
Tidak ada sepatah kata pun yang diucapkan sena diterima oleh ibu mertuanya. Karna pada dasarnya dia membenci anas yang terlahir dari wanita lain suaminya. Jadi entah itu benar atau salah dimata nya sama saja. Dia tidak suka dan dia tidak peduli.
Apa yang dilakukan siah sampai dia bisa menghasilkan banyak uang?sehingga mampu membeli kereta kuda dan memakan makanan enak setiap hari.
Semakin memikirkannya semakin marah pula dia, dia tidak ingin melihat keluarga anas hidup bahagia. Mereka tidak berhak bahagia. Melihat banyak nya hidangan diatas meja membuat rasa iri dihatinya semakin meningkat.
Kalian bisa makan se-enak ini sementara kami makan seadanya saja. Dengan perasaan penuh emosi dia memasuk kan semua makanan kedalam mangkuk dan membawanya keluar rumah.
"Pergilah, jangan kembali lagi, jangan ikut campur urusan keluarga ku. " Teriak sena dengan suara gemetar.
Mertuanya memukul dan menghina putrinya. Tapi masih mengambil makanan miliknya. Sena tidak habis pikir dengan kedua mertuanya itu. Apa mereka tidak punya rasa malu?
Setidaknya mereka masih punya harga diri kan?
Dia membanting pintu dengan keras sampai seisi rumah bergetar dibuatnya. Sena berbalik badan dan menatap nyalang pada suaminya. Dia menangis sesegukan. Suami bodohnya itu hanya bisa terdiam melihat perlakuan kedua orang tuanya.
Sejak awal menikah dengan anas. Sena menyadari kalau mertuanya tidak pernah menyukainya. Keluarga anas selalu pilih kasih dengan kakak iparnya mereka selalu bersikap baik sementara bersikap dingin padanya.
Fakta nya, anas selalu bersikap baik dan berbakti pada orang tuanya, dia bekerja siang malam diladang tanpa upah. Tapi usahanya itu tidak pernah dihargai.
Sena tidak ingin hidup seperti ini terus selalu diremehkan oleh ibu dan ayah mertuanya. Dia ingin hidup lebih baik dan tidak bergantung dengan mereka. Namun kenyataan nya dunia lebih kejam dari apa yang dia bayangkan.
Sena menangis tersedu-sedu. Dia sudah tidak sanggup lagi hidup bersama mertuanya. Melihat istrinya yang terpuruk anas mendekati istrinya dan memeluk dengan erat. "Maafkan aku buk, maaf. " Ucap anas lirih.
Sena mendorong dada anas. "Puas kamu pak, lihat putri kita. " Tunjuk sena pada siah yang masih belum sadar. "Dia dipukul sampai pingsan kamu diam saja. Mau menunggu kami mati dulu baru kamu melawan. " Teriak sena dengan suara keras.
Mendengar isak tangis sena, anas semakin erat memeluknya. "Maafkan aku buk, kau tau sendiri meski aku bicara pun mereka tidak akan mengerti, mereka membenci aku buk. "Kata anas frustasi.
Anas merasakan sakit yang sama seperti sena, dia juga tidak ingin kehidupan rumit seperti ini namun dia sadar diri. Ini adalah harga yang harus dibayar karena dia sudah terlahir dari wanita yang sudah dibenci ibu tirinya.
Isak tangis sena mulai mereda. Ia melirik keatas ranjang melihat siah masih terbaring. Airmatanya kembali keluar lagi.
Anas menepuk pundak sena. "Lihat lah putri mu, jangan menangis lagi. Dia butuh kamu saat ini. "
Sena mengerti dengan menangis tidak akan mendapatkan apapun. Dia harus tetap kuat demi anak-anaknya. Jadi dia pun mengangguk dan berdiri menghampiri siah.
Sena duduk ditepi ranjang. "Siah, nak bangun sayang. " Sena mengusap pipi siah.
"Ambil air hangat lis, untuk kompres kepala adikmu. " Suruh sena. Dia melihat kepala siah agak membengkak.
"Baik bu. " Jawab elis. Dengan mata yang masih memerah elis berjalan kebelakang mengambil mangkok dan kain.
Sena mengompres kepala siah dan berharap putrinya segera sadar.
Eugh. . .
Terdengar suara siah. Ia meringis memegangi kepalanya yang terasa mau pecah.
"Kamu sudah bangun. " Tanya ibu yang sedang duduk ditepi ranjang ku.
