
"Alessa kerja di aprtement ini, bersih-bersih dan nyiapin sarapan."
"Gak bahaya kan?"
"Engga, Alessa juga udah dapat kamar tidur dan makan dua kali sehari, setelah kontrak tiga bulan selesai Alessa bakal keluar. Mas tenang ajah."
Suara rekaman terhenti suasana ruangan menjadi hening, pria yang duduk di kursi kerja mengurai rambutnya ke belakang.
"Apa saya harus ke dalam menyelidiki?" Tanya Oki mengajukan diri.
Si pria menggeleng tegas. "Jangan. Kamu sudah pernah kesana dan bertemu satpam, kamu akan dicurigai."
Oki terdiam mendengar penolakan bosnya.
"Apartment the royal kingston, memiliki banyak unit dan pemilik kita pasti akan kewalahan mencari satu persatu dimana ia tinggal."
"Bukankah apartement itu milik properti bapak Yodarsono?" Tanya kembali Oki memastikan. "Bagaimana kita minta bantuannya?"
Si pria kembali menggeleng tegas. "Jangan sampai calon besan saya mengetahui hal yang sebenarnya, bahwa anak saya berkelana diluar sana dan menjadi seorang pembantu di salah satu properti miliknya." Jawab si pria.
Oki tersenyum kecut, mendengar penolakan yang entah keberapa kali.
"Dave." Panggilnya.
Dave yang berdiri di samping Oki, mengangkat kepalanya.
"Bagaimana apartment yang kamu tinggali sekarang?" Tanya pria tersebut.
"Bagus." Jawab pendek Dave.
"Coba kamu cari unit baru untuk tempat tinggalmu lagi, di apartement The royal kingston." Perintahnya yang langsung di setujui oleh Dave.
Setelah diluar Dave dan Oki berdiri di depan si pria yang berdiri membelakangi mobil yang sudah terparkir.
"Apa kabar Livy dan Rose?" Tanyanya memandang ke arah Dave.
Dave yang mendengar nama Livy dan Rose terkejut. "Mereka baik." Ia lalu menatap wajah si pria.
Mata si pria menyipit. "Apa kamu masih memikirkan putriku?" Tanyanya lagi.
Dave menggelang pelan, Oki di samping diam-diam menyimak.
Tangan si pria terulur membenarkan dasi Dave. "Kalau memang begitu, setidaknya tunjukan itu kepada Livy beri dia sedikit perhatian." Kini tangannya menepuk pelan pipi Dave, sambil tersenyum ke arah Oki ia lalu masuk ke dalam mobil di susul asistennya masuk dipintu yang berbeda.
Setelah mobil tertutup namun mobil tak kunjung berjalan, malah kini kaca mobil terbuka Oki menunduk saat tangan si pria menunjuknya.
"Kembali ke apartement, awasi dari kejauhan. Jangan sampai Alessa tahu." Ingatnya.
Oki mengangguk, lalu kaca mobil kembali naik disusul mobil yang melaju meninggalkan keduanya. Dave berjalan menuju parkiran meninggalakan Oki yang kini berlari mengejarnya.
***
Setelah kejadian di perpus, Alessa kembali gencar menghindari Leo. Leo yang merasa hal Alessa menghindarinya tentu merasa terganggu dengan hal tersebut, kenapa niatnya mendekati Alessa malah membuatnya semakin jauh.
Setiap hari Alessa selalu berdiam diri di kamar, tidak ada interaksi yang terjadi diantara keduannya. Leo yang tidak ingin berlarut dalam kegagalan, selalu pergi berkumpul dengan teman-temannya entah ke club atau hanya ngopi santai.
Malam hari setelah pulang dari club, Leo merebahkan tubuhnya di atas sofa tanpa menyalakan lampu ruangan tv membiarkan ia diantara kegelapan ruangan.
Leo meminjit pelipisnya pening. Tak berselang lama suara pintu kamar dibuka, dan Alessa tanpa menyadari kehadirannya keluar dari kamar menuju dapur.
