
Di pagi hari, suasana terlihat sepi dan tenang karena belum banyak mahasiswa yang datang. Alessa dengan kebiasaanya berjalan kaki menuju gedung kelas, wajahnya hangat tertimpa sinar matahari pagi yang semakin meninggi.
"Alessa." panggail Mega dengan suara pelan dan lembut.
Alessa tentu saja mendelik heran. "Kenapa nih? Pagi-pagi?"
"Kaya gak tahu ajah, kan dosen matkul kali ini dosen baru!"
Kini ingatan Alessa sepenuhnya pulih, di dalam hati ia berteriak kesal karena ia akan bertemu Dave dalam dua jam kedepan. Bila matkul kali ini tidak penting tentu saja ia akan berlari menjauh dari area gedung tapi tentu saja tidak bisa.
Saat pintu kelas terbuka, terasa udara segar dan sejuk mengalir masuk ke dalam ruangan yang bersih dan rapi. Di dalam kelas suara sapaan dari teman-teman sekelas yang sudah hadir lebih awal.
Alessa sama sekali tidak memandang meja dosen, dimana dosen baru itu sudah hadir walau jam pelajaraan belum dimulai.
Gisel dan Mega disamping berseri senang karena dosen baru mereka hadir, mereka tidak tahu saja dosen baru yang sedang mereka bicarakan sudah mempunyai anak.
Beberapa siswa kini sibuk membuka buku atau laptop bersiap mengikuti pembelajaraan. Dave membuka kelas dengan penuh semangat, dan Alessa gadis itu hanya mampu diam tanpa menimbulkan suara agar tak menarik perhatian dosen barunya itu.
***
Setelah jam pelajaraan berakhir, suasana kelas menjadi tenang dan sepi. Suara tawa dan dialog yang sebelumnya mengisi ruangan telah hilang. Meja yang tadinya penuh dengan alat tulis mahasiswa kini telah kosong, beberapa mahasiswa yang terlihat buru-buru keluar dari ruangan sebelum dosen menutup kelas.
Begitu juga dengan Alessa, walau teman-temannya memandang heran ia tetap melangkah pelan menuju pintu.
Dave tersenyum. "Terimakasih atas waktu kalian, saya akhiri pertemuan kali ini."
Diluar gedung Alessa melambaikan tangan ke arah Gisel dan Mega yang baru saja keluar dari gedung. Alessa lalu menarik tangan kedua temannya agar segara menjauh dari area gedung, tanpa memperdulikan temannya yang heran.
"Kenapa sih, sabar dong." Ujar Mega.
Alessa memperhatikan sekitar yang ramai, ia tetap menyeret temannya menjauh dari area kampus.
Sesampainya di depan gedung perpustakaan Alessa baru melepaskan tangan kedua temannya, Gisel dan Mega menatap aneh tingkah aneh Alessa.
"Sa, lo kenapa sih dari pagi aneh banget kaya ada orang yang ngejar lo aja?" Tanya Gisel membuka pembicaraan.
"Iya gak biasanya tau!" Lanjut Mega disamping.
"Ada masalah ya lo sama dosen baru?" Tanya lagi Gisel.
Alessa memandang Gisel, ia lalu menggeleng tanpa memberikan jawaban.
Mega juga memandang Gisel, kenapa dosen baru mereka yang menjadi topik. "Kenapa bawa-bawa Dosen Dave?"
Gisel mengedikan bahu, ia hanya merasa Alessa sedang menghindari dosen baru mereka. Gisel memandang Alessa intes, yang tengah mengeluarkan kartu KTM untuk masuk ke dalam perpus.
Setelah berjalan menaiki tangga spiral menuju lantai 3, akhirnya mereka sampai ke tujuan. Mega yang berada di depan Alessa dan Gisel tiba-tiba saja berhenti melangkah.
"Kenapa?" Tanya Gisel memandang Mega yang diam.
