Meta For Siah

Meta For Siah
Bisnis baru



Aku melirik ibu dan nenek sekilas, diluar hujan turun dengan deras. Ibu benar-benar melayani nenek dengan baik. Dodo juga tampak senang karena nenek beberapa kali mengelus kepalanya. Sedangkan dilang masih menjaga jarak seperti orang asing, aku tidak terlalu khawatir karena aku sudah memberikan pengertian kepada nenek terkait sifat dilang yang dingin dan cuek.


"Ibu tambah lagi nasinya, makan yang banyak agar tubuh ibu kembali pulih. "Ibu menatap nenek dengan senyuman.


Mata sayu itu menatap ibu diiringi senyum lebar dibibirnya dan anggukan pelan dari kepalanya yang telah memutih.


"Terimakasih, kalian sudah menjaga ibu. " Lirih nenek.


"Apa yang nenek katakan, nenek itu wanita yang sudah melahirkan bapak, nenek keluarga kami, sudah seharusnya kami berbakti pada nenek. "Elis tersenyum. Hatinya ingin menebus waktu bertahun-tahun yang dia lewati tanpa kehadiran wanita tua itu.


Selama ini mereka selalu diperlakukan tidak adil dikediaman killer, karena bapaknya bukan anak kandung dari nenek, sehingga mereka pun ikut disisihkan. Hingga dia dan adik-adikny tidak pernah merasakan kasih sayang seorang nenek.


"Benar, kita adalah keluarga, kalian adalah anak dan cucuku. "Mata nenek terbuka lebar meskipun masih sayu.


Elis meletakan sebutir telur kedaam piring nenek. Wanita itu tersenyum dan memakan telur rebus itu hingga habis.


Selesai makan malam aku dan ibu mengantar nenek kedalam kamarnya yang bersebelahan dengan ibu dan bapak, sengaja aku tempatkn disana jika terjadi sesuatu ibu dan bapak pasti akan segera tau.


Setelahnya aku kembali kedalam kamar, "harusnya dari dulu aku sudah menjemput nenek, kasihan sekali hidupnya. " Sesal ku yang saat ini tengah berbaring diranjang.


Duar...


Suara petir menyambar mengeluarkan suara letusan yang cukup keras. Aku yang sedang terbengong teronjak kaget, kulihat luwi disampingku yang tadi sudah tidur juga terbangun. Hujan semakin deras bersamaan dengan angin ribut.


Aku jadi teringat dengan tanaman tomat yang ditanam dilang, buahnya sudah matang dan sebentar lagi sudah bisa dipanen, kalau hujan lebat sampai pagi, bisa-bisa buahnya berguguran ketanah. Aku beranjak dari ranjang dan melangkah menuju balkon begitu pintu aku buka seketika angin bersama hujan langsung menerobos masuk sehingga separuh lantai kamarku dibasahi air hujan. Aku kembali menutup pintu dengan susah payah karena angin berhembus cukup kencang sehingga ia menahan pintu yang aku dorong.


"Huft... Gila sih ini, badai topan kali ya, kok kenceng banget. " Aku naik kembali keatas ranjang dengan nafas ngos-ngosan.


Aku membaringkan tubuhku kekasur luwi langsung beringsut mendekat kearah ku, sepertinya anak itu kedinginan. Aku tersenyum gemas melihatnya yang manja.


"Selamat malam dan selamat tidur luwi. " Bisik ku sambil memejamkan mata berharap suara petir tidak muncul lagi.


***


Pagi ini rumah sudah ramai didatangi beberapa warga desa yang datang menghiasi rumah karena besok acara pernikahan dilang akan diadakan secra meriah, kami mengundang bibi-bibi desa untuk membantu memasak dan membersihkan rumah.


Melihat pemandangan seperti ini membuat ku merindukan kampung halaman bapak dimedan, biasanya jika ada acara seperti ini para tetangga akan datang membantu entah itu memasak atau sekedar meramaikan pesta serta anak-anak yang berlarian kesana kemari tak lupa jajaran pedagang juga datang memenuhi jalanan. Air mata ku menitik rasa sesak memenuhi dadaku.


"Hufft... Sakit sekali. Merindukan sesuatu yang tidak bisa ditemui itu rasanya sakit sekali. " Aku memukul dadaku yang terasa sakit. Hingga tiba-tiba kakiku terasa basah karena luwi menjilat nya sambil menatap kearah ku. Aku terkekeh meihatnya. Anak ini selalu tau kalau aku sedang bersedih, dan dia pasti mencoba menghiburku.


Aku melangkah kan kaki melewati bibi-bibi yang sedang memasak tujuan ku ingin kebelakang rumah melihat keadaan tanaman yang semalam dilanda hujan.


"Semakin cantik aja siah, apa resepnya ini. " Ucap salah seorang wanita bertubuh gempal yang sedang mengupas bawang.


Aku tersenyum pada bibi itu. "Resepnya cuma satu bibi... "Aku menjeda kalimatku agar mereka penasaran.


"Apa? " Bibi yang lain bertanya semakin penasaran.


"Sabar dong bi... Jadi kalau mau cantik seperti aku, maka para bibi hanya perlu melakukan satu hal, yaitu, selalu bahagia. Itu kuncinya. " setelahnya aku permisi melanjutkan langkah kebelakang rumah.


