My Beautiful Girl

My Beautiful Girl
23 : Billiard dan G!



Alessa duduk di bus kampus, matanya tertuju pada pemandangan yang lewat. Matahari pagi baru saja mulai terbit, memancarkan cahaya hangat di atas kampus. Ia menyaksikan para mahasiswa bergegas ke kelas mereka, beberapa dengan cangkir kopi di tangan, yang lain dengan ransel tersampir di bahu mereka.


Udara dipenuhi dengan suara obrolan dan tawa, simfoni suara yang menyatu dalam hiruk-pikuk yang indah.


Saat bus berhenti di halte yang ia tuju, Alessa menarik napas dalam-dalam dan mengumpulkan barang-barangnya.


Hari ini adalah hari presentasi skripsinya, puncak dari kerja keras dan dedikasinya selama bertahun-tahun. Ia turun dari bus dan berjalan menuju ruang kuliah, dengan jantungnya berdebar kencang.


Saat Alessa berjalan, ia tidak bisa menahan perasaan takut dan gugupnya. Ia telah mencurahkan hati dan jiwanya ke dalam penelitiannya, dan sekarang saatnya untuk membagikannya kepada dunia. Matahari terus terbit, memancarkan cahaya keemasan di atas kampus dan memenuhi Alessa dengan harapan dan kemungkinan.


Tak lama giliran Alessa, ia memasuki ruang sidang dan disambut oleh dosen pembimbingnya dan dosen penguji.


Mereka tersenyum hangat padanya, dan Alessa merasakan gelombang kepercayaan diri. Ia menarik napas dalam-dalam dan memulai presentasinya, kata-katanya mengalir dengan lancar dan percaya diri.


Saat Alessa berbicara, ia merasakan kegembiraan dan kepuasan. Inilah yang telah dia upayakan selama ini, dan sekarang hal itu akhirnya terjadi.


Matahari terus terbit di luar, menyinari kampus dan memenuhi Alessa dengan harapan dan kemungkinan. Alessa keluar dari ruangan sidang dengan perasaan campur aduk. Ia merasa sedikit lega dan bahagia, namun juga sedikit cemas dengan hasil akhirnya.


Di beberapa lorong kampus, ia melihat keramaian teman-teman dari mahasiswa yang juga sedang sidang skripsi. Alessa tersenyum simpul, di sidangnya tak ada yang datang tapi tiba-tiba, dia melihat kedua temannya datang dengan senyum lebar di wajah mereka.


Alessa berdiri menyambut, di kejauhan kedua temannya tengah repot dengan buket bunga matahari, super besar yang mereka bawa.


Orang yang ada di sekitar memperhatikan buket bunga yang dibawa, Mega dan Gisel memberikan pelukan hangat dan mengucapkan selamat dengan penuh kebahagiaan.


Alessa merasa terharu dan bersyukur memiliki teman seperti mereka. Semua rasa cemas dan khawatir seketika hilang, melekat dengan rasa bahagia dan kepercayaan diri.


"Makasih." Ucap Alessa sambil terisak, ia tak tahu harus berkata apalagi.


"Jangan nangis!"


Alessa mengangguk, dengan wajah merahnya.


"Gimana hasilnya?" Tanya Gisel.


"Belum keluar hasilnya."


"Maaf ya kita telat, gue nunggu ini lama bener." Dengan menunjuk buket.


Alessa mengangguk, wajahnya merah menahan tangis Mega dan Gisel yang melihat mencoba menenangkannya.


Tak lama ketiganya lalu tertawa, bahagia.


***


Suasana club malam itu memang selalu memukau. Cahaya lampu yang gemerlap dan musik yang menggelegar membuat hati berdegup kencang. Namun, klub malam ini khusus untuk anak-anak kampus yang terkenal kaya raya.


Terdapat DJ terkenal yang memainkan musik EDM yang membuat semua orang bergoyang. Di dalam club, terdapat berbagai permainan yang menarik, seperti billiard, dart, dan arcade.


Alessa dan kedua temannya tiba di depan sebuah klub malam mewah yang terkenal di kota itu. Mega dan Gisel sudah menjadi anggota tetap di klub tersebut, tapi Alessa belum pernah ke sana sebelumnya.


