
"Sena, kamu tuli ya! Tidak dengar tadi aku bilang apa? Aku suruh kamu bungkusin makanan! Mana makanan nya? " Sewot nenek semakin geram karena ibu keuar dengan tangan kosong.
"Apa yang mau dibungkus bu, semua makanan sudah aku bagikan pada tetangga yang datang membantu. "Jawab ibu santai, ia memungut sampah yang berserakan dihalaman rumah.
"Heh!! Sejak kapan kamu berani menjawab perkataan ku ha? Aku ini mertua mu, aku ibu nya anas, jangan durhaka kamu sena!! "Bentak nenek, yang tak terima ibu melawan perintahnya.
Ibu berhenti sejenak menatap kearah nenek lalu beralih melihat bapak yang berpangku tangan, aku tidak tau apa yang sedang ditunggu bapak dari tadi terus memlerhatikan nenek.
" Ibu mertua? Entahlah, aku bahkan lupa saking tak pernah diakui sebagai menantu. Dan aku berani menjawab karena apa yang aku katakan adalah kebenaran. "Ungkap ibu, aku menyunggingkan senyum rasanya ingin memberikan tepuk tangan dan memuji ibu sangat 𝘩𝘦𝘣𝘢𝘵. Tetapi aku tidak mau menambah keributan, ini hari pertama kak anna dirumah kami jangan sampai dia kaget dan ketakutan.
" Apaaaa??? Kau sudah gila ya?"nenek mendelik merasa tersindir oleh perkataan ibu, karena memang selama ini nenek tidak pernah menganggap ibu sebagai menantunya, dimata nenek ibu hanya pleayan yang harus melayani nya dan seluruh keluarganya, seperti yang dilakukan ibu dan elis selama ini.
"Aku tidak gila bu!!tapi kalau ibu terus menganggu aku dan keluarga ku, mungkin saja aku benaran jadi gila. "Sangkal ibu dan kembali menyerang nenek dengan kata-kata tajam.
"Halah, kau saja yang berhati busuk aku datang kerumah anak ku, bukan rumahmu, kau itu cuma parasit yang terus menghalangi anas berbuat baik kepada keluarganya. Jadi sampai mati pun aku tidak akan sudi mengakui perempuan busuk seperti mu menjadi menantu. "Tanpa disadari nenek mengakui perkataan ibu tadi.
" Oh, jadi begitu, semua jerih payah istri ku selama ini ternyata sia-sia? Dia mengabdi pada ayah dan ibu tetapi dia tidak pernah dianggap keluarga begitu? "Bapak membuka suara setelah lama mengamati.
Nenek menoleh. "Ya, kau sendiri pasti juga kesal kan punya istri seperti dia, kamu bisa bercerai denganya dan ibu akan carikan wanita yang lebih baik darinya. Sekarang ayo siapkan makanan dan kau ikut ibu pulang, diskusikan dengan kakak mu kapan biaya pendaftaran sekolah Roni mau dibayar. "Desak nenek yang masih belum paham situasi.
Bapak masih bersedekap dada ia menatap tajam kearah nenek. " Tidak, aku tidak akan pernah bercerai dari istriku, jadi ibu tidak perlu repot-repot. Dan... Aku juga tidak mau kembali kerumah itu juga tidak peduli roni mau sekolah atau tidak itu bukan urusan ku. "Tegas bapak dengan mata masih menatap lurus kearah nenek.
" Apa maksudmu anas? Kau berani berkata seperti ini pada ibu? "Nenek marah dan wajahnya terlihat terkejut mungkin dia tidak menyangka kalau bapak akan berani berkata begitu padanya. Karena selama ini bapak selalu menurut dan tidak pernah melawan.
" Ini semua pasti karena hasutan istrimu kan? Jawab sena kau apakan anak ku? "Nenek malah menuduh ibu, dia benar-benar sudah tua sampai lupa bagaimana perlakuannya selama ini terhadap bapak. Lalu sejak kapan dia menganggap bapak anak nya?
"Loh, kenapa jadi aku yang menghasut, anak mana yang tidak marah jika ibu menyuruh mencerai kan istrinya. Coba minta kakak pertama menceraikan kakak ipar, dia marah tidak? " Bravo aku semakin bersorak senang, ibu semakin pintar sekarang. Memang, uang dan kekuasaan membuat seseorang lebih berani. Selama ini sudah ia tahan karena hidup kami miskin dan menumpang hidup namun sekarang sudah tidak lagi, ibu terlihat semakin berani dan tidak mudah ditindas.
"Hebat kau ya. " Nenek melayangkan tangan hendak menampar ibu, namun tangan bapak lebih cepat menahannya.
"Kalian berdua? Kalian... " Nenek menatap tak percaya pergelangan tangannya yang di cengkram bapak. Aku sedikit meringis itu pasti sakit, apalagi nenek sudah tua tubuhnya kurus dan ringkih hanya ada kulit pembalut tulang.
"Pak, cukup. " Aku menyentuh lengan bapak. Laki-laki yang sudah gelap mata itu menatap ku aku tersenyum menenangkan berharap bapak kembali sadar.
Bapak menghempas tangan nenek sedikit keras sehingga tubuh tua itu tersentak mundur kebelakang.
" Ibu tiri, ingat itulah yang ibu katakan pada malam itu, aku hanya anak tiri yang tidak ibu inginkan yang ibu benci, jadi jangan datang kerumah ku lagi, sekarang pergi dari sini, pergi!! "Tegas bapak mengusir nenek.
