Meta For Siah

Meta For Siah
Berita mengejutkan



"Kalian siapa? " Wanita yang melahirkan bapak itu memicingkan mata menatap kearah ku dan ibu.


"Ibu mertua, " Ibu membungkuk kan badan nya kearah nenek sebagai tanda hormat.


Nenek uti tercekat. "Ke-kenapa memanggil ku mertua?"


Ibu menatap kearah ku. Aku menepuk bahu ibu pelan. "Pelan-pelan saja, mungkin nenek lupa. "


Ibu mengangguk, beralih lagi pada nek uti. "Aku istrinya anas, anak tertua ibu. "


"Tidak kenal anas. "Jawab nya cepat nek tuti hendak masuk kembali kedalam rumah.


" Ibu, ayah mertua sudah memberitahu kami, anas dan sibay juga sudah tau. "Ujar ibu coba meyakin kan nek uti.


"Aku tidak memiliki anak. "Nek tuti bersikeras. Aku dan ibu bersitatap. Tidak mengerti kenapa nek uti terlihat ketakutan.


Aku tidak tau kenapa nek uti tidak mau mengakui bapak dan paman, tapi satu yang pasti dia terlihat sangat ketakutan. Dia juga tidak mau menatap mata kami. Apa mungkin ada seseorang yang mengancamnya? Aku tidak mau menuduh sembarangan tetapi siapa lagi, pasti ada sesuatu hal yang membuat nek uti seperti ini, mendengar cerita dari bapak katanya dulu waktu kecil nek uti sering memberikan nya makanan secara diam-diam, jadi tidak mungkin wanita itu tidak mengakui anak nya sendiri.


Aku coba mendekati nek uti menggenggam tangannya dengan lembut. "Nek, ini siah anak bapak anas cucu nenek, kami tidak tinggal dirumah kakek lagi. Jadi ikutlah dengan kami. " Aku coba memancing nek uti dan ingin melihat reaksinya.


Benar saja wanita tua itu langsung menunjukan gelagat yang mencurigakan. Matanya berpedar kesana kemari seperti orang kebingungan.


Dia menoleh kearahku. "Cu-cucu ku?? " Dia memegang tangan ku dengan gemetaran. Aku tersenyum dan mengangguk. Namun hanya sebentar tiba-tiba saja nek uti kembali marah.


"Tidak pergi kalian dari sini , aku ini hidup sebatang kara tidak punya keluarga tidak pernah menikah, bagaimana mungkin aku punya anak, apalagi cucu. "Nek uti menghemos tangan ku dan segera masuk kedalam kamar.


Blam...


Pintu dibanting dengan keras aku dan ibu sampai terlonjak kaget dibuatnya.


Ibu menangis tidak sanggup melihat keadaan rumah yang dihuni mertuanya.


Aku ajak ibu keluar dari rumah itu, sebenarnya tempat ini sangat tidak layak lagi untuk ditinggali, dinding dan atapnya bisa roboh sewaktu-waktu. Aku tidak mengerti kenapa hidup nek uti bisa sampai separah ini, dalam ingatan siah dulu, nek uti memiliki kebun yang menghasilkan sayuran melimpah, rumahnya juga tidak seburuk ini, dan juga isi rumahnya tidak ada sesuatu yang berharga, hanya ada tumpukan jerami didalamnya entah mau dia gunakan untuk apa.


Aku menghela nafas dalam, menghirup udara segar dari jendela kereta.


"Ya dewa... Kasihan sekali suamiku, baik ibu tiri maupun ibu kandung tidak ada yang menginginkan nya. "Ratap ibu menangisi kehidupan menyakitkan suaminya.


Awalnya aku berniat memberi kejutan untuk bapak, dengan mengajak nenek tinggal dirumah bersama kami. Aku hanya berharap antara bapak dan nenek bisa menebus masa lalu yang sudah terlewat dengan saling mengasihi. Mengingat nenek yang sudah tua, andai buruk dikata nenek meninggal dunia, setidaknya meski hanya sekali bapak dan ibu punya kesempatan untuk berbakti kepada ibu kandungnya, begitu juga dengan nenek, diakhir hidupnya yang sudah tua itu dia bisa memberikan kasih sayangnya pada anak dan menantu juga cucunya, namun keadaan nek uti membuat aku bingung sebenarnya apa yang terjadi dengannya selama ini.


