
Leo mengetuk pelan pintu kamar Alessa, tak lama pintu terbuka sedikit memberikan celah kecil untuk Leo yang menyodorkan kantung kresek.
"Makasih." ucap Alessa.
Satu tangan Leo terangkat menahan pintu yang akan tertutup. ",Makasih doang?" tanyanya.
Didalam kamar sekuat tenaga Alessa menahan pintu agar tak terbuka, diluar Leo masih tetap menahan pintunya dan malah kini semakin kuat mendorong. Alessa tentu saja terkejut ia menatap samar wajah Leo yang tersenyum meminta jawaban.
"Jangan didorong!" Teriak Alessa.
"Gue cuma minta bayaran, kenapa harus tutup pintu!" Jawab Leo, dan ia berhasil membuat pintu kamar Alessa terbuka.
Alessa berjalan mundur ke arah tas slempangnya dengan gemetar ia mengambil uang pecahan lima puluh dan lalu kembali ke hadapan Leo yang kini tengah melihat-lihat kamarnya.
"Ini." tangan Alessa mendorong tubuh Leo keluar dari pintu, dengan susah payah ia berhasil membuat Leo keluar dari kamar segera saja ia mengunci pintu dengan tangan yang masih gemetar.
"Makasih." ucap Leo diluar, baru pertama kali ia melihat kamar yang Alessa tempati tertata sangat rapi dan wangi vanilla di kamar Alessa membuatnya kini tersenyum sendiri.
***
Diluar matahari sudah memunculkan cahaya pagi, cahayanya perlahan masuk ke dalam kamar luas milik Leo yang masih saja mengumpulkan niat untuk bangun, jauh dengan Alessa gadis itu sudah selesai dalam mengejarkan pekerjaan rumah dan membuatkan sarapan kini ia bersiap untuk berangkat ke kampus.
Leo membasuh wajahnya, sambil menggosok gigi salah satu tangannya memegang ponsel yang sejak tadi terus memunculkan notifikasi pesan. Seketika matanya membulat saat salah satu pesan di ponselnya adalah pesan dari sang kakak sulung yang dikirim dari satu jam yang lalu.
"Gawat!" Dengan gerakan cepat ia membersihkan mulutnya dari sisa busa pasta gigi, ia lalu berjalan keluar mencari Alessa.
Leo mengedarkan pandangan, bertepatan dengan Alessa yang baru saja keluar dari kamar.
Alessa yang hendak berbalik kembali menuju kamar langsung ditarik oleh Leo.
"Lo cepetan pergi!" perintahnya, dengan mendorong bahu Alessa.
Alessa berdecak tak suka. "Iya gue juga pergi gak usah dorong-dorong."
"Kakak gue bakal kesini."
Alessa mengerutkan dahi tak mengerti.
"Ibunya Radit." jawab Leo menjawab ketidak pahaman Alessa.
Suara bel berbunyi Alessa dan Leo kini mematung berdiri, tak lama suara bel kembali berbunyi. Leo menatap Alessa khawatir, khawatir bila Alessa akan dihakimi oleh kakaknya yang entah kenapa pulang dari tour perjalannya mengelilingi dunia.
"Jangan gegabah Sa, kakak gue beda dari gue lo gak bisa ngelak atau ngebantah." ingat Leo yang tahu akan Alessa yang tak takut apapun. "Be kind." sebelum akhirnya membukakan pintu.
Wanita didepannya masuk setelah pintu benar-benar terbuka, dengan style ala wanita eropa ia berjalan masuk lalu berhenti di samping Alessa dengan anggun ia menyodorkan jas yang tersampir dipundaknya kepada Alessa.
Alessa dengan berat menerimanya, wanita itu kini masuk semakin dalam menuju sofa diikuti dengan asisten pribadinya.
"Kok pulangnya cepet?" tanya Leo kepada kakaknya, membuka pembicaraan.
"Gak di sediain dulu minum?" tanyanya.
Leo menatap dengan sebal ke arah kakaknya.
Alessa yang tengah menggantungkan jas, memejamkan mata mencoba tenang setelah menyimpan totebagnya ia berjalan ke dapur dan membawakan segelas air putih.
Kakaknya yang bernama Anna melirik setiap pergerakan Alessa, saat diluar negeri ia mendapat laporan dari asisten anaknya bahwa Radit menangis.
