My Beautiful Girl

My Beautiful Girl
35 : Happy Ending



Leo sepenuhnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Saat ia membuka mata ia melihat Alessa yang tertidur pulas dalam pelukannya. Hari ini adalah hari terakhir mereka bersama, Leo akan kembali ke Jakarta.


Tangannya terulur mengelus lembut wajah Alessa.


"Selamat pagi, L." Sambil tersenyum namun matanya enggan terbuka.


Leo tertawa pelan, melihat kelakukan Alessa. Andai ia bisa lebih lama dengannya, tapi ia teringat Vino yang sudah mencercanya menanyakan kapan dirinya pulang dan kembali bekerja.


"Maaf ya aku gak anter kamu ke Stamford." Ujar Leo dengan tatapan menyesal.


Alessa menggeliat dalam pelukan Leo, ia perlahan membuka matanya menatap wajah Leo di depannya. "Gak papah. Kapan kamu berangkat?" Tanya Alessa.


"Nanti jam sebelas."


"Sebentar lagi dong, ayo nanti kamu telat." Alessa beranjak duduk di kasur namun pinggangnya ditahan Leo yang terlihat enggan meninggalkan kasur atau enggan meninggalkan Alessa.


"Bentar lagi Sa, masih kangen." Ujar Leo menenggelamkan wajahnya di punggung Alessa.


Alessa berdecak, sekuat tenaga ia mencoba melepaskan tangan Leo yang melingkar diperutnya. "L, kasian Vino."


"Tapi dia kan udah ku gajih!" Jawabnya santai.


"L, jangan begitu nanti Vino gak mau lagi nolongin kamu!" Sambil mencubit lengan Leo, membuat pelukan tersebut melonggar. "Cepet Leo!"


Leo dengan lunglai turun dari kasur, ia berjalan ke arah Alessa yang berdiri di dapur dan menarik tubuh gadis itu ikut ke kamar mandi.


***


"Kemarin aku mual banget, gak biasanya aku tiba-tiba gak enak badan." Cerita Alessa di layar laptop milik Leo.


Leo duduk memandang Alessa yang berbaring istirahat di atas kasur apartemen barunya, karena Alessa telah menyelesaikan penempatannya di Peterborough dan kini berada di Stamford untuk menyelesaikan study.


"Aku heran terus aku juga waswas banget, jadi aku periksa ajah dan aku positif hamil." Sambungnya lagi sambil menunjukan test pack.


Mata Leo membulat tak menyangka, sudah 2 bulan lebih ia meninggalkan London, kini ia mendapat kabar yang paling ia nanti. "Akhirnya, aku akan menjadi seorang ayah!" Teriak Leo dengan kedua tangan terkepal.


Alessa tersenyum kecil melihat respon Leo yang begitu lucu, yang kini sedang memotre dirinya yang memegang benda pipih tersebut.


"Tadi juga aku sempat video call sama mamah."


"Oh ya nanyain apa?" Tanya Leo menyimpan kembali ponselnya di saku jas.


Alessa mengigit bibir, gugup. "Dia nanya soal kamu yang ke London dan nanyain selama disana aku ketemu apa engga. Terus mamah tiba-tiba nanya, muka kamu kaya beda, kaya orang hamil."


Leo tertawa pelan, saat Alessa menirukan suara ibunya.


"Aku kaget doang, mamah bukan dokter atau apapun itu. Tapi kenapa dia bisa tahu, jadinya aku jujur kalau kamu selama di London bareng sama aku." Hening sejenak. "Aku juga jujur soal kehamilan ini sama mamah dan aku kira mamah sendirian ternyata ayah ada di sana denger semua cerita aku!"


"Kamu liat ekpresi ayah kamu?"


Alessa menggeleng, ia tak melihat wajah ayahnya saat ia menyadari keberadaan ayahnya adalah saat mendengar suara pintu yang ditutup kencang. "Gak tapi kayanya dia marah besar."


Leo mengangguk, tiba-tiba ia mendengar keributan diluar ruangannya. "Aku bisa merasakan keberadaan ayah kamu."


"Dimana?"