Setiap langkah menuju pintu club, Alessa terus menerus menarik ujung bajunya yang terlalu pendek, baju ini tentu bukan miliknya ia meminjamnya dari Mega.


Mega dan Gisel berjalan masuk tanpa di halangi oleh penjaga, namun saat Alessa hendak masuk ia ditahan.


"Maaf, kamu tidak bisa masuk tanpa kartu anggota," kata penjaga dengan tegas.


Alessa menatap Gisel dan Mega yang menyadari, kedua temannya berjalan mendekat.


"Dia bersama saya." Tunjuknya kepada Alessa yang gugup.


"Tidak bisa ini khusus untuk..."


"Oh come on, big fat guy! Untuk hari ini saja, ini hari kelulusannya." Teriak Mega tak sabaran.


Sang penjaga lalu berbisik kepada temannya, tak lama mereka mengangguk mempersilahkan ketiganya masuk.


Alessa melangkah masuk ke dalam, ia langsung merasakan energi tempat itu. Musik yang keras dan lampu yang berkedip membuatnya sulit untuk melihat, tetapi dia bisa melihat siluet orang yang menari dan bergerak mengikuti irama. Udara kental dengan aroma alkohol dan parfum mewah, dan ruangan dipenuhi dengan campuran tawa dan obrolan.


Alessa tahu ini bukan sembarang club malam, dilihat dari pengunjung yang datang mereka semua terlihat muda dengan pakaian mewah yang mereka pakai.


"Kita langsung kesana okeh!" Gisel berteriak karena suasana yang riuh.


Alessa mengangguk samar, mereka lalu berjalan menuju tempat duduk yang kosong.


Alessa menghembuskan napas lega, karena berhasil melewati puluhan orang yang sedang menari.


"Hallo, girls!" Sambut Ogay yang entah datang dari mana.


Gisel dan Mega mendengus kesal.


Ogay memandang Alessa yang memakai mini dress merah, di dalam otaknya sudah tersusun rencana jahat untuk gadis di depannya. "Kayanya lo bukan anggota deh!" Dengan tersenyum kecil. "Mega lo kan tau ini club party untuk golongan atas!" Dengan mendelik ke arah Mega.


Leo duduk dan menyesap vodkanya ketika Vino tiba-tiba mendatanginya dan langsung membisikan sesuatu. Mata Leo membulat, ia lalu meletakkan gelasnya dan berdiri, merapikan bajunya.


"Serius?"


Vino mengangguk kecil, tiba-tiba suara musik yang tadinya menggelegar seketika mati dan lampu pun di nyalakan membuat ruangan yang tadinya temaram kini terang.


"Para pemirsa mohon maaf menganggu acaranya, gue disini mau ngasih tahu bahwa ada pengunjung gelap yang datang!" Teriak Ogay yang berjalan ke tengah, ia lalu menunjuk meja yang di duduki Alessa dan kedua temannya.


Semua orang di ruangan tersebut terlihat menatap mereka dengan tatapan sinis dan mengejek. Beberapa orang bahkan mulai tertawa dan mengambil video dari kejadian tersebut.


Alessa dan ketiga temannya bergegas akan pergi, namun suara Ogay kembali terdengar.


"No. Kita tidak mengusir kalian, bagaimana kita menyambut kedatangan, Alessa sosok sang pengunjung gelap!"


Alessa memejamkan mata, mencoba menenangkan perasaanya.


Leo datang di antara kerumunan, dan melihat Alessa dan kedua temannya berdiri berdampingan. Matanya beralih menatap Ogay yang terus berbicara mencoba mempermalukan Alessa lebih dalam.


"Kita buat penyambutan dengan sebuah permainan?" Ogay berseru, semua yang ada bersorak mendukung.


"G!" Teriak Leo.


Ogay berlari ke arah Alessa, bersembunyi.


"Whats wrong, L! Bukannya lo suka ada pengunjung gelap datang, dan kita mempermalukannya!"


"This is different, G!"


Semua orang mulai berbisik pelan, menyadari atmosfer membingungkan.


"Apa permainan ya?" Tanya Alessa menatap Ogay tanpa ekpresi.


Mega di samping mengenggam tangan Alessa, mencoba memberi peringat.


"Mudah, kita maen billiard. Setiap yang cetak point, yang kalah harus minum segelas vodka!" Dengan tersenyum jahat.


