
Alessa gadis itu baru saja hendak duduk di kursi taman, kedua temannya yang datang dari belakang menepuk bahunya keras.
"Astaga." Teriak Alessa karena dirinya terhuyung kedepan karena sedikit terdorong.
Untung kedua temannya dengan sigap memegang bahunya.
"Suka banget bikin orang jantungan." hardik Alessa, yang dibalas senyum maaf dari kedua temannya.
Gisel yang baru saja duduk dikursi depan Alessa dengan cepat menyambar tangan gadis di depannya yang hendak membuka laptop.
"Lo selama ini kemana?" tanya Gisel menatap tajam Alessa.
Alessa mendelik tak mengerti, ia lalu mengibaskan tangan temannya diatas laptop. "Ngomong apa sih?"
"Kemarin kita ke Club, niatnya buat kasih surprise lo ternyata lo udah gak kerja di sana, terus kita ke kos eh yang buka pintu udah beda orang." celoteh panjang lebar Mega.
Alessa terdiam dengan gugup ia menatap satu persatu kedua temannya. "Gue lupa ya ngasih tahu kalian berdua?"
"Iya." ucap keduanya berbarengan.
Alessa berdehem. "Sebenernya udah hampir seminggu gue keluar dari kosan."
"Nunggak?"
Alessa mengangguk pelan.
Mega menarik tangan Alessa, wajahnya berubah senduh. "Kenapa lo gak bilang, gue sama Gisel pasti bantu kok."
"Ceritanya panjang."
"Terus, terus sekarang lo tinggal dimana dan sekarang kerja apa?" tanya Gisel.
"Gue... Jadi pembantu." jawab Alessa dengan berat.
Mata kedua temannya membulat, tiba-tiba saja suasana berubah menjadi hening. Alessa menguncang tangan Mega yang memegangnya.
"Tapi gue juga udah kamar tidur dan makan 2 hari sekali, intinya kalian gak perlu khawatir." jelas Alessa yang melihat temannya tetap bergeming, tapi Mega disampingnya langsung memeluknya dan menangis.
Alessa ia hanya bisa memayunkan bibir karena merasa tak enak dengan situasi yang ia ciptakan.
***
Cafe The Wolf Espresso malam ini terlihat tidak terlalu ramai tidak seperti hari biasanya, Leo menyenderkan bahunya menatap ke arah Ogay yang tengah asik mengobrol.
"Gimana ceritanya Alesaa bisa jadi pembantu lo?" tanya Vino di samping.
Sudut bibir Leo terangkat sedikit saat mendengar nama Alessa. "Gampang."
"Lo jangan mainin dia, dia anak baik-baik." jawab Vino, khawatir.
Leo tertawa ia mengangkat tangan ke arah Vino dengan sisa tawanya ia memberikan ponsel miliknya kepada Vino yang menerimanya dengan heran.
"Gue suka anak baik-baik." Jujur Leo dengan sisa tawa.
Vino ikut tertawa bukan karena ucapan Leo, tapi karena poto kertas hvs yang Leo tunjukan. "Kalau gini sih, gue yakin Alessa bakal baik-baik ajah."
Leo mengangguk mengiyahkan, karena Alessa bukan hanya menulis tentang Leo yang tidak boleh dekat-dekat dengan gadis itu tapi Alessa juga menuliskan agar Leo tidak boleh melakukan tindakan asusila di apartementnya dengan wanita manapun.
Ogay berdehem mencari perhatian kepada Leo yang kini menatap ke arahnya, disampingnya berdiri wanita seumuran dengan mereka tengah tersenyum manis.
"L, Vin, kenalin Jessica katanya dia mau kenalan sama kalian."
Leo tersenyum tangannya terulur ke depan. "Leo."
Jessica lalu menoleh ke arah Vino, dan laki-laki bule tersebut tersenyum menerima uluran tangannya.
"Katanya diantara kalian ada yang pemilik club?" tanya Jessica.
Vino mengangguk. "Kenapa emang?"
