Meta For Siah

Meta For Siah
Langsung habis



Sepanjang jalan pulang matahari bersinar dengan sangat terik, aku bertekad jika sudah memiliki uang aku akan membeli kereta kuda, rasanya kaki melepuh berjalan sejauh ini. Ditambah matahari yang terasa menyengat dikulit. Peluh sudah membanjiri pungung ku, tubuh kami lengket dan lembab.


"Terimakasih untuk hari ini kakak. " Aku berkata pada elis.


Elis menoleh lalu bergumam dengan suara pelan. "Terimakasih untuk apa? Kita adalah keluarga, aku membantu mu untuk keluarga kita juga. "


Aku mengangguk sambil tersenyum, ternyata menyenangkan juga memiliki kakak perempuan.


Kami berjalan cepat agar segera sampai dirumah.


Ibu malam ini memasak mie dengan daging untuk makan malam. Dodo dan dilang yang sudah tidak sabar sudah menghabis kan semangkuk penuh mie dengan lahap.


Sementara bapak sedang membuat keranjang dari bambu. Aku dan elis masuk kedalam rumah setelah membersihkan diri ikut bergabung dengan yang lain.


Dikediaman utama rumah nenek.


Bahan makanan pokok mereka sudah hampir habis, lumbung padi juga sudah kosong. Kakek dan nenek sedang duduk diruang tamu mendiskusikan bagaimana rencana hidup mereka kedepannya.


"Bagaimana, apa kita minta salah satu dari mereka untuk turun keladang? " Tanya nenek yang melihat kakek masih diam ditempat duduk nya.


Jika meminta salah satu anaknya turun keladang berarti mereka harus berhenti bekerja dipemerintahan. Sedikit berat hati karena anak-anak nya seorang pelajar, namun mau bagaimana lagi, jika mereka membeli beras maka akan menghabiskan banyak uang, mengingat banyaknya anggota keluarga mereka uang lima puluh koin hanya untuk dua kali makan sementara gaji putranya yang bekerja dipemerintahan hanya seratus lima puluh koin per-orang.


"Tidak." Jawab kakek tegas.


Kakek tidak mungkin membiarkan salah satu dari anak-anaknya kbekerja diladang, mereka adalah seorang pelajar, apa kata orang-orang desa nanti. Kakek adalah orang yang sangat memperhatikan penilaian orang lain terhadap dirinya, dia tidak ingin menjadi bahan tertawaan orang lain. Jadi kakek akan berusaha sendiri menggarap ladang dan jika tiba masa panen, barulah dia akan meminta bantuan anak dan cucunya.


"Kau akan bekerja diladang? Memangnya pingang mu tidak sakit lagi? Jika nanti terjadi apa-apa kita harus mngeluarkan uang untuk berobat. "Kata nenek sambil memijit kakinya yang terasa pegal.


"Apa yang kau katakan? Hanya beberapa keping koin kenapa kau keberatan? Putraku yang bekerja bukan kau. " Bentak kakek sedikit keras. "Lagi pula aku masih cukup kuat jika hanya sekedar menanam padi. " Sambungnya lagi.


Nenek terdiam. Dia merasa kesal mendengar ucapan suaminya, dia bicara seolah mereka hanya putranya seorang.


"Kau bicara lah lagi dengan putra ketiga mu, bujuk dia, anggap saja ini sebagai baktinya pada kita. "Kata nenek menatap suaminya.


"Emm, besok akan aku bicarakan. "Balas kakek sebelum masuk kedalam kamar.


Nenek menghela nafas berat setelah kakek masuk kedalam kamar. Rasa sakit hatinya dimasa lalu terhadap ibunya anas masih terasa. Tiap kali mengingat hal itu rasa bencinya terhadap anas akan bertambah dua kali lipat.


"Dasar wanita jaalang. "


Nenek mengepalkan tinjunya sehingga kuku-kukunya menancap ditelapak tangannya. Nenek terlihat sangay kesal. Wajahnya sampai memerah menahan amarah.


"Aku akan selalu menyiksa putra mu itu, aku sangat membenci mu tuti. "Gumam nenek menahan marah.


Dia tidak akan membiarkan anak dari wanita yang dibencinya hidup bahagia. Dia akan selalu menjadi duri yang akan menusuk keluarga anas.


***


Ke esokan harinya.


Setelah sarapan aku dan elis pergi bersama menuju toko tuan halbert. Ini adalah hati pertama gaun-gaun nya dijual, aku ingin melihat langsung siapa saja yang paling banyak membeli gaun itu. Dengan begitu aku bisa tau siapa target penting untuk penjualan gaun selanjutnya.


Tak berselang lama kami berdua sampai di depan toko tuan halbert. Tadinya aku pikir ini masih terlalu pagi untuk berbelanja, tapi lihat lah didepan toko tuan halbert dipenuhi oleh para gadis yang antri sampai keluar, disamping toko banyak kereta kuda berjejer berlambang nama bangsawan.


"Adik, apa mereka belanja gaun sepagi ini? "Tanya elis menatap heran kearah ku.


"Menurut kakak? Mereka orang yang memiliki uang, apa yang perlu mereka khawatirkan. "Jawab ku. Kemudian mengajak elis untuk masuk kedalam toko.


"Maaf nona, bisa kah kau mengantri dibelakang? Kami sudah menunggu sejak pagi disini. "Tegur seorang gadis saat aku akan masuk kedalam toko.


Aku melihat penampilan gadis yang bicara padaku, gaun yang dia pakai cukup cantik dan rapi tapi tidak terlalu mewah, aku menebak mungkin dia seorang bangsawan kelas rendah atau kelas menengah.