Wajah nenek berubah pucat ia menatap bapak dengan mata berkaca-kaca. Matanya membola seketika melihat nenek uti keluar dari dalam rumah.
"Apa yang kau lakukan disini?, kenapa ****** seperti mu ada dirumah anak ku? "Mata nenek menajam menelisik penampilan nek uti yang tampak bersih terawat ditambah pakaian yang dia pakai menggunakan bahan lembut dan halus. Membuat matanya semakin melotot penuh kebencian.
" Siapa yang ibu panggil ******, dia ibu kandungku, wanita yang sudah melahirkan aku. Dia disini karena aku anaknya. Sudah cukup selama ini ibu terus menyakiti ibu kandung ku,aku tidak akan membiarkannya lagi. "Bapak meluapkan amarahnya.
" Tidak, tidak anas, aku ibu mu, wanita ****** ini sudah mengacaukan keluarga kita, dia itu wanita jahat, jangan percaya padanya. Ibu mohon usir dia dari sini, dia tidak pantas, dia tidak pantas. "Nenek memohon dan terus menyalahkan nek uti.
" Kak rat sudah cukup! Aku diam selama ini karena anak ku tinggal bersama kakak, kakak bahkan tega mengatakan anas sudah meninggal sementara dia masih hidup dengan sehat. Aku bukan ******, dan tidak pernah mengacaukan keluarga kakak, silahkan tanya suami kakak, dia lebih dari tau siapa pengacau sebenarnya. "Nek uti mengeratkan genggaman pada tongkat kayunya, tubuhnya gemetar, luapan kekecewaan dan sakit hati terlalu berat menekan pundaknya. Sudah saat nya nenek melepaskan semua beban itu.
" Apa!! Jadi kau menyalahkan aku orang tua kami yang menjodohkan aku dengan suamiku, sedangkan kau wanita ****** yang menelusup kedalam pernikahan kami bahkan sampai melahirkan dua anak dari suamiku, kau itu ****** tidak tau malu. "Nenek terlihat seperti orang yang paling tersakiti. Sedangkan dari cerita bapak yang kudengar nek uti dan kakek merupakan sepasang kekasih yang saing mencintai mereka terpaksa dipisahlan karena nenek terus merengek ingin menikah dengan kakek.
Dulu orang tua kakek memiliki banyak hutang pada kedua orang tua nenek, dan hal itu dijadikan ancaman agar kakek mau menikahi nenek kalau tidak keluarga nenek akan mengusir dan mengambil rumah yang mereka tempati. Hubungan kakek dan nek uti terus berlanjut, karena kakek yang terus datang menemui nek uti, maka lahirlah bapak dan hubungan itu tidak berhenti sampai nek uti hamil lagi dan melahirkan paman sibay, sejak saat itu nenek mengancam kakek, kalau kakek masih berhubungan dengan nek uti maka nenek akan melenyapkan kekasih nya itu.
Kakek yang teramat mencintai nek uti akhirnya terpaksa memutus hubungan dengan nek uti. Sampai sekarang mereka berdua benar-benar tidak terlibat hubungan apa-apa lagi.
"Sudah cukup, sekarang pergi dari sini, jangan ganggu keluarga ku lagi, anak tiri yang ibu bemci itu sudah mati, yang ada disini sekarang adalah anas putra ibu tuti. Sekarang pergilah. "Bapak mengusir ibu tirinya tanpa mau melihat wajah nya, ia merangkul kedua bahu nek uti dan membawanya masuk kedalam.
Ibu juga ikut masuk kedalam rumah, dan memberiku kode melalui mata agar aku juga mengulikutinya.
Aku sedikit merasa kasihan ttetapi apalah daya hukum tabur tuai sepertinya akan segera mereka rasakan. Aku menutup pintu dan mengunvinya meninggalkan nenek berteriak diluar rumah.
" Anas!! Anas!! Sena, siah buka pintunya, seret ****** itu keuar, dia tidak pantas disini, dia itu wanita yang sudah mengacaukan keluarga kita. "Nenek terus berteriak di iringi suara gedoran pintu yang cukup keras.
Karena kami tidak mengcuhkan nya dan juga mungkin karena sudah lelah akhirnya nenek pergi dari rumah. Dari jauh aku masih dapat mendengar omelanya.
Aku masuk kedalam rumah melihat semua orang berkumpul diruang tamu, ibu dan bapak tampak menenangkan nenek yang menangis, aku tau pasti nenek merasa sedih dengan ucapan mak lampir tadi. Andai saja dia belum tua pasti aku akan memberikan pukulan maut padanya, sayang sekali aku tidak bisa menunjukan jurus budha melompati tembok tadi. Aku terkekeh sendiri mengingatnya.
"Hei!! Nenek sedang bersedih kau malah cengengesan disini. "Tegur elis yang melihatku nyegir kuda. Aku semakin terkekeh melihat wajah bingung elis yang terlihat lucu. Sebuah pukulan keras mendarat dilenganku, kebiasaan elis yang ringan tangan, gadis yang terlihat lembut namun sesungguhnya sangat kasar. Akumeninggalkan ruamg tamu dan masuk kedalam kamar, rasanya lelah sekali menyaksikan drama ikan terbang tadi. Aku berbaring di atas ranjang dan mencoba tidur sampai makan malam tiba.
***