Meta For Siah

Meta For Siah
Seperti putri bangsawan



Tiga hari sudah sejak terakhir kali aku pergi kepasar, dan sesuai janji ku dengan tuan halbert aku akan datang untuk mempromosikan baju yang sudah selesai dijahit.


Disini lah aku dan elis sekarang. Dikarenakan dodo yang masih tidak enak badan jadilah hanya aku dan elis saja yang datang kepasar.


"Nona, kau saudah datang? "Begitu albert melihat kedatangan ku dia dengan cepat melangkah maju menyambutku. " Eh, siapa yang kau bawa? "Tuan albert melihat kearah elis.


Aku dan elis berjalan mendekati tuan albert.


Elis yang tidak biasa berinteraksi dengan orang luar hanya menunduk kan kepaa karena malu.


"Dia kakak ku. "


"Apa??? Dia kakak mu? "


Tuan albert tampak kaget. Aku tidak tau hal apa yang membuatnya sampai begitu.


Aku mengangguk. "Iya, dia kakak kedua ku. "


Aku menoleh kearah elis yang masih menunduk. "Kakak, sapalah tuan halbert, dia adalah orang yang sedang berbisnis dengan kita. "


Elis menyapa tuan halbert dengan senyum lembut yang tersungging dari bibirnya.


Tak dapat aku pungkiri.


Sejak kami hiduo mandiri, kualitas hidup kami juga meningkat. Karena makan dan nutrisi kami dapatkan lebih banyak dari sebelumnya. Elis yang tadi bertubuh kurus, sekarang jauh lebih berisi, pipinya merah meski tidak memakai pewarna, bibirnya tidak lagi pucat. Rambut panjang hitam elis tergerai dengan indah dan berkilau.


Elis berubah jadi gadis desa yang cantik. Dengan suaranya yang lembut tak heran tuan halbert tampak tercengang.


Tuan halbert kembali menatapku. Tiba-tiba dia mengatakan. "Orang tua kalian pasti sangat memanjakan kalian berdua. Kalian tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. "


"Nona meta, kamu benar-benar beruntung. "


Perkataan tuan halbert membuatku tersenyum kecut, beruntung? Apa aku benar-benar beruntung?


"Meta. . . ? Adik? Meta si. . . "Elis terkejut saat mendengar tuan hakbert memanggil ku meta.


Aku meletak kan jari telunjuk dibibir ku. Dan berkata dengan suara pelan nyaris berbisik. "Aku akan menjelaskan nya nanti, sekarang ada hal penting yang harus kita kerjakan dulu. "


Aku menatap tuan halbert dan berkata sambil tersenyum. "Tuan halbert beruntung atau tidak nya itu tergantung bagaimana cara kita menanggapi setiap hal yang kita jalani, meski ayah dan ibu memanjakan kami kalau kehidupan sekitar tidak mendukung juga belum tentu kami dapat tumbuh dengan baik. "


"Tapi itu tidak masalah, bukan kah setiap orang memiliki takdirnya sendiri? Seperti yang aku lakukan saat ini aku ingin mengubah nasib ku dengan berbisnis, jadi apa kita bisa langsung mulai saja tuan halbert? "


Dengan wajah terkejut tuan halbert menatapku penuh kekaguman.


Dia mengangguk mencoba mencari ketenangan, kemudian dia tersenyum. "Saya beruntung bisa berbisnis dengan anda nona. "


Tuan halbert membalik kan badan kemudian mengajak ku dan elis masuk kedalam. Disebuah ruangan yang cukup luas ada beberpa orang wanita yang sedang menjahit baju, tumpukan kain yang sudah terpotong tersusun rapi diatas meja.


"Ada sekitar 20 pakaian yang sudah selesai dijahit disetiap jenis model. "


"Coba anda lihat nona, apa bentuknya sudah benar atau ada yang harus diperbaiki! "


Aku mengambil satu potong pakaian berwarna biru laut. "Anda memilih warna yang cantik tuan halbert. "


Hal terpenting dalam penjualan pakaian saat ini adalah mempromosikan nya dulu. Dijaman ini tidak ada orang yang menjual pakaian menggunakan iklan, biasanya para penjual pakaian akan mendatangai rumah putri bangsawan jika mereka memiliki barang bagus.


Dan menurut pemikiran ku, model pakaian yang aku buat akan jadi trend dan populer. Lagi pula di jaman ini para putri bangsawan dan anak-anak orang kaya berlomba-lomba untuk tampil siapa yang lebih baik, keluarga mana yang lebih kaya. Rata-rata hampir sama seperti kehidupan ku dulu, mereka saling pamer kekayaan dan kecantikan siapa yang lebih unggul. Hal ini tentu saja lebih menguntungkan bagi ku.


Aku melihat pakaian berwarna merah muda, warna nya tidak begitu pekat bahan kainnya juga sangat lembut dan ringan.


Aku tersenyum kemudian menatap elis yang juga menatap kearah ku.


"Kakak, coba pakai pakaian ini. "


Elis terpana melihat pakaian yang ada ditangan ku, matanya berbinar, merah muda adalah warna yang disukai elis, aku baru mengetahuinya belakangan ini karena terakhir kali aku membelikan bahan kain berwarna gelap untuknya, gadis itu sedikit mengeluh dan mengatakan akan lebih baik jika dia memiliki kain merah muda.


Sesaat elis terpaku dengan kening berkerut.


Dia berfikir apa dia pantas memakai pakaian bagus itu? Apa adiknya memiliki uang untuk membelinya?


