Meta For Siah

Meta For Siah
Lebih tampan dari ethan



Tidak tau sejak kapan aku tertidur, masih dalam setengah sadar aku mendengar percakapan dua orang pria, suara mereka terdengar berat dan dingin. Aku tidak terlalu jelas dengan apa yang mereka bicarakan angin terlalu kencang sehingga aku hanya mendengar suara bisik-bisik.


Dengan paksa aku membuka mata yang terasa lengket, begitu matku terbuka aku melihat ethan berdiri tak jauh dari tempatku dengan siapa dia berbicara kenapa wajahnya terlihat pucat begitu.


Aku mencoba berdiri , penasaran siapa lawan bicara ethan kenapa laki-laki seperti orang ketakutan, siapa yang bisa membuat dia berekspresi begitu.


Langkah ku terhenti begitu melihat sosok yang ada didepan ethan, aku memiringkan kepala kekanan karena wajahnya tertutupi daun-daun yang melambai ditiup angin. Aku berjalan dua langkah lagi, kali ini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas hidungnya mancung bagai dipahat seorang pengrajin profesional, garis wajahnya yang tegas dan rahang lebar itu seperti patung dewa yunani.


Aku tersentak kaget begitu laki-laki itu menoleh, mata kami bertemu manik emas sejernih lautan itu seperti menyihirku, aku menatap mata itu tak berkedip, jantung ku berdebar tak karuan aku seperti mendengar lagu-lagu korea mengiringi langkah ku seakan bunga sakura berterbangan diatas kepala, aku terpesona melihat senyum manis yang mengembang dibibir tipis itu, aku berpegangan dibahu ethan karena merasa kaki ku lemas seperti jely.


Suara dengusan ethan yang seperti kuda lapar itu mengembalikan kesadaran ku. Aku meliriknya sebentar wajahnya ditekuk seperti orang yang baru ditagih hutang, aku tidak terlalu peduli sekarang fokusku siapa pemuda ini? Apa dia manusia? Ketampanan nya sangat tidak masuk akal, aku rasanya akan mimisan jika terus menatapnya, tetapi mataku yang jeli ini tidak mau mengalihkan pandangan.


Aku pikir ethan pemuda tertampan didesa ini, aku bahkan memanggilnya dewa. Tetapi laki-laki yang ada didepan ku saat ini luar biasa tampan, aku suka sekali melihat rambut hitam panjang nya itu, ya tuhan jantung ku terus marathon dari tadi. Ini tidak masuk akal bagaimana mungkin ada orang setampan ini didunia, aku pasti sedang bermimpi.


Aku mencubit lengan ethan dengan keras, laki-laki itu berteriak kesakitan. "Kenapa kau berteriak? " Bentak ku karena telinga ku berdengung akibat suaranya itu.


"Kau gila ya? Cubitan mu sakit sekali, kenapa aku tidak boleh teriak. " Katanya meringis, aku ikutan meringis dibuatnya sebab tadi aku mencubitnya pakai tenaga dalam.


"Jadi itu sakit? Berarti aku sedang tidak bermimpi kan? " Tanya ku dengan wajah bodoh.


Pemuda yang ada didepan kami itu tertawa dengan suara yang sangat lembut, aku sampai terkesima dibuatnya, ada ya orang tertawa semanis ini? Tawanya itu menular padaku aku tersenyum malu-malu. Aku yakin sekarang wajahku sudah semerah tomat.


Aku melirik ethan"psstt. . Psst. . "Aku mendesis memanggil ethan yang masih meringis.


" Apa??? Apa kau jadi ular sekarang? "Ucapnya dengan sengit. Raut wajahnya tak bersahabat sama sekali.


Apa sesakit itu? Sepertinya dia kesal sekali padaku.


Aku berdehen dan mengarahkan dagu menunjuk lelaki tampan itu. " Dia siapa? "Tanya ku berbisik pelan.


Ethan menyipitkan mata menatap ku dengan wajah tak suka. " Kenapa kau berbisik? Meski kau kentut dengan sembunyi-sembunyi dia juga akan mendengarnya. "Kata ethan dengan suara lantang.


Perkataan ethan membuat ku terperangah, dia ini sudah gila ya, kenapa dia membahas kentut. Membuat ku mau saja. Aku melirik pemuda itu lagi, dia menatap ku dengan intens, aku sampai meneguk ludah karena tatapannya begitu lekat dan dalam.