Anna melipat kacamatanya lalu menyimpannya di atas meja.
Merasa tak diperlukan lagi Alessa berbalik hendak pergi, tapi asisten Anna menghalanginya memberi isayrat untuk tetap diposisi.
"Radit kenapa?" tanya Anna langsung.
Ucapan Leo yang hendak menjawab pertanyaan sang kakak, terpotong dengan Alessa yang juga menjawab pertanyaan Anna yang ditunjukan padanya.
"Radit, dia berkata saya pembantu baru dengan intonasi yang cukup terdengar aneh. Entah karena saya sedang kesal karena Radit mengacak acak sarapan yang saya buat atau karena ucapan Radit yang terdengar kasar untuk anak kecil." Jawab Alessa beruntun.
Tak membiarkan Anna menyelanya Alessa melanjutkan jawabannya. "Setelah itu saya meminta maaf kepadanya dan Radit juga meminta maaf kepada saya sambil berkata selama ini tak ada yang memarahinya karena ia berkata seperti itu."
"Bukankah ada yang salah dengan tatakrama yang diberikan kepada Radit!"
Leo memandang Anna yang terdiam, kakak sulungnya itu seakan membisu dengan jawaban terakhir yang Alessa katakan.
"Untuk itu saya pamit pergi, karena ada jadwal kelas yang menunggu. Terimakasih telah mendengar penjelasan saya." Alessa memandang asisten Anna yang terlihat bingung antara membiarkan Alessa pergi atau tetap menahannya karena Anna tak berkutit sama sekali.
Setelah Alessa pergi baru anak membuang napas, ia menyambar gelas di didepannya. "Wow." ucap Anna setelah menghabiskan setengah gelas air.
Leo tertawa hambar mendengar Anna dengan wajah merahnya.
***
Setelah kelas bubar Alessa pamit kepada kedua temannya untuk pulang terlebih dahulu, namun ia tak langsung pulang melainkan ia akan ke perpustakaan kampus terlebih dahulu.
Sesampainya ia di depan kampus Alessa segera mengisi gfrom dan menyimpan barang di loker. Alessa berjalan menuju lantai tiga, dimana lantai tiga adalah lantai khusus untuk skripsi dan tesis yang sedang ia cari.
Tanpa menyadari sekitaraan seseorang mengikutinya menuju lantai tiga.
Alessa berjalan diantara rak mencari buku skripsi yang cocok dengan skripsi yang sedang ia kerjakan, cukup sulit ia mencari namun tak berselang lama ia menemukan buku skripsi yang hampir mirip dengan tujuan skripsinya.
Tak ada orang lain selain Alessa di sana, namun entah kenapa Alessa merasa bahwa ada yang sedang mengawasinya. Alessa menutup buku yang sedang ia baca, saat menyadari tiba-tiba ada suara langkah kaki dibelakang tubuhnya. Tanpa menimbulkan kecurigaan ia kembali menyimpan buku ke tempat asalnya, perlahan ia mulai melangkahkan kaki saat berbelok ke rak disamping ia melihat orang yang sejak tadi mengawasinya.
"Dave." Alessa mempercepat langkahnya saat Dave juga ikut berlari.
Setelah pertemuan terakhir sekaligus pertamanya Alessa tak ingin bertemu Dave lagi, ia tak ingin pertemuan yang lain membuatnya kembali mengingat masa lalu.
"Alessa!" Teriak Dave di tangga.
Alessa tak memperdulikan teriakan Dave ia kembali berlari saat pintu keluar sudah didepannya.
Leo baru saja meyelesaikan kelasnya yang mulai membosankan, setelah sampai di parkiran ia langsung memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya keluar dari parkiran.
Sesaat ia melewati perpustakaan kampus ia melihat Alessa yang keluar dengan tergesa diikuti laki-laki yang mengejarnya.
Leo menurunkan kaca mobil memastikan bahwa itu memang Alessa, saat mobilnya sejajar dengan jalan yang di lewati Alessa ia memberhentikan mobil dan menyuruh Alessa masuk.
Alessa yang juga melihat kedatangan Leo, buru-buru mempercepat langkahnya. Saat mobil yang dikendarai Leo menepi ia langsung saja masuk meninggalkan area perpustakaan.
***