My Beautiful Girl

My Beautiful Girl
28 : Berkunjung



Menyusuri jalan aspal yang membelah perkebunan teh, Leo disambut oleh pemandangan kebun teh yang sangat luas. Matahari pagi bersinar cerah, memancarkan cahaya hangat pada daun teh yang bergoyang lembut tertiup angin. Udara dipenuhi dengan aroma teh yang manis, yang melayang di udara dan menggelitik lubang hidungnya. Suara gemerisik dedaunan dan kicau burung memberikan musik latar yang menenangkan, seolah-olah alam sedang menyambutnya.


Leo memandang keluar mobil, nasi sudah menjadi bubur dan dia tak bisa lagi menghindar dari perjodohan tersebut. Setelah menginap satu malam di hotel, Leo dan kedua orang tuanya, pagi-pagi buta kembali melanjutkan perjalanan. Ternyata rumah yang akan mereka tuju masih jauh, dari hotel yang mereka tempati semalam.


Leo menggoyangkan kakinya gugup. Di depan, mobil sang ayah melaju memimpin.


Seseorang duduk dikursi samping pengemudi, kemudian bercerita tentang sejarah perkebunan teh milik Pak Bima, mencoba mencairkan suasana.


Leo acuh tak peduli, kini sebuah rumah besar bergaya eropa terlihat tak jauh.


"Disana ada yang sedang berkuda." Tunjuk sang supir.


Leo berpindah tempat duduk, ia melihat keluar. Walau hanya satu tingkat, rumah itu sangat luas dan besar ditambah dengan sebuah lapangan berkuda yang luas.


Seseorang di lapangan begitu lihai memacu kudanya, dengan pakaian khusus menambah keleluasannya berkuda. Leo memanatapnya takjub, ia tak pernah menyangka ada sebuah rumah bergaya eropa ditengah luasnya kebun teh, ditambah lapangan berkuda dimana helicopter saja bisa mendarat diatasnya.


"Apa dia?" Tanya Leo pada dirinya sendiri.


***


Alessa memejamkan mata dan mendengarkan suara tapak Thunder saat menyentuh tanah. Ia merasakan kekuatan hewan di bawahnya dan kebebasan lapangan terbuka di depannya.


Dia membuka matanya dan melihat sekelilingnya, menikmati keindahan pemandangan. Rerumputan hijau, langit biru, dan awan putih semuanya berpadu dalam harmoni yang sempurna. Ia merasakan kedamaian dan ketenangan menyelimuti dirinya saat dia berkendara melewati rintangan.


Alessa tersenyum pada dirinya sendiri, merasakan kegembiraan karena sejenak ia bisa melupakan semua hal buruk yang terjadi padanya.


Setelah hampir melewati 12 rintangan dalam 3 putaran ditambah hari semakin siang, Alessa membelokkan Thunder kembali ke kandang. Thunder berlari kecil, sebelum menghentikan langkahnya.


Alessa turun, ia melepas topinya memandang ke arah halaman utama rumah dimana dua mobil baru saja tiba.


"Tunangan, non baru datang." Kata pembantunya, yang kini membawakan topinya.


Alessa tersenyum kecil, ia bergegas ke dalam rumah untuk bersiap, diikuti pembantunya yang lebih sering ia panggil 'bi'.


Leo membanting pintu mobil, saat mobil telah terparkir di halaman utama rumah tersebut. Ayahnya mendelik kesal, saat mendengar suaru pintu yang tertutup keras. Leo melengos acuh melihat tatapan tak suka sang ayah, di belakangnya sudah ada dua orang pesuruh ayahnya, yang akan setia mengikuti kemana pun Leo pergi.


"Pak Yodarsono, akhirnya waktu yang dinanti telah tiba juga." Pak Bima berjalan melangkah dari teras menyambut, di ikuti Danella.


"Selamat datang, Miss Lucy." Lucy menyambut uluran tangan Bima dengan tersenyum menawan.


Danella berjalan kearah Lucy, istri Yodarsono yang berdiri anggun dengan pakaian dress cream bak seperti bangsawan.


"Apa kabar Lucy?" Sapa Danella.


Lucy tersenyum. "Baik, bagaimana dengan kabar kamu dan putrimu?"