Malam ini entah malam keberapa Alessa mulai begadang menyelesaikan skripsinya, ia tidak ingin mengulang ditahun depan dengan itu ia mulai mengerjakan skripsinya setelah lulus sempro.
Alessa lalu beringsut dari kursi, tanpa banyak berpikir ia membuka pintu kamar karena ia tak perlu khawatir dengan Leo yang entah pergi kemana.
Alessa membuka pintu kulkas mengambil teko kaca yang terisi air dinging. Tanganya tergelicir saat mendengar suara dari arah ruangan tv, dengan cepat ia menyadari ada seseorang di dalam kegelapan ruangan tv.
"Begadang?" Tanya Leo berjalan mendekati dapur.
Alessa memejamkan mata sekejap karena keteledorannya, ia lalu berbalik melihat ke arah sumber suara yang kini sudah duduk di kursi bar.
"Iya." Tanpa banyak berbicara Alessa berjalan melewati Leo, yang tengah menahan senyum.
Leo melipatkan tangan diatas meja. "Gue lapar."
Baru saja tangan Alessa memegang handle pintu, suara Leo menghentikannya membuatnya kembali memejamkan mata sekejap untuk mengontrol dirinya.
"I said I was hungry, Alessa!"
Alessa berjalan kembali ke dapur, menaruh sembarang gelas yang tadi ia pegang. Alessa membuka kulkas mengambil dua telor, namun suara Leo kembali terdengar.
"I thought spaghetti was delicious."
"Did you know the spaghetti instant sauce has run out, sir." Jawab Alessa dengan suara kesal.
Leo menggulum senyum. "Maka buat Alessa. That's simple."
Alessa balas tersenyum kecut pekerjaan kali ini akan terasa lama, ia mulai membuat saus spaghetti dengan bahan seadaanya.
Leo yang duduk di kursi bar melihat semua pergerakan dari Alessa yang sangat luwes memasak.
"Satu minggu ini lo kayanya gencer banget ngehindari dari gue."
"Apa masalah di perpus itu?" Tanya Leo, yang di tanya tengah asik memasak.
Leo berdehem karena tak ada jawaban. "Lo cemburu gue deket sama cewe lain?"
Alessa tak mengubris perkataan yang Leo ucapakan, sambil menunggu rebusan pasta spaghetti matang ia mulai membuat saus spaghetti.
"Ngomong-ngomong apa lo mulai suka sama gue setelah kita seapartment bareng?" Tanya Leo kembali.
Alessa yang berdiri membelakangi Leo punggung bergetar kecil karena tertawa, apa yang harus ia sukai dari seorang Leo. Sifatnya? Atau kekayaanya.
"Lo ketawa?"
Alessa menggeleng menjawab pertanyaan Leo, ia berbalik namun dengan wajah merah menatap tawa. "Gue gak pernah suka sama orang yang dari dulu emang gue gak suka." Jawab Alessa telak.
Kepala Leo tertunduk, tangannya terkepal mengetuk meja sambil tertawa.
Bau saus spaghetti mulai tercium tajam, Leo mulai tak sabar untuk menyantapnya. Tak lama Alessa sudah menyiapkan makannya, ia menyodorkan sepiring spaghetti dengan saus bolognese buatannya.
Leo mulai menyuap makanan ke mulutnya, sambil memperhatikan Alessa yang tengah membersihkan dapur.
"Wah, ini enak sekali. Gue gak nyangka oleh juga pinter masak." Ujar Leo kembali menyuapkan spaghetti. "Seharusnya kita pacaran saja."
"Jangan konyol, kita tidak cocok." Jawab Alessa yang kini sudah berbalik menghadap Leo.
Sambil menguyah Leo menatap tak percaya. "Wah. Gue juga suka cewe kasar."
Alessa menghembuskan nafas kecil menyadari percakapan ini tak akan berakhir. Ia lalu meraih kembali gelas miliknya, dan pergi meninggalkan Leo.
***