Meta For Siah

Meta For Siah
Mengamuk



"Paman mu semuanya bekerja di kota, mereka itu seorang pelajar, tidak pernah bekerja diladang, tidak mengerti bagaimana bercocok tanam. "Jelas nenek panjang lebar membangga kan anak-anak nya.


Lalu? Apa guna nya menceritakan ini padaku?


"Jadi? Langsung saja nenek, aku bukan orang cerdas yang akan paham maksud perkataan nenek. "


"Jadi, karena bapak mu, sudah bisa bertanggung jawab untuk keluarganya sendiri, dan tidak menggarap ladang untuk kami lagi, dan kami juga sudah memberikan nya tanah yang sangat luas, jadi kalian harus ada sedikit ucapan terimakasih. "


Kening ku berkerut, kepalaku rasanya berputar-putar mendengar kalimat yang keluar dari mulut nenek. Dan sayang nya itu belum berakhir.


"Jadi, karena paman mu seorang pelajar dan tidak mungkin mereka turun keladang, maka setiap kali masa panen kalian harus memberikan sebagian hasil ladang itu pada kami. "


Ha! Ya ampun, sepertinya aku akan gila, untung saja elis datang dan memegangiku kalau tidak, mungkin aku sudah terjatuh saking lemasnya mendengar permintaan konyol dari ibu tirinya bapak ku ini. Ringan sekali mulutnya itu bicara, memang otak nya itu tidak berfungsi dengan baik.


Aku meremas rambutku sedikit kuat, kepala ku rasanya mau pecah, jadi begini rasanya bicara dengan orang gila? Bicara dengan orang gila bisa membuat kita jadi kurang waras juga.


"Sampai kan pada bapak mu nanti. "Nenek kembali bicara. "lalu apa yang tadi kau bawa? Berikan sedikit pada bibi mu, mereka akan memasak untuk makan malam nanti. Kasihan sepupumu, beberapa hari ini mereka tidak makan dengan baik. "


Mataku sudah berkunang-kunang, rasanya aku ingin pingsan. Kasihan? Yang benar saja.


"Kenapa tidak menyuruh mereka mencari makanan, kenapa harus minta padaku? "Protesku lirih.


Mereka saling lirik. Tampak gena mengeratkan rahangnya.


"Kalau bicara yang jelas siah, mereka ini masih kecil, lagi pula mereka juga harus belajar dirumah, dan juga tidak terbiasa kotor-kotoran. Beda dengan kau yang sudah lincah kesana kemari. "


"Cukup."bentak ku dengan suara tinggi. Elis mengusap punggung ku agar aku lebih tenang. Habis sudah kesabaran ku. Aku tidak bisa lagi mengendalikan diri. Tidak biasa kotor-kotoran? Beda dengan ku? Dia pikir aku ini kerbau ya!


" Memang nya aku sudah dewasa? Usia ku sepantaran dengan sampaah ini. "Aku menunjuk gena dengan mata tajam. Tampak wajah gena yang merah karena tak terima dengan ucapan ku yang mengatainya sampah.


Mata mereka terbelalak.


" Asal kalian tahu saja, aku juga tidak biasa, tapi harus aku lakukan karena kalian begitu jahat pada keluarga ku, itu karena anda sangat pilih kasih sebagai nenek. Kalau aku bisa mencari makan sendiri, mereka juga pasti bisa. "Mataku menatap dingin pada nenek. Orang tua itu tampak pucat, mungkin tidak menyangka aku akan bersikap seperti ini.


Wajah bibi pertama dan gena sudah merah padam menahan amarah.


" Kan sudah bibi beritahu, mereka harus belajar dirumah. Kau ini kenapa sih siah, sama keluarga sendiri pelit nya minta ampun. "


Ha? Apa mereka ini pengikut iblis lucifer? Mereka ini pasti seetan aku yakin.


"Pelit apa bibi? Siapa yang pelit disini? Siapa yang bibi bilang keluarga?" Aku diam sebentar, mengatur emosiku yang sudah siap meledak. "Aku tidak peduli mereka harus belajar atau tidak, itu bukan urusan ku. Bahkan jika mereka mati kelaparan aku juga tidak peduli. Kenapa kalian menganggap kami keluarga? Bersikap saja seperti biasa, menghina dan memaki kami. "


Aku muak, aku ingin pergi dari sini, aku ingin pulang. Aku tidak sanggup. Hidup mu terlalu berat siah, kenapa kau membawa aku kemari siaalan. Aku mengutuk dalam hati.


"Bibi, bisa kah bibi membawa nenek kerumah utama, nenek sudah terlihat lelah, akan bahaya kalau berdiri terlalu lama. "Elis yang dari tadi diam berusaha menghentikan perselisihan kami.


