
"Anjing??? " Tanya ethan tak percaya dengan apa yang aku katakan.
Aku mengangguk. "Ya, apa kau pemiliknya? " Jawab ku .
Ethan terdiam dengan mata masih menatap kearah luwi, sedangkan anjing kecil itu naik keatas pangkuan ku dan mengibaskan ekor seolah dia sedang menunjuk kan kemenangan.
"Dimana kau menemukan nya? Dia bukan anjing seperti yang kau pikirkan. " Perkataan ethan membuat sikecil luwi menggonggong kearahnya sepertinya dia tak suka dengan perkataan ethan.
Tangan ku tergerak mengelus leher panjangnya, luwi kembali tenang dan merebahkan tubuhnya dipahaku, anjing kecil itu memang patuh sekali, mungkin karena aku lah yang menjaga dan memberikannya makan sehingga dia menganggap aku majikannya.
Ethan tertawa dengan nada mengejek. "Bisa-bisanya dia bersikap patuh seperti anak anjing. " Gumam ethan pelan, namun aku masih bisa mendengar nya.
Apa maksud perkataan nya itu, memang dia lihat apa? memang luwi ini anjingkan? Kenapa sikap ethan dan luwi terlihat aneh?
"Eh, mau kemana? " Tanya ku melihat ethan berdiri. Laki-laki itu malah memandangi ku seolah aku ini seonggok kotoran yang harus dijauhi.
"Kenapa kau cerewet sekali! " Serunya dengan sengit, bibirnya sampai melengkung keatas.
Aku berdiri berkacak pinggang menatap nya dengan mata menantang. "Kau selamat karena wajah mu tampan, lain kali aku akan menutup mata dan menghajar mulut mu yang seperti ibu-ibu komplek itu. "Ucap ku kemudian meninggalkan ethan dengan mulut ternganga. Enak saja dia bilang aku cerewet, tidak tau saja dia gimana mulut tetangga ku kalau bicara nggak ada titik komanya.
Perasaan dongkol tadi telah berubah menjadi lebih bahagia ketika melihat meja makan dipenuhi makanan lezat nan menggiurkan. Semua keluarga berkumpul dimeja makan. Kali ini bukan meja dari bambu lagi tetapi meja yang terbuat dari kayu jati, licin dan mengkilap.
Kami pun makan dengan nikmat, sesekali celotehan dodo terdengar menggelitik menghadirkan gelak tawa disela suapan yang entah untuk keberapa kalinya.
Kenyang dan bahagia perasaan itu muncul ketika melihat semua piring tersapu bersih tanpa sisa, senyum puas pun tersungging dibibir elis sebab tangan lincahnya sudah menciptakan makanan lezat yang disukai semua keluarga.
Sambil menunggu makanan dicerna, aku, bapak dan dilang berjalan mengelilingi sawah dan lahan yang ditanami sayuran. Aku sudah membahasnya dengan dilang dan bapak semalam, tentang rencana ku yang ingin membuat bisnis lain, tentu tugas kali ini akan di emban oleh dilang, sebab sekarang dia yang telah menjadi pria dewasa dan kelak akan menikah dilang butuh harga diri didepan istri dan keluarganya.
Meski dilang tak bersuara hanya kepalanya yang menunduk tetapi sebagai orang yang paling peka aku tau dia tengah terharu dengan apa yang aku katakan, tak ingin membuat nya terlihat lemah aku pun memilih diam supaya dilang tetap bisa mempertahan kan dirinya agar tak menangis.
**
"Siap kan lahan lebih luas lagi, kita tanam kedelai dan tomat. " Ucap ku pada dilang. "Juga, kak, belilah bibit sawit dipasar, kita juga akan menanam beberapa pohon sawit. "
Alis dilang bertaut menatap ku dengan mata bertanya. "Sebenarnya bisnis apa yang ingin kau lakukan? "
Aku tersenyum penuh arti kepadanya, ini masih rahasia, aku akan membuat kejutan untuk mereka, lihat, bagaimana mata penuh kekaguman mereka nanti.
"Lakukan saja apa yang aku katakan, kakak akan tau nanti. Jadi bersiap lah, jangan terkejut. " Ucap ku dengan senyum menyebalkan.
Dilang mendengus kesal namun dia tetap bergerak kearah kereta kuda, dan bersiap pergi kepasar.
"Kak, jangan lupa mampir ketoko tuan halbert. " Teriak ku dengan keras agar dilang mendengarnya, dua jempol ia angkat tinggi-tinggi aku sampai tergelak dibuatnya, saking iritnya dia bicara padahal tidak dipungut biaya apapun.
