My Beautiful Girl

My Beautiful Girl
16 : G, dan kesialannya



Saat Vino mengajak kedua temannya memasuki club malam, mereka langsung disambut dengan musik yang menggelegar dengan lampu berkedip-kedip memenuhi ruangan.


Vino membawa, Ogay yang masih saja tak terima atas kekalahannya beserta Leo yang tengah memutar gelas kecil ditanganya sambil melamunkan kemahiran Alessa dalam bermain golf.


Di samping Ogay langsung menuangkan sendiri vodka ke dalam gelasnya. Leo rasa Ogay akan mabuk untuk menghilangkan rasa kesalnya.


Di sekeliling orang-orang berdansa mengikuti irama musik yang dimainkan oleh Dj. Leo memerhatikan sekitar serius, dan lagi-lagi matanya melihat Alessa dan kedua temannya duduk jauh di depan mereka tengah berbincang-bincang dengan riang.


Ogay menyenggol bahu Leo yang sejak tadi melihat ke arah dance floor. "Liat apa lu?"


Leo menggeleng, ia tak ingin Ogay mengetahui keberadaan Alessa.


Ogay memincingkan mata, lalu bibirnya tersenyum. "Oh ternyata ada Alessa."


Vino ikut mencari keberadaan orang yang dimaksud.


Ogay berdiri, saat berdiri tubuhnya sedikit terhuyung.


Leo menahan lengan Ogay. "Lu mau kemana?"


"Gue mau ngajak mereka gabung." Jawabnya.


Leo berdecak. "Lu gak capek apa, ngusik mereka." Teriaknya.


Ogay tertawa pendek, Leo dan Vino dengan sekuat tenaga menahan Ogay yang mulai mabuk.


Leo khawatir Ogay berbuat onar kepada Alessa, suasana ini melihat Ogay yang mabuk membuat Leo jengkel.


"**** you, L." Teriak Ogay kepada Leo.


Vino menatap Leo yang sedang berusaha menahan amarah.


"Alessa sialan, udah culun songong lagi." Dengan mengibaskan tangan Vino.


Leo beringsut pergi meninggalkan tempat duduk, bila ia terus mendengar celotehan Ogay bisa-bisa ia menghajarnya.


***


Alessa merebahkan tubuh Mega dikasur apartmentnya, setelah merayakan kemenangannya Mega dan Gisel di club kedua temannya pulang dengan keadaan mabuk. Saat di club hanya Alessa yang tak memesan minuman beralkohol karena akan sangat berbahaya bagi ketigannya.


Alessa menyelimuti tubuh Mega yang sudah tertidur karena mabuk. Ia lalu mematikan lampu dan berjalan keluar dari apartment sahabatnya itu. Kini giliran Gisel yang masih berada di dalam mobil miliknya.


Alessa kembali melanjutkan perjalan ke apartment Gisel yang tak jauh dari apartment Mega. Alessa menepuk bahunya lelah, ia lalu melirik ke samping tangannya terulur membenarkan kemeja Gisel yang terbuka.


Sesampainya ia di apartement Gisel, ia melakukan hal yang sama membaringkan sahabatnya itu di kasur sekaligus menyelimutinya. Alessa menyimpan kunci mobil milik Gisel di laci, ia lalu bergegas ke arah pintu kamar.


"Makasih, Sa." Ujar Gisel.


Alessa menatap ke arah Gisel yang tengah menggeliat diatas kasurnya. Tanpa menjawab ia mematikan lampu dan berjalan keluar dari apartment kecil Gisel.


Di lift Alessa merasakan badannya pegal, tapi ia harus kembali melangkahkan kakinya ketujuan akhirnya. Setelah keluar dari gedung ia melihat mobil Leo terparkir, Alessa hendak melewati begitu saja namun Leo sudah lebih dulu keluar dari mobil sebelum Alessa benar-benar melewati mobilnya.


"Naik." Perintahnya.


Alessa cukup lelah dengan hari ini, tanpa banyak membantah Alessa menuruti keinginan Leo.


