
Pagi menyingsing, suara burung bernyanyi saling bersahut-sahutan. Matahari telah menampak kan sinarnya aku terbangun dengan mata yang masih terpejam.
Suara bising dari luar memaksa ku membuka mata, samar-samar aku mendengar suara dodo menangis. Aku yang penasaran langsung turun dari ranjang dan berjalan kearah pintu.
"Jangan pelit kau anas, kau luoa siapa yang memberi kau makan selama ini? Jangan jadi orang tidak tau berterimakasih. "Suara nenek terdengar dengan sangat keras.
Apa yang mereka lakukan pagi-pagi begini? Kenapa mereka sampai ribut?
" Kereta kuda ini siah yang membelinya ibu, jika kakak ingin meminjamnya, minta izinlah padanya. "Jawab bapak.
Aku yang baru saja bangun tidur sedikit linglung melihat sekumpulan orang di samping rumah. Nenek dan bibi pertama juga bibi kedua ada juga bibi ke empat serta gena dan beberpa sepupu yang sedang mengerubungi kereta kudaku.
"Kenapa kau selalu membantah anas, ini yang membeli juga anak mu yang berarti cucu ku dan keponakan kakak mu. Jangan menghalangi. " Kata nenek yang masih ngotot.
"Jika ada yang berani menyentuh kereta kudaku, aku akan membakar rumah kalian. "
Ancamku tidak main-main. Nenek dan bibi pertama masih menunjuk kan sikap sok berkuasanya. Sementara bibi kedua dan bibi ke empat sudah pucat pasi. Dari sorot mata ku mereka pasti menyadari kalau aku bukan lah orang yang main-main.
"Sudah jangan ribut lagi. Ibu pergilah, siah akan memakai kereta itu pergi kepasar. "
Setelah bapak mengatakan itu. Datang seorang laki-laki yang tak lain adalah paman pertama yang berarti kakak tertua bapak. Dia membawa tas yang cukup berat ditangannya. Seolah tidak memedulikan aku dan bapak dia langsung memasuk kan tas itu kedalam kereta kuda.
Seketika darah ku langsung mendidih, siapa dia? Kenapa bersikap seenaknya dengan barang milik orang lain.
"Paman." Panggil ku dengan suara sedikit keras.
Paman pertama melihat ku dengan acuh tak acuh.
"Mereka tidak membiarkan kalian memakai kereta kuda itu. " Adu nenek pada putranya.
"Anas! Kau jangan keterlauan! Kau masih tinggal ditanah ayah dan ibu. Kami hanya meminjam kereta kuda ini kenapa kau mempersulitnya? Kau mau aku adukan pada ayah? "Paman tertua berteriak memaki bapak dihadapan semua orang.
Dari ucapannya aku tau dia ingin memaksa bapak meminjamkan kereta kuda itu, tapi sayang kereta itu bukan bapak yang membelinya tapi aku.
" Inilah sebab nya kau dan keluargamu itu dibenci oleh ibu dan ayah, kau itu orang yang tidak tau berterimakasih. "Lanjutnya lagi sambil menatap sinis kearah bapak.
" Mau sampai kapan kau terus membantah anas? Sudahlah aku membesarkan mu dan juga anak istrimu, sekarang hanya meminjam kereta kuda saja kau tidak mengizinkan dimana otak mu itu. "Nenek ikut menyalahkan bapak.
Tak bisa kubayangkan. Jika kami tinggal lebih lama lagi disini. Setiap kali kami membeli barang apa mereka akan terus merecoki kami?
Kutarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan. Aku mendekati bapak dan berdiri bersedekap dada. " Sudah selesai. "
"Siah. . . "Bibi pertama memanggil dengan suara memerintah. "Kau jangan ikut campur ini urusan orang tua. . . . " Dia terhenti sejenak. Bibi pertama menatapku dengan sinis. "Masuk kedalam rumah dan mulai lah bekerja. "
"Siapa anda berani memerintahku seperti itu. "Jawab ku sengit tak ku acuhkan mata paman tertua yang sudah melotot padaku. Dia pasti kesal karen aku tak bersikap sopan pada istrinya. Biar saja aku tak peduli siapa suruh istrinya itu sok memerintahku.
"Kurang ajar, beraninya kau bicara tidak sopan padaku. "Bibi pertama berteriak tak terima atas sikapku.
Aku semakin kesal mendengar teriakan nya itu. Jika dia berani mendekat padaku, akan kupastikan rambutnya itu kubuat botak.
" Kenapa aku harus menuruti perkataan bibi? Memangnya bibi ibu ku? Majikanku? Jangan berteriak dirumah kami bibi. Pulanglah dan aku akan memaklumi sikap tidak sopan bibi hari ini. "Aku pun ikut berteriak dengan suara keras. Aku berharap ada tetangga yang mendengar lalu datang kemari menyaksikan bagaimana gilanya keluarga ini.