Aku sampai salah tingkah dibuatnya, hingga tanpa sadar aku mencubit ethan lagi.


"Aw, awa, hei. . . Kenapa kau suka sekali mencubit ku. " Hardiknya dengan mata nyalang kearahku seperti serigala yang siap menerkam.


Aku juga kaget dibuatnya. "Ya maaf, lagian kenapa kamu berdiri disitu sih.


" Hah, wah, haha, gila... Dari tadi aku sudah berdiri disini ya, harus nya aku yang tanya kau kenapa kesini. Balik tidur sana. "Usirnya dengan wajah yang sangat galak.


Tubuhku jadi oleng karena ethan mendorong ku cukup kuat, lengan kekar yang melingkar dipingang ramping ku sukses membuat aku sesak nafas kami terlalu dekat sekarang, aku bahkan bisa mencium aroma tubuhnya, aromanya sangat wangi dan. . . tunggu aku seperti pernah mencium aroma ini tapi dimana ya? Aku menoleh menatap wajah pemuda itu yanh kini berjarak seangin dari wajahku, hembusan nafasnya yang hangat membuat aku ingin pingsan. Laki-laki itu tersenyum menampak kan giginya yang putih aroma mint yang segar dari mulutnya membuat aku menggigit bibir.


"Tolong, tolong, lepaskan aku, aku rasanya mau mati kalau kau terus tersenyum begitu. " Ucap ku hampir menangis.


Seringan kapas dia mengangkat tubuhku yang miring dan melepaskan rangkulan tangannya dipinggangku, ada perasaan tak rela ketika tangan itu terlepas namun aku juga tidak sanggup menahan debaran jantungku.


"Kau siapa? " Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutku. Bertanya pada ethan juga tidak ada gunanya, laki-laki itu sepertinya sensi sekali padaku.


Dia tersenyum lagi, "bai eyran. "Jawabnya dengn senyum yang tak luntur dibibirnya.


Aku terperangah mendengarnya. " Heran? Masa tampan-tampan gini jadi heran sih. "


Pemuda itu terkekeh. "Bai eyran. " Dia mengulanginya lagi, kali ini lebih pelan dan aku bisa mendengar dengan jelas.


Aku mengangguk pertanda mengerti. "Bai eyran ya, nama mu seperti orang korea, apa kau berasala dari korea? " Tanya ku.


Kedua orang itu menatap ku dengan wajah bingung, ah sepertinya mereka tidak tau korea.


"Jangan pikirkan, aku asal bicara saja. " Ucap ku mengibaskan tangan.


Omong-omong kemana perginya luwi, anak itu tidak pernah pergi sendirian, tidak mungkin dia meninggalkan aku, apa mungkin dia masuk kedalam sungai? Aku celingak celinguk mencari anjing kecil itu, aku berlari ketepi sungai tidak ada, apa mungkin dia hanyut?


"Luwi, kemana dia? Kau meihatnya? Apa dia mungkin dia jatuh ke air dan jatuh? " Tanya ku dengan panik.


Ethan hanya diam saja, tidak menjawab pertanyaan ku. "Kenapa kau diam saja? Kau lihat tidak? Saat aku tidur tadi masih ada sekarang menghilang kemana dia? " Ucap ku dengan mata berkaca-kaca.


"Sekarang baru sadar anjing kau hilang, melihat laki-laki tampan langsung lupa diri. " Gerutu ethan dengan sinis.


Aku menatap nyalang kearahnya. "Kenapa kau marah? Kalau tidak lihat tidak apa-apa, tutup mulut kau itu dan pergilah. " Ucap ku lantas beranjak pergi dari sana semoga saja luwi pulang kerumah.


**


"Kau kemana saja sih hah? Kenapa pergi tidak bilang-bilang. Kau tidak betah lagi tinggal dengan ku? Kau sudah punya teman baru? " Aku mengomeli luwi yang sedang meringkuk diatas kasur aku menatapnya dengan tangan berkacak pinggang. Aku baru selesai memandikan nya karena tadi aku menemukannya main lumpur disamping rumah.


Puas memarahi luwi aku membaringkan tubuh keatas ranjang. Lelah sekali aku ingin tidur lagi tetapi aku harus segera pergi menjeput seseorang sebelum hari gelap. Aku menoleh kesamping luwi tengah menjilat tangan ku. Aku menyipit melihat mata luwi yang berwarna kuning keemasan mirip mata bai eyran. Tidak mungkin pasti hanya kebetulan saja, mana mungkin ada manusia berkeluarga anjing. Aku terkikik geli dengan pikiran ku sendiri.