"Kau ini! Sama saja seperti adikmu, kalau tahu ibu mertua tidak kuat berdiri lama, kenapa tidak kau suruh masuk dan duduk didalam. " Sengit bibi pertama. "Memang dasarnya kalian ini tidak punya tata krama, sama-sama tidak tau diri. "


Lama-lama ku banting juga nih orang, andai ada mesin penggiling dalam mulutku, sudah aku kunyah manusia astral ini sampai *****.


Elis terdiam dengan kepala menunduk. Aku sedikit kesal melihat ketakutan dimatanya, tapi mau bagaimana lagi, dia sudah biasa ditindas.


Aku ingin tetap waras, aku mau hidup tenang, jadi aku harus mengusir mereka sebelum aku ketularan gila.


Tiba-tiba saja aku tertawa dengan keras, sehingga mereka menatap ku dengan pandangan bingung.


Bukan nya tersinggung tawa ku semakin meledak mendengar ucapan gena, semakin lama tawa ku terdengar semakin mengerikan.


"Kau sudah gila ya apa yang kau tertawakan. " Aku dapat melihat tiga orang itu mulai takut. Bahkan elis yang berada disampingku mundur kebelakang melihat tingkah aneh ku.


Sepanjang perdebatan tadi, aku dapat menyimpulkan, bahwa untuk menghadapi orang gila, kita harus jauh lebih gila lagi.


Aku membuka pintu dan masuk kedalam rumah,tak lama aku keluar lagi, ketiga orang itu terkejut mendapati sapu ditangan ku.


Bibi pertama melotot menatap ku. "Jangan macam-macam kau siah. "


Aku memyeringai. "Kenapa? Takut? Bukankah kalian bilang aku gila? Biar aku perlihatkan seberapa gilanya aku. "


"Hentikan." Tiba-tiba suara kakek terdengar. Ia mendekati kami. "Lancang." Hardik kakek dengan suara keras. Aku sampai terperanjat dibuatnya. Sapu yang ada ditangan ku terlepas dan jatuh.


"Berani-beraninya kau mengangkat tangan pada nenek dan bibi mu! "Kakek menggertak kan giginya melihat kearah ku.


Aku mengerjapkan mata sembari menoleh pelan kearah sapu yang tadi ku pegang. Lalu aku mendongak terlihat gena dan bibi kedua menatap sinis kearah ku.


" Mereka yang datang dan membuat keributan dirumah ku. "Aku berkata dengan dagu terangkat.


Kakek menyipitkan matanya kearah ku. " Jangan lupa kau tinggal diatas tanah ku. "Sarkas kakek dingin.


Aku mengepalkan sebelah tangan, dalam hati tidak henti-hentinya aku mengutuk pria tua didepan ku.


" Kau masih kecil, tapi sudah bersikap kurang ajar seperti ini. Mau jadi apa kau saat dewasa. "


Mau jadi apa saat dewasa?


Tentu saja menjadi orang kaya. Dan disaat itu menangis darah pun aku tidak akan berbelas kasih pada kalian.


"Jangan mengulanginya lagi. " Ucap kakek akhirnya.


Aku menunduk hormat. "Baik kakek, maafkan aku. "


Gena tersenyum mengejek kearahku, aku balik mencibir dengan menjulurkan lidah. Gadis itu mendengus dan pergi dengan menghentak-hentak kan kaki.


Setelah mereka pergi elis menarik ku masuk kedalam rumah. Aku langsung terduduk lemas dengan kedua kaki ditekuk. Aku menunduk dengan tubuh gemetar. Seketika air mata ku tidak bisa lagi ditahan.


"Hiks. . . hiks. . . " Aku terisak. Elis mengusap punggung ku.


"Kenapa adik? Apa kau sedih dengan ucapan kakek tadi? " Tanya elis dengan suara khawatir.


Aku menggeleng. "Gue mau pulang, gue kangen bapak sama ibu. Gue nggak mau disini. Gue bukan siah. Huuhuuhuu. . . " Aku meraung sejadi-jadinya. Tidak peduli lagi jika elis bertanya maksud ucapan ku.


"Adik jangan seperti ini, kakak takut. Kau baik-baik saja? " Elis menarik tangan ku. "Ayo berdiri dulu, pindah ke atas ranjang. "


Aku yang lemas mengikut saja saat elis membawa ku keranjang. Aku duduk dan elis menyeka air mata ku. "Jangan menangis lagi, kau pasti lelah. Istirahat lah. " Mata elis berair. Ia menatap ku dengan wajah sedih.


Aku menarik nafas panjang, dan menghembuskan nya pelan. Aku sampai lepas kendali saking stres nya. Untung saja aku ini 𝘸𝘒𝘯π˜ͺ𝘡𝘒 𝘡𝘒𝘯𝘨𝘨𝘢𝘩 kalau tidak, sudah pasti aku bunuh diri karena tidak tahan menghadapi keluarga parasit itu.


****