
Rayn menghampiri Cayra dengan wajah yang terlihat memerah, dimata nya terdapat amarah, panik juga khawatir, dan menarik tangan Cayra menjauh dari tempat pesta, menaiki tangga dan berjalan di lorong menuju kamar Rayn. Namun, belum sampai mereka ke kamar, Cayra di tarik dengan kasar hingga punggung nya terbentur dinding cukup keras.
"ahhsssh.." rintih Cayra.
Rayn langsung melu**t bibir Cayra kasar hingga Cayra tidak bisa mengimbanginya dan hampir kehabisan nafas. Rayn melepaskan lum*tan nya lalu memandang Cayra dengan pandangan yang tak terbaca oleh Cayra.
"kau, kenapa malah ingin membahayakan dirimu? bukan nya kau punya senjata, eoh.. Kenapa malah ingin melukai diri sendiri." bentak Rayn. Cayra hanya diam menunduk. "jawab Cay, jangan diam saja, kenapa?" tanya Rayn dengan nada tinggi.
"karena ini misi pertamaku untuk tidak sampai membunuh target." jawab Cayra dengan nada tinggi juga. "ini misi pertamaku untuk membawa penjahat dalam keadaan hidup, Ray." jawab Cayra lagi namun dengan suara lirih. "meskipun aku sudah biasa menbunuh, tapi aku merasa senang di beri kesempatan untuk tidak membunuh." ucapnya lagi.
"tapi tidak dengan mengorbankan dirimu, Cay." ucap Rayn lembut.
"tapi aku tidak terluka bukan, aku percaya, kau akan melindungi aku." ucap Cayra memandang Rayn.
"kau pun menjadikan aku kambing hitam. Astagaa,, Cay."
"tapi kau melindungi aku, kau tidak akan di hukum."
"bukan masalah di hukum tidak nya, Cay. Tapi bagaimana kalau aku lengah, sedikit saja aku tidak memperhatikan mu, kau yang terluka, Cay." ucap Rayn sambil mengacak acak rambut nya, lalu memeluk erat Cayra.
"tapi kan sekarang aku baik baik saja." tersenyum dan membalas pelukan Rayn.
"ouh,, kau membuat aku frustrasi."
Bayu dan agent lain, kecuali Cayra dan Rayn berkumpul di salah satu ruangan yang terdapat meja panjang serta kursi.
"apa tidak ada yang terluka?" tanya Bayu.
"tidak pak, Target pun sudah di bawa oleh polisi." jawan Rafly.
"Dugaan Cay benar, bahwa dia akan bergerak saat acara sedang berlangsung." lanjut Boy.
"maaf,, kami baru datang." Cayra dan Rayn datang beriringan.
"Cay, apa kau sudah di serang. Kau berantakan sekali." ledek Reno.
"benarkah? ini gara gara dia. hufh.." ucap Cayra sambil mempoutkan bibir nya dan menunjuk Rayn. Rayn hanya cuek, sedangkan yang lain tersenyum. Cayra menghampiri Bayu.
"emmh.. apa papa baik baik saja? maaf tadi aku mendorong papa."
"tidak apa apa Cay, aku cukup mengerti. Dan terimakasih juga kau sudah mau menyelamatkan papa. papa bangga padamu, kau menantu idaman." ucap Bayu tersenyum. "dan berhasil mengisi hati anakku" lanjut Bayu dengansuara pelan.
"ahh,, papa berlebihan."
"itu tidak berlebihan, Cay. Kau lihat tadi, bukan nya dia menolongku, tapi malah menarikmu. terlihat dia begitu khawatir padamu, dan marah karena tindakan cerobohmu."
"yaa.. harusnya aku yang menjaga nya, tapi jadi terbalik." tersenyum.
"itu tugas seorang suami untuk melindungi istri dan keluarganya. "
Cayra hanya membalasnya dwngan senyuman. 'entahlah, misi ini harus sampai kapan aku lakukan. Tapi setiap saat aku selalu takut, takut akan cintaku yang tidak ingin lepas darinya, dan juga takut dia akan ingat semua yang terjadi sebenarnya dan membenci aku.' batin Cayra seraya tersenyum sambil memandang Rayn yang sedang di ajak ngobrol oleh Agent lain, namun tetap dingin menanggapi nya.
Beberapa hari telah di lalui tanpa ada masalah menghampiri. Cayra yang selalu menggonda Rayn, namun Rayn selalu menolak lebih. Sebenarnya Cayra pun takut Rayn akan tergoda, biar bagaimana pun se*s adalah hal yang belum pernah ia lakukan, namun semua orang menganggap Cayra selalu menjerat target nya dengan tubuhnya, hanya Cayra menanggapi semua omongan orang dengan santai seolah membenarkan. Toh, orang yang mencintainya akan menerima semua kekurangan nya, bukan? itulah pikiran Cayra.
.
.
hai hai..
semoga baraya suka yah.. jangan lupa tinggalkan jejak kalian..