Meta For Siah

Meta For Siah
Keanehan gunung terlarang



Saat burung mulai berkicau dan matahari menyebarkan cahayanya. Aku dan dodo keluar dari kediaman killer dengan keranjang dipunggung. Tempat sayuran liar yang akan kami kumpulkan nanti.


Saat melewati beberapa orang desa aku mendengar mereka bisik-bisik, aku tidak dapat mendengar apa yang mereka katakan tapi aku bisa merasakan kalau mereka sedang membicarakan ku.


Dikehidupan ku dulu aku sudah terbiasa menghadapi tajamnya lidah tetangga. Jadi jika disini sekedar bisik-bisik saja itu masih bisa aku atasi. Namun yang membuat aku merasa sedih adalah di dua kehidupan ku kenapa garis takdir ku masih saja jadi bahan gunjingan orang.


Aku membuang nafas lelah begitu tiba di gunung belakang rumah. Aku tidak pergi kegunung dibelakang rumah kepala desa lagi. Karena aku merasa gunung bintang memiliki sumber daya yang lebih banyak.


"Mengapa kalian berdua kesini lagi? " Teriak bapak saat melihat aku dan dodo.


Bagaimana cara mengecoh bapak dan dilang agar aku bisa masuk ke gunung terlarang itu.


Aku tidak percaya jika ada sesuatu yang dilarang dihutan ini. Kalau soal hewan buas dimana pun rimbanya sudah pasti ada hewan buaskan.


"Kami mau mencari sayuran liar, bapak dan kakak pertama lanjutkan saja pekerjaan nya. Kami bisa jaga diri. " Ucap ku.


Saat ini bapak dan dilang sudah mulai menyebar bibit padi. Dan menyemai beberapa sayuran seperti bawang, cabe, kentang dan wortel.


"Jangan terlau dekat kekaki gunung. " Peringatan bapak seperti biasa.


Aku dan dodo mengangguk kemudian mulai berjalan menyusuri pematang sawah. Aku memandangi gunung bintang sejenak. Sebelum melanjutkan langkah kaki.


Saat ini kami berada tepat dikaki gunung. Aku berjalan dengan mata awas memperhatikan kalau-kalau ada hewan yang berbahaya. Ditanganku saat ini ada sabit kecil yang cukup tajam.


Ada pohon bambu yang cukup banyak tumbuh disana. Sesekali aku berjongkok memotong bambu muda dan memasuk kan nya kedalam keranjang.


Suara angin berhembus kencang sampai membuat ku dan dodo tersentak. Aku menoleh kebelakang saat merasa ada yang memperhatikan ku. Dengan sedikit keberanian aku mengintip kedalam gunung. Hutan yang sangat lebat. Ada apa didalam sana, rasa penasaran dan keingintahuan ku terus menggelitik.


Tanpa sadar aku berjalan mendekati gunung tidak lupa aku juga menarik dodo agar mengikuti ku. Dengan jantung berdebar aku menyusuri jalan setapak seolah sudah sering dilewati. Bukan kah ini hutan terlarang? Tidak ada yang berani datang tapi dari mana asal jalan ini?


Langkah ketiga aku merasakan cengkraman kuat dilengan ku. Aku menoleh dan mendapati wajah pucat dodo. "Kakak cukup sampai disini. Sebaiknya kita pergi perasaan ku tidak enak. " Kata dodo dengan bibir bergetar seakan menahan tangis.


Aku meneguk ludah, yah tidak aku pungkiri aku pun merasa sangat takut. Ada semacam perasaan aneh yang bergejolak di dada ketika mata ku menatap jauh kedalam gunung. Aku seperti merasa ada sesuatu yang menunggu ku disana.


Aku memandangi wajah dodo dengan lekat. "Kalau kau takut maka tunggu aku disini, kakak akan masuk tidak akan jauh hanya sekedar mengintip. " Ucapku.


Aku kembali melanjutkan perjalanan namun lagi-lagi langkah ku terhenti saat dodo menarik lengan ku. "Apalagi . " Geram ku melihat dodo yang terus menghalangi ku.


"Aku ikut. Aku tidak bisa membiarkan kakak masuk sendiri. " Katanya dengan tenang. Aku tersenyum tipis dan merasa sedikit terharu. Jelas-jelas dia takut, tapi masih memaksakan diri karena tidak ingin aku masuk sendiri. Tidak sia-sia kedekatan ku dengan dodo dua bulan ini, hingga membuat hubungan kakak adik diantara kami semakin terasa.


****


Aku menarik nafas sejenak sebelum masuk kedalam hutan yang lebat itu. Sabit ditangan ku sesekali melayang memotong akar dan ranting yang menghalangi jalan.


