
Bayu masuk ke ruang rawat Rayn, di lihatnya cayra yang tertidur di kursi sebelah ranjang Rayn dan menggenggam erat tangan Rayn. Bayu tersenyum dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Tak lama datang pula Rafly dan Boy bergabung duduk dengan Bayu dan mengobrolkan masalah penangkapan kemarin. Cayra terbangun mendengar ada orang yang sedang berbicara.
"Cay, kau terbangun? maaf kami mengganggu mu." ucap bayu sambil terswnyum melihat Cayra yang terbangun.
"tidak apa apa, pah.. ahh maksud saya pak. hehe.." Cayra tersenyum malu karena salah memanggil.
"tidak apa apa, kau bisa tetap memanggilku papah kalau kau mau."
"tidak, pak. Itu tidak benar."
"Cay, kau sudah makan?" tanya Rafly.
"belum, ahh ternyata sudah siang. kalau begitu aku pamit pulang dulu." Cay pamit membungkukkan badan.
"Cay, biar aku antar. Boy, kau temani pak Bayu dan sambil menjaga Rayn. kalau ada apa apa hubungi langsung."
"oke bos."
--
Cayra pulang diantar oleh Rafly, namun sebelum ke rumah Cayra, mereka mampir dulu di restoran untuk makan siang.
"Cay, apa ada luka yang serius?" tanya Rafly setelah memesan makanan.
"tidak, hanya lecet dan lebam sedikit, itu sudah resiko pekerjaan."
"Cay, terimakasih."
"untuk?"
"kau mau menghadang peluru yang menuju padaku."
"itu hanya refleks, jadi tak perlu berterimakasih."
"makanlah dulu, kau terlihat makin kurus." ucap Rafly setelah makanan datang.
"ya, aku akan memakan nya karena aku memang lapar. tapi aku tidak kurus, aku langsing".
"ya terserah kau,, mau selangsing apa sih? kau sudah cantik, kau tau!!"
"hmmm" Cayra mengangguk sambil terus makan.
"pelan pelan, aku tidak akn meminta nya." Rafly memandang Cayra yang sedang makan dengan lahap. "kau itu lapar, apa doyan?" Rafly tersenyum dengan tingkah Cayra yang makan seperti orang tidak makan selama seminggu.
"aku lapar, tapi juga doyan. ini enak, cocok di lidahku." cayra minum karena sudah selesai. "ahhh... kenyang.."
"kau itu wanita, kenapa tidak ada jaim jaim nya sih."
"ahh, aku hanya menjadi diriku sendiri."
"Cay, kau sudah mencintainya?" tanya Rafly serius.
"maksudmu?"
Cayra terdiam.."mungkin iya, tapi aku cukup tau diri, aku tidak pantas dengan nya." jawab Cayra lirih.
"kurasa dia juga mencintaimu."
"emm,,aku tidak mau terlalu berharap."mereka terdiam.
"Cay, ada misi untukmu. apa kau siap?" tanya Rafly setelah mereka sampai di rumah Cayra.
"misi apa?"
"seperti biasa, membereskan pria tampan." Rafly mengambil berkas yang di bawa nya di tas dan menyerahkan nya pada Cayra. Cayra membuka nya dan melihat data seorang pria tampan.
"waw.. dia lumayan tampan." sambil melihat foto target misi nya.
"yap, sudah ku katakan, pria tampan."
"pria penjual para wanita?"
"yap, dia selalu lolos dari polisi. Polisi sudah menyerah dan banyak orang tua yang protes karena anak anak merwka dan banyak para wanita yang hilang setelah bertemu dan di tawari pekerjaan oleh pria yang sama. Orang tua khawatir karena tidak mendapat kabar dari anak anak nya yang nekad bekerja padanya."
"menarik.. aku akan jadi pekerjanya kalau begitu. untuk mencaritau para wanita nya dibawa kemana."
"kau yakin? itu akan beresiko."
"itu sudah resikonya bukan?"
"kau harus segera kembali."
"aku tidak janji, tapi apa sudah ditemukan lokasi pria tersebut sekarang?"
"ya,, dia ada di kota xxx.."
"baiklah, aku akan bersiap dan berangkat bsok pagi."
"jangan lupa dengan peralatanmu, Cay."
"siap, Bos." Cayra tersenyum.
"baiklah, istirahatlah yang cukup sebelum pergi. aku akan kembali ke markas. kurasa nanti malam temanmu akan kesini. Mereka akan berangkat bersama."
"oke.." Rafly pun pergi. Cayra bersandar pada sofa sambil memejamkan matanya. 'Ray, semoga kau cepat sehat. Maaf, aku tidak bisa merawatmu. Kau suami, ahhh bukan. Tapi pria yang dingin namun perhatian. Aku mencintaimu, kuharap kita ajan bertemu kebahagiaan kita masing masing, karena aku tidak mau berharap terlalu jauh untuk memilikimu. Namun tidak dapat ku pungkiri, aku ingin kita ditakdirkan bersama." batin Cayra. Sampai akhirnya Cayra tertidur dengan posisi duduk bersandar. Tanpa sempat membersihkan diri dan ganti baju karena terlalu lelah.
.
.
hay hay baraya, maaf aurhor yang selalu telat. Ada sedikit masalah di keluarga hingga pikiran uthor bleng.. Namun uthoe akan berusaha untuk lebih rajin di tengah masalah disini, namun maaf bila uthor tidak bisa setiap hari up.
Uthor juga mau ngucapin, MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR BATHIN. Maafin uthor yang masih banyak kekurangan dan kesalahan yah..
Salam dari uthor Ai.