Meta For Siah

Meta For Siah
Rencana



Aku, dodo dan dilang akhirnya tiba dipasar. Sebelum aku pergi ke toko tuan halbert aku mengajak dilang pergi ketoko bangunan terlebih dahulu.


Aku dan dodo turun dari kereta, dilang mengikat tali kuda disamping toko bangunan.


Wajah dilang dipenuhi tanda tanya ketika melihat toko bangunan didepan nya. Tidak perlu berkata-kata aku paham dengan kebingungannya.


"kalau kita membangun rumah sendiri bagaimana menurut kakak? " Tanya ku pada dilang.


Dilang mengerutkan keningnya dan menatap ku dengan heran, kak dilang orang yang tidak suka terlalu banyak bicara. Tapi dari sorot matanya aku tau maksudnya.


"Kita tidak akan bisa hidup tenang kalau masih tinggal dikediaman killer. "Aku bergumam. Mata ku menerawang mengingat setiap perkataan nenek. "nanti kakak juga harus menikah, rumah kita kecil dan hanya ada satu kamar. "


Raut wajah dilang menjadi kaku untuk sesaat.


Latar belakang kami yang berasal dari keluarga miskin, menjadi alasan tidak ada nya gadis yang mau menikah dengan pemuda seperti dilang. Namun jika kami memiliki sebuah rumah yang layak ditambah dengan bisnis yang aku miliki sekarang gadis mana yang akan menolak dilamar olehnya.


"Kakak, aku juga tidak sanggup menghadapi nenek dan para bibi. "


"Mereka akan selalu menindas kita dan terus mengungkit kebaikan mereka yang sudah memberi kita makan dulu. "


"Bapak juga selalu dibanding-banding kan dengan paman yang lain. "


"Aku hanya ingin kita sekeluarga bisa hidup tenang tanpa ada yang harus meneriaki kita setiap hari. "


Dilang mengangguk kan kepalanya. Wajah nya berubah lebih tenang dari sebelum nya.


"Aku akan bekerja lebih keras, besok aku dan ayah bisa membuka lahan baru. "


Samar-samar terdengar dilang


Berkata dengan suara pelan. Namun aku masih dapat mendengarnya dengan jelas.


Aku tentu mengerti maksud dari perkataan dilang. Tapi mau sekeras apapun dia menggarap ladang apa bisa membangun rumah dalam waktu singkat? Menjual hasil ladang seperti padi dan bahan pokok dapur tidak mudah, karena rata-rata orang-orang desa memiliki ladang sendiri mereka juga mengisi ladang mereka dengan benih padi.


Berbeda dengan sayuran liar yang aku jual, karena sayur itu tidak ditanam oleh penduduk desa, makanya lebih mudah dalam menjual.


Lagi pula jika menunggu hasil ladang dulu untuk membangun rumah aku tidak bisa menjamin apakah saat itu tiba aku masih waras atau mungkin sudah 𝘨𝘪𝘭𝘢.


Namun aku tidak khawatir lagi akan hal itu, karena sekarang aku sudah memiliki uang. Dan aku tidak ingin menunggu lagi. Kemudian aku menepuk bahu dilang. Aku menatap mata nya dengan sorot ketenangan seraya berkata. "Kakak jangan khawatir soal uang, bisnis gaun ku berjalan lancar, kita bisa mulai membangun rumah secepat nya. "


Dilang mengangguk lagi. Sebenarnya dilang juga tau kalau aku punya uang. Hanya saja sebagai seorang kakak laki-laki dia tidak mungkin mengandalkan adik perempuan nya untuk membuat rumah. Apalagi dilang laki-laki yang mementingkan harga diri. Dia tidak peduli meski hidup miskin asal tidak mengemis dan mencuri maka baginya itu sudah lebih dari cukup.


Melihat adiknya masuk kedalam toko bangunan. Dilang diam-diam menarik nafas panjang. Dia merasa senang melihat adik perempuannya tumbuh dewasa. Namun disaat yang sama dia juga merasa bingung.


Siah yang selama ini dia tau adalah gadis pemalas yang selalu mengikuti kemana pun gena pergi. Dia tidak pernah membantu melakukan pekerjaan rumah. Apalagi sampai memikirkan tempat tinggal untuk keluarga. Dilang merasa bingung. Apa yang membuat adiknya berubah?


***


Setelah selesai membeli bahan bangunan. Aku kembali naik keatas kereta kuda. Bahan bangunan itu akan diantar oleh pekerja toko nya langsung jadi kami tidak perlu membawanya sendiri.


Sebelum membeli barang yang lain aku akan pergi ketoko tuan halbert dulu untuk mengambil komisi penjualan gaun sambil memberikan sketsa baru.


