
Jam hampir mendekati waktu makan siang, aku sudah tidak sabar untuk memamerkan pakaian-pakaian cantik yang kami pakai.
"Ada apa dengan mu kakak? " Tanya ku menatap elis.
Elis terlihat tidak tenang, ia terus gelisah seolah ada sesuatu hal yang rumit yang menjadi beban pikiran nya. Dia mengeluarkan keringat dingin sejak kami keluar dari toko tuan halbert.
"I-i itu. . . adik, kakak takut jika bisnis mu gagal dan membuat tuan halbert merugi, la-lalu bagaimana kita akan menggantinya. "Jawab elis jujur. Ia mengutarakan apa yang menjadi kekhawatiran nya.
Elis sangat takut juga sekaligus senang. Karena mereka sekarang memiliki bisnis dari pakaian yang digambar adiknya. Mereka akan menghasilkan banyak uang jika baju-baju itu terjual. Elis tidak meragukan kemampuan siah, gambar yang dia lukis memang sangat bagus. Namun bagaimana jika mereka tidak memiliki keberuntungan dalam bisnis ini dan membuat pemilik toko merugi?
"Kakak, tidak ada yang perlu kakak takutkan, jangan khawatir, semua akan baik-baik saja, bisnis ini akan berjalan lancar, tidak akan ada yang merugi. "Aku berusaha menenang kan elis. Sejujurnya aku sendiri juga merasa takut namun aku berusaha untuk tetap tenang.
Ini pertama kalinya aku melakukan hal besar seperti ini. Apalagi soal berjualan dan promosi, selama hidup ku, aku hanya tau menegadah kan tangan pada ibu dan bapak. Tidak pernah mencari uang sendiri, apalagi aku anak satu-satunya tentu saja orang tua ku begitu memanjakan ku. Tapi sekarang aku harus bisa mengandalkan diriku sendiri kalau tidak aku yang datang dari masa depan ini akan hidup menderita disini.
Aku harus membiasakan diri dengan semua hal yang ada dijaman ini. Aku juga harus belajar bagaimana cara bersikap seperti nona bangsawan.
Karena kedepannya jika bisnis ini lancar dan sukses, pasti namaku sudah mulai dikenal oleh orang-orang, terutama putri-putri bangsawan yang suka merancang baju untuk kepesta bisa saja dimasa depan mereka mencariku.
Apalagi tujuan ku selain mencari uang dan menjadi orang kaya aku juga ingin membalaskan dendam siah dan keluarganya.
"Emm, baik adik, kakak percaya pada mu. "Kata elis yang berusaha menghilangkan kekhawatiran nya.
Setelah beberapa lama kami Berjalan, aku dan elis berhenti tepat didepan kedai makanan.
Aku memutuskan kan masuk kedalam kedai bersama elis. Saat kami mulai duduk dimeja kosong seorang gadis yang memakai pakaian mewah melihat kearah ku dan elis tepat nya melihat gaun yang kami pakai.
Aku berusaha tetap tenang, aku tahu, pakaian kami terlihat mencolok karena model baju yang kami pakai tidak pernah mereka lihat. Terlebih baju itu sendiri sangat cantik dan moderen.
Gadis itu mengkode wanita yang sedari tadi berdiri dibelakang nya. Seolah paham maksud dari gadis itu, wanita yang berpakaian seperti pelayan itu langsung berjalan menghampiri meja kami.
"Maaf jika saya mengganggu waktu nona-nona. "Ucap pelayan itu membungkuk hormat.
" Oh, ada yang bisa saya bantu. "Tanya ku dengan ramah.
"Saya diutus oleh nona muda saya untuk bertanya, dimana kedua nona ini membeli pakaian yang nona pakai. "Jawab pelayan itu sopan.
"Apa saya boleh tau siapa nona muda mu. "Tanya ku masih dengan ramah.
"Saya pelayan pribadi nona elzia putri bangsawan aranjaya nona. "Jawab pelayan itu lagi.
Aku tersenyum senang. Melihat dari penampilan dan sikapnya yang tenang aku sudah menduga kalau gadis itu putri seorang bangsawan. Aku tidak tau dia bangsawan kelas rendah, menengah atau bangsawan tingkat tinggi tapi yang jelas dia adalah target pertama ku.
"Begitu ya. Kedua pakaian ini bisa dibeli ditoko tuan halbert yang ada di tengah pasar. Meskipun tokonya tidak terlalu besar tapi pakaian yang mereka buat sangat cantik dan berkelas. "Ujar ku yang di angguki oleh pelayan itu.
