My Beautiful Girl

My Beautiful Girl
27 : Patah Hati



Siang itu, sinar matahari menyinari ruangan tamu rumah, dengan gaya ala eropa.


Alessa dan Danella duduk di depan mesin jahit. Alessa memandangi kain putih yang terentang di hadapannya, yang kelak akan menjadi baju wisuda yang indah. Jarum mesin jahit bergerak naik turun dengan irama yang teratur, menghasilkan suara yang menenangkan.


Danella fokus pada tugasnya, memastikan setiap jahitan rapi dan kuat. Di sekelilingnya, terdapat potongan kain dan benang yang berserakan, namun tidak peduli. Ia hanya tertarik pada baju wisuda yang sedang ia jahit, yang kelak akan menjadi simbol keberhasilannya anaknya dalam menyelesaikan pendidikan.


"Wah aku gak sabar pakenya." Ucap Alessa, dengan memandangi baju wisudanya yang hampir selesai.


Danella tersenyum cerah.


Mereka sudah sejak subuh melakukan kegiatan tersebut, Alessa tak terlalu mahir dalam menjahit pakaian, tapi untungnya ia mempunyai ibu yang serba bisa.


Alessa berjalan menjauh, Danella menatap Alessa yang berjalan menuju dapur.


"Aku buatkan teh ya ma."


"Iya."


Alessa dengan hati-hati memilih daun teh terbaik, berhati-hati untuk mengukurnya dengan tepat. Saat dia mengisi ketel dengan air, dia tidak bisa menahan perasaan nostalgia menyapu dirinya. Kenangan masa kecilnya membanjiri pikirannya, tentang ibunya yang menyeduh teh untuknya di pagi musim hujan yang dingin, dan tentang kehangatan dan kenyamanan yang dibawanya.


Saat ketel mulai bersiul, Alessa menuangkan air yang mengepul ke atas daun teh, memperhatikan saat daun teh mulai terendam. Aroma teh memenuhi ruangan, dan dia tidak bisa menahan senyum memikirkan reaksi ibunya ketika dia mencicipinya. Alessa menambahkan sedikit susu dan sesendok madu, persis seperti yang ibunya suka.


Saat Alessa membawa secangkir teh untuk ibunya, ayahnya datang setelah pergi dari rumah pagi-pagi buta.


"Kita tak akan pergi ke wisuda."


Langkah Alessa terhenti, wajahnya berubah bingung menatap sang ayah. Padahal ayahnya telah berjanji, bahwa mereka bertiga akan kembali kota mengantar Alessa wisuda.


Danella menghentikan kegiatanya, melihat putrinya berdiri sedih dengan membawa secangkir teh.


"Bima."


Bima berbalik memunggungi Danella, ia tak kuasa bila harus menatap istrinya yang juga sama kecewanya dengan Alessa.


"Kenapa?" Tanya Alessa, tersendat.


Bima melirik Alessa. "Besok mereka akan datang."


"Bima." Tegur Danella memegang lengan Bima, ia menatap tak menyangka pada Bima yang selalu membuat pahat hati Alessa.


Tangan Bima terulur memegang tangan Danella. "Aku sudah menyetujuinya."


Danella memejamkan mata, mencoba menenangkan hatinya yang juga sakit.


Cangkir di tangan Alessa terjatuh, perlahan ia berjalan mundur meninggalkan ruangan tersebut. Dua orang kepercayaan Bima, perlahan mendekati Alessa.


Alessa berlari keluar rumah, air mata mengalir di wajahnya. Dia tidak percaya apa yang baru saja terjadi. Ayahnya tak pernah berubah, selalu menyetujui suatu hal secara sepihak. Padahal ini impian Alessa, untuk bertemu kembali dengan kedua sahabatnya dan Leo. Laki-laki yang tak ia sukai, namun diam-diam selalu ada dalam benaknya.


Alessa belari ke arah kandang Thunder, kesayangannya itu secara naluri merasakan kehadiran sang pemilik.


Thunder menunggu kedatangan Alessa yang dikejar oleh dua orang kepercayaan ayahnya. Alessa berlari menghampiri Thunder yang juga bersiap, ia lalu naik ke atas punggung Thunder.


Alessa memeluk leher Thunder. "Bawa aku Thunder, lari sejauh yang kamu bisa." Tangannya mengelus leher Thunder.


Dua orang suruhan ayahnya berdiri mencoba menghadang, namun Thunder langsung agresif ia bersiap menendang kedua orang tersebut bila mereka mendekat.


"Go!" Teriak Alessa, saat melihat celah.