Setiba dirumah aku mencoba membujuk bapak untuk ikut menjemput nenek, sedangkan ibu dan elis aku minta untuk memasak. Aku yakin kalau bapak yang datang pasti nenek akan mau ikut dengan kami.


"Tapi bapak tidak tau harus mengatakan apa! "Lirih bapak, mata bapak berair aku melihat pancaran kerinduan dimatanya.


" Aku temani bapak. "Aku memegang tangan bapak. " Bapak hanya perlu menunjukan diri dan katakan putranya sudah memiliki rumh, dan bapak datang untuk menjemputnya. "


Bapak memandangku dengan mata sayu, ia kemudian mengangguk, seperti membujuk anak kecil aku menarik tangan bapak bangkit dari kursi lalu kami berdua diantar oleh kusir yang aku pekerjakan.


"Kenapa tiba-tiba kamu ingin mengajak nenek mu tinggal bersama kita? "Tanya bapak bingung.


Sebenarnya bukan tiba-tiba, memang hal ini sudah aku rencanakan sejak saat kami membangun rumah. "Aku kakak dan dodo hanya ingin punya nenek sendiri. "Aku tersenyum menenangkan. "Nenek yang benar-benar menyayangi kami, yang tidak akan menghina dan menghardik kami. "Lalu aku melempar pandangan keur jendela.


Bapak memperhatikan ku seksama."Kau banyak berubah sekarang nak! Bapak bangga padamu! "Bapak mengusap kepala ku dengan lembut.


Aku menunduk, andai mereka tau kalau putri mereka yang sebenarnya sudah tidak ada, dan yang bersemayam di sini adalah jiwa baru yang datang dari dunia lain. Apa mereka bisa menerimanya? Mungkin mereka akan mengatakan aku gila.


"Aku minta maaf pak, aku merasa bersalah sama bapak dan ibu. " Ucap ku lirih. "Aku akan membuat kalian semua bahagia dan tidak akan membiarkan siapaun menindas kalian lagi. "Alis bapak bertaut menatap bingung kearah ku. Aku hany tersenyum tidak berniat menjelaskan apapun.


Aku menepuk lengan bapak karena kami sudah sampai dirumah nek uti, aku mengendong luwi keuar kereta. Rumah itu kembali nampak sepi.


Bapak menghentikan langkahnya ketika kami sampai dipintu.


"Pak.. " Panggil ku pelan.


" Ketuk pintu nya pak! "Ujarku.


Bapak tersenyum kikuk. "Harus diketuk ya? "Tiba-tiba bapak seperti anak-anak yang tidak tau harus melakukan apa.


Sebelum bapak mengetuk pintu, dari dalam seseorang telah membukanya dengan lebar, disana berdiri nek uti dengn wajah pucat menatap kearah bapak. Mata bapak dan nek uti beradu pandang.


"I-ibu... Ibu apa kabar? " Bapak meraih tangan keriput nek uti, tangan itu sangat kurus hanya kulit saja tidak ada danging disana.


Bibir nek uti bergetar matanya berkabut, air mata yang ingin dia tahan memberontak dan langsung menerobos, pertahanan itu hancur sudah, nek uti memeluk bapak dengan erat ia menangis meraung seperti orang kehilangan.


Dengan tangis sesegukan nek uti berkata. "Kau masih hidup? Anak ku masih hidup? Kau anas ku? Kau masih hidup? " Racau nek uti dia semakin mengeratkan pelukannya pada bapak.


Aku tidak mengerti apa maksud nenek dengan bapak masih hidup?


"Anas . " Panggil nenek lirih.


"Iya bu, ini aku anas. "Dibelainya kedua pipi bapak dengan penuh kelembutan. Aku menyeka sudut mataku yang basah, paling tidak bisa melihat orang menangis.


