
Suasana kelas semakin hening seiring dengan berakhirnya jam mata kuliah yang panjang. Mahasiswa yang tadinya riuh dan bising, kini mulai mempersiapkan diri untuk meninggalkan ruangan. Beberapa mahasiswa terlihat masih sibuk mencatat materi, sementara yang lain sudah bersiap-siap meninggalkan ruangan.
Di depan dosen memandang ke segala penjuru kelas, matanya berhenti tepat di meja yang di duduki Alessa, dan kedua temannya.
"Alessa." Panggil Dave.
Alessa yang berdiri, bersiap keluar langsung terhenti, kedua temannya juga berbalik menatap nama Alessa dipanggil.
"Ada yang harus kita bicarakan." Ucap Dave kembali.
Alessa memejamkan mata sejenak.
Satu persatu mahasiswa perlahan keluar dari kelas meninggalkan suasana hening, Alessa duduk tak sabaran, di meja dosen Dave tengah sibuk membereskan buku pelajaran.
"Ada apa?" Tanya Alessa.
Dave menoleh ke arah Alessa yang duduk di bangku paling depan.
"Aku ingin kamu pulang."
Alessa mendecih pelan, dengan membuang muka.
"Aku akan mengantarmu sekarang." Dave kembali membereskan bukunya.
"Kenapa?"
Dave menoleh ke arah Alessa yang berdiri.
"Kenapa, kamu selalu terlibat dalam kehidupanku? Kenapa?"
"Alessa."
"Kamu kan yang paling tau, kalau aku membenci rumah itu!" Teriak Alessa.
"Kamu pikir selama ini hanya kamu saja yang membenci yang ada di dalam rumah itu!" Jawab Dave, dengan meninggalkan tumpukan buku yang masih berserakan. "Karena itu, hidupku sangat sulit. Berhentilah menjadi gadis keras kepala."
Alessa tertawa tertahan. "Sulit, aku tak melihat kesulitan didalam hidupmu!"
"Kamu tidak tau bagaimana ayahmu menekanku, Alessa!" Bentak Dave dengan menatap tajam Alessa. "Dengan cara apapun ayahmu lakukan agar kita tak pernah bersatu, dengan membuangku ke singapura. Kamu pikir hidupku selama ini tidak sulit!"
Alessa menunduk, penglihatannya perlahan kabur karena air mata.
Dave memejamkan mata sejenak. "Ayahmu bilang, aku tak akan pernah membahagiakanmu!"
"Sejak dulu aku sudah siap..."
"Bukan itu Alessa, aku tau kamu gadis sederhana tapi keberadaanku di sisimu yang akan membuat hidupmu hancur."
Hati Alessa mencelus mendengar perkataan Dave.
"Setelah hari itu setiap hari, hidupku terasa tak nyaman!"
Alessa menutup wajahnya, wajahnya terasa panas ia memalingkan muka karena perlahan air matanya jatuh.
Dave menghela nafas panjang.
"Berhentilah bersembunyi, hidupmu akan lebih baik kalau kau melupakan semua yang terjadi di masa lalu."
Alessa mendesah pelan. Haruskah ia melupakan semua tentang Dave dan dirinya? Apakah pelariannya tak akan membuahkan hasil, di tambah Dave yang sudah bahagia dengan keluarga kecilnya? Haruskah, ia juga bahagia dengan semua yang telah berlalu.
"Apakah empat tahu tak merubah sikapmu?"
"Oke, aku akan pulang." Alessa mengangguk seraya tersenyum ringan ke arah Dave.
Melihat Alessa tersenyum seperti itu padanya membuat benak Dave terasa jauh lebih damai. Untuk pertama kalinya, Dave mulai merasakan kelegaan di dalam hatinya.
Saat pintu lift tertutup, Alessa dan Dave terdiam dalam kecanggungan. Alessa ia gelisah karena akan kembali bertemu dengan Livy, sementara Dave berdiri dengan menengteng tas kerjanya, menatap nomor lantai di atas lift.
Dave pertama yang keluar dari lift disusul oleh Alessa dan berhenti tepat di depan pintu apartement. Dave melirik Alessa yang terlihat tak nyaman, kemudian ia membuka pintu melihat Livy yang berdiri menyambut.
Livy tersenyum ke arah Dave namun detik kemudian senyumannya luntur saat melihat Alessa berdiri di belakang Dave.
Dave tersenyum mencoba mencairkan suasana.
"Alessa akan pulang kerumahnya."
Livy kembali tersenyum, tak percaya, ia lalu mempersilahkan keduanya masuk. Alessa dengan canggung memasuki apartemen, ia melihat Rose duduk menunggu di high chairnya.
***
Suasana di dalam mobil terasa cemas dan tegang ketika Alessa terus menerima telepon dari Leo.
"Iya, kenapa?" Tanya Alessa, memutuskan untuk mengangkat telpon dari Leo.
"Lo dimana?" Tanya Leo di sebrang.
"Gue... Gue lagi pulang ke rumah!"
"Jangan bohong!"
"Apaan sih!" Dengan kesal Alessa lalu mematikan telponnya dan kembali menikmati perjalannya menuju rumah.
