
Suasana siang itu begitu tenang. Angin sepoi-sepoi meniup perlahan, mengusir rasa panas yang menyengat. Alessa memandang hamparan kebun teh yang luas, dengan deretan tanaman teh yang rapi dan hijau. Alessa duduk di teras rumah, menikmati secangkir teh hangat yang tersaji. Aroma segar dari teh itu tercampur dengan bau tanah yang khas dari kebun teh.
Alessa menyeruputnya perlahan, sambil menikmati pemandangan yang indah di depannya. Beberapa burung terbang di atas kebun, menambah suasana yang damai dan tenang.
Dave melihat gerak-gerik Alessa yang terlihat mulai terbiasa dengan rumahnya, di daun pintu balkon.
"Dav, tak mau gabung?" Tanya Danella yang muncul dari belakang.
Alessa berbalik.
"Ma, Alessa dan Dave akan kembali ke kota."
Danella tersenyum kecil. "Iya tau, mangkanya ibu nyiapin bingkisan buat dibawa."
"Seharusnya gak perlu mah."
Danella bergeming, ia masih terus menyiapkan dua bingkisan teh.
Angin sepoi-sepoi bertiup lembut di wajah Alessa ketika ia memasuki mobil yang akan membawanya kembali ke kota. Ia merasa sedikit sedih meninggalkan rumah orangtuanya yang hangat dan nyaman setelah menginap satu malam di sana.
Di dalam mobil, ia memandangi jalan yang dilaluinya, pohon-pohon pinus yang berderet di tepi jalan, dan hamparan pohon teh. Alessa memejamkan mata sejenak, menghirup udara segar, dan membiarkan dirinya terbawa oleh perasaan damai yang mengalir dalam dirinya.
Malam kemarin Alessa telah memikirkan semua kejadian yang telah terjadi dan berlalu, ia memilih untuk merelakan apa yang selama ini membuatnya kecewa dan sedih. Apa yang dikatakan Dave benar, ia tak pernah bisa bersembunyi dari ayahnya. Soal Dave, ia akan merelakannya dengan Livy. Ia tak ingin kehadirannya kembali menganggu kehidupannya, selama 4 tahun ia tak tahu apa yang telah Dave alami dengan memintanya kembali itu akan terdengar jahat.
Dave melirik Alessa di sampingnya, tiba-tiba hatinya hangat mengingat kembali kejadian tadi malam dimana Alessa perlahan mulai menerima keadaannya.
***
Setelah melewati jalan yang panjang dan melelahkan, akhirnya Alessa tiba di depan pintu apartemen.
Saat Alessa membuka pintu apartemenn, suasana apartement sangat lengang dan sepi tanpa ragu ia melangkah masuk.
Alessa merenung sejenak, memandangi sekeliling apartemennya, merenungkan dari mana ia harus mulai untuk membersihkan apartemen. Namun matanya malah tertuju pada bingkisan yang ibunya berikan, ia lalu membukanya dan menemukan teh hijau kering buatan ibunya.
Tanpa pikir panjang Alessa mulai menyeduh teh tersebut, untuk menenangkan isi pikirannya yang masih merindukan kampung halamannya.
Leo memejamkan mata saat, merasakan kelembutan udara yang mengalir di tubuhnya saat ia tengah mandi. Ia merasakan kesegaran dan ketenangan yang membawa pikirannya ke tempat yang jauh. Namun di tengah ia mandi, ia mencium aroma harum dari teh yang diseduh yang menyusup ke dalam kamar mandi.
Leo menyudahi mandinya saat aroma teh mulai kembali tercium dengan tajam. Ia lalu bergegas menutupi bagian bawah tubuhnya dan berjalan meninggalkan kamar mandi mencari sumber aroma teh yang berasal dari luar kamarnya.
Alessa mengikat rambutnya yang tergerai, saat suara air mendidih di ketel denga uap naik dari cerat, mengisi udara dengan kehangatan yang menenangkan. Ia lalu meraih cangkir miliknya, dan meletakkannya di atas meja. Saat dia menunggu tehnya meresap, dia menatap air yang mulai berubah warna.
Aroma teh memenuhi hidungnya, dan dia menarik napas dalam-dalam, menikmati aromanya.
Alessa mengambil mug, merasakan kehangatan keramik di telapak tangannya, dan menyesapnya. Teh yang sempurna, dalam jumlah yang tepat. Ia menutup matanya, menikmati setiap aroma yang keluar, dan mendesah puas.
"Lo gila ya!" Teriak Alessa, yang kini menutup wajahnya dengan mug di kedua tangannya.
Leo tertawa kecil. "Gue kira siapa."
"Pergi dari hadapan gue!" Teriaknya lagi, namun tak ada jawaban ia lalu mengintip sedikit dan tak mendapati Leo didepannya.
Alessa menghembuskan napas, lega.
"Gue mau, tolong buatin!" Teriak Leo yang sudah berada di dalam kamar.
***
Alessa duduk menyila di bawah sofa ruang tv, matanya terpaku pada layar komputer saat dia mengetik kata-kata terakhir dari tesisnya. Ia telah menghabiskan banyak waktu untuk meneliti dan menulis, menuangkan hati dan jiwanya ke setiap halaman. Saat dia menekan tombol "simpan", gelombang kelegaan menyapu dirinya.
Ia bersandar di bawah sofa, menutup matanya dan mengambil napas dalam-dalam. Itu sudah selesai. Dia telah melakukannya.
Tapi saat ia membuka matanya, perasaan hampa menyelimuti dirinya. Selama berbulan-bulan, hidupnya berputar di sekitar proyek ini, dan sekarang telah selesai, ia berhasil. Alessa melihat meja ruang tv dimana tumpukan buku dan kertas yang berserakan di setiap permukaan. Itu berantakan, tapi itu adalah kekacauannya.
Alessa berdiri dan menggeliat, merasakan kekakuan pada ototnya karena duduk terlalu lama. Ia berjalan ke jendela dan melihat keluar ke kota di bawah.
Saat ia berpaling dari jendela, ia melihat Leo duduk sambil melihat hasil tesisnya di layar komputer.
Alessa bergegas berjalan mendekat, menutup kasar laptop milinya.
"Gila keren banget!" Puji Leo yang melihat keberhasilan Alessa dalam menyelesaikan tesis.
Alessa memutar kedua bola matanya, selama ini ia tak pernah melihat Leo yang uring-uringan menyelesaikan skripsi, tentu itu membuat pertanyaan besar dalam hati Alessa.
"Untuk merayakan!" Dengan menyodorkan sekaleng beer. "Ayolah, untuk merayakan beban yang berkurang."
Alessa dengan ragu menerimannya, dan mulai meminum sedikit isi kaleng tersebut.
"Kapan sidang?"
"Minggu depan." Jawab Alessa sambil membereskan kekacauan di atas meja.
"Good luck." Ucap Leo sebelum pergi meninggalkan ruangan tv menuju kamar.
Alessa menatap kepergiaan Leo, ia merasa ada yang salah dengan Leo. Alessa yang melihat Leo yang biasanya ceria dan ramah, kini terlihat pendiam dan murung.
***