
Sejak tadi Alessa memandangi setiap foto yang berjajar di meja besar yang berada di dalam kamar Leo. Pekerjaannya hampir selesai namun matanya tersihir oleh foto Leo bersama keluarganya, mereka berempat tampak seperti keluarga bangsawan.
Kepala Alessa berputar mencari sesuatu, merasa aman ia lalu mengeluarkan ponselnya dan memulai memotret foto tersebut.
Alessa menatap tak percaya ke layar ponselnya, beberapa artikel muncul tentang keluarga Leo. Ayahnya yang bernama Yodarsono terpilih menjadi orang terkaya seindonesia karena bisnis properti, ayahnya juga cukup terpandang di indonesia karena kebaikannya dan keramahtamahan.
Bel terdengar samar, dengan cepat Alessa memasukan kembali ponselnya.
***
Matahari perlahan terbenam, memancarkan cahaya hangat di atas halaman kampus. Saat jam terus berdetak mendekati waktu tutup, perpustakaan mulai kosong, hanya menyisakan beberapa siswa yang tersebar di seluruh tumpukan.
Saat pustakawan mengumumkan waktu penutupan, Alessa dengan enggan berjalan keluar dengan hanya membawa beberapa buku yang akan ia pinjam.
"Terimakasih." Ucap Alessa sambil membawa buku yang ia pinjam.
Alessa berjalan keluar dari perpustakaan dengan totebag yang tersampir dipundaknya. Ia menarik napas dalam-dalam, dengan memeluk buku.
Tiba-tiba, sebuah mobil mercy putih melaju dengan cepat dan berhenti tepat di depannya.
Alessa menyipitkan mata.
Leo yang berada di dalam mobil menyurunya masuk, namun Alessa bergeming tak lama ia mendatangi Alessa.
"Ayo." Ajaknya sambil mengambil buku yang ada di pelukan Alessa.
Alessa menatap kebelakang, takut-takut mahasiswa melihat kejadian tersebut. Namun yang ia dapati adalah keheningan di halaman perpustakan yang sudah sepi.
Alessa menghembuskan nafas lega, ia lalu berjalan menyusul Leo. Setelah di dalam Leo kembali menyalakan mobil dan melajukan mobilnya.
Alessa melirik Leo yang tengah menyetir.
"Kenapa, ada yang mau diomongin?" Tanya Leo tanpa menoleh ke arah Alessa.
Alessa menggeleng.
"Ulurkan tangan lo."
"Buat apa?"
"Buruan."
Dengan patuh Alessa mengulurkan tangannya, Leo lalu membuka laci di dasbor mobil mengelurkan sesuatu yang mengkilap.
"Itu dari kakak gue. Ucapan maaf soal yang kemarin." Ucap Leo yang melihat Alessa menatap heran saat ia memberikan sebuah kalung.
"Pasti ini mahal." Jawab Alessa merasa keberatan.
"Ya udah buang ajah kalau gak mau."
Dengan merebut kembali kalung.
Alessa menahan lengan Leo yang akan membuang keluar kalung tersebut. "Jangan." Teriaknya. "Gila ajah, barang mahal dibuang." Sambungnya.
Leo tertawa kecil sambil memberikan kembali kalung tersebut.
"Bilangin makasih buat kalungnya."
Leo mengangguk kecil, tatapan matanya terlihat seperti kaca saat ia memperhatikan kalung yang berada dalam genggaman Alessa. Ia tahu bahwa ia seharusnya jujur, tapi ia tidak bisa menahan diri.
Namun, di dalam hatinya, ia merasa bersalah karena telah berbohong bahwa kalung itu dari kakaknya namun ia memiliki alasan.
Saat tiba di parkiran apartemen, suasana hening dan sepi. Tidak ada suara atau keramaian yang terdengar, hanya sepi dan lengang. Di sekitar tempat parkir, terdapat beberapa mobil yang terparkir rapi dan teratur.
Alessa bersiap turun dari mobil, namun niatnya terhenti saat melihat dua pria keluar dari lift.
Alessa lalu merundukan kepala, saat menyadari satu diantara dua pria tadi adalah, Dave.
"Kenapa?" Tanya Leo melihat Alessa.
Alessa mengumpat kecil, ia tak ingin Dave mengetahui keberadaanya.
Leo menatap keluar mobil, menatap dua pria yang sedang berbincang tepat di depan mobilnya.
"Udah pergi belum?" Tanya Alessa.
Leo menggeleng, berarti benar Alessa sedang bersembunyi dari dua orang diluar mobil.
"Sialan, kenapa juga harus ketemu disini!"
***
Suasana makan malam di dapur terasa canggung. Dua orang duduk di meja makan, saling menyantap makanan tanpa suara.
Seakan ada jarak yang terbentang di antara mereka, meskipun mereka duduk begitu dekat.
"Kamu suka tinggal di apartment ini?" Tanya Dave membuka pembicaraan.
Livy menatap Dave yang tak menatapnya. "Aku suka disini. Emangnya ada apa?"
"Oh, itu terserah kamu." Jawab Livy yang tau arah pembicaraan yang Dave maksud.
"Katanya kamu suka disini." Dengan menyuap makanan terakhir. "Kita tak akan pindah kalau begitu." Tutupnya sambil berlalu pergi.
Livy menghembuskan nafas pendek, menatap punggung Dave yang hilang dibalik pintu kamar.
