
Club malam semakin penuh dengan orang, lantai dansa hidup dengan gerakan dan energi. Musiknya keras dan berdenyut, basnya bergetar menembus lantai dan masuk ke tubuh.
Udara kental dengan aroma keringat dan parfum ini, dan lampu berkedip mengikuti irama. Saat Alessa dan kedua temannya melewati kerumunan, ia bisa merasakan kegembiraan membangun di dalam dirinya karena berhasil memenangkan permainan. Semua orang mulai tersesat, bergerak mengikuti ritme dan melepaskan hambatan mereka.
Lantai dansa adalah lautan tubuh, masing-masing bergerak dengan caranya sendiri yang unik. Beberapa bergoyang mengikuti musik, tenggelam dalam dunianya sendiri, sementara yang lain melompat dan berputar, terperangkap dalam energi kerumunan. DJ berada dalam elemennya, menggerakkan kerumunan dan membuat musik tetap mengalir.
Suara itu begitu kuat sehingga Alessa bisa merasakannya di dadanya, dan ia tahu bahwa ia adalah bagian dari sesuatu yang istimewa. Semua orang mengucapkan selamat padanya, ada juga yang mentraktirnya segelas whiski atau vodka.
Saat malam semakin larut, energi di klub semakin kuat. Musik menjadi lebih intens, lampu lebih menyilaukan, dan kerumunan lebih liar.
Alessa semakin gila menari di lantai dansa dengan gerakannya yang acak, tubuhnya bergerak lincah diantara kerumunan. Entah ia sudah minum berapa gelas, yang kini ia rasakan hanya rasa lega dan gembira.
Seseorang menyentuh pinggang Alessa, ia menyodorkan sebuah gelas berisi vodka.
Alessa menggeleng, yang kini ia inginkan hanya menari.
Laki-laki yang tadi menyodorkan gelas semakin merapatkan tubuhnya, ia ikut bergerak di belakang tubuh Alessa. Harum rambut Alessa semakin membuat laki-laki itu gelap mata, ia mulai menciumi leher jenjang Alessa yang setengah sadar.
Leo duduk menonton lantai dansa tempat Alessa dan kedua temannya sedang menari. Suasananya hidup dan energik, dengan orang-orang bergerak mengikuti irama musik.
Saat ia melihat tariannya yang acak Leo hanya bisa tersenyum kecil, ia memperhatikan betapa anggun dan lancarnya gerakannya, dan Leo merasa tertarik ingin bergabung namun ia tak ingin menganggu kebahagiaan Alessa.
Musik semakin malam semakin keras terdengar, dan sulit untuk berbicara. Beberapa orang terlihat memberi Alessa selamat atas kemenengannya, ia sedikit khawatir saat seseorang menyodorkan vodka ke arah Alessa, karena gadis itu sudah terlalu banyak minum.
"Lo gak ke sana?" Tanya Vino di samping Leo.
"Nah, gue takut dia malah menghindar." Dengan masih terus mengawasi Alessa yang kini terlihat dari kejauhan seseorang mencoba menawari lagi minuman kepada Alessa.
Vino dan Leo yang melihat berdiri dari tempat duduknya, mereka melihat laki-laki yang memeluk Alessa semakin merapatkan diri, ia berlari ke arah kerumunan orang yang menari.
Sesampainya di lantai dansa Leo menarik kasar kerah baju pengunjung, dalam suasana yang semakin memanas, Leo dan laki-laki tersebut saling berhadapan.
Laki-laki yang dipanggil Bian, menatap heran Leo.
Leo merasa adrenalinnya meningkat, tanpa aba-aba ia memukul wajah Bian yang kebingungan.
"Brengsek! Jangan sentuh cewek gue!"
Bian yang dipukul terhuyung ke belakang, matanya berkobar karena amarah. Dia menerjang maju, Leo mengelak dengan cepat. Musik tiba-tiba terhenti dan lampu kembali menyala. Leo memejamkan mata karena matanya belum bisa menerima terangnya lampu.
Bian yang melihat celah dengan tergesa melayangkan pukulan, namun Leo lagi-lagi menghindar dan balas memukul telak perut Bian.
Saat pertarungan berlanjut, kerumunan mulai bersorak dan mencemooh, mendesak Leo untuk terus maju. Lantai dansa berubah menjadi arena pertarungan dan para pengunjung sedang menonton pertandingan gladiator, dengan dua petarung terkunci dalam pertarungan mematikan. Udara kental dengan keringat dan adrenalin, dan ketegangan terasa jelas.
Bian terkulai lemas, tenaganya habis untuk melayangkan tinjuan yang hanya berakhir meninju udara.
Akhirnya, setelah apa yang terasa seperti selamanya, pertarungan berakhir. Bian terengah-engah dan berdarah, wajahnya berkerut kesakitan.