Elis meremaskan kedua tangan nya dan berjalan mendekatiku dengan wajah muram. "Apa kakak boleh memakai pakaian ini? Kalau kotor bagaimana? kau punya uang membelinya? "


Aku tidak menjawab pertanyaan elis, aku meletak kan baju itu ketangannya.


"Pakai saja dulu, hal lain nya nanti kita pikirkan. "


Lagi-lagi elis terdiam. Aku tidak tau mengapa elis terlalu banyak berfikir, kenapa dia tidak diam dan menuruti perkataan ku saja. Ah, tiba-tiba aku merindukan dodo, apa bocah itu masih demam ya sekarang.


"Ya ampun kakak. . . " Aku menarik nafas dalam dan menghenbuskan nya perlahan. "Pakai saja, kenapa kau terus membuat ku seperti anak nakal yang merusak barang orang, kau bukan anak kecil, pakai pakaian nya dan berjalan dengan anggun seperti gadis bangsawan, apa nya yang akan rusak, aku punya uang jadi berhenti menghawatirkan hal yang tidak perlu. "


Aku memejamkan mata sejenak, dimana-mana orang akan merasa senang jika diberi pakaian bagus, bahkan sampai lupa berterimakasih saking senang nya. Tapi lain dengan elis dia memikir kan banyak hal dan segala kemungkinan buruk ng bisa saja terjadi, aku tidak tau harus senang atau menangis dengan kepolosan kakak ku itu.


Aku membuka mata dan melihat elis yang masih terdiam. "Cepat ganti kakak, jangan membuat ku marah. "


"Emm, baiklah. "


Akhirnya elis membawa baju itu dan menggantinya didalam ruangan tertutup.


Deheman tuan halbert membuat ku terkejut, aku baru sadar kalau ternyata pria itu masih ada disini.


"Sepertinya anda sangat menyayangi kakak perempuan anda ya nona meta. "


Aku tersenyum dan berkata. "Dia gadis yang menyebalkan mana mungkin aku menyayanginya. "


Tuan halbert tertawa mendengar perkataan ku benar-benar tertawa, tidak tau dimana lucunya, tapi tidak apa-apa sepertinya suasana hati tuan halbert sedang baik.


Tidak lama kemudian.


Terdengar suara langkah kaki mendekat kearah kami.


Semua orang yang ada didalam ruangan itu menoleh kearah sumber suara dengan wajah terkejut.


Gaun merah muda yang cantik dan moderen. Pas dan cocok dirubuh ramping elis, kulit putih elis membuat baju itu semakin terlihat mewah.


Rambut panjang hitamnya di ikat tinggi setengahnya dibiarkan tergerai.


Wajah polos nan ayu. Membuat elis seperti anak bangsawan.


Anggun dan cantik.


Ketika elis berjalan mendekati kami, semua mata tidak lepas memandangi setiap langkah kakinya. Tuan halbert, pria tua itu tampak terpukau melihat penampilan elis yang mempesona.


Aku tau elis memang cantik, tapi aku tidak menyangka, hanya dengan mengganti baju yang lebih bagus membuat perubahan besar pada dirinya.


Elis berdiri kaku didepan ku, peluh membasahi keningnya.


Jantung elis berdebar.


Kenapa semua orang terdiam? Apa pakaian itu tidak cocok dengan nya? Apa terlihat buruk? Seberapa buruk? Kepercayaan dirinya yang hanya seujung kuku itu kembali menciut, perasaan tidak pantas kembali merasuki pikirannya.


Elis menggigit bibir bawahnya dan berkata. "Adik. . . Apa seburuk itu? Kau sampai terdiam, apa aku buka saja? "


Mendengar suara elis baru semua orang kembali tersadar.


Aku terkesiap dan buru-buru menggeleng kan kepala. "Tidak, tidak, tidak, siapa yang mengatakan buruk? Itu sangat cantik, aku iri dengan mu, jika kau berdiri disamping ku seperti ini kau terlihat seperti putri bangsawan dan aku adalah pelayan mu. "


Wajah elis bersemu merah, dia tersenyum begitu manis membuat aku semakin iri.


"Jangan tersenyum lagi membuat ku kesal saja. "


Elis terkekeh sambil memukul lengan ku. "Kenapa marah? Kau sendiri yang mengatakan aku putri bangsawan dan kau 𝘱𝘦𝘭𝘒𝘺𝘒𝘯 nya. "


Aku mendengus dan membawa baju ditangan ku. "Tunggu disini aku juga akan mengganti baju. "


Selesai menganti baju aku keluar dan menemui elis dan tuan halbert.


Elis mengedipkan mata dan tersenyum. "Seorang pelayan berubah menjadi tuan putri? Adik hidup benar-benar sangat beruntung. " Kata elis tersenyum mengejek.


Kurang ajar sekali elis, baru beberapa menit yang lalu dia terus menunduk karena malu, tapi lihat sekarang, kepercayaan diri dari mana dia bisa bicara angkuh begitu.


Elis dan tuan hakbert tertawa melihat wajah ku yang kesal.


Tuan halbert berkata. "Sudah, sudah, jangan goda lagi adik anda nona elis, sebelum tanduknya keluar lebih baik kalian pergi. Sebentar lagi cuaca semakin panas. "


Tanduk?


Hei tuan halbert! Kau pikir aku banteng? Tunggu. . . sejak kapan mereka jadi akrab?


Ah sudah lah, tidak penting.


Setelah berpamitan pada tuan halbert aku dan elis melanjutkan misi untuk mempromosikan baju kami disekeliling pasar. Aku dan elis berjalan beriringan seperti putri bangsawan.


*****