***
Malam itu gelap dan sunyi, dengan hanya suara hiruk pikuk kota di latar belakang. Di dalam apartemen, Leo sedang berbicara di telepon, suaranya rendah dan hening saat dia berbicara.
"Tadi ada yang survie unit?" Tanya Leo.
"Iya, ada empat orang." Jawab orang disebrang telpon.
Leo tampak tenggelam dalam pikirannya, ia memikirkan kembali kejadian di parkiran bersama Alessa.
Leo berjalan mondar-mandir, dia melihat ke luar jendela dan melihat lampu kota berkelap-kelip di kejauhan. "Siapa orang yang survei pada jam empat sore tadi?"
"Sebentar pak."
Sementara itu, di luar, sebuah mobil melaju kencang, suara mesinnya bergema. Leo menunggu tak sabaran.
"Ah, namanya Pak Dave." Ucap orang disebrang. "Dia seorang dosen." Sambungnya lagi.
Leo terdiam, ia kembali terikat akan kejadian Alessa dikejar seseorang di area kampus. Apa sosok tadi adalah Dave, mengingat Alessa yang bersembunyi di mobil.
"Pak." Panggil orang di sebrang.
Leo berdehem pelan. "Dia cari unit yang mana?"
"Unit yang sama persis dengan unit bapak."
"Baik." Ujar Leo. "Kalau begitu kamu carikan unit yang lain, dan jangan di gedung yang ini."
"Tapi pak..."
Leo menekan tombol merah di ponselnya, ia kembali menatap ke luar apartment diluar malam semakin larut.
***
Malam berikutnya, langit gelap dan hujan turun dengan derasnya. Dave mengemudikan mobil dengan hati yang tak menentu. Pikirannya melayang-layang, merekam semua kejadian yang telah terjadi hari ini.
"Itu bagus. Selama ini saya mengetes kamu, dan baru kali ini kamu menolak permintaan saya karena Livy." Ucap Pak Bima, yang duduk di kursi kebesaraanya dengan tersenyum puas.
Saat itu Dave merasa tak mengerti dengan ucapan Pak Bima.
Hujan semakin deras, membuat jalan menjadi licin dan sulit dilalui. Dave terus fokus pada jalan yang ada di depannya, berharap bisa sampai ke apartment dengan selamat.
Walaupun hujan sudah hampir 30 menit, Dave tidak bisa merasakan hawa dingin. Dave malah merasakan hawa panas menyelimuti tubuhnya yang mulai berkeringat. Tangannya membuka kancing teratas kemeja kerjanya, berharap rasa gerahnya berkurang.
Namun, di tengah perjalanan, Dave melihat cahaya yang terang dari kejauhan. Dave semakin penasaran dan mempercepat laju mobilnya. Ternyata, cahaya itu berasal dari sebuah kafe yang masih buka di tengah malam.
Dave memutuskan untuk singgah sejenak, menikmati secangkir kopi dan menenangkan diri. Meskipun hujan masih turun dengan derasnya, Dave merasa lebih tenang dan siap melanjutkan perjalanan pulang.
Dave akhirnya tiba di depan pintu apartemennya. Ia merasa lelah dan ingin segera beristirahat. Sejenak ia menatap ruang tv dan dapur yang menjadi satu dengan perasaan tak karuan.
Ia lalu berjalan pelan menuju kamar Livy dan Rose, saat membuka pintu ia melihat Livy yang tertidur di ranjang single dengan Rose dalam crib.
Dave menatap tubuh Livy yang tertidur, tiba-tiba hawa panas tadi kembali muncul tubuhnya kembali bereaksi, ia melihat ke arah AC yang menyala tapi kenapa tubuhnya terasa gerah.
Tangan Dave terulur menyentuh pundak Livy, sesuatu terasa mengalir dari ujung jarinya.
Mata Livy terbuka perlahan saat merasakan sentuhan dingin dipundaknya, ia beringsut berbalik dan melihat Dave yang duduk disamping kepalanya.
"Kenapa?" Tanya Livy dengan masih berbaring.
Dave tak menjawab, ia menatap Livy penuh hasrat.
Livy beringsut duduk, membuat selimut yang tadi menutupi tubuhnya jatuh menampilkan tubuhnya yang terbalut piyama satin.
"Kenapa?" Tanya lagi Livy.
Dave menatap Livy yang kebingungan, begitu juga dirinya.
"Aku menbutuhkanmu." Bisik Dave serak.
Mata Livy terpejam terkejut, saat wajah Dave tiba-tiba mendekat dan ia lalu merasakan sentuhan lembut di bibirnya yang awalnya sebuah kecupan, kini berubah menjadi ciuman. Livy hampir kehabisan nafas bila Dave tak menyudahi ciumannya.
Dave menatap senduh Livy, hari ini ia benar-benar sangat membutuhkan Livy seutuhnya.
"Livy, aku membutuhkan kamu." Ucap Dave suaranya terdengar serak.
Livy menatap Dave tak percaya, sejak pernikahannya, Livy tak pernah di sentuh dan hari ini Dave memintanya dengan ragu Livy mengangguk detik kemudian tubuh Livy terangkat.
Livy tersipu malu mendapat perlakuan tersebut, ia dapat melihat jelas wajah Dave yang mengangkat tubuhnya keluar dari kamar menuju kamar milik Dave.
***