Aku mengusap punggung tangan ibu mencoba menenangkan nya. " Ini bukan salah ibu. Jangan khawatir. Bu, sebenarnya aku dan kakak pertama tadi pergi ketoko bangunan. Aku berencana membangun rumah di lahan yang diberikan kakek. Bagaimana menurut ibu? "
Sena begitu sedih mendengar perkataan putrinya. Siah anak yang baik selalu memikirkan keluarga, dia tidak pantas mendapat perlakuan seperti ini. Sena melemparkan handuk kompres dan memeluk siah dengan derai air mata. "Putriku, ibu sangat berterimakasih, kau anak yang hebat, ibu bangga padamu. "
"Apa yang ibu katakan, aku putrimu, kenapa harus berterimakasih. " Aku mengusap air mata ibu. "Ibu, kita dihina karena miskin. Kita tidak butuh mereka. Jika kita kaya dan punya banyak uang, mereka akan datang dan menjilat kita dengan kata-kata manis. Jadi jangan pikirkan mereka lagi, ibu mengerti? "
Ibu mendongak menatap ku dengn penuh kasih sayang. "Tidak peduli apa pun yang terjadi kau adalah putri ibu. "
Degh. . .
apa maksud ibu, apa ibu mencurigai ku?Apa ibu tau kalau jiwa ini bukan putrinya lagi tapi jiwa orang lain? Tidak mungkin, tapi kenapa ibu bicara seolah tau sesuatu.
Ibu tersenyum dan mengusap kepalaku. "Jangan berfikir lagi. Tidurlah. "
Aku mengangguk. Biarlah, jika memang ibu tau dan bertanya aku akan mengaku saja. Lagi pula aku juga tidak ingin membohongi mereka dan terus berpura-pura menjadi siah.
***
Pagi hari sebelum matahari keluar dari persembunyiannya. Dilang dan anas bergegas pergi kegunung belakang rumahnya, karena hari ini bahan bagunan rumah mereka akan datang.
Dilang juga meminta bantuan beberapa orang desa. Mereka diberi upah dua keping perak setiap hari. Sementara dirumah, elis dan ibunya memasak untuk makan orang-orang yang bekerja.
Dizaman sekarang rumah yang paling bagus dibuat dengan batu. Rumah para bangsawan juga terbuat dari batu.
Aku mendesain sendiri bentuk rumah yang akan dibuat. Rumah besar dua lantai memiliki banyak kamar dan dapur besar yang cantik dan bersih. Kamar ku dan elis berada dilantai atas sementara kamar ibu, dilang dan dodo dilantai bawah. Ada dua kamar mandi dilantai bawah dan dilantai atas. Hanya saja dilantai atas agak kesulitan mengalirkan air karena disini belum ada listrik. Jadi terpaksa kami harus mengangkut air kesana.
Aku memutuskan menggunakan tema vintage sebagai desain interior rumah. Secara garis besar aku ingin rumah beratmosfer klasik. Lantai menggunakan batu granit dengan motif alam. Dinding yang terbuat dari batu tanpa cat aku ingin rumah ini terlihat seperti rumah jadul namun terlihat mewah. Aku juga merancang sebuah kamar mandi dengan toilet siram.
Semua orang bekerja dengan keras aku berharap rumah ini akan selesai dalam dua bulan ini. Karena orang desa tidak pernah membuat rumah model yang aku berikan jadi mereka merasa sedikit kesulitan namun juga bersemangat karena mereka mendapat pengalaman baru soal model rumah yang baru mereka lihat itu.
Namun tidak apa-apa, asal rumah ini selesai kami bisa segera pindah, dan terlepas dari keluarga toxit itu.
"Kakak, apa aku akan punya kamar sendiri? " Tanya dodo. Saat ini kami berdua sedang duduk dipinggir sungai.
Aku mengangguk. "Emm, kita semua punya kamar masing-masing. Nanti juga akan ada tangga, karena rumah kita ada dua lantai. "
Dodo bersorak gembira sampai melompat saking senangnya. Dia tampak tak sabar untuk segera tinggal dirumah baru.
Saat asik berbicara, kami berdua mendengar suara anak anjing kesakitan. Aku dan dodo saling tatap. Kami sama-sama mengerti. Kejadian beberapa waktu yang kami alami digunung terlarang masih teringat dengan jelas. Bahkan tangan dodo sudah bergetar sekarang.
"Itu suara apa kak? "
"Seperti anak anjing. "Aku menajamkan telinga, dan benar saja aku mendengar suara anak anjing seperti menangis dan merintih kesakitan. Aku bukan orang yang suka memelihara hewan. Apalagi hewan berbulu, entah kenapa setiap aku melihat hewan berbulu itu lewat didepan ku aku merasa bulu-bulunya masuk kedalam mulutku.
Jadi aku mengabaikan saja suara anak anjing itu. Namun perasaan ku menjadi gelisah ketika suara rintihan itu semakin terdengar aku merasa sangat kasihan mendengarnya dia seperti meminta tolong padaku.
***