Ha, baiklah luwi, ayo kita berangkat kita pergi menjemput anggota keluarga baru.


"Silahkan duduk nona killer. " Ucap seorang wanita paruh baya.


"Siah saja bibi, jangan memanggil ku seperti itu. " Ucap ku tak enak hati, rasanya aneh sekali mendengar nya.


Bibi itu mengangguk lalu masuk lagi kedalam tak lama ia keuar lagi bersama seorang gadis cantik.


"Hai, nona anna, bagaimana kabar anda? " Tanya ku dengan sopan. Meski pun gadis ini memakai pakaian sedehana tetapi dia tetap cantik karena wajahnya yang ayu dan lembut itu membuat siapa saja akan melirik kearahnya.


"Nona siah, saya sangat baik bagaimana dengan anda? " Tanya nya padaku.


Aku terkekeh kecil. "Tidak kah kita terlalu asing, boleh aku bicara santai dengan anda nona anna? "


Gadis itu mengangguk dengan senyum malu-malu. Aku berdehem, dia tampak sangat polos seperti elis, aku tidak bisa membayangkan seperti apa jika dia berbicara dengan kakak pertama ku yang kaku itu.


Beberapa detik kami saling diam, anna tampak gelisah dalam duduk nya, aku berdehem kecil. "Kakak, boleh aku bicara dengan ibu kakak? "


Kenapa aku datang seperti melamar anak gadis untuk anak mu. Ada-ada saja. Anna mengangguk ia masuk kedalam lalu keluar bersama ibu dan bapaknya.


Mereka memandangi ku dengan wajah cemas, apa mereka berfikir aku mau berhutang uang?


"Ada apa nona memanggil kami? Apa putri kami melakukan keslahan? " Tanya pak karim ayah anna.


Aku tersenyum melihat wajah khawatir yang tercetak jelas di wajah keriput mereka. "Jangan khawatir bibi, paman. Kak anna tidak melakukan kesalahan apapun, hanya saja aku ingin meminta izin kepada kalian. " Kataku dengan suara dibuat selembut mungkin.


Ketiga orang itu saling tatap dengan wajah penasaran. Mungkin mereka heran dengan perkataan ku. Jadi sebelum hari semakin larut aku kembali melanjutkan nya.


"Begini, bibi, paman, sebelumnya aku minta maaf mungkin ini sedikit tidak sopan, tetapi aku mewakili ibu dan bapak datang kesini untuk mengundang bibi, paman dan kak anna untuk makan malam dirumah kami. Apa boleh bibi ,paman? "Aku memandangi dua orang paruh baya itu dengan penuh harap.


Mereka bertiga kembali saling tatap, masih bingung ternyata. Jadi biar aku perjelas lagi. "Alasan kami mengundang hanya ingin menjalin hubungan baik dengan keluarga bibi, dirumah aku punya seorang kakak laki-laki, umurnya sudah 21 tahun tetapi belum menikah. " Ucapku mata ku melirik anna gadis itu menunduk aku melihat telinganya memerah.


"Maaf apa kak anna sudah ada calon? " Tanya ku.


Bibi dan paman itu saling tatap lagi. Kemudian melirik anna yang menunduk. "Sebenarnya kemarin ada mak comblang yang datang kemari, tiga hari lagi dia ingin memperkenalkan anna dengan seorang pemuda dari desa sago. " Ucapnya dengan mata masih melihat kearah anna namun gadis itu masih menunduk.


"Belum ada ikatan kan bi? " Tanya ku memastikan.


Wanita bernama sarmi itu menggeleng, aku tersenyum lega melihatnya. Mata ku beralih pada anna. "Kak anna apa kau mau datang kerumah kami? Kau bisa menolak jika tidak ingin, anggap saja kita bersilahturahmi. Bagaimana, "


Anna mengangkat kepalanya dia menatap ku sebentar lalu beralih pada kedua orang tuanya.


"Ibu dan bapak, terserah kau saja, yang penting tidak terpaksa. " Ucap bi sarmi yang paham dengan tatapan putrinya.


Anna melihat ku lagi ia tersenyum dan mengangguk. Yes!! Dalam hati aku bersorak gimana reaksi dilang ya nanti pas melihat anna datang kerumah kami.


***