My Beautiful Girl

My Beautiful Girl
7 : Halte bis



Leo menatap Alessa yang berdiri disampingnya, mereka sedang berada dalam lift menuju lantai apartement yang Leo tinggali.


Leo mempersilahkan Alessa untuk berjalan lebih dulu keluar dari lift. "Silahkan." ucapnya.


Alessa melirik sekilas ke arah Leo sebelum akhirnya berjalan lebih dulu, meninggalkan Leo dengan kopernya.


Alessa rasa lantai yang mereka tuju hanya memiliki dua hunia apartement karena hanya terdapat dua pintu utama dan tipe apartement ini berbeda dari kedua temannya, ia menatap Leo menunggu.


Leo menekan sandi pintu apartement, dan membukakan pintu. Disungguhkannya apartement yang begitu luas, dan rapih.


Alessa sedikit ragu untuk memasuki apartement tersebut.


"Kenapa? masih ragu?" tanyanya, namun tak ada jawaban ia dengan pelan menarik Alessa masuk.


Melihat Leo melepaskan sepatu dan mengantinya dengan sendal rumah, Alessa pun melakukan hal yang sama. Ia masih berpikir apakah ini adalah keputusan yang terbaik, ia menepis hal tersebut kini yang terpenting ia sudah di tempat yang hangat.


Setelah itu Alessa menatap setiap sudut ruangan tersebut, sebelum akhirnya tersadar saat Leo kini telah berdiri disampingnya menyodorkan segelas air putih.


"Makasih."


Leo berjalan ke salah satu pintu ia membukannya, dengan gerakan isyarat menyuruh Alessa untuk mendekat.


Alessa menarik kopernya, mendekat ke arah Leo.


"Ini kamar lo." ucap Leo menujuk ke dalam kamar.


Alessa mengintip sedikit.


"Dan itu kamar gue." ucapnya menujuk pintu kamar yang lain, Alessa menoleh disusul dengan anggukan.


Ia lalu dengan ragu memasuki kamar dengan membawa koper beratnya, kamar dengan kasur single sudah dilengkapi kamar mandi di dalam setelah puas meneliti kamar yang akan ia tiduri ia berjalan ke arah Leo yang berdiri didaun pintu.


"Kunci?" tanya Alessa, dengan tangan terulur.


Leo menyodorkan kunci ke arahnya, yang langsung diambil oleh Alessa dengan gerakan cepat.


"Gak ada kunci lain kan?" tanyanya lagi memastikan, ia takut saat ia sedang beristirahat Leo masuk dengan kunci yang lain.


Leo menggeleng.


"Gue mau istirahat." pamit Alessa, yang dibalas anggukan Leo.


Setelah itu pintu didepannya tertutup disusul dengan pintu yang dikunci dari dalam. Leo tersenyum kecil menyadari begitu takutnya Alessa kepadanya.


Alessa menaruh gelas di meja setelah ia mengunci pintu dibelakangnya, ia kembali memeriksa kamar takut-takut ada kamera yang mengawasinya. Merasa aman baru Alessa mencari kepala steker untuk mengecas ponselnya yang kehabisan daya.


Sambil menunggu ponselnya terisi, Alessa bergegas melakukan ritual mandi kilat karena ia masih takut akan hal yang kurang baik yang mungkin menimpanya.


***


Leo berjalan pelan ke arah kamar Alessa yang sejak dirinya masuk telah tertutup rapat, dengan pelan Leo mengetuk pelan pintu kamar.


"Kenapa?" tanya Alessa dari dalam kamar.


Leo berdehem kecil. "Gue mau keluar, dikulkas ada bahan makanan lo bisa masak sendiri." jawab Leo, tak ada jawaban ia lalu bergegas pergi meninggalkan apartementnya.


Alessa menempelkan telinganya ke pintu saat suara pintu terdengar tertutup, ia memberanikan dulu untuk sedikit mengitip ke luar. Ruangan besar tersebut kini sepi tak ada orang, Alessa berjalan keluar menuju dapur.


Alessa berdiri mematung di depan kulkas, ia ragu untuk mengambil makanan di dalam kulkas walau Leo sudah memberikannya ijin. Tetap saja ia merasa sedikit sungkan, Alessa berbalik hendak mengurungkan niatnya mengambil makanan namun perutnya terasa perih.


"Oke Leo sudah memberikan ijin, jadi gue perlu takut." ujarnya kepada dirinya sendiri.