Dibelakang Alessa memperlambat langkahnya, ia menatap ke depan dengan penasaran. Ternyata yang membuat Mega berhenti berjalan adalah Leo dengan seorang mahasiswi tengah Alessa tidak tau pasti apa yang telah dilakukan keduanya namun wajah mereka terlalu dekat untuk hanya sekedar mengobrol.
"Apa-apaan ini!" Dengan sedikit berteriak terkejut.
Alessa menatap tak percaya kearah keduanya, wanita di depan Leo beringsut menjauh, ia juga melihat Leo yang menatapnya kaget.
Mega melotot kesal. "Wah gila, cctv lo gak liat apa? Woy!" teriak Mega menunjuk kamera cctv.
Gisel menepuk bahu Mega, menenangkannya. "Udah, percuma mereka gak akan pernah kena sansi." Jawabnya, ya karena jawabannya simple yaitu Leo, laki-laki tersebut mempunyai banyak bekingan di kampus ini.
Alessa bergedik ngeri mendengar jawaban Gisel, karena yang diucapkan temannya itu benar adanya.
***
Saat itu waktu sudah menunjukan pukul lima sore, jalanan sudah mulai ramai dengan orang-orang yang pulang bekerja. Sebelum kembali ke apartment, Alessa melarikan dirinya memasuki supermarket ia mengambil sekaleng soda dan langsung meminumnya dengan tergesa.
Dalam setiap tegukannya, ia teringat wajah Leo yang begitu dekat dengan wajah mahasiswi yang entah siapa namanaya. Alessa buru-buru menggelangkan kepala, kenapa harus ia teringat dengan kejadian di perpus tadi.
Alessa berjalan menuju kasir, dan membayar soda yang sudah setengahnya ia minum. Ia perlahan keluar dari supermarket, di teras ia kembali meminum sodanya disamping seseorang bersiul ke arahnya.
Disaat suasana hatinya yang keruh ada saja yang membuatnya tambah keruh, Alessa menatap kesamping dengan kesal tanpa sadar tangganya meremas kaleng soda membuat laki-laki tadi yang bersiul beringsut membenarkan posisi duduk dengan gugup.
Alessa melempar kaleng ke tempat sampah, ia menarik napas bersiap pulang.
Sesampainya di area gedung apartement, Alessa memandang ke atas bangunan apa yang akan selanjutnya terjadi. Leo yang meminta maaf? Atau suasana canggung terjadi diantara keduanya.
"Alessa!" Panggil seseorang.
Alessa mengedarkan pandangan, ia lalu memicingkan matanya kepada seseorang yang melambaikan tangan sambil ditahan satpam.
"Mas Oki." Gumam Alessa, ia lalu berjalan kembali ke gerbang masuk.
"Maaf pak, ojek gak bisa masuk." Tegur satpam yang menahan Mas Oki di atas motor.
"Tapi, dia temen saya pak." Tunjuk Mas Oki kepada Alessa yang berjalan mendekat.
Alessa menyelipkan rambutnya kebelakang telinga, saat mendengar teguran satpam. "Kenapa Mas."
"Tuh bener temen saya pak, saya cuma mau ngobrol neng." Ujar Mas Oki.
"Ya udah disana aja ngobrolnya, disini menghalangi jalan." Tunjuknya ke samping pos.
Mas Oki menurut ia lalu memarkirkan motor. "Neng kemana aja?"
"Gak kemana-mana Mas."
"Saya nyariin neng, saya tanya ke ibu kos dia gak tau terus saya ke tempat kerja neng kata bossnya udah gak kerja lagi ke sana. Saya sedih loh." ucap panjang lebar Mas Oki.
Alessa tersenyum simpul. "Iya maaf mas, aku gak ngabarin mas hpku udah jelek banget."
"Sekarang gimana, neng sehat? Neng kenapa ada di apartement orang kaya?" Tanya beruntun Mas Oki.
"Alessa sehat, gimana mas masih banyakkan penumpang."
"Banyak sih, tapi mas kan kehilangan pelanggan setia."
***