Setelah keduanya di dalam, Leo mulai menyalakan mobil dan perlahan melajukan mobilnya keluar dari area gedung.


"Gue gak tau lo mahir banget maen golf?" Ucap Leo membuka pembicaraan.


"Gue sering kok maen golf."


Alessa membuka matanya cepat, ia lalu menatap Leo disampingnya heran.


"Lo jadi caddy girl?"


Alessa mengangguk beberepa kali. "Iya, itu maksud gue."


Hening sesaat.


"Lo gak ngerasa gitu kedua teman lo semena-mena sama lo?" Tanya Leo kembali membuka pembicaraan.


Alessa menghembuskan napas kecil. "Mereka udah ngeluarin uang buat gue maen atau ke tempat yang mereka suka, jadi ya gue mau gak mau ngeluarin apa yang gue bisa." Jawab Alessa, dengan tertawa pendek.


"Gue bisa apa dengan keadaan gue yang kaya gini, gue udah bersyukur dengan mereka yang mau temenan sama gue."


Alessa menatap ke arah Leo yang tengah menyetir, dengan tatapan lelah.


"Nanti kalau udah sampe bangunin gue ya."


Leo membuang muka ke samping sekejap, ia bisa merasakan apa yang Alessa rasakan hanya dengan melihat matanya saja.


Diluar hujan turun dengan derasnya. Tetesan air menimbulkan suara gemuruh yang mengisi ruang kosong di antara mereka berdua. Disamping Alessa memeluk dirinya sendiri, mobilnya tertahan di lampu merah membuat Leo leluasa melihatnya yang mencoba mencari kehangatan.


***


Alessa menatap layar komputer kampus dengan serius, di sisi kanan kirinya kedua temannya mengetuk-ngetuk keyboard dengan malas.


Mereka sepenuhnya belum pulih dari mabuk semalam, hanya Alessa yang tekun mencari referensi untuk skripsinya.


Mega di samping mendesah pelan, ia ingin cepat-cepat pulang namun 30 menit lagi kelas akan dimulai.


Alessa meraba ponselnya yang bergetar di samping, ia melirik sekilas saat terdapat notifikasi masuk. Ia lalu mengangkat ponselnya ke depan wajah, saat mendapat transaksi masuk ke atmnya.


"Kenapa?" Tanya Gisel dengan membenarkan posisi.


Alessa tak menjawab ia berdiri dari duduknya dan berjalan menjauh dari kedua temannya.


"Hallo." Sapa Alessa, saat telponnya terhubung.


Di sebrang pemilik suara berdehem.


"Gue mau ngomong soal gaji."


"Oh udah masuk?" Tanya Leo, yang tengah berjalan keluar dari kelas. "Kenapa?"


"Ini udah termasuk potongan belum?" Tanya Alessa. "Kenapa gajinya masih gede?"


"Iya udah termasuk potongan, emang kenapa?" Tanya lagi Leo.


"Oh gitu, gue pikir lo salah transfer."


"Ma.." Alessa menatap layar ponselnya yang berubah, tanda telpon telah diputus. "..Kasih." sambungnya, wajahnya terangkat menatap kedua temannya.


Alessa kembali duduk di tengah-tengah temannya.


"Kenapa?" Tanya Gisel.


"Gue traktir makan mau?" Tanya Alessa dengan wajah berseri.


Wajah Mega berubah segar, kepalanya mengangguk-angguk. "Ayo gue pengen makan di Palm...."


Gisel berdehem dengan melemparkan tatapan tajam.


"Maksud gue, terserah Sasa ajah." Sambungnya lagi.


Alessa mengangguk. "Tapi kita masuk kelas dulu, yuk."


Bahu kedua temannya kembali layu, Alessa yang menyadari langsung menarik lengan temannya untuk berdiri. Ketiganya bersama-sama meninggalkan ruangan komputer yang ada di perpustakaan fakultas dan berjalan dengan langkah berat menuju kelas.


***