" Benar yang dikatakan siah, kita harus bahagia biar awet muda, jangan mau kalah sama anak-anak yang baru dewasa. "Aku terkikik geli mendengar perkataan bibi-bibi itu sembari mempercepat langkah kaki.


Ya ampun, aku terperangah melihat keadaan kebun belakang rumah semua sayur terendam air, dan yang paling membuat ku terkejut semua buah tomat sudah mendarat ditanah yang berair, kulihat dilang, bapak dan dodo sedang mengumpulkan buah tomat itu kedalam keranjang. Aku mendekat ketempat salah satu keranjang yang sudah penuh buah tomat.


Alis dilang bertaut kala melihat ku tersenyum lebar padanya. "Sepertinya kau sudah memikirkan nya. " Aku bangkit sambil menepuk-nepuk kedua telapak tangan lalu menyeka kebaju.


Dengn tangn berlipat didada aku berdiri didepan dilang. "Kak, setelah menikah kau jadi pintar, apa jiwa suami bertanggung jawab sudah muncul di otak mu. " Aku terkekh melihat wajah dilang yang berubah semakin datar.


Ia menjentik kening ku sedikit kuat hingga aku meringis dibuatnya, tidak main-main itu beneran sakit sekali.


"Kenapa memukul ku, kalau otak ku bergeser dan jadi bodoh bagaiman? "Bukannya tertawa dia malah berkacak pinggang melihatku dengan alis terangkat, dasar manusia batu.


Aku berdehem dan mulai serius, aku meminta dilang membawa semua buah tomat pulang karena aku sendiri yang akan mengolahnya.


" Untuk apa semua tomat ini? "Tanya para bibi yang aku minta menghaluskan buah itu.


" Udah bibi tenang,lihat hasilnya saja nanti. "Gaya ku sudah seperti bos suruh ini itu dan untungnya mereka mau saja ku mintai tolong.


Sebagian tomat lain dipotong dua lalu dibuang bijinya.


" Nah sudah halus semua nya bibi? "


"Sudah." Jawab mereka serempak.


"Baiklah, masukan semua tomat halus beserta cabe dan bawang putih halus kedalam kanca. " Dan mereka segera melakukan sesuai yang aku instruksikan.


"Masak air ini sampai mengental dan mengeluarkan bau harum. Oke selanjutnya...." Aku beralih ketomat yang dipotong dua tadi, aku juga meminta mereka memasaknya kedalam kanca lalu menambahkan gula batu karena tidak ada gula pasir disini.


Selagi menunggu dua masakan itu selesai aku meminta bibi-bibi itu lagi memasak gorengan bakwan atau bala-bala. Mencampur kol dan wortel dengan tepung beras yang ditumbuk halus ditambah sedikit kunyit dan bumbu.


Beberapa jam setelahnya. Dua kanca itu sudah diangkat dari tunggku, aku mengambil satu buah bakwan dan mengoleskan pasta kental yang dibuat dengan tomat tadi lalu memberikan keoada salah satu bibi yang berdiri didekat mu.


"Bibi coba lah. " Wanita itu langsung mengambilnya , tidak ada keraguan dia langsung melahapnya, semua orang disana menunggu reaksi sibibi yang mengunyah bakwan itu dengan mata melotot. Lalu menganggukan kepala.


"Gimana sar, jangan diam saja kamu, kita dari tadi nungguin kamu bersuara malah angguk-angguk saja tu kepala. " Ucap seorang wanita paruh baya yang tampak kesal.


"Enak, pedes, manis sedikit asam. " Ucapnya mengacungkan dua jempol kearah kami semua.


"Ibu-ibu, disaring dulu ya biar hasilnya lebih halus dan lebih enak tentu nya. "Aku beralih kekanca yang satunya lagi, disana buah tomat yang dimsak dengan gula juga sudah matang sekarang bentuknya sudah mirip seperti buah kurma.


" Bibi silahkan dicoba. "Sekali lagi aku meminta mereka mencobanya.


" Manis legit, enak. "Pujinya seraya memasukan lagi kedalam mulutnya.


" Suah kesini sebentar, bibi mau bicara. "Seorang wanita parih baya yang masih cantik memanggilku agar mendekat. Segera aku beranjak dan melangkahkan kaki kesana.


" Sebenarnya ini apa siah? Bibi penasaran, ini baru pertama kali bibi . "Kata istri kepala desa itu dengan penasaran.


" Yang kental dan pedas itu namanya saos sambal. Sedangkan yang manis namanya kurma kw, atau bisa bibi sebut manisan tomat. "Aku menjelaskan sambil memakan gorengan bakwan kesukaan ku, hmm, andai ada tahu juga pasti akan semakin enak.


Kulihat kumpulan bibi-bibi itu mangut-mangut, entah mereka paham penjelasan ku atau tidak itu tidak penting yang mereka pedulikan adalah hasilnya.


Ketika mereka pulang aku memberikan sedikit saos sambal dan manisan untuk mereka bawa. Sisanya aku minta dilang menjual nya kepasar. Tidak lupa dengan gorengan bakwan juga sebagai promosi. Sepertinya ini akan menjadi ladang bisnis baru untuk kami.


***