Leo tak menjawab ia berdiri dari duduknya saat seseorang masuk ke dalam ruangannya dengan wajah merah. "Tidak apa Ines." Ucapnya kepada sekretarisnya yang mencoba menahan Bima. "Dia mertua saya." Sambungnya, membuat wajah Ines terlihat bersalah.


Ines berjalan mundur dan menutup pintu.


"God damn it Leo, apa yang kamu perbuat!" Teriaknya, Alessa bisa mendengar bahwa yang berteriak adalah ayahnya.


"Kita bicarakan baik-baik, yah tenang." Jawab Leo mencoba menenangkan ayah Alessa yang terlihat ingin memukulnya.


"Saya bukan ayah kamu." Bentaknya.


"Oke pak, kita bicarakan baik-baik!"


Bima tak pernah semarah ini, saat mendengar Alessa hamil adalah mimpi buruk bagi setiap ayah di dunia. Walau ia tahu siapa yang membuat Alessa hamil tetap saja ia tak terima seseorang menyentuh putrinya. Dengan cepat ia menyambar vas bunga di atas meja, dan melemparnya ke arah Leo.


Alessa terkejut mendengar suara barang pecah, begitu juga dengan Leo yang untungnya menghindari lemparan tersebut.


"L ... Leo! Kamu baik-baik ajah?" Tanya Alessa, khawatir karena yang ia dengar lagi adalah suara barang pecah, ia hanya  bisa melihat jendela ruangan Leo.


Bima kembali melempar barang yang ada di dekatnya ke arah Leo.


"Ayah! Aku dan Leo sudah menikah!" Teriak Alessa menggema, membuat pertikain terhenti.


Hening, Leo memberi ekpresi damai kepada Bima yang tengah mengatur napas.


"What?" Tanya Bima, ia berjalan ke arah meja kerja Leo dan menatap layar laptop yang menampilkan Alessa.


Mata Alessa membulat sempurna saat melihat ayahnya membawa sebuah patung kepala kuda. "Simpan itu! Aku akan jelaskan!" Perintah Alessa yang langsung di turuti Bima.


Alessa mengangguk. "L, berikan video pernikahan kita!"


Leo merogoh sakunya, ia lalu menberikan ponselnya kepada Bima dan langsung diambil kasar olehnya.


***


"L, aku takut." Ucap Alessa menatap ke arah gedung balai kota.


"Why, apa yang kamu takutkan selama ini?" Tanya Leo sambil menggenggam tangan Alessa yang berkeringat.


"Segalanya."


"Aku juga sama takutnya kaya kamu, tapi semalam kamu bilang kamu gak akan melakukannya tanpa hubungan resmi." Leo menatap intens Alessa yang juga menatapnya.


Alessa menghembuskan napas, mencoba menghilangkan pikiran negatif di dalam benaknya. Sebenarnya banyak hal yang ia takutkan, soal kesetiaan Leo apa benar pria disampingnya mencintainya dengan tulus atau ia hanya penasaran. Tapi semua itu terbantahkan, dimana sudah 6 tahun lamanya mereka bersama ia tak sedikitpun mendengar Leo mengkhianatinya.


Alessa tersenyum ia siap, Leo balas tersenyum.


"In a moment I have to document this." Leo berjalan, mengeluarkan ponselnya dan menyimpannya di salah bangku.


"Documentation for what?" Tanya pendeta.


Leo tersenyum sambil berjalan kembali ketempat semula. "For her father, this must be evidence."


Pendeta tersenyum kecil, kemudian Leo berdiri di samping Alessa yang memegang satu bunga matahari. Pendeta mulai berdoa singkat kepada Tuhan dan mulai pemberkatan. "Saudara-saudara, hari ini kita berkumpul untuk merayakan pernikahan pasangan ini. Apakah pasangan ini siap untuk membuat janji mereka?"


Leo dan Alessa menjawab bersama, mereka saling melirik sambil tersenyum."Ya, kami siap."


"Baiklah, mari kita mulai. Pasangan ini akan saling memikirkan janji mereka. Mohon diulangi setelah saya." Ucap sang Pendeta. "Saya nama pasangan, mengambil kamu nama pasangan anda, menjadi pasangan hidup. Aku berjanji untuk mencintaimu, melindungi, dan mendukungmu dalam kebahagiaan dan kesedihan, dalam kesehatan dan sakit, selama hidup."