Thunder yang gagah berlari, dengan Alessa yang menangis diatas kuda kesayangannya.


"Alessa." Teriak Bima, saat melihat Thunder berlari membawa Alessa.


Alessa melihat ke depan, dimana pagar pembatas lapangan menjulang. Mereka semakin dekat, Alessa memejamkan mata membiarkan Thunder membawanya.


Saat Thunder melompat tinggi, Alessa bisa merasakan tubuh Thunder yang melayang tinggi melewati pagar. Tubuh Alessa tersentak pelan, saat Thunder berhasil melompati pagar dan kembali berlari menjauhi rumah, melewati pohon-pohon teh menuju hutan.


Kuda itu menikmati pelarianya, sementara pemiliknya menangisi nasibnya. Mereka berlari tanpa henti, dikanan-kiri keindahan alam yang terbentang di depan mata namun Alessa sedang dalam suasana hati yang buruk. Suara kaki kuda yang menapak tanah dan hembusan angin yang menyapu wajah Alessa yang memerah karena tangisanya.


Thunder memelankan langkahnya, saat jarak mereka dengan rumah sangat jauh. Alessa turun dari punggung Thunder, tangisanya kembali pecah dengan memeluk punggung Thunder dan mengelusnya lembut.


Thunder diam tak bergerak, ia ikut merasakan apa yang Alessa rasakan.


Malam itu gelap dan sunyi, hanya terdengar suara jangkrik yang berkicau di kejauhan. Dari jendela rumah, pemandangan kebun teh bisa terlihat, dengan rembulan yang memancarkan cahaya lembut di atas dedaunan. Namun, suasana di dalam rumah itu tegang. Bima dan Danella berkumpul di ruang tamu, wajah mereka dipenuhi rasa khawatir karena Alessa yang tak kunjung pulang.


Danella menatap keluar jendela, harap-harap Alessa pulang bersama Thunder, kuda kesayangannya.


"Dia akan kembali, kamu tenang saja."


Danella tak menjawab, ia masih berdiri walau kakinya terasa pegal menunggu.


"Ella." Panggilan Bima terpotong.


Seseorang datang, Danella bergegas berjalan ke arahnya bersiap mendengar informasi. "Bagaimana?"


"Alessa belum keluar dari perkebunan teh, dia masih disekitaran kebun. Terlalu gelap, saya tak bisa mencarinya."


Danella memejamkan mata, ia sudah lelah dengan semua yang terjadi. Bima berjalan mendekat, namun Danella berjalan menjauh menuju balkon rumah, udara dingin menusuk kulitnya.


"Ella menunggu lah di dalam, kamu akan sakit." Perintah Bima berdiri disamping Danella.


Danella berbalik menatap Bima, wajahnya merah menahan kesal dan sedih. Bima yang tahu langsung menarik Danella ke dalam pelukannya, alih-alih mendengar perkataan istrinya yang kecewa terhadapnya.


Seseorang memgambil ikatan Thunder, Alessa berjalan lunglai menaiki anak tangga menuju rumah. Sepasang kaki tanpa alas menginjak anak tangga terakhir, Danella memeluknya saat melihatnya.


Alessa diam tak merespon, rambutnya acak-acakkan diterpa angin malam. Wajahnya kusam karena seharian menangis, Danella mengusap wajah anaknya sedih. Air mata mengalir di wajahnya saat mereka berpelukan, bersyukur Alessa kembali pulang.


Mata Alessa menatap Bima, yang dari kejauhan menatapnya yang kedatangannya. "Aku akan meminta satu syarat kepada calon tunangan besok." Kata Alessa.


Danella membawa Alessa menuju rumah.


Bima mengangguk. "Katakan."


"Aku ingin kuliah kedokteran, sebelum menikah."


"Aku akan mengatakannya kepada mereka."


Alessa dan Danella berjalan melewatinya begitu saja, Bima menatap kebun teh dari kejauhan. Pikirannya dipenuhi dengan pikiran tentang kesalahannya kepada Alessa, dan merasakan rasa malu dan penyesalan. Ia tahu ia terlalu keras kepada Alessa, namun ini demi kebaikannya.


***


Suasana di bar itu ramai dan riuh. Orang-orang berbaur dan berbincang-bincang dengan semangat, sambil menikmati minuman mereka. Di sudut ruangan, terlihat seorang pria tengah duduk menunggu temannya. Pria dengan baju hoodie hitam datang dan duduk di depan orang yang tengah minum segelas coctail.


"Aman?" Tanya pria berbaju hoodie.


Pria didepannya mengangguk.