Aku berjalan dengan tenang. Dengan mata terus waspada. Banyak ilalang tumbuh subur setinggi dadaku. Jantung ku kembali berdebar saat aku mulai membela ilalang menggunakan sabit. Sengaja aku sedikit mematahkan dan menginjaknya agar lebih mudah menandai jalan masuk ku.


Didepan ku hutan yang amat lebat tumbuhan liar hidup subur banyak bunga bermacam warna. Kaki ku terasa berat saat melangkah ditambah cengkraman kuat dilengan ku. Aku melirik dodo yang semakin pucat.


Baru tiga langkah. Aku mendengar sayup-sayup suara seorang wanita memanggilku.


Degh. . .


Suara itu, aku mengenalnya, tapi tidak mungkin bagaimana mungkin.


"Meta."


Aku tidak salah dengar itu suara ibu, beliau memanggilku, wajah ku terasa dingin. Antara menahan dingin dan menahan takut aku menoleh kebelakang masih dengan posisi berdiri tegak.


Seketika mata ku membulat, jantung ku semakin berpacu dengan cepat meski udara terasa dingin tapi keringat membasahi kening hingga keleher ku. Bahkan aku tidak bisa meneguk ludah ku.


Ibu?


Bukan, bukan ibu ku yang ada disana, tapi ilalang itu? Ilalang yang tadi kutebas dan injak-injak kembali berdiri tegak seperti semula seolah belum pernah ada yang melewatinya. Jantung ku berdetak cepat aku terdiam sampai tidak bisa berfikir jernih, keterkejutan ku masih belum reda hingga terdengar suara grasak grusuk tak jauh dari tempat kami berada.


Dengan sedikit kesadaran yang aku miliki, aku menarik tangan dodo dan berbalik badan, aku berlari sekuat tenaga menerobos ilalang itu. Aku membuang nafas lega ketika berhasil keluar dengan dada kembang kempis aku terus berlari hingga tiba ditepi sungai.


Suara retakan yang cukup keras didalam hutan terdengar membuat aku langsung memeluk tubuh bergetar dodo. Angin berhembus semakin kencang. Awan gelap mulai menyelimuti langit yang tadi cerah namun tiba-tiba menjadi mendung. Bulu kuduk ku merinding saat merasakan ada mata tajam yang menatap kearahku.


Suara petir menggelegar seketika aku dan dodo terlonjak dengan tubuh gemetar aku menarik dodo menuju tempat bapak.


Dilang berlari mengejar kami ketika melihat aku terjatuh dipematang sawah. Dodo bahkan tidak bisa lagi berjalan saking lemasnya.


"Ayo pulang, sepertinya badai akan datang. Melihat awan yang sangat gelap mungkin juga akan segera turun hujan. " Ucap dilang menjelaskan. Ia mengendong dodo dipunggungnya. Sementara aku berpegangan dilengan dilang.


Aku tidak mengira dengan apa yang baru saja terjadi. Semua seperti mimpi dan itu mimpi yang sangat menakutkan.


Rintik hujan mulai turun aku dan dilang mempercepat langkah. Bapak langsung mengambil keranjang dipunggung ku saat kami berada didekatnya.


****


Malam hari ibu dan elis tidak tidur karena harus menjaga dodo. Bocah itu mengalami demam. Suhu badan nya naik setelah makan malam. Aku tidak tau, demamnya itu disebab kan karena kehujanan atau karena terkejut akibat kejadian digunung sore itu.


Aku sedikit menyesal karena memaksa untuk masuk kedalam gunung. Meski begitu rasa penasaran ku juga sudah terbayar dengan kejadian yang aku lihat.


Jadi penyebab orang-orang desa yang tak kembali saat masuk kedalam gunung itu adalah karena tersesat. Ini cukup aneh, apa tumbuhan di hutan itu memiliki kesadaran? Ingat ilalang yang aku injak lalu kembali lagi seperti semula, jika aku tidak mendengar suara ibu memanggil ku saat itu, tentu aku sudah masuk kedalam hutan tanpa menyadari keanehan itu.


Lalu orang-orang yang tersesat itu kemana perginya? Apa mereka dimakan hewan buas?


Aku kembali penasaran, tapi aku juga tidak ingin masuk kesana lagi. Gunung itu benar-benar mengerikan. Ditambah oleh suara retakan yang aku dengar lalu juga perubahan cuaca yang tiba-tiba.


Banyak pertanyaan yang terlintas dalam pikiran ku, hujan terus mengguyur desa sampai tengah malam untung saja badai telah reda, kalau tidak aku tidak tau apa rumah ini bisa bertahan sampai pagi atau tidak.


Kelopak mata yang mulai memberat, rasa kantuk juga menghampiri aku mulai tertidur dengan membawa rasa penasaran yang terus menghantui ku. Aku akan mencoba menvari tahu rahasia apa yang ada digunung terlarang itu.


*****