"Kak, kita berhenti ditoko yang ramai pengunjung itu. " Kata ku pada dilang.


"Kau mau beli pakaian? " Tanya dilang. Sambil memberhentikan kereta kudanya.


"Tidak, ini toko tuan halbert rekan bisnis ku. "Setelah menjawabnya aku segera turun dari kereta dan melangkah masuk kedalam toko.


Ketika melihat adiknya menghilang dibaik pintu toko. Dilang melihat sekeliling, toko tuan halbert adalah toko yang paling ramai bahkan banyak orang yang masuk berdesak-desakan. Padahal didepan toko ini juga ada toko pakaian lain tapi tidak seramai toko tuan halbert.


Dilang melihat sekilas kearah para gadis yang berkumpul di depan toko tuan halbert. Hanya sebentar kemudian dia beralih pada dodo. "Kau! Mereka pasti melihat kau. Aku hanya seorang kusir siapa yang akan tertarik.


Dodo langsung tertawa terbahak-bahak sembari berkata. " Benar, aku ini seorang pemuda tampan dari desa aster. Tidak perlu bekerja, kakak perempuan ku bisa menghasil kan banyak uang. "Kata dodo berlagak angkuh. Dia menepuk dada nya.


Dilang tercengang.


Mungkin dia tidak menyangka dodo akan menjawab dengan perkataan seperti itu. Dia pun sontak mendengus lalu berkata. "Itu uang kakak perempuan mu, dan kau memamerkan hal itu dengan bangga seakan uang itu kau sendiri yang menghasilkannya. "


Dodo mengabaikan perkataan dilang. Dia tidak peduli siapa yang menghasilkan uang, yang terpenting apa pun yang ingin dia beli kakak nya pasti akan membelikan nya. Jadi untuk apa bekerja lagi. Itulah prinsip dodo saat ini.


Dilang tidak bicara lagi. Dia kembali memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang sambil menunggu adiknya.


Setelah keluar dari toko tuan halbert. Aku langsung berjalan menuju kereta kuda. Disana dilang duduk bersama dodo.


Mereka duduk berdua tanpa berbicara? Kok bisa?


Begitu melihat kedatangan ku, dodo langsung berkata. "Kakak sudah kembali? Apa kau mendapat banyak uang hari ini? "


Dilang mengglengkan kepala mendengar ucapan dodo.


Aku tergelak sambil memperlihatkan kantong uang padanya.


Mata dodo membesar dan berkata. "Berapa banyak uang dalm kantong itu? "


Aku pura-pura berfikir sejenak. "Emm. . . cukup banyak untuk kau berbelanja hari ini. "


Senyum dodo langsung mengembang dia sangat gembira sampai berjingkrak-jingkrak saking senang nya.


Cukup banyak untuk berbelanja hari ini?


Dilang selagi lagi menatap heran kearah adiknya, dia selalu merasa ada yang berbeda dengan adiknya namun dia tidak mampu berkata-kata. Dia juga tidak tau harus bertany seperti apa.


Pemikiran dari mana dia bisa membuat bisnis yang bisa menghasilkan uang banyak dalam waktu singkat seperti ini.


Melihay baju dilang yang tampak kusam aku pun bertanya. "Kakak apa kita pergi ketoko yang menjual pakaian pria dulu? "


Seketika dodo langsung berteriak senang. "Ayo kesana, aku ingin memakai pakaian seperti anak bangsawan, baju yang ada bordirnya. "


Seketika dilang langsung melotot pada dodo. "Kakak ketiga mu sudah bekerja keras mencari uang kau malah seenaknya ingin meminta ini itu. " Kata dilang memarahi dodo.


Wajah dodo langsung berubah sedih mendengar perkataan dilang. Dia hanya ingin memakai pakaian bagus saja, kenapa harus marah.


Melihat mata dodo yang memerah aku pun menepuk kepalanya dan berkata. "Kakak bekerja untuk keluarga kita, lalu soal uang, bukan kag gunanya untuk dibelanjakan. " Kata ku sambil melirik kearah dilang.


"Jangan khawatir kakak, untuk mendapat kan uang ini aku tidak terlalu bekerja keras kok. " Kataku menyakin kan dilang.


Terdengar sombong, tapi itu memang kenyataan nya. Aku hanya mengambar model baju saja, dan selebihnya tuan halbert yang mengurus. Jadi tidak ada yang namanya bekerja keras.


Dilang pun mengangguk. " jangan terlalu memanjakan kannya. "


Setelah itu aku masuk kedalam kereta dilang pun memandu kereta kuda menuju toko yang dodo inginkan.


Memiliki banyak uang lalu membeli apapun yang di ingin kan.


Perasaan seperti ini sungguh sangat menyenangkan.


****