"Duduk dulu, kaki ibu bisa sakit kalau terus berdiri. "Bapak mendudukan nek uti dikursi kayu yang berdebu.


Aku dan bapak duduk dibawah beralaskan jerami.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada ibu? Kenapa rumah juga sampai seperti ini? "Bapak memegang kedua tangan ibunya.


Mata sayu nek uti menatap aku dan bapak bergantian.


"Mereka bilang kalau kau sudah meninggal, itu karena ibu yang terus memaksa ingin membawamu dan sibay sehingga dia menyakiti kalian berdua. " Lirih bibir pucat itu gemetaran.


Degh...


'𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘱𝘢𝘬 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭? "Aku merasa bingung.


" Bu, aku masih hidup, kenapa ibu mengatakan aku sudah meninggal, lalu siapa yang memberitahu ibu soal itu? "Ucap bapak pelan sambil menyeka sisa air mata nenek dipipinya.


Nenek terdiam sejenak seolaj sedang memikirkan sesuatu, kemudian kembali menoleh kearah bapak. "Ibu dan ayah mu yang mengatakan nya, mereka meracuni mu sampai matii, lalu mengancam ibu untuk tidak muncul dihadapan mereka juga sibay, awalnya ibu mau membawa mu juga sibay tinggal bersama ibu, namun mereka melarang nya dan terus memberikn ancaman. " Ungkap nek uti.


Aku mengepalkan tangan geram dengan ulah nenek sihir itu. Dada ku bergemuruh hebat mendengar cerita nek uti. Apa tujuan nenek sihir itu? Mereka benar-benar orang yang kejam.


Ku lihat bapak terkejut bukan main. Dia pasti sudah menyadari betapa tega dan kejam nya ayah dan ibu kepada nya.


"Ya sudah, karena mereka mengatakan aku sudah mati, jadi biarkan saja, yang ada didepan ibu sekarang adalah putra ibu, sedangkan putra mereka sudah mati. "Ucap bapak tenang. "Anak laki-laki ibu ada disini. " Bapak membawa kedua tangan nenek menangkupkan pada kedua pipinya. Nenek menyentuh dan mengelus pioi bapak air matanya kembali berjatuhan.


Perlahan aku pun ikut mendekat dan menyentuh paha nenek, pandangannya beralih kepadaku. "Aku cucu nenek. " Mata ku berkaca-kaca menatap iba wajah tua renta itu.


Bapak bergeser membiarkan nek ut memeluk ku. Tubuh rapuh itu berhetar karena menangis. "Maafkan nenek ya, nenek hanya tidak ingin kalian celaka. "


Aku tau nek uti pasti takut dengan ancaman kakek dan nenek sihir itu. "Ini bukan salah nenek, ini salah mereka, orang-orangyang kejam itu sudah membuat nenek menderita seperti ini. " Kembali nek uti menangis keras.


Aku mengusap pungung nenek, jangan sampai perkataan jahat dari mereka meracuni pikiran nenek, aku tidak akan membiarkan mereka semena-mena lagi.


"Ibu ikut aku ya? Kami sudah membangun rumah sendiri, jauh dari mereka jadi ibu tidak perlu khawatir. "Ajak bapak seraya mengelus lengan nenek.


Terlihat keraguan diwajah nenek, halyang wajar dia sudah terbiasa hidup sendiri jauh dari anak-anak, sekarang tiba-tiba dia dijemput oleh seseorang yang dulu pernah hidup dalam perutnya.


Aku mengulas senyum dan menyentuh tangan nek uti. " Nek, aku, adik dan kakak, ingin merasakan kasih sayang nenek, sejak dulu sampai sekarang kami belum pernah merasakannya.


Nek uti terlihat terkejut mendengar perkataan ku, ia menoleh melihat bapak, laki-laki itu mengangguk. Nenek uti menatap ku dengan senyum lembut keibuan.


Aku senang sekali akhirnya nek uti mu ikut dengan kami. Ibu dan ayah pasti akan merawatnya dengn baik. Tinggal bersama kami lebih terjamin dari pada dia hidup sendiri.


***