
Cayra sedang berbaring melihat atap kamar yang di tempati nya sekarang. Dia sedang memikirkan sesutu. Malam ini Cayra dan Rayn menginap di rumah Bayu, karena Bayu memaksa mereka untuk menginap. Dan disitu lah Cayra tidur, di kamar Rayn dulu. Ruangan yang rapi dengan warna cat abu yang mendominasikan pria yang cool.
"sedang memikirkan apa?" tanya Rayn yang tetiba sudah masuk ke kamar dan duduk di tempat tidur bersandar pada kepala tempat tidur.
"ahh honey, kau mengagetkan ku saja." ucap Cayra yang langsung bangun sambil mengusap usap dada nya yang kaget.
"maka nya, jangan banyak melamun. Ada apa?" tanya Rayn memandang Cayra.
Cayra tidur kembali dan kali ini menidurkan kepala nya di pangkuan Rayn. Melihat kembali ke atas. "kurasa pembunuh itu akan datang ke rumah ini." ucap Cayra.
"dia tidak akan bisa masuk kemari, penjagaan disini ketat. aku sendiri yang mengaturnya. bahkan cctv pun ada di setiap sisi rumah ini." jawan Rayn.
"bukan sekarang, honey. Tapi nanti di pesta papa. Pembunuh itu pintar melarikan diri, dan juga menyamar. Kurasa dia akan datang di hari itu."
"mmh.. aku juga berfikir seperti itu."
"ahh,, besok aku harus mengatur Agent untuk menjaga di setiap penjuru di rumah ini di hari pesta itu. Demi keselamatan papa dan juga tamu undangan yang lain."
"good girl" Rayn tersenyun dan mengusap pucuk kepala Cayra.
"honey, besok aku mau ke kantor untuk membicarakan masalah itu dengan yang lain, setelah itu aku akan ke butik membeli baju untuk ke acara pesta papa. Boleh kan?" Cayra memandang Rayn.
"hmm.. lakukan apa yang kau mau, asal jangan berlebihan." jawab Rayn.
"oke.."
Rayn mengambil dompet di dalam laci, mangeluarkan black card dan memberikan pada Cayra. "pakailah itu untuk kebutuhanmu".
"kau serius, honey?" tanya Cayra yang tersenyum bahagia sambil menatap Rayn.
"ya.. ku rasa aku sudah lama tidak memberimu nafkah, benarkan?"
"yah.. nafkah lahir saja?" tanya Cayra genit sambil merayu Rayn.
"Cay..!"
Cayra duduk di pangkuan Rayn, lalu mencium bibir Rayn. Rayn pun membalas ciuman Cayra. Ciumam itu yang tadi nya lembut, berubah menjadi panas dan menginginkan lebih. Tangan Cayra mengusap dada Rayn yang masih memakai baju piyama, lalu tangan nya turun dan membelai belai senjata Rayn di balik celana nya. Rayn sempat terbawa suasana, namun dia pun tersadar.
"ahhh.. stop Cay, stop..mmmhh.. Cayra.." Rayn melepas paksa ciuman Cayra dan memegang tangan Cayra erat hingga Cayra merasakan sakit di pergelangan tangan nya dan meringis. Dan mendorong Cayra ke sebalah tempat tidur nya yang kosong, dan menatap tajam Cayra. Ada kemarahan dan juga rasa ingin lebih di mata dan di wajah nya.
"sudah ku bilang bukan, jangan lebih." bentak Rayn. "kalau kau seperti ini lagi, aku akan menjauhi mu dan tak akan menyentuh mu sedikit pun, kau mengerti..!" lanjut Rayn.
"awhh sakit.." mata Cayra mengeluarkan air mata, entah karena sakit tangan nya, atau sakit hati karena merasa harga dirinya sudah tidak ada. Rayn melepas kan tangan nya dan duduk di pinggir ranjang. "hikh..hikh.. kau bukan cuma menyakiti tangan ku, tapi juga hati dan harga diriku. apa guna nya ini..!" menjunjukan blak card yang tadi di beri Rayn. "aku tidak butuh. hikh hikh.." Cayra keluar kamar dan pergi tanpa pamit, mengendarai mobil Rayn dan pergi ke kantor lalu mengganti mobil Rayn dengan mobil nya di parkiran, dan pulang ke rumah pribadi Cayra.
Disisi lain, Rayn mengejar Cayra setelah mendengar suara mobil nya yang di kendarai Cayra menuju keluar dari rumah papa nya. Rayn pergi setelah menitipkan pesan kepada penjaga di rumah untuk papa nya, mereka terpaksa pulang karena ada sedikit masalah. Lalu mengendarai salah satu mobil nya yang masih di simpan di garasi papanya.
Sedangkan di rumah Cayra, Cayra sedang duduk di temani Reno dan Kevin. Mereka mengikuti Cayra karena melihat wajah Cayra yang sembab. Khawatir terjadi apa apa pada Cayra di jalan.
"nih, minum. kau butuh energi setelah banyak menangis barusan." seru Kevin yang duduk sambil memberikan minuman pada Cayra.
"kau kenapa, beb?" tanya Reno.
"aku seperti nya menyerah saja dengan misi kali ini."
"why?" tanya Reno dan Kevin.
"aku sudah sulit mengendalikan perasaan sendiri. antara tugas ku, dan hatiku. aku kesulitan mengendalikan nya. ahhh... aku muak sekali."
"jangan katakan kau jatuh cinta pada Rayn?" tanya Kevin.
"entahlah, Vin. Mungkin benar, karena aku sulit sekali menjauh darinya."
"jangan lanjut kan perasaanmu, Cay. Kita ini tidak selevel dengan mereka, apa menurut mu kau akan di terima oleh pak Bayu?" ucap Reno.
"ya, itu yang ku pikirkan sekarang. makanya, aku ingin menyerah saja."
"istirahatlah dulu,, jernihkan dulu pikiran mu itu, Cay. Kau pun sudah tidak bisa mundur dari tugas mu sekarang. Kita pulang dulu, atau mau di temani?" tanya Kevin sambil menasehati.
"tidak usah, kalian pulang lah. aku ingin sendiri malam ini. hati hati." Cay berbaring di sofa karena malas ke kamar, Reno dan Kevin pun pulang, namun di depan rumah Cayra ia berpapasan dengan Rayn yang datang ke rumah Cayra.
"Rayn..!" panggil Kevin.
"apa Cayra ada di dalam?" tanya Rayn dingin.
"ya, mungkin dia sedang istirahat."
"baiklah, terimakasih."
"Rayn, pin rumah nya 34****.. kau bisa mengganggunya jika menekan bel." seru Kevin. dan berlalu pergi.
Rayn pun masuk dan melihat Cayra yang tidur di sofa, lalu menggendong nya dan memindahkan nya di tempat tidur. Kemungkinan besar itu kamar Cayra karena hanya ada satu kamar di rumah nya.
"dasar bodoh, kenapa memberikan pin rumah kepada lelaki lain, huhh.. bagaimana kalau mereka menyalah gunakan nya. kau memang wanita ceroboh." gerutu Rayn sambil memandang wajah Cayra lalu mencium kening nya dan tertidur di samping Cayra dengan memeluknya.
.
.
hai hai.. ketemu lagi.. semoga suka yah. jangan lupa tinggalkan jejak kalian..