My Beautiful Girl

My Beautiful Girl
12 : Livy



Sesaat setelah di dalam mobil yang sedang melaju Alessa dengan perlahan kembali mengatur napas, disamping Leo menatapnya heran ditambah laki-laki yang mengejar Alessa kini tengah berkaca pinggang di pinggir jalan menatap kepergian Alessa yang menaiki mobilnya.


"Kenapa? Kaya dikejar rentenir!"


Alessa menggeleng sambil membenarkan posisi duduk. "Orang gila." jawabnya pendek.


Bahu Leo terangkat, disamping Alessa beberapa kali menatap kaca spion. "Stop stop gue turun disini ajah." perintah Alessa. "Barang-barang gue masih di perpus Leo." sambungnya lagi.


"Mau gue anter?" tanyanya.


Alessa menggeleng. "Di depan halte lo turunin gue."


Leo mengangguk, ia sedang tak ingin berdebat dengan Alessa yang pasti ia tak akan menang. Setelah mobilnya menepi di halte yang ditunjuk, Alessa bergegas keluar.


"Yakin?"


Tak ada jawaban hanya senyuman kecil yang Alessa berikan, gadis itu kini kembali berjalan menuju perpustakaan jauh di depannya dengan berat hati Leo menjalankan mobilnya meninggalkan halte bis.


***


Setelah sampai dikampus Alessa mendapati bahwa Dave masih setia di dalam perpustakaan entah sedang menunggu siapa namun kini yang ia lihat dosen baru kampusnya itu tengah bersenda gurau dengan beberapa mahasiswi. Alessa mengigit kuku jarinya khawatir karena satu jam lagi perpustakaan akan ditutup, sedangkan dia belum mendapatkan totebag miliknya kembali.


"Sa?" panggil seseorang dengan cepat Alessa menoleh, sedikit bersyukur yang memanggilnya bukan Dave melainkan Vino.


Alessa mendesah senang. "Syukur kirain siapa Vin."


"Emang kenapa?"


Alessa tersenyum saat ide cemerlang tiba-tiba muncul. "Lo lagi sibuk gak?" tanya Alessa melihat Vino yang tak membawa barang apapun.


Vino menggelang.


"Syukur lah, bisa gak lo ambilin totebag gue di loker perpus."


"Kenapa gak lo ambil sendiri, gampang."


Alessa berdecak. "Ceritanya panjang, jadi mau bantu gak?" tanya Alessa sedikit memaksa.


Vino mengangguk kecil, ia lalu berjalan kembali ke perpus setelah mendapat kunci loker kampus, diluar Alessa menunggu dengan was-was. Tak berselang lama Vino kembali, dengan totebag lecek milik Alessa.


"Sa!" Panggil Vino berteriak, karena ia berniat membuat gadis itu terkejut dan benar saja gadis itu memutar tubuhnya dengan cepat.


"Pelan-pelan gak usah teriak teriak!" bentak Alessa ia lalu menerima totebag miliknya yang disodorkan Vino.


Alessa memeriksa isi totebagnya, dan juga melihat ke dalam perpustakaan yang kini Dave tengah melihat ke arah mereka berdua dengan kecepatan kaki seribu Alessa kembali berlari meninggalkan perpustakaan dengan Vino yang berdiri heran.


***


Didepan kemacetaan menunggu dirinya, lambat laun ia mulai mengenali kembali ciri kotanya.


Sekitar tigapuluh menit mobilnya tersendat dijalan, akhirnya ia berbelok sesampainya di parkiran apartmenet ia berjalan menuju lift.


Di dalam apartment ia disambut oleh Livy dan Rose, yang tengah sibuk menguyah biskuit duduk di baby chair miliknya, Dave mendekat untuk mengecup anak kesayanganya.


Livy mengelap tangannya yang basah karena sehabis mencuci piring. "Mau langsung makan?" Dengan menyambar tas Dave.


Dave menggeleng sambil berjalan meninggalkan dapur dengan Rose digendongannya.


***


Dave sedang berdiri melamun di balik pintu tangga darurat apartment, tangganya memegang sebatang rokok dan menyeruput asap rokok dengan tenang. Ia meniupkan asapnya ke udara menatap ke bawah tangga yang lengang. Ia lalu menarik nafas dalam saat menghisap rokoknya lalu membuang asapnya ke arah langit-langit.


Dave membuka pelan pintu apartementnya dan melihat Livy tengah duduk di ruangan makan. Dave berjalan melewatinya mengambil air minum, ia lalu ikut duduk dihadapan Livy yang memperhatikanya.


"Gimana?" Tanya Livy.


Dave menggeleng.


"Apa harus aku yang tanya Alessa."


Dave menggeleng tegas. "Dia akan semakin menjauh."


"Apa perkenalan ku kemarin terlaku berlebihan?" Tanya Livy memandang Dave yang terlihat penuh pikiran.


"Tidak."


"Dia terlihat masih mencintaimu." Ucap Livy setelah sekian lama hening.


Dave mengangkat wajahnya menatap Livy yang juga memandangnya.


"Dari awal seharusnya aku jujur saja."


"Dari awal permasalahan ini sudah rumit, kamu tidak perlu merasa tidak enak." Ujar Dave menutup pembicaraan sebelum dirinya meninggalkan dapur beserta Livy yang terdiam.


Pernikahaan ini ada sebenarnya karena Rose, Dave mengulurkan tangan kepada Livy yang putus asa. Livy adalah teman satu kampus Dave, ia dikenal sebagai sosok wanita pintar, namun ia tidak terlalu pintar dalam kisah cintanya yang berujung malapetaka. Diiming-imingi menikah, Livy akhirnya hamil setelah 3 semester menjalani hubungan dengan kakak senior dikampusnya.


Namun setelah tahu Livy hamil, laki-laki itu menghilang dan Dave datang menyelamatkannya.


2 tahun berlalu sejak pernikahaan itu ada, Dave sepenuhnya tidak mencintanya ia hanya mencintai Rose yang lahir ke dunia. Walau Dave tidak memperbolehkannya masuk ke dalam hatinya, laki-laki itu selalu menghargai kehadirannya.


Livy meninggalkan dapur dengan perasaan yang sama seperti 2 tahun yang lalu, ia bimbang dan sedih menuju kamar yang berbeda yang Dave masuki.


***