My Beautiful Girl

My Beautiful Girl
30 : Permainan



Sore hari, langit mulai berubah warna menjadi kemerahan. Matahari yang sebentar lagi akan tenggelam, memancarkan cahaya yang lembut dan hangat. Angin semakin dingin, membuat daun-daun pohon bergoyang-goyang. Di kejauhan, terdengar suara burung-burung yang kembali ke sarangnya. Suasana menjadi semakin tenang dan damai. Sore hari memang selalu membawa keindahan yang tak tergantikan.


Alessa berjalan pelan menuju ruang makan di iringi cahaya sore yang masuk dari jendela-jendela besar di setiap lorong, menikmati suasana sore yang tenang. Namun ia melirik ke samping melihat siluet seseorang berdiri di balkon, saat Alessa sampai di bingkai pintu balkon ia menyadari sosok yang berdiri adalah Leo.


Langkahnya memelan, kedua tangan saling bertaut gugup.


"Alessa." Sapa Leo, dengan melangkah mendekat.


"Mau apa?" Tanya Alessa gelagapan saat Leo hendak memeluknya, sambil berjalan mundur.


"Merayakan." Celetuk Leo.


Alessa menggeleng keras, ia mengingat kembali kejadian di kamarnya yang membuatnya merinding sebal. "No." Ia berjalan melewati Leo begitu saja.


Leo memutar tubunya. "Lo tau kan soal perjodohan ini?"


Alessa mengangguk. "Tapi ada hal yang harus gue omongin sama lo, soal perjodohan."


"Ya udah kita kembali ke ruang makan untuk membahasnya."


"Jangan, ayah gue mungkin gak bakal setuju. Jadi, gue mau bahas ini berdua."


Leo menegakkan tubuhnya. "Oke." Bersiap mendengar perkataan Alessa.


"Lo tau kan impian, gue soal masuk kuliah kedokteran."


"Gue ngerti maksud lo." Sahut Leo, menyadari arah pembicaraan.


Leo terdiam, dengan memandangi wajah Alessa di depannya. Pemandangan di depannya jauh lebih indah ketimbang matahari yang terbenam di sampingnya.


"Cuma 6 tahun Leo, kalau lo setuju ayah gue pasti setuju." Bujuk Alessa menarik ujung lengan baju Leo.


"Oke."


"Makasih Leo, gue bakal kasih tau ayah gue." Alessa membalikkan badannya, dengan perasaan bahagia.


"Tapi ada satu syarat." Ucap Leo yang membuat langkah Alessa terhenti ia kembali berbalik menatap Leo.


"Apa?" Tanya Alessa penasaran.


"Kalau lo gak lolos kita menikah." Jawab Leo santai.


Alessa menggeleng seraya menjawab. "Gue pasti lolos." Jawab Alessa percaya diri.


Jantung Leo seketika itu juga berdetak kencang, ia menyukai senyuman yang terukir di bibir gadis didepannya yang terlihat seakan menantangnya. Ia teringat ciuman di apartemennya dulu, dan sekarang ia ingin menciumnya lagi.


"Wah, kalian cukup akrab ya." Ucap seseorang yang memecah keheningan di antara Alessa dan Leo.


Keempat orangtua berjalan mendekat ke arah balkon, dimana Alessa dan Leo yang berdiri. Padahal, awalnya mereka akan menuju ruang tamu, namun niat mereka terhenti karena melihat Alessa dan Leo di balkon.


"Sudah ku bilang mereka berdua satu kampus." Ujar Yodarsono.


Alessa tersenyum menerima pelukan terbuka dari Lucy. "Alessa, tante."


"Kamu cantik banget, benerkan, by." Puji Lucy menangkup pipi Alessa, ia melirik Yodarsono yang mengangguk setuju.


"Tante juga cantik." Balas Alessa, ia melirik Yodarsono ayah Leo.


"Kita mempunyai pertemuan yang cukup memalukan, Alessa."


Alessa mengangguk kecil, mengingat kejadian di apartemen. "Namun, kalau aku diposisi Om, aku pasti akan melakukan hal yang sama memukul orang yang suka berbuat onar, tapi aku akan memilih mencari tahunya lebih dulu sih." jawab Alessa.


Lucy menatap Yodarsono penasaran begitu juga dengan Danella yang menatap Bima menuntut penjelasan.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Bima mengalihkan pembicaraan.


Alessa tersenyum lebar ke arah Ayahnya, ia melirik sekilas Leo di sampingnya. "Leo mengijinkan aku untuk kuliah kedokteran di inggris."


Leo disampingnya tersenyum simpul.


Bima dan Yodarsono saling memadang, senyum keduanya terlihat tertahan saat mendengar ucapan Alessa yang seperti sudah direncanakan.