Malam itu, angin dingin bertiup kencang di tengah kebun teh yang sunyi. Alessa duduk di dalam mobil, menatap ke luar jendela dan memandangi pemandangan yang indah. Cahaya bulan purnama menyusuri jalanan yang berkelok-kelok di antara kebun teh yang hijau.
Alessa merasa tenang dan damai, seakan-akan semua masalahnya hilang seketika. Mobil itu melaju menuju sebuah rumah besar yang terletak di tengah kebun teh.
Dengan hati yang berdebar, Alessa memasuki rumah yang telah lama ia tinggali. Setiap sudut ruangan mengingatkannya pada kenangan-kenangan manis dan pahit di masa lalu. Ia merasakan aroma khas rumah itu, yang selalu membuatnya merasa nyaman dan tenang.
Saat Alessa melangkah masuk ke dalam rumah, ia merasakan kehangatan yang familiar. Dave berjalan di depan memimpinya ke salah satu ruangan, perpustakaan. Alessa ingat dulu ia sering menghabiskan waktunya disana.
Alessa melihat ibunya duduk di sofa, membaca buku dengan kacamata bertengger dihidungnya. Alessa merasa hatinya berdebar kencang, setelah sekian lama akhirnya ia kembali bertemu dengan ibunya. Ia lalu berjalan mendekati ibunya, dan ibunya menoleh ke arahnya.
Mata mereka bertemu, dan dalam tatapan itu terdapat kebahagiaan yang tak terucapkan.
"Alessa." Panggilnya tak percaya.
Dalam pelukan sang ibu, Alessa menganggukkan kepala.
"Ya Tuhan, terimakasih." Syukurnya sambil terisak, tangannya mengelus kepala Alessa yang juga terisak rindu.
Dave yang melihat hanya bisa berdiri sambil tersenyum, ia menatap kebelakang saat merasakan seseorang datang.
"Terimakasih Dave."
"Dia sendiri yang memilih pulang pak."
Pak Bima tersenyum, sambil menepuk pundak Dave.
Saat Alessa melihat ayahnya kembali, hatinya berdebar kencang. Ia masih ingat betul bagaimana ayahnya selalu menolak hubungan Alessa dan Dave. Namun, ketika ayahnya memeluknya erat, ia merasakan kehangatan yang sudah lama hilang.
Alessa mencium aroma teh yang selalu melekat pada ayahnya, dan ia merasa seperti kembali ke masa kecilnya. Suasana hatinya campur aduk, antara senang dan sedih. Ia senang bisa bertemu lagi dengan ayahnya, namun sedih karena alasannya selama ini kabur karena keterangan bohong ayahnya tentang Dave yang memilih meninggalkan dirinya untuk mengambil S2.
Alessa berusaha tersenyum, berusaha menghilangkan rasa kecewanya. Namun, ia tahu bahwa kebahagiaannya tidak akan pernah sama seperti dulu lagi tapi setidaknya ia kembali bisa melihat kedua orangtuanya yang terlihat lelah menunggunya.
***
Suasana kamar Alessa begitu sunyi dan hampa. Terlihat jelas bahwa kamar itu sudah lama ditinggal pergi, mengingat sudah hampir 4 tahun ia meninggalkan kamar itu. Di sudut kamar, terdapat sebuah meja rias dengan kosmetik yang tersusun rapi. Di samping meja rias, terdapat sebuah lemari yang terbuka, pakaian yang tergantung di dalamnya.
"Liat Sa, buku terakhir kamu. Ibu tak merubah barang yang ada di dalam kamar ini seperti terakhir Sasa pergi."
"Karena ibu tau kamu gak suka kalau ibu pegang barang kamu."
Alessa tersenyum kecil ia kembali memeluk ibunya yang kembali terisak.
"Kamu istirahat, besok kamu harus pergi lagi kan. Besok ibu buatkan makanannkesukaan kamu." Dengan mengusap kasar pipinya yang lagi-lagi menangis.
"Selamat malam, ma." Ucap Alessa yang diangguki ibunya yang berlalu pergi.
Ibu Alessa, Danella. Duduk di kamar besar dengan view kebun teh yang menakjubkan ,udara malam terasa memasuki kamar karena jendela balkon yang tak tertutup.
Tak lama Ayah Alessa masuk ke dalam kamar dan duduk di samping sang istri.
"Kita tak usah membicarakan dulu soal pertunangan itu." Ucap Danella tak menatap Bima yang memandangnya penuh penyesalan.
"Iya, tapi pertunangan itu akan tetap berlanjut."
"Aku tak ingin karena pertunangan itu, Alessa kembali pergi dari rumah ini."
"Iya." Jawabnya lembut, mengusap telapak tangan Danella.
Hati Danella melembut, ia menatap Bima yang juga menatapnya. "Aku tak ingin Alessa melihat kita sebagai sosok yang jahat."
"Aku tahu, Ella. Aku tahu semua yang kamu pikirkan tentang keluarga ini."
"Kita biarkan Alessa membereskan pekerjaanya, baru kita beri tahu soal pertunangan itu."
Bima mengangguk, bibirnya tersenyum memandang Danella.
***