Pengunjung klub lainnya memandang dengan kaget dan kagum, tidak yakin apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Leo menghampiri Alessa yang duduk di kursi bar tak jauh dari lantai dansa, ia terlihat sangat mabuk dengan kepalanya yang terkulai lemas di meja.
Tangan Leo terulur mengusap rambut Alessa, ia berjongkok melihat Alessa yang terlihat mabuk.
"Sialan, kenapa harus jadi begini!"
"L, lo mending bawa Alessa pulang."
Leo mengangguk, menatap sekilas Vino. "Itu yang tadi gue pikirin." Ia lalu mulai mengangkat tubuh Alessa ke dalam gendongannya, Vino lalu menyampirkan kemeja yang ia pakai untuk menutupi tubuh Alessa.
Leo menerobos kerumunan, ia bisa merasakan semua mata tertuju padanya saat ia membawa Alessa pergi. Di luar, udara malam yang sejuk melegakan dari panasnya klub.
***
Leo lalu menyalakan lampu mobilnya dan memutar kemudi, memasuki jalan raya yang sepi.
"Kamu siapa?" Tanya Alessa.
Leo tersenyum kecil, dengan membenarkan kemeja milik Vino yang tersingkap. "Leo." Jawabnya pendek.
"Wah... Aku pernah punya teman ospek namanya Leo! Dia seorang bajingan!" Teriaknya di akhir membuat Leo menatapnya sekilas tak mengerti.
Alessa tertawa kecil. "Leo si anak konglomerat yang dapat perlakuan istimewa dari kakak senior, dengan itu aku bersama tim gugus harus menerima hukuman lebih berat! Karena Leo brengsek." Celotehnya menatap tajam ke depan.
"Kita satu gugus?"
Alessa mengangguk-menggelang berbarengan.
"Maaf." Ucap Leo, ia kembali teringat masa ospeknya, karena tak ingin lelah mengikuti ospek di kampus ia menyuruh asisten untuk mengatakan bahwa dia adalah anak Pak Yodarsono yang pada jaman itu ayahnya terkenal sebagai orang terkaya hingga saat ini.
***
Suasana di apartemen terasa sepi. Hanya suara langkah kaki dari Leo yang memapah Alessa, terdengar di lorong menuju apartemennya.
Cahaya redup dari lampu di lorong menyinari wajah Alessa yang merah karena mabuk. Leo mencoba membuka pintu apartemennya, dengan susah payah di sampingnya Alessa mulai meracau.
"Apartemen mu bagus juga."
"Ya, kamu tak ingat tinggal disini juga?" Jawab Leo yang berhasil memapah Alessa masuk ke dalam.
Kesunyian hinggap saat Leo memasuki apartemen, dan bulan bersinar melalui jendela memancarkan cahaya lembut di lantai apartemen.
Leo memapah Alessa ke sofa, ia lalu membantu Alesaa duduk namun tubuh gadis itu jatuh ke atas sofa.
Melihat tubuh Alessa yang lemas, karena mabuk membuat niat jahat muncul didalam kepalanya. Leo menggeleng pelan, ia kembali kepada niat awalnya mencari kunci pintu kamar Alessa, alih-alih melancarkan niat jahatnya.
Setelah mendapatkan kunci kamar, Leo berjalan tergesa-gesa ke pintu kamar dan membukanya lebar-lebar.
"Ayo bangun!"
Alessa bergeming, ia terlalu lelah.
Tanpa pikir panjang Leo menggendong tubuh Alessa, dan membawanya ke kamar. Di kamar ia membaringkan Alessa, tubuhnya ikut tertarik karena kalungan tangan Alessa yang kuat melingkari lehernya.
"Jangan tinggalkan aku." Rengek Alessa.
Leo mengatur napasnya, ia tak ingin kehilangan kendali atas dirinya.
"Aku suka parfum mu." Wajah Alessa mendekat, ia mulai mencium leher Leo diatasnya.
Leo memejamkan mata saat merasakan bibir Alessa menyentuh lehernya. Suasana kamar berubah menjadi panas, kedua tangan Leo terkepal di kedua sisi kepala Alessa.
Alessa menjauhkan wajahnya memandangi wajah Leo yang terpejam.
Mata Leo terbuka, melihat wajah Alessa yang begitu dekat dengannya secara tiba-tiba bibir mereka bertemu.
Tangan Leo menahan kepala Alessa, ciuman itu terasa mematikan baginya. Ciuman itu tak berlangsung lama, karena Alessa gadis itu kini tertidur. Ia mendengar suara nafas lembut Alessa yang tertidur.
Leo tertawa pelan, tangannya terulur membenarkan rambut Alessa yang manghalangi wajah cantiknya.
***