"**** you, G!" Teriak Gisel di samping Mega.


"What... What! Ada yang bersuara dari anak baru! Denger Gisel, lo itu cuma anak pembisnis gagal kalau hari itu bokap gue gak ngasih suntikan dana ke perusahaan bokap lo, hidup lo bakal berubah!" Bentak Ogay menunjuk Gisel yang menahan marah.


"Lo gak harus ambil permainan itu, Sa!" Ucap Gisel dengan memandang wajah Ogay.


"Wait, gue mau bilang ini." Ogay berjalan ke belakang Alessa, ia lalu berbisik yang membuat wajah Alessa berubah ketakutan.


Ogay kembali berjalan ke depan, ia menunggu beberapa detik respon Alessa sebelum akhirnya ia akan membuka mulut.


"Oke." Jawab Alessa, membuat senyum laki-laki tersebut mengembang.


Leo mendesah kecewa, begitu juga dengan kedua teman Alessa yang menatapnya tak percaya.


***


Seseorang berbicara di tengah-tengah Alessa dan Ogay, membicarakan peraturan dan ketentuan tentang permainan. Leo di sebrang menunggu dengan was-was, begitu juga dengan Mega dan Gisel yang berdiri menunggu.


"Jadi, bola terakhir yang stay di meja billiard dia kalah." Jelasnya di akhir.


Alessa mengangguk mengerti, ia cukup mengerti dengan garis besar permainan tersebut. Bila lawan memasukan bola ke lubang, maka ia harus meminum segelas vodka. Permainan ini tidak memakai permainan bola lima belas dan lainnya, mereka membuat sendiri permainan ini secara singkat.


Sebelum dimulainya permainan, Alessa dan Ogay berdiri di posisi masing-masing mereka lalu menyodok bola kiu secara bersamaan hingga terpantul ke tepi meja dan kembali menuju arah pemain. Bola kiu menggelinding mendekati tepian Ogay, maka ia yang berhak memulai tembakan pertama.


Semua orang bersurak meneriaki nama Ogay.


"G! G! G!"


Tembakan pertama Ogay berhasil memasukan satu bola, seseorang datang menyodorkan nampan berisi gelas-gelas kecil berisi vodka. Alessa mengambil salah satu gelas dan langsung meminumnya, ia kembali menatap Ogay yang kembali memukul stiknya namun kali ini tembakannya melesat. Kini giliran Alessa ia mencari bola untuk di bidik, ia mengusap kapur billiard ke ujung stik dan ia mendapatkan satu point.


Ogay menyodorkan gelas berisi vodka kedepan Alessa, lalu meminumnya.


Permainan terus berlanjut, kini tersisa 1 bola terakhir milik Alessa yang terhalang bola milik Ogay. Alessa mendesah pelan ia tak ingin Ogay mendapat point terakhir karenannya.


Ogay tertawa kecil menyadari Alessa yang bingung membidik.


Leo yang sendari tadi menyaksikan hanya bisa terkesima, setelah ia di buat tak menyangka dengan Alessa yang mahir bermain Golf kini gadis itu juga ternyata mahir bermain billiard.


Alessa bersiap membidik, ia akan mengambil jurus cross bank walau taruhannya adalah bola putih ikut masuk ke lubang kanan di samping ia membidik.


Alessa menarik-membuang nafas gugup. Ia lalu menyodok bola di depannya, bola miliknya menggelinding masuk ke samping kanan namun bola putih terus menggelinding mendekati lubang kanan di sampingnya ia berdiri.


Namun bola putih mematul di tepinya dan berhenti tak jauh dari lubang, Alessa berseru begitu juga dengan kedua temannya.


"We did it!" Teriak Mega, mereka bertiga berpelukan bersama.


Ogay menatap tak percaya, akan keberhasilan yang lagi-lagi berpihak kepada Alessa. Semua orang yang melihat juga ikut merayakan, setelah hampir satu jam menunggu permainan selesai dan musik kembali terdengar keras, Mega menarik kedua temannya ke dance floor.


Semua orang ikut ke dance floor, beberapa orang mendekati Alessa sekedar untuk menyapa dan memberinya selamat.


Leo dan Vino tertawa mengejek meninggalkan Ogay yang tengah bersungut-sungut karena kekalahaannya.


***