Leo menyibak kupluk hoodienya, ia lalu meminum segelas mocktail yang telah di pesan Vino. "Sialan, semakin hari orang suruhan bokap gue makin banyak."


"Ya udah sih, lo ketemu dulu ajah. Dari pada terus ngumpet gini."


"Lo sih enak cuma ngomong."


Vino tersenyum kecil.


"Kalau boleh tahu siapa yang bakal jadi calon lo."


Leo menggedikan bahu tak tahu, karena selama ini ia telah mencari namun tak membuahkan hasil. Namanya pun ia tak tahu.


"Pak Bima Sarwono." Leo hanya tahu siapa ayah, dari putri yang akan menjadi calon tunangannya.


Vino membekap mulutnya. "Pak Bima."


Yang Leo tahu sejauh ini, Pak Bima memiliki satu orang putri yang entah kenapa tak pernah muncul ke publik. Itu yang membuat Leo kesusahan mencari informasi tentang calon tunangannya.


"Wah gila, kalau gitu sih lo bakal jadi orang terkaya seasia. Apalagi bisnis turun temurun pak Bima yang sejak masa kolonial Belanda, hingga kini masih eksis." Vino bertepuk tangan, bangga.


Leo memutar kedua bola matanya.


Mereka tertawa dan bercanda, sambil menikmati minuman masing-masing. Vino memandang sekeliling, menikmati suasana yang hidup dan penuh semangat.


Leo menatap Vino yang memberi sebuah isyrat. Mata Vino berkedip cepat, Leo membuang napas memahami isyrat yang diberikan.


Suasana menjadi tegang ketika Leo berlari cepat meninggalkan Vino. Semua orang di sekitarnya terdiam dan menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


Leo terpojok ia merasa takut dan putus asa. Semua perasaan itu terlihat jelas di wajahnya.


"Ayolah, kalian gak capek mengejarku?" Tanya Leo yang terkepung.


Mereka menggeleng, secara serentak mereka maju ke arah Leo namun Leo berhasil menghindar sebelum akhirnya seseorang menutup kepalanya menggunakan kain.


Setelah sekian lama Leo akhirnya tertangkap, ia lalu di bawa keluar dari bar. Vino mencoba mencegah namun ia kalah jumlah, ia hanya mampuh melihat Leo yang dibawa ke dalam mobil dan berlalu meninggalkan parkiran bar.


***


Hari itu, mentari terbit dengan gemilang di langit. Angin sepoi-sepoi meniup lembut, meniupkan aroma segar dari padang rumput yang luas. Di tengah padang rumput, Alessa berdiri tegak di samping kuda kesayangannya. Ia memandangi kuda itu dengan penuh kasih sayang, sambil mengelus lembut bulu halus di lehernya. Kuda itu tampak tenang dan siap beraksi.


Dengan mengenakan pakaian khusus untuk olahraga berkuda, lengkap dengan helm dan sepatu bot. Ia memeriksa kembali peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk bermain, memastikan semuanya dalam keadaan sempurna. Ia merasa cemas dan tegang, namun juga sangat antusias.


Saat ia naik ke punggung kuda, ia merasakan kekuatan dan kepercayaan diri yang mengalir dalam dirinya. Thunder merespons dengan baik, menunjukkan kekompakan dan kebersamaan yang telah terjalin di antara mereka. Mereka berjalan menuju lapangan, Dengan hati yang berdebar kencang, Alessa memulai reli. Kuda itu berlari dengan cepat dan lincah, melompati rintangan-rintangan yang ada di depan mereka. Ia memegang kendali dengan erat, mengarahkan Thunder dengan keahlian dan keberanian yang luar biasa.


Dari kejauhan Danella memandang Alessa, waktu masih menunjukan pukul 9 pagi tapi gadis itu sudah memacu Thunder dengan lihai. Walau semalam ia pulang dengan keadan penuh luka karena terkena ranting pohon, kini Alessa beraktifitas seperti biasa.


Di dalam Bima sedang mengarahkan beberapa orang yang tengah membantunya membereskan rumah. "Untuk poto yang ada Alessa tolong turunkan semua."


Danella tak ingin banyak bertanya, suaminya tersebut terlalu sulit untuk di pahami.


Bima berjalan ke arah Danella. "Ini akan menjadi pertemuan yang hebat, Ella."


"Terserah kamu saja, Bim."


"Masih marah?"


Danella menghela nafas.


"Aku jamin, Alessa tak akan menolak perjodohan ini."


Bima menarik Danella ke pelukannya, mengusap punggung sang istri dengan penuh kasih. Sambil memandangi Alessa yang tengah berkuda.


***