"Karena aku kakak ipar bapak mu. "
"Bibi bukan kakak ipar bapak ku, tidak ada hubungan darah dengan bapak apa lagi aku. Jangan ikut campur dengan kehidupan keluarga ku bibi. "
"Jangan kurang ajar kau siah, beraninya kau bicara seperti itu Pada ibu ku. "Teriak gena disamping bibi pertama. " Kau sudah cukup menjadi cucu durhaka pada nenek. Sikap mu seolah kami makan dari hasil jerih payahmu. Sekarang kau ikut campur urusan orang tua. "
Aku yang sudah kesal mendekati gena dan langsung menjambak rambut panjangnya dengan kuat. "Kau bilang apa? Cucu durhaka? Suka ikut campur? Lalu kenapa kalian selalu menggangu anak durhaka ini? Dan yang suka ikut campur itu kau dan ibumu yang tidak tau diri itu. "Aku menunjuk bibi pertama dengan mata garang. "Sekali lagi kalian datang membuat keributan dirumah ku, aku benar-benar akan membakar rumah kalian. "
Aku menarik rambut gena semakin kuat, akhirnya aku bisa melakukan apa yang selama ini ingin aku lakukan yaitu menjambak rambut gena. Bibi pertama menarik gena gadis itu semakin terpekik karena tangan ku masih berada dirambutnya. Bapak memegangiku berusaha melepaskan tanganku dari rambut gena.
Aku dengan sekuat tenaga mencekramnya. Hingga gena berteriak menangis histeris. Rasakan itu, selama ini aku cukup bersabar atas apa yang kau lakukan tapi sekarang tidak lagi, jangan harap aku akan diam kalian injak-injak.
"Siah. . . " Ibu memanggilku
Aku menoleh dan mendapati wajah ibu menatap kecewa padaku. Mata wanita itu berkaca-kaca mungkin dia tidak menyangka kalau aku menjadi bringas seperti ini.
Ibu memang orang yang baik hati, perasaannya halus dan mudah memaafkan. Tapi, jika ibu tau putri kandungnya telah meninggal ditangan gena apa dia tetap akan melarangku seperti sekarang? Apa dia tetap akan bersikap lunak?
Ibu berjalan menghampiri ku. Ia merangkul pundak ku dan mengusap pungungku memberi ketenangan. "Sudah nak, lepaskan gena. Kasihan dia kesakitan. "
Aku melepaskan rambut gena, meski sedikit berat hati namun aku juga merasa puas karena ditangan ku ada banyak rambut gena yang tercabut. Aku bisa merasakan betapa sakit kepala nya itu sekarang.
"Ayo pergi, aku tidak sudi menginjakkan kaki dirumah busuk ini lagi. "Ujar bibi pertama murka, ia membimbing gena yang menangis pergi dari rumahku.
" Ayo pulang bu. "
Suara bibi kedua terdengar pelan. Mereka semua pergi dari sana. Saat paman tertua juga akan pergi aku teringat dengan tas yang dia masukan kedalam kereta tadi.
"Paman kau melupakan barang mu! Jika tidak kau ambil aku akan membuangnya. " Teriak ku dengan puas.
Paman tertua berbalik dan menatap sengit kearahku. Lalu mengambil kembali tasnya dan berlalu pergi. Aku meminta bapak mengikat kembali tali kuda. Lalu menyuruh dodo memanggil dilang keladang. Aku akan meminta dilang mengantarkan ku kepasar.
***
Setelah dilang datang dan berganti baju. Kali ini aku mengajak dodo. Sementara elis dirumah menemani ibu. Bocah itu tampak girang sampai meloncat-loncat saking gembiranya akan naik kuda.
Meskipun tidak terlalu mahir membawa kuda namun dilang tetap tenang duduk dikursi kusir.
"Kami akan pergi, mungkin pulang sedikit larut. Jangan menunggu kami untuk makan malam. "Sahut ku pada elis setelah berada didalam kereta kuda.
" Iya. Hati-hatilah. "Balas elis. Lalu membantu membukakan pintu gerbang dan menutup nya kembali setelah kereta keluar kediaman.
Ngiiiikk. . .
tuk. . . tak. . . tuk. .. Tak. . .
Kami bertiga keluar dari kediaman killer. Dodo terus tersenyum sambil memandang kearah jendela. Saat berpapasan dengan warga desa mereka akan memandangi kami seolah penasaran siapa didesa aster ini yang mampu membeli kereta kuda. Kepala desa saja tidak memiliki kereta kuda. Lalu warga mana yang menaikinya?
Dilang terus melajukan kereta kuda, sesekali dia melirik kedalam kereta. Tapi laki-laki itu tidak bertanya apa pun selain diam. Kami tidak berhenti untuk istriahat jika haus kami minum karena pasar tidak terlalu jauh apalagi menggunakan kereta kuda dan sebentar lagi kami akan sampai.
*****