***


Leo menatap heran ayahnya.


"Ayah dan Pak Bima, akan sekuat tenaga mencari cara agar Alessa tak pergi apalagi sampai ke inggris." Kata Yodarsono. "Tapi kamu malah menyetujuinya."


Leo mengoyangkan gelas ditanganya sambil menatap ke arah Alessa, yang sedang bersenda gurau dengan ibunya dan kedua orang tuanya. Alessa berhasil memperdayanya.


"Jadi perang dingin di antara kita telah usai?" Tanya Yodarsono.


Leo tersenyum kecil, mengangguk.


"Aku tak menyangka Alessa seblak-blakan itu, persis yang diucapkan Anna." Ujar Yodarsono. "Pembantu Leo yang tak takut apapun." Teringat kembali ucapan Alessa tadi di balkon yang secara halus menyindirnya.


Leo tertawa pelan. "Dia memang seperti itu."


Suasana malam semakin larut, langit yang tadinya biru kini berubah menjadi gelap. Angin malam meniup pelan, membawa aroma bunga yang harum dari taman di sebelah rumah. Di kejauhan terdengar suara hewan yang bersahutan, menambah kesunyian malam yang semakin dalam. Di atas langit, bulan purnama bersinar terang, menambah keindahan malam yang sunyi.


Keluarga Leo bergegas untuk pulang, Leo berjalan di samping Alessa yang telihat begitu memukau dengan dress merah miliknya, ia sulit menahan diri untuk tidak terus menatapnya dengan kagum, dan untuk sesaat, rasanya seperti waktu telah berhenti. Alessa sepenuhnya menjadi pusat perhatiannya.


Leo menarik lengan Alessa menjauh dari kedua orang tua mereka yang sedang berbincang di teras rumah.


"Ada apa?" Tanya Alessa polos.


Leo menatap Alessa tajam. "Kamu berhasil memperdayaku Alessa."


Alessa tertawa pelan, melihat Leo yang terlihat menahan kesal.


"Kenapa?"


Alessa melirik Leo sejenak. Ia tidak langsung menjawab. Ia menelengkan kepalanya dan tersenyum. "Karena gue, tau lo gak akan bisa nolak permintaan gue."


Leo ikut tersenyum kecil, mendengar perkataan Alessa itu.


"Denger Alessa, bila suatu saat kamu mencoba menjauh dariku, aku akan menjemputmu secara paksa dan menikahimu hari itu juga. Kamu harus sadar diri siapa yang mengizinkanmu ke inggris, jadi kamu juga harus tau kemana kamu pulang." Ujar Leo panjang lebar, menatap Alessa intens didepannya.


Alessa mengangguk patuh, dengan tak bisa menyembunyikan senyum mengejek miliknya.


Kening Leo berkerut, heran melihat reaksi Alessa.


"Lo yakin, misalkan lo ketahuan gak tahan dengan libido lo, selama nunggu gue di inggris. Pernikahan itu gak akan pernah terjadi." Alessa melirik ke bagian bawah Leo.


"Sialan kamu Alessa." Leo menarik lengan Alessa mendekatnya. "Akan ku pastikan aku yang akan menang kali ini."


Tangan Alessa terulur mengusap pipi Leo yang terlihat mengeras menahan marah. "Good luck."


Suara mesin mobil meraung hidup, memecah kesunyian malam yang damai. Saat mobil perlahan keluar dari jalan masuk, Leo menatap keluar melihat Alessa yang melambaikan tangan ke arahnya.


***


"Gue keterima Leo." Alessa di sebrang menjerit bahagia.


Leo tersenyum kecil, saat Leo mendengar tentang Alessa yang lolos masuk kuliah, gelombang emosi menyapu dirinya. Ia merasakan campuran kebahagiaan dan kekecewaan karena dirinya akan sangat jauh dengan Alessa.


"Selamat ya." Hanya itu jawaban yang Leo berikan, ia sudah kalah dalam babak pertama.


Leo menatap ke luar gedung, dibawah jalan raya terlihat padat setelah menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku, ia kembali berjalan menuju sofa di ruangan tersebut.


Vino diam menunggu, melihat wajah Leo yang tak bersahabat ia bisa menebak apa yang terjadi. "Lolos?" Tanyanya memastikan.


Leo mengangguk kecil, setelah duduk di sofa.


Vino tertawa lepas. "Wah, gagal unboxing nih!"


Leo hanya bisa duduk diam, pikirannya berpacu dengan penyesalan dan frustrasi. Itu adalah pil pahit yang harus ditelan, tetapi dia tahu dia tidak bisa menyalahkan siapa pun kecuali dirinya sendiri.


***