Selepas dilang pergi aku menatap hamparan padi yang menghijau, disekitar sini tidak ada rumah lain selain rumah kami tidak ada lahan orang lain selain yang digarap bapak, sebab rumor menakutkan tentang gunung terlarang sehingga tanah subur ini diabaikan begitu saja.
Lihatlah, daun bawang, cabe, bawang-bawangan aneka sayuran hijau sampai kentang dan wortel semuah tumbuh dengan baik. Bahkan rumput liar tumbuh dengan rimbun, tempat ini lebih pantas disebut tanah berkah dibanding tanah terlarang. Sungguh orang-orang yang bodoh.
"Kak, rasanya sudah lama sekali kita tidak melakukan ini, " Ucap dodo yang tengah berendam di air sungai.
Aku mengangguk membenarkan perkataan dodo. Memang sudah lama, semenjak aku bekerja sama dengan tuan hulbert kami tidak lagi mencari makanan di alam dikarenakan aku yang sudah mampu membeli makanan enak. Tetapi hal seperti ini memang tidak bisa dibandingkan kebahagiannya. Rasanya ada kepuasan sendiri ketika mencari-cari lalu tiba-tiba menemukan sesuatu yang bisa dimakan, ah, aku jadi ingin naik gunung lagi.
Ketika kata gunung itu aku ucapkan mataku teralih kehutan terlarang, andai tidak mengalami hal aneh seperti waktu itu masih ada niat ku ingin masuk kedalam sana lagi, aku masih penasaran sebenarnya apa yang ada disana. Kenapa orang-orang desa mengatakan hutan terlarang dan juga ilalang waktu itu,
Kesadaran ku ditarik paksa ketika dodo memukul punggung ku. Aku meliriknya dia menyipitkan mata padaku dengan pipi digembungkan.
"Kenapa kau melihat ku seperti itu. "
"Jangan berfikir yang tidak-tidak aku tidak akan membiarkan kakak melakukan hal nekat lagi atau aku akan mengatakan semua rahasia kakak pada ibu dan bapak. " Ancam dodo dengan wajah serius.
Hah! Aku terperangah tak percaya dengan apa yang dodo katakan, beraninya bocah tengik ini mengancam ku. Lihatlah, aku akan mengusirmu dari rumah setelah ini.
"Kau tak perlu mengancam ku begitu, aku hanya melihatnya saja kenapa berisik sekali. " Sungut ku dengan wajah cemberut.
Mataku kembali menatap hutan itu, entah kenapa aku tidak merasa kan sesuatu berbahaya lagi dari sana.
Ibu terus mondar-mandir dari tadi bapak sampai jengah dibuatnya, melihat ibu yang gelisah aku pun ikut cemas langit sudah sangat gelap, namun dilang masih belum kembali, pikiran-pikiran buruk menari-nari dibenak ku, bagaimana kalau dilang dirampok? Atau mungkin kudanya terkejut lalu kereta terbalik.
Aku menggelengkan kepala dengan cepat, dilang laki-laki dia pasti baik-baik saja.
Tak lama setelah itu kami mendengar suara kaki kuda mendekat, ibu langsung membawa lentera keluar rumah aku dan dodo mengikuti ibu dari belakang.
"Kenapa lama sekali? " Tanya ibu. Dilang tampak terkejut mendengar suara panik ibu. Barang ditangannya hampir terlepas.
"Ada apa? " Dia balik tanya ketika bapak juga ikut keluar rumah.
"Tidak ada, kenapa kakak pulang terlambat? " Aku ikut bertanya karena ibu sepertinya mulai berkaca-kaca.
"Ah, itu. . . Tadi, ada sesuatu, yang aku. . . " Dilang tampak gelagapan, aku mengerinyit mendengar perkataan dilang yang tidak jelas. Tetapi melihat telinganya yang memerah dia menunduk dengan tangan menggaruk tengkuknya aku baru menyadari satu hal.
"Sudah lah, ibu, yang penting kakak sudah pulang. Kakak kedua besok kau harus oergi berbelanja masaklah yang banyak, aku akan mengundang seseorang kerumah besok. " Ucap ku dengan senyum mengembang.
"Siapa yang kau undang? " Tanya elis penasaran
Aku berbisik pelan ditelinga elis. Reaksi elis sungguh berlebihan.
"Hah. . . kau serius? Benarkah? "
Aku mengangguk tersenyum mataku melirik dilang yang juga melihat kearah kami senyum ku semakin merekah satu mata ku berkedip padanya dilang langsung memalingkan wajah kearah lain. Aku tertawa kesa dalam hati, sepertinya kami akan punya keluarga baru.
***