Leo menarik napas, ia menatap Alessa didepannya tiba-tiba suasana menjadi haru namun Alessa di depannya tersenyum manis."Saya, Leo Yodarsono, mengambil kamu, Alessa Bima, menjadi pasangan hidup. Aku berjanji untuk mencintaimu, melindungi, dan mendukungmu dalam kebahagiaan dan kesedihan, dalam kesehatan dan sakit, selama hidup."


Detik kemudian Leo menutup wajahnya yang berubah merah, ia tak menyangka bisa memiliki Alessa seutuhnya. Pendeta kemudian menyuruh Alessa mengucapkan hal yang sama, membuat kepala Leo semakin tertunduk haru.


"Baiklah, pasangan ini telah saling mengucapkan janji mereka. Sekarang, mari kita berdoa bersama."


Alessa mengusap punggung Leo, sembari mereka memanjatkan doa. Ia tak menyangka Leo sangat emosial dalam pernikahan mereka, sedangkan dirinya entahlah rasanya aneh tapi ia bahagia dengan pernikahan mereka.


Keduanya kemudian keluar dari gedung balai kota Peterborough, sesampainya di luar mereka di kejutkan dengan tiga orang yang menunggu.


"Congrats on your wedding, boss!" Teriak Mario, asisten Leo dan dua orang supir yang mereka sewa menyambut mereka diluar.


Leo dan Alessa tersenyum, mereka kemudian berpoto bersama. Sesaat Alessa menatap Leo yang sudah tak senduh lagi, kini yang ia lihat adalah senyum khas milik pria tersebut.


Tak lama kabar pernikahan Alessa dan Leo tersebar di indonesia, banyak yang meliput pernikahan sederhana mereka yang padahal bisa membuat acara pernikahan yang spectakuler mengingat keduanya adalah anak dari pengusaha lama yang sejak dulu sudah merajai bisnis di negeri.


Namun perlahan berita tersebut mulai menghilang karena kedua keluarga memang sangat menjaga privasi, apalagi Bima pengusaha yang sejak dulu sangat menjaga privasi keluarganya.


***


Kebahagian bertambah saat lahirnya putri pertama mereka, keluarga sangat menyambut kehadirannya. Hingga memutuskan membuat acara kelahiran, awalnya Alessa tak setuju karena Anita Alba, nama putri mereka baru berusia satu tahun.


Kedua keluarga besarnya tetap kekeh, dengan alasan saat pernikahan mereka tak membuat acara apapun.


Alessa menggedong Anita, duduk di antara para tamu taipan yang di undang kedua keluarga besarnya.


"L, jangan pergi." Sambil menarik ujung kemeja Leo disampingnya yang hendak berdiri menyambut tamu.


Ke banyakkan yang hadir adalah teman kedua keluarga mereka, yang terkenal dengan bisnis mereka yang tak kalah suksesnya.


"L, please." Ujar Alessa dengan pandangan yang frustasi, ia tak ingin berada di tempat ini dirinya butuh ketenangan.


Leo menatap Alessa yang terlihat ingin menangis, ia lalu membawa Alessa pergi dari ballroom menuju kamar hotel.


Sesampainya di dalam kamar, Alessa menangis hebat ia tak ingin kembali ke sana karena tiba-tiba ia merasa sesak dan tak nyaman.


"Maaf, Sa aku kurang peka." Leo mengusap punggung Alessa yang masih menggendong Anita yang menatap kedua orangtuanya heran.


"Aku gak mau lagi kesana." Ucap Alessa di sela tangisnya.


"Iya, maaf ya."


Beberapa menit kemudian Alessa mulai tenang, ia meringkuk di atas kasur bersama Anita dengan Leo yang tengah berbicara di telpon mengenai ketidakadaanya dirinya di ballroom.


"Udah ya sa jangan nangis lagi, tadi aku udah bilang sama mamah." Leo mengecup kening Alessa, ia merasa bersalah akan ketidak pekaannya saat acara berlangsung.


Didalam hati ia tak ingin mengulangi kejadian semula, ia akan lebih memperhatikan Alessa dan Anita pusat dari hidupnya[]


***