" Maafkan aku, aku tidak tau, kalau begitu aku akan antri dibelakang. "Jawab ku dengan sopan.


Aku dan elis berbaris dibelakang para gadis yang mengantri. Sebenarnya bisa saja aku masuk tanpa mengntri tapi demi menjaga nama baik toko dan juga tidak ingin membuat keributan aku harus sedikit mengalah, yang penting gaun-gaun itu laku dan terjual.


Seorang wanita berpakaian cukup mewah masuk kedalam toko. Ia mengedarkan pandangan keseluruh sudut toko. Wanita itu berjalan kearah barisan gaun-gaun yang tampak indah itu.


Belum selesai wanita itu mengangumi keindahan gaun-gaun itu lonceng dipintu masuk kembali berbunyi secara berturut-turut.


Mereka yang ada didalam toko menatap takjub oada gaun yang terpajang. Ini adalah model gaun yang cantik dan modis, ditambah warna gaun itu tidak terlalu mencolok karena tuan halbert memakai kain berwarna lembut yang pasti akan disukai banyak gadis.


Setelah mereka sadar dari rasa kagum itu, tanpa bertanya lagi langsung saja memilih gaun yang mereka sukai.


"Gaun ini tidak pernah aku lihat dimana pun. "


"Aku akan semakin cantik kalau memakai gaun ini. "


"Aku bingung harus membeli yang mana semuanya terlihat bagus. "


Mereka terus bergumam sembari tangan-tangan kecil itu dengan lincahnya mengambil gaun-gaun itu secara acak, karena bagi mereka semua gaun yang terpajang sangat cantik, jadi meski memilih dengan mata terpejam juga tidak akan rugi.


Mereka tidak menyangka ditoko kecil ini akan menjual gaun-gaun yang indah dan cantik seperti ini.


Elis seperti orang linglung melihat orang yang kesan kemari memilih baju, kami yang baru masuk langsung duduk dikursi tunggu mengamati para wanita yang nampak kalap.


Kriiing. . . kring. . .


seorang wanita sesusia elis masuk dengan mata terbelalak. Dia diam didepan pintu memperhatikan orang-orang yang berlomba-lomba dalam mengambil gaun.


"Nona. . . nona elzia. "Panggil pelayan nya yang melihat elzi masih diam mematung didepan pintu.


Elzia menatap tajam kearah pelayannya. Sebenarnya elzia sudah meminta pelayannya datang pagi-pagi sekali untuk mengantri ditoko tuan halbert. Tapi saat diperjalanan kereta kuda yang dinaiki pelayan itu rodanya bocor dan menghambat perjalanan nya, alhasil ketika elzia yang akan menyusul menemukan nya ditengah jalan.


"Lihat, gara-gara kau aku tidak mendapat gaun lagi. " Geram elzia pada pelayannya. Elzia mengalihkan pandangan kearah nona bangsawan yang lain, semua gaun yang terpajang sudah berpindah ketangan pelayan mereka.


"Ampuni saya nona, ini salah saya. " Ucap pelayan itu dengan wajah ketakutan. Dia sudah pasrah jika mendapat hukuman saat kembali kekediaman nanti.


Elzia merasa jengkel, karena hanya dia yang tidak mendapatkan gaun-gaun yang cantik itu.


"Terima hukuman mu nanti. "Kata elzia raut wajahnya tampak kecewa, ia menatap wajah bahagia para gadis yang mendapat gaun-gaun cantik itu.


Wajh elzia tampak suram, aku yang sedari tadi memperhatikan nya berjalan mendekati gadis itu.


" Maaf nona....... "Aku berbisik pelan ditelinganya. Mata nya langsung membola dengan mulut terbuka.


" Apa kau yakin? "Tanya nya seakan tak percaya dengan apa yang aku katakan.


Aku mengangguk dan berkata. " Datanglah dua hari lagi. Minta pelayan mu datang terlebih dahulu jika tidak ingin terjadi hal seperti ini lagi. "


Dia menatap pelayannya dan kembali mendengus. Setelahnya dia kembali menoleh kearahku dan tersenyum lalu keluar dati toko yang di ikuti oleh pelayannya.


Satu persatu wanita yang m


mbeli gaun mengantri untuk melakukan pembayaran, setelah selesai mereka keluar toko dengan perasaan puas.


Aku dan elis tidak menyangka dihari pertama penjualan gaun-gaun itu akan langsung habis. Sayangnya mereka hanya menjahit sedikit gaun, padahal masih banyak orang-orang yang belum mendapatkannya. Ditambah sekarang masih sangat pagi.


Karena stok gaun yang sudah jadi sudah habis, aku memberikan emoat sketsa lagi pada tuan halbert. Laki-laki itu langsung meminta pekerjanya untuk segera menjahit gaun baru agar bisa berjualan lagi besok.


"Ini bagian anda nona. "Ucap tuan halbert meletak kan setumpul koin dihadapan ku.


Aku mengambil koin itu, ada dua koin emas dan dua ratus koin perak. " Tuan halbert kau sudah menghitungnya dengan benar kan? jangan sampai kau rugi nanti, karena uang yang sudah sampai ditangan ku tidak akan aku kembalikan jika ternyata kau salah menghitung. "Ucapku sambil menyimpan uang itu.


Tuan habert tergelak mendengar perkataan ku. Jujur saja aku bukan takut uang nya berlebih tapi sebaliknya aku takut jika uangnya kurang dan aku yang rugi.


" Aku sudah menghitungnya dengan benar, nona tenang saja, diantara kita berdua tidak ada yang akan dirugikan. "Balas tuan halbert dengan sisa-sisa tawanya.


***