Pelayan itu tersenyum senang atas jawaban yang aku berikan, dia bersikap sopan karena aku juga memperlakukan nya dengan baik. Karena dijaman ini pelayan sama dengan budak, status nya yang rendah jarang ada orang bersikap baik dan ramah kepada pelayan sepertinya.
Aku memesan beberapa hidangan setelah pelayan itu pergi kembali ketempat nonanya. Elis yang duduk mematung menatap kosong kearah ku. Aku rasa dia tercengang melihat ku bicara ramah pada orang lain. Karena biasanya aku selau bicara bar-bar dan terkesan kurang ajar. Jadi aku memaklumi reaksi yang tampak berlebihan ini.
Kedepan nya aku akan lebih sering membawa elis keluar agar dia tidak terlalu kuno dan kaku. Terlebih dia seorang gadis yang sudah memasuki usia menikah, jika sering keluar seperti ini mungkin saja dia bisa menemukan jodoh nya disni.
"Makan, makanan mu kakak. "Pinta ku setelah pelayan menyajikan makanan diatas meja.
" Adik, aku merasa risih dengan tatapan orang-orang pada kita, aku tidak bisa menelan makanan kalau terus dipandangi seperti itu. "Kata elis ketika melihat banyak nya pengunjung kedai yang memperhatikan kami.
Berbeda dengan elis aku justru merasa senang karena tujuan ku yang sebenarnya memang untuk menarik perhatian orang-orang. Semakin banyak yang memperhatikan penampilan kami semakin banyak pula orang yang akan penasaran toko mana yang menjual baju seindah yang kami pakai.
"Jangan khawatir, mereka bukan melihat kita tapi gaun yang kita pakai. "Jawab ku lalu kembali memakan makanan. Aku mencoba mengabaikan mata-mata yang melihat kami.
Namun tiba-tiba dua orang wanita mendekati kami lagi, penampilan nya sama seperti pelayan yang tadi menghampiri kami.
" Ada apa? Apa kami menganggu kalian? "Tanya ku dengan alis terangkat.
"Ma-maaf kan saya nona, kalian tidak menganggu, kami lah yang datang menganggu nona-nona. "Jawab salah satu pelayan dengan takut-takut.
"A-apa kami boleh tau, dari toko mana nona membeli pakaian yang nona pakai. Mohon maaf jika pertanyaan ini kurang sopan, tapi nona kami sangat tertarik dengan pakaian nona. "Ujar pelayan yang satunya lagi.
Kedua pelayan itu terus memperhatikan penampilan ku dan elis. Matanya menatap kagum kearah kami berdua.
Aku mengangguk kan kepala pelan. " Katakan pada nona kalian baju ini dibuat oleh toko halbert, hanya toko itu yang memiliki gaun-gaun secantik dan seindah ini. "
Kedua pelayan itu langsung tersenyum puas karena telah mendapat jawaban atas pertanyaan nona nya. Setelah berterimakasih pelayan itu kembali kemeja nya.
Merasa sudah cukup, aku mengjak elis keluar dari kedai setelah mengabiskan makan siang. Aku akan kembali berkeliling pasar beberapa menit lagi sebelum memutuskan kembali pulang.
Seorang wanita mendekati ku dan elis saat kami sudah berada diluar kedai. Ia tadi melihat dua orang nona memakai gaun yang cantik dan indah memasuki kedai makanan itu. Gaun itu benar-benar menarik perhatiannya, sehingga wanita itu memberanikan diri untuk masuk dan ingin bertanya dari mana gadis itu membeli gaun-gaun cantik itu.
"Nona, boleh saya tau dimana nona membeli gaun yang nona pakai. "Tanya wanita itu. Matanya terus memperhatikan gaun-gaun yang melekat ditubuh kami.
"Ditoko halbert. Saya membeli nya disana, jika nona mau, datanglah besok, saya dengar banyak gaun baru yang mereka produksi dan akan mulai dijual esok hari. "Jawab ku dengan ramah. Mata wanita itu berbinar penuh semangat.
" A-a apa nona yakin? Aku pernah datang ketoko itu, pakaianyang mereka jual semuanya model lama. "Tanya nya tak percaya jika gaun yang aku pakai dibeli di toko halbert.
Wanita itu berfikir mungkin gaun itu dibeli di ibu kota atau dijahit secara khusus oleh seseorang.
Ia benar-benar terkejut tidak menyangka toko yang pernah ia datangi dulu sekarang telah membuat gaun seindah ini.
Dalam sekejap berita tentang toko halbert yang menjual gaun cantik dan modern itu sudah tersebar luas di kalangan putri bangsawan. Hal itu tentu saja menjadi awal yang baik untuk bisnis ku dan tuan halbert.
Setelah semua kain selesai dijahit aku meminta tuan halbert untuk mulai memajang gaun itu.
****