Meta For Siah

Meta For Siah
Bapak punya kami



Beberapa hari telah berlalu rumah kami hampir selesai tinggal memasang atap dan lantai saja. Dodo semakin antusias dan tidak sabar untuk segera pindah.


"Kakak, aku mau ranjang yang empuk. Lalu juga selimut yang lembut. " Pinta dodo yang menarik-nari tangan ku.


Saat ini kami berada dipasar. Aku dan dodo akan membeli perabotan untuk rumah baru. Kami diantar oleh dilang lalu laki-laki itu kembali pulang karena pekerjaan sangat banyak jadi tidak bisa ditinggalkan, nanti saat sore hari dia akan datang menjemput kami.


"Baiklah, tapi berhenti menarik tangan ku. " Tegur ku karena dodo terus saja menarik tangan ku seperti keledai.


"Hore. . . aku paling sayang kakak. " Ucap dodo bersorak senang.


Aku mencebik kan bibir. Tidak lagi terasa istimewah karen bocah ini terlalu sering mengatakannya.


"Jangan berteriak bocah, kau tidak malu sama luwi, lihat, dia diam dan patuh. " Sahut ku memarahi dodo.


Dodo melirik luwi yang berada dalam gendongan ku. "Maaf, tapi dia kan anjing, apa yang mau di hebohkan dia tidak mengerti apapun tentang ini. " Gumam dodo pelan dengan bibir cemberut.


Bocah ini benar-benar ya, aku tau luwi anjing. Bukan maksud ku menyamakan dengan dodo. Tapi, ah, ya sudah lah.


Aku mengelus kepala luwi. "Lapar ya? " Tanya ku lembut. Luwi menjilat tanganku. Ia mengesek-gesek kan kepalanya dengan manja.


"Huh! Sekarang kau lebih sayang pada anak itu dari pada aku. " Gerutu dodo.


"Ya, karena dia lucu dan menggemaskan. " Balasku tersenyum tipis.


Aku sungguh senang sejak ada luwi aku merasa sedikit terhibur dalam menghadapi peliknya kehidupan keluarga sih. Apa lagi beberpa hari lau saat kakek dan paman pertama dan kedua datang mengintrogasi keluarga ku.


"Benar kau mau bangun rumah anas. " Tanya kakek yang baru datang bersama dua putra nya. Sepertinya dia sudah mendengar berita itu.


"Jawab anas ayah bertanya padamu. " Bentak paman pertama karena bapak hanya diam tidak menjawab.


"Benar." Jawab bapak singkat.


"Apa!!!kenapa membangun rumah tanpa memberitahu kami dulu? Kau mau mempermalukan saudara mu ya. "Ucap paman partama lagi. membuat aku dan yang lain merasa bingung dengan maksudnya perkataannya itu.


" kenapa harus memberitahu paman? Memangnya paman akan membantu? Lalu sejak kapan bapak mempermalukan saudarnya? "Cecar dilang. Aku, ibu dan bapak sempat terkejut. Dilang yang biasa hanya diam seperti penonton sekarang berani bicara. Tapi aku cukup senang karen akhirnya dia sadar bagaimana harus membela keluarganya.


" Aku tidak akan membantu. Rumah itu, setelah selesai kami yang akan menempati. Sebagai anak tertua aku serta ayah dan ibu lebih pantas tinggal disana. Apa kata orang-orang nanti kalau kau tinggal dirumah besar sementara kami masih tinggal digubuk ini. "Ucap paman pertama dengan tak tau malunya. Kakek dan paman kedua malah mengangguk setuju dengan perkataan paman pertama.


"Boleh saja kalau kalian ingin tinggal disana. "Ucap ku membuat ibu, bapak, dilang dan elis terkejut. Mereka menggeleng menatap ku tak setuju.


Sedangkan kakek dan kedua paman ku itu tersenyum senang. Mereka berfikir telah berhasil merebut rumah kami hanya dengan menggertak.


" Tapi kalian harus kembalikan semua uang ku. "Sambung ku setelahnya.


Senyum kebahagian dibibir mereka langsung lenyap. " Uang apa? "Tanya paman kedua.


Aku tergelak dengan kebodohan mereka. " Katanya pelajar masa itu saja tidak mengerti? Memangnya membangun rumah pakai daun? Ya pakai uang lah. "


"Karena semua uang pembangunan itu memakai uang ku, tentu saja harus dikembalikan karena kalian ingin membeli rumah itu. "Jawab ku santai.