Sambil duduk dibawah kitchen set ia melahap roti dengan selai kacang didalamnya sambil memikirkan rencana di keesokan harinya.


Leo menyesap kopinya sambil menatap ke arah layar ipad miliknya yang menampilkan Alessa yang tengah melamun sambil memakan roti tawar. Ia sebenarnya tidak benar-benar pergi, ia hanya pergi ke apartement sebelahnya yang juga miliknya hanya untuk melihat Alessa yang keluar dari kamarnya.


Leo mendesah pelan sambil menutup ipadnya, ia tak menyangka kenapa ia bisa sangat tergila-gila kepada Alessa gadis miskin yang banting tulang untuk menafkahi dirinya sendiri.


***


Leo tersenyum menyambut Alessa yang baru saja keluar dari kamar, jam dinding menujukan pukul 7 pagi. Seperti duganya Alessa dengan koper besarnya bersiap pergi, namun bukan Leo namanya bila ia dengan mudah melepaskan mangsanya. Leo sudah merencakan hal yang mungkin membuat mood Alessa dipagi hari hancur.


"Kopi atau teh?" tanya Leo.


Alessa menggeleng, sambil berjalan ke arah Leo bermaksud mengembalikan kunci kamar. "Makasih." ucapnya pelan.


Leo menyodorkan kertas hvs kehadapan Alessa. "Tagihan." ingatnya.


Alessa menggerenyitkan dahi tak paham, ia lalu membaca setiap kata dan kalimat. "Harga menginap 3 juta? Maksudnya." Tanya Alessa bingung dengan menatap wajah Leo yang juga menatapnya.


"Kemarin kan kamu nginep di apartement super mewah gue, semalam penuh tapi gue baik loh cuma ngasih setengah harga." jelas Leo yang kemudian menyeruput kopi miliknya.


Alessa tertawa, ia memang bodoh dengan menerima tawaran Leo yang memang seharusnya ia curigai.


"Dan, gue juga udah masukin hutang lo yang satu juta kemarin." ucapnya lagi.


Alessa memejamkan mata dengan penuh amarah, ia lalu menatap Leo yang tersenyum lebar. "Gini gue kan lagi dapat musibah, gue bener-bener gak punya uang dan gue gak tau harus bayar pake apa." tutur Alessa panjang lebar.


Leo mengangguk simpati. "Kalau gitu lu kerja di gue selama tiga bulan, gaji pertama buat bayar utang lo ke gue dan untuk gaji dua bulan kedepan buat persiapan lo cari kosan baru." Tawar Leo.


Alessa berdecih pelan. "Lo emang dari awal udah ngerencanain ini semua."


Leo menggeleng sekaligus mengangguk.


"Brengsek lo!" pekik Alessa tertahan.


"Gue udah baik dari awal ngasih tempat tidur disaat lo ke susahan, dan hari ini gue cuma minta bayaran dan... Dan gue juga ngasih saran buat lu bayar tagihan itu."


Alessa sudah benar-benar muak di dalam hati ia terus terusan memaki keputusanya kemarin. "Tiga bulan?" tanya Alessa menatap Leo yang mengangguk.


Leo menyodorkan kembali kertas hvs yang lain.


Alessa membaca perjanjian kerja, dan tak ada yang aneh. Didalam kertas hvs tersebut juga sudah terdapat matrei asli, namun ia tetap merasa kurang.


"Gue bisa bikin aturan sendiri ga, antara bos dengan pembantu." tanya Alessa dengan wajah yang sudah muak.


Leo mengangguk, ia lalu menyodorkan bolpin kepada Alessa.


Alessa duduk di kursi bar dapur, dengan cepat ia menuliskan peraturan yang ia buat sendiri yang tentu saja akan membuat jarak diantara keduanya sangat jauh.


Alessa tersenyum setelah menyelesaikan tulisannya ia lalu menyerahkan kepada Leo agar dibaca olehnya.


"Tidak ada sentuhan fisik, bila disengaja akan dilaporkan dengan undang-undang pelecehan seksual. Bila bos melakukan catcalling, siulan, tatapan melecahkan dan lainnya akan dilaporkan dengan undang-undang menurut hukum..." Leo menggeram kesal, dengan Alessa yang tersenyum puas.


Leo tersenyum miring ia lalu merebut bolpoint dan menorehkan tanda tangannya di atas matrei.


Kini Alessa yang terkejut, namun ia lalu ikut tanda tangan di kertas tersebut.


***


Next...