"Oh kebetulan gue sama anak-anak yang lain suka party, nanti kapan-kapan kita bisa party bareng diclub lo. Tadi Ogay udah ngejanjiin." Terus terangnya panjang lebar.
Leo menatap Vino dengan mengangguk kepala.
Jessica tersenyum, ia lalu pamit kembali ke tempatnya.
"Gimana cantik gak?" tanya Ogay setelah Jessica pergi.
Leo menganggukan kepala dengan senyuman aneh. Entah kenapa ia geli dengan ajakan Jessica, ditambah wanita itu terlalu jujur.
"Kenapa lo gak suka?" tanya Ogay yang melihat ketidak tertarikan temannya.
Vino tersenyum mengiyahkan, karena ia tahu tipe Leo saat ini.
***
Pukul sebelas malam, Leo baru saja hendak menuruni tangga didepan teman-temannya sudah hampir sampai di parkiran lantai 3 dimana mobil mereka terparkir.
Leo memelankan langkahnya saat nama Alessa tertera dilayar ponselnya, dengan gembira ia mengangkatnya. "Kenapa?"
"Boleh minta tolong gak? Lo sibuk gak?" tanya Alessa di sebrang.
Leo menggulum senyum, dengan sampainya di undakan terakhir tangga. "Enggak kok, kenapa?"
Leo menengadah menatap temannya yang menunggu, tangannya terkibas pelan menyuruh mereka duluan.
Vino yang mengerti isyarat Leo lalu menyuruh Ogay yang masih kepo.
"Tolong dong nanti kalau mau pulang, beliin pembalut." dengan suara yang pelan. "Tapi kalau lo keberatan gak usah beli." Ujarnya cepat.
Leo tertawa kecil. "Okeh."
"Gak papanih?" tanya Alessa memastikan.
Leo mengangguk, walau Alessa tak dapat melihatnya. "Iya."
"Makasih ya."
Di pertengahan tangga Jessica wanita yang tadi berkenalan dengan Leo, menatapnya heran ia lalu menuruni anak tangga dengan pelan teman-temannya dibelakang berbisik.
Leo berbalik melihat ke arah Jessica yang kini tersenyum ke arahnya.
"Jes, nunggu lo tuh." bisik temannya.
Jessica tak menghiraukan perkataan temannya, setelah menuruni tangga ia lalu berjalan menghampiri Leo yang juga tersenyum kepadanya.
"Kenapa?"
"Gue anter pulang mau?" ajak Leo.
Jessica mengangguk, Leo lalu berjalan ke arah mobilnya diikuti Jessica yang tengah melambaikan tangan kepada temannya.
Setelahnya mobil yang ditumpangi Leo dan Jessica keluar, beberapa kali Jessica memberikan pertanyaan kepada Leo yang tengah fokus menyetir tapi yang ia terima hanyalah jawaban pendek dari pria disampingnya.
Tak lama Leo memarkiran mobil di parkiran mini market, ia menoleh ke arah Jessica yang menatapnya.
"Tolong dong beliin pembalut cewek."
Kedua mata Jessica melotot, ekspresi wajahnya seakan tak percaya.
"Ini uangnya." Saat Jessica masih terdiam karena permintaanya Leo sudah menyodorkan uang seratus ribu kearahnya.
Jessica dengan berat hati menerimanya, ia lalu keluar dari mobil.
Leo tersenyum, tentu saja ia tak ingin dirinya yang membeli produk yang diinginkan Alessa tapi itu bukan sepenuhnya salahnya wanita itu yang menghampirinya dan juga bertanya padanya.
Jessica dengan wajah cemberut berjalan ke arah pintu pengemudi, Leo lalu menurunkan kaca mobil.
"Ini." dengan menyodorkan plastik. "Lo gak usah anter gue, cowok gue mau jemput."
Di dalam mobil kepala Leo mengangguk tanpa mengucapkan terimakasih ia menaikan kaca mobil dan melaju pergi dari parkiran meninggalkan begitu saja Jessica yang sebenarnya ingin dibujuk.
***