Danella tersenyum kecil, pandanganya beralih kepada Leo yang berdiri dibelakang.


"Leo." Kata Leo memperkenalkan diri, singkat.


Danella mengangguk, menjabat tangan Leo.


"Mari, sambil menunggu putri saya bersiap. Saya akan memandu kalian melihat-lihat rumah kami."


Bima memberi gestur, mempersilahkan Yodarsono berjalan pertama bersamanya diikuti Danella bersama Lucy, dan Leo berjalan paling belakang dengan dua pesuruh ayahnya yang setia.


***


Bima tengah menunjuk ke arah hamparan kebun teh dan Yodarsono melihat ke arah yang ditunjuk Bima menggunakan teropong. Tak hanya mempunyai kebun teh saja, Bima juga mempunyai perkebunan buah-buahan yang 99% dijual di supermarket besar dan yang tak kalah luasnya ia juga mempunyai kebun sayuran. Bisnis Pak Bima tak hanya di bidang pangan, namun ia juga memiliki beberapa properti di kota, seperti mall, jalan tol dan lainnya.


"Itu bagus."


Bima mengangguk. "Ya, karena itu para penduduk mempunyai pekerjaan."


Yodarsono kembali melihat-lihat area kebun, dengan Bima disampingnya menjelaskan.


Danella dan Lucy mengobrol ringan tentang keseharian mereka, sambil menyesap teh dari hasil kebun. Mereka juga terkadang mengobrol soal tanaman, Danella sangat mahir dalam berkebun berbeda dengan Lucy yang tak terlalu mengerti dalam merawat tanaman khususnya bunga.


Setelah hampir satu jam berjalan memutari rumah, dan juga menemui kuda yang tadi Leo lihat sedang ditunggangi seseorang. Kuda tersebut bernama Thunder, sosoknya gagah, tinggi dengan otot kakinya menambah kegagahan. Saat mereka datang kuda itu terlihat tak bersahabat, membuat mereka melanjutkan langkahnya.


Setibanya di dalam rumah, Leo tak mendapati poto gadis yang akan di akan dijodohkan dengan dirinya, ia hanya melihat sebuah lukisan bayi yang dibuat oleh Danella. Ia sama sekali tak mendapatkan petunjuk tentang anak gadis Pak Bima.


Leo mendengus pelan, seharusnya hari ini adalah hari wisudanya tapi karena pertemuan yang membosankan ini, ia harus meninggalkan hal yang ia tunggu selama 3,5 tahun.


Leo membungkuk bermaksud mengambil teh dingin yang sudah sejak lama terhidang. Ia menyesapnya pelan, karena dingin ia hampir menghabiskan teh tersebut. Ia terkesima karena rasa teh yang sama persis dengan yang Alessa buat untuknya di apartemennya.


"Mau nambah?" Tanya Danella yang melihat Leo menghabiskan teh di cangkirnya.


Leo mengangguk, dengan menyodorkan cangkirnya. Seseorang menuangkan teh hangat baru, membuat cangkir mengepulkan udara harum teh.


"Enak, bukan?" Tanya Ibunya.


Kepala Leo mengangguk, menyetujui.


Danella tersenyum bangga, setiap orang yang meminum teh buatannya pasti akan meminta lagi.


Leo memperhatikan sekitaran, kedua pesuruh ayahnya tengah berbincang satu sama lain, ia tak melewatkan ke lengahan untuk pergi beranjak.


Leo berjalan pelan memasuki rumah, suasana rumah tersebut yang penuh dengan interior ala eropa. Di dinding terdapat lukisan yang dibuat Danella, ia benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana rupa putri Pak Bima hanya dari sebuah lukisan saja.


Menyadari Leo yang menghilang, kedua pesuruh Yodarsono bergegas mencari. Di dalam banyak orang yang berhilir mudik karena sedang mempersiapkan jamuan malam.


Dari jendela, Leo bisa melihat kedua pesuruh ayahnya yang baru menyadari dirinya yang telah menghilang, ia lalu mempercepat langkahnya saat melihat kedua pesuruh ayahnya yang berjalan masuk ke dalam rumah.


"Sialan." Gumam Leo.


Tanpa pikir panjang ia membuka salah satu pintu kamar yang berada di samping kanannya dan masukinya.


***