My Beautiful Girl

My Beautiful Girl
2 : Leo



Suara hak tinggi milik seorang pelayan terdengar seyap di dalam ruangan vip restoran yang tak terlalu besar, terlihat sang pelayan sangat berhati-hati dalam pekerjaanya ia tak ingin mengeluarkan sedikit pun suara saat sedang bekerja.


Namun hari naas tak pernah ada dikalender, saat ia hendak menaruh semangkuk Lasagna tangannya tak sengaja tergelincir namun tak sampai terjatuh.


Tapi tetap saja pemilik dari makanan tersebut terdengar berdecak kesal.


"Maaf." ucap pelayan restoran tersebut sedikit takut.


Sebelum pemilik makanan menyahuti perkataan pelayan tadi, suara yang penuh wibawa terdengar lebih dahulu memotong.


"Terimakasih, kalian boleh pergi." ucapnya dengan tersenyum kecil.


Perlahan ruangan menjadi sepi, tarikan nafas berat dari pemilik suara wibawa tersebut terdengar pelan ia menatap laki-laki didepannya yang tak lain adalah anaknya.


"Apakah hanya karena lasagna kau marah?" tanyanya pelan sambil memegang sendok dan garpu. "Leo?" panggilnya pelan.


Laki-laki yang dipanggil mengangkat kepalanya acuh. "Kalau mereka miskin seharusnya mereka lebih berhati-hati!" ucapnya ketus.


"Baik, tak seharusnya aku membuat suasana hatimu yang selalu penuh kekesalan bertambah kesal!" sindirnya pelan, yang dibalas decihan pelan.


Lasagna dipiring Leo, terlihat masih penuh sendari tadi ia hanya mengaduk-aduk acak Lasagna dimangkuknya. Berbeda dengan ayahnya, menu Ravioli yang ia pesan hampir habis.


"Apa kamu tidak makan?" tanya Ayahnya.


Leo menarik nafas ia menegakan tubuhnya, sambil menggelang pelan. "Aku sudah kenyang."


"Aku tak akan lama jadi, soal perjodohan yang telah direncakanan dalam waktu dekat akan dilaksanakan." ucap Ayah Leo.


"Apa Ayah tidak mengerti, aku sudah kenyang!" ucapnya penuh penekanan.


"Aku sebenarnya tak butuh persetujuanmu, karena kau sendiri masih berdiri di bawah aku dan kakekmu!" jawabnya dengan tersenyum tipis.


Leo sedikit membeku atas ucapan ayahnya namun tak lama ia balas tersenyum atas sindiran ayahnya tersebut.


***


"Maaf nunggu lama Mas Oki." maaf Alesaa yang baru saja keluar dari gerbang kost tempat ia tinggal.


"Nggak apa-apa, udah biasa 5 menit harus udah standby di sini." sanggah Mas Oki, dia adalah ojek antar jemput Alessa yang mengantarnya ke tempat kerja.


Sekarang tengah jam delapan malam, waktunya Alessa bekerja di club tempat ia bekerja ia hanya bekerja 8 jam, jadi ia pulang tepat jam tiga pagi.


"Neng gak takut apa kerja di sana, banyak cowok brengsek. Pindah ajah atuh neng abang takut neng kenapa-kenapa." ucap beruntun Mas Oki, dia memang sohib Alessa, padahal pertanyaan barusan pertanyaan yang selalu di lontarkan pada saat di pertengah jalan menuju tempat ia bekerja.


"Alessa juga bisa jaga diri baik baik, teman cowok Alessa disana banyak yang baik kok mereka selalu jagain Alesaa." jawabnya, menyakinkan Mas Oki ia teringat kembali saat kejadian dia menendang ************ salah satu pengunjung club semua teman kerja cowok langsung terlihat baik kepadanya, padahal dulu mereka selalu menggodanya.


Tak lama mereka sampai di depan bangunan club yang mulai ramai, beberapa mobil-mobil mewah sudah berjajar di parkiran.


"Ya udah aku masuk dulu ya Mas, do'ai supaya aku baik baik aja." tambahnya sambil berpamitan.


"Selamat malam, Lala." sapa Alessa pada Lala, temannya yang sama-sama bekerja sebagai pelayan.


"Kau sudah datang?" tanyanya balik, sambil tersenyum.


"Iya." jawabnya pendek.


Alessa dan Lala sedang berganti pakaian, di toilet khusus pelayan yang di sediakan pihak club.


"Sudah siap?" tanya Lala, dengan semangat 45.


"Siap, come on." ajak Alessa, tak kalah semangat.


Alessa dan Lala pun kini meninggalkan toilet, bersiap bekerja walau mereka berdua sangat benci dunia malam tapi beginilah nasibnya sekarang.


"Alessa." panggil seseorang di belakang punggungnya.


"Ah, Vino ada apa?" tanya Alessa sopan, karena Vino adalah pemilik club ia bekerja.


"Saya cuma pingin kamu anterin 1 botol Wine ke ruangan 25." perintah Vino, saat Alessa berdiri di depannya.


"Hmm-"


"Tidak perlu khawatir dia sendirian dan orangnya baik, aku jamin dia tak akan menganggumu." potong Vino membuat Alessa bernafas lega.


"Ayo cepat." suruh Vino dan di turuti oleh Alessa.


Alessa pun berjalan mengambil pesanan, ia lalu berjalan ke arah ruangan nomor 25 dimana ruangan itu diperuntukkan untuk kalangan elit saja.


Alessa menarik nafas, sebelum mengetuk pintu putih tersebut.


"Masuk..." saut orang di dalam sana.


Alessa kembali menarik nafas untuk ke sekian kalinya, ia lalu perlahan berjalan masuk ke dalam kamar.


Alessa dengan tertunduk, menata minuman yang dipesan oleh penjung tersebut.


"Terima kasih pelayan." ucap pria yang memesan minuman tersebut, menekankan kata pelayan dengan suara merendahkan.


Alessa hanya mampuh memejamkan matanya, ia sudah mulai terbiasa dengan suara merendahkan tersebut.


"Hai, Alessa." panggil si pria saat Alessa hendak berjalan keluar dari ruangan.


Alessa menengadahkan kepalanya, menatap pria yang tadi memanggil namanya. "Kamu..."


***