alessa." Panggil Livy memecahkan keheningan.


Alessa berjalan tergesa ke arah Livy, ia lalu menyerahkan Rose kepada Livy. "Aku harus pulang, nanti malam aku harus kerja." pamitnya tanpa menunggu respon Livy ia bergegas kearah pintu apartement.


Setelah diluar Alessa baru bisa merasakan udara segar, ia lalu berjalan menjauh dengan perasaan yang tentu saja sakit.


"Sa, tunggu." panggil Dave yang mengejarnya dari belakang.


Alessa sama sekali tak memperlambat jalannya, namun saat ia telah sampai di dalam lift Dave berhasil mengejarnya.


Dave menyodorkan kotak makan ke arah Alessa, yang Alessa terima dengan berat hati.


"Setidaknya kamu meminta maaf kepada aku, Dave." ucap Alessa lirih berbarengan dengan pintu lift tertutup.


Di kos Alessa terdiam, kenapa hanya ia yang sengsara. Sedangkan Dave hidup bahagia dengan Livy, Dave dulu dipekerjaan oleh ayahnya untuk menjadi guru privatenya sebelum akhirnya Alessa menyukainya.


Ia lalu membuka kotak makan pemberian Dave dan secara pelan memakan menu kesukaanya namun ditengah ia menguyah makanan ia terisak, tak lama isakkannya berubah tangisan.


***


Next...