" Kami tidak bilang ingin membeli. Jangan mengada-ngada kamu. "Paman pertama mulai membentak dengan wajah marah.


" Kalau tidak ingin membeli kalian mau apa? Merampok? Merebut? Katakan kalian bagian yang mana? "Aduh seru sekali berdebat dengan mereka. Aku merasa lucu dengan keluarga bapak. Kok ada ya orang seperti mereka.


Kakek mengebrak meja. Tidak heran lagi, sepertinya itu kebiasaan nya. Dia pikir siapa yang membuat meja itu.


" Lancang sekali kau bicara. Tidak ada hormat-hormatnya sama sekali. Sudah saya putuskan rumah itu akan ditempati saya dan ibumu. Sebagai gantinga kalian bisa tinggal dirumah utama. "Putus kakek dengan tegas.


Aku melipat tangan didada, dilang dan bapak berdiri disamping ku sepertinya mereka berjaga-jaga jika kakek akan memukulku.


" Coba saja kalau berani! "Tantang ku . "Besok seluruh desa aster bahkan desa lande sampai ke ibu kota tempat paman bekerja akan aku buat heboh dengan berita perampokan ini. "Ucap ku dengan senyum seringai.


" Kau menantang kami? "Tanya paman pertama masih tenang.


" Kalian bisa mencobanya kalau tidak percaya. Tapi satu hal yang harus kalian tau. Aku tidak pernah main-main dengan ucapan ku. Jika berita itu tersebar. Reputasi keluarga kalian akan hancur. "Balas ku dengan tatapan merendahkan. Puas sekali melihat wajah pucat mereka.


Kakek adalah orang yang mementingkan reputasi dan kedudukan. Jika berita itu benar-benar tersebar pasti semua orang akan membicarakan mereka. Status pelajar anak-anaknya akan tercoreng. Mereka tidak akan berani mengangkat wajah saat bertemu warga desa. Lalu bagaimana mereka menjalani hidup jika sudah seperti itu.


Kakek terlihat bingung, ia menatap kearah ku, aku berikan seringai maut padanya. Kakek berdecak kesal lantas bangkit dari duduknya.


"Mulai hari ini, jangan panggil aku ayah lagi. Kami tidak ada hubungannya dengan mu. "Ucap kakek kemudian berlalu pergi bersama kedua paman.


Bapak terduduk di atas kursi. Ia memejamkan matanya, ibu mengelus punggung bapak memberikan ketenangan pada suaminya.


" Tidak apa-apa pak, meskipun bapak patuh pada kakek. Bapak juga tidak pernah mereka akui. "Ucap ku seraya duduk didepan bapak. " Bapak punya kami. Kami adalah keluarga bapak yang sebenarnya. Sebagai kepala keluarga bapak harus lebih kuat dari pada kami. "Tambah ku lagi.


Bapak membuka matanya, ia menatap kami satu persatu dengan mata berkaca-kaca. Kemudian bapak tersenyum tipis . " Terimakasih, kalian semua keluarga bapak. Istri dan anak-anak ku. "Ujar bapak memeluk ibu, kami pun ikut memeluk bpak dan ibu kecuali dilang sepertinya dia masih gengsi padahal tadi aku lihat matanya juga berair.


***


" Kakak aku juga lapar bukan hanya luwi. Kau jahat padaku. "Ucap dodo merajuk.


Aku tertawa melihatnya. " Ya sudah ayo kita makan dulu. "Ajak ku. Kemudian kami bertiga pergi mencari kedai untuk makan siang.


Kami memasuki kedai yang tidak terlalu ramai pengunjung, setelah selasai makan aku terlebih dahulu pergi ke toko tuan hulbert, karena sudah satu minggu aku tidak mengambil uang bagian ku. Karena selama itu aku tidak datang keoasar karena sibuk mengwasi para pekerja yang membangun rumah.


"Wah, kakak, kau benar-benar sudah kaya sekarang. " Ujar dodo melihat kantong uang yang terisi penuh.


Aku hanya tersenyum mendengarnya. Uang memang sudah aku miliki, tapi tidak tau kenapa aku merasa ada yang kurang dalam hidupku. Aku tidak terlalu bahagia dengan semua ini, padahal sebelum nya aku pikir aku pasti akan bahagia jika memiliki banyak uang. Perasaan apa yang membuat aku merasa aneh ini sesuatu yang tidak bisa aku mengerti. Apa karena aku berada ditempat ini? Apa karena